
"Gawat ...," batin Hasna.
Dia tetap meneruskan langkah mundurnya setelah terkejut sesaat.
"Stop! Jangan mundur lagi atau aku tarik kamu! Gak mau kan, sampe aku tarik?" ucap pria di hadapannya memberi peringatan.
Sebab, Hasna terus mundur dan ingin kabur.
Hasna tak memperdulikan peringatan itu, dia berbalik dan kembali hendak berkelebat pergi. Akan tetapi, pria itu ternyata tidak main-main dengan perkataannya.
Dengan gerakan yang cepat juga, pria itu mencekal pergelangan Hasna.
Hasna langsung berbalik dan mengarahkan tatapan tajamnya ke arah manik hitam pemilik wajah tampan dengan brewok tipis di sekitar rahangnya. Setelah itu, Hasna beralih menatap ke arah cekalan tangan pria itu.
Tanpa bicara, Hasna langsung berontak untuk melepaskan dirinya.
Akan tetapi pria itupun, tetap bersikeras meraih lengannya lagi. Dia seakan tak rela melepaskan Hasna pergi.
"Tunggulah sebentar!" ujarnya. Sambil terus berusaha meladeni setiap jurus perlawanan dari Hasna.
"Aku tidak bermaksud memaksamu. Tapi aku perlu tau siapa kamu sebenarnya!" ucap pria itu lagi, yang tak lain adalah Gus Amar.
Hasna terus berkelit dengan jurus yang ia kuasai. Mereka berdua pun terlibat adu jurus.
"Rupanya dia lebih pandai beladiri ketimbang Gus Musa. Tapi, cukup main-mainnya. Maafkan aku," batin Hasna. Setelah itu, Hasna memusatkan kekuatan di ujung kakinya dan ...
Dugh!
Ough!
Gadis ini berhasil menendang telak belakang lutut Gus Amar sehingga, pria itu jatuh bersimpuh. Setelahnya, Hasna pun berlari.
Tanpa di duga, dari balik pohon, ada seseorang yang muncul tiba-tiba menjegal langkah Hasna.
"Allahu Akbar!"
Hasna pun kembali berkelit dan berusaha menghindar. Dengan gerakan alias jurus beladiri yang ia miliki.
Sebab, pria yang kali ini rusuh adalah Gus Musa.
"Berhentilah, melawan. Kami tidak ingin menyakitimu Ukhti!" ujar Gus Musa. Tangan pria itu terus bergerak berusaha membuka cadar yang menutupi wajah sosok misterius di hadapannya ini.
Hal itu membuat Hasna kesal sekali. Apalagi, di belakangnya ada Gus Amar.
Hasna dengan kuda-kudanya, tetap tak menyerah. Dirinya yakin dapat melewati kedua kakak beradik ini. Pokoknya, identitasnya tidak boleh di ketahui.
__ADS_1
Hasna hanya tidak ingin dianggap pahlawan yang berujung kebaikannya di gembar-gemborkan.
"Apa kalian berpikir untuk dua lawan satu? Setelah aku membantu apa ini balasannya!" sarkas Hasna dengan suara yang ia buat lebih berat. 😁
"Hei. Kita gak berniat melawan kamu. Makanya kamu jangan berniat untuk kabur. Tolong, kami hanya ingin berterima kasih secara baik-baik," ucap Gus Musa.
"Kalau begitu, menyingkirlah dari hadapanku sekarang dan biarkan saya pergi!" ketus Hasna lagi. Tetap dengan suara yang di buat berat agar tak di kenali.
Akan tetapi, kali ini Gus Musa tersenyum. Semakin sering Hasna menjawab maka ia sedikit tau siapa sosok di balik kostum serba hitam ini.
"Sudahlah. Ukhti bar-bar. Udah ketauan juga sih, mending buka deh cadarnya," ucap Musa kemudian, seraya menahan kekehannya.
"Hei! Emang dia siapa?" tanya Gus Amar sambil menepuk bahu sang adik, yaitu Musa.
"Dia si ukhti bar-bar, Mas. Sekarang kau percaya kan?" jawab Gus Musa seraya menaik-turunkan alisnya.
"Masyaallah! Kamu dek Hasna!" pekik Gus Amar kelepasan saking terkejut.
"Duh! Kok bisa ketauan?" gumam Hasna dalam hati.
Gadis ini memegangi cadarnya erat. Perasaan dia sudah semaksimal mungkin menyembunyikan identitas hingga memalsukan suara. Kenapa masih bisa ketauan.
Sebelum santri atau pengajar lain datang, sebaiknya Hasna kabur lagi. Begitu pikirnya.
Hasna pun abai dan berniat berbalik untuk kabur.
Hasna terlihat mengepalkan buku-buku jarinya. Kepalanya tertunduk menatap tanah yang di pijak. Serta, bibirnya bergerak di balik cadar untuk melafazkan istighfar berkali-kali.
Setelahnya Hasna menghela napas panjang. Dia pun memutuskan berbalik kembali dan melepaskan cadarnya yang menutupi hampir seluruh wajahnya, karena hanya kedua matanya saja yang terlihat.
"Tuh kan bener!" pekik Gus Musa girang. Ketika Hasna telah melepas kain yang menutupi identitasnya itu. Ingin rasanya Hasna menyumpal mulutnya dengan batu.
"Husshh! Kenapa harus teriak! Apa kamu sengaja mau undang seluruh penghuni pondok ke sini!" kesal Hasna. Karena tingkah Gus Musa seperti bocah saja.
"Kamu hebat juga, Dek. Bisa mancing belut!" kata Gus Amar ambigu, sambil terus menepuk-nepuk pundak Gus Musa. Sehingga, Hasna mengerutkan keningnya berlipat-lipat.
"Siapa sih yang dia maksud belut?" gumam Hasna dengan bibir mencebik. Sebab, ia merasa hal itu ditujukan padanya.
Geram rasanya, karena Hasna pada akhirnya terjebak juga dengan dua kakak beradik rusuh ini. Seharusnya dia bisa meredam emosinya tadi.
"Aku nebak aja, Mas. Suaranya sih beda. Tapi konotasi dan cara marahnya itu Hasna banget," jelas Gus Musa dengan tawa. Buat Hasna makin kesal saja.
Dua pria yang notabene kakak beradik di hadapannya ini seenaknya saja membicarakan dirinya tepat di hadapannya.
Mau tak mau, Gus Amar pun ikut tertawa. Hasna sempat terkesiap sesaat. Karena Gus Amar sangat menawan ketika tertawa lepas.
__ADS_1
"Aku bisa gila nih kalo lama-lama sama mereka. Nyebelin!" batin Hasna.
"Sudah kan. Kalo gitu saya mau balik. Kasian dia kawan saya yang terkunci di dalam kamar," ucap Hasna dan hendak berlari. Hingga ... Gus Musa melompat ke hadapannya demi menjegal langkahnya lagi.
"Kamu maunya apa sih!"
"Minggir atau ...?" Hasna menunjukkan kepalan tangannya. Tetapi, pria di hadapannya justru terkekeh.
" Sudah, Dek. Biarkan Ukhti manis itu pergi. Oh iya, Hasna. Terimakasih atas semua bantuannya ya," ucap Gus Amar.
"Ukhti manis? Tadi kau sebut aku belut," gerutu Hasna dalam hati.
"Cukup kalian berdua yang tau. Jika sampai menyebar. Tunggu pembalasanku!" ancam Hasna, dan gadis itu pun berlalu dengan cepat.
Pakaian serta Khimarnya yang lebar pun berkibar tersibak angin malam. Kedatangannya bagai Ksatria dan perginya bak pahlawan.
Secara bersamaan dua pria ini memegangi dada mereka sebelah kiri.
"Ya Allah ...," bisik Gus Amar. Pria ini merasa jantungnya berdetak tak beraturan.
"Ya Habibi ...," gumam Gus Musa begitu saja. Dia pun tak mengerti dengan perasaan yang mendadak singgah dalam hatinya.
"Hei! Jangan bilang kita berdua mengagumi ukhti yang sama!" tebak Gus Amar. Dimana perkataannya itu membuat Gus Musa tersadar.
"Astagfirullah. Apa iya, hatiku sudah berpindah haluan," batinnya.
Hayoloh kalian 😁
Kena panah asmara dara perkasa 😁
Keesokan harinya.
Seluruh penghuni pesantren Darussalam geger atas kejadian semalam.
Akan tetapi, yang menjadi topik pembicaraan justru bukan dua pencuri yang menyeramkan akan tetapi, aksi heroik dari sosok ukhti misterius berpakaian serba hitam.
"Kamu sih, Na. Segala kunciin kita di kamar," protes Syifa dengan bibir mengerucut.
"Tau nih, Hasna. Kan kita jadi gak up to date. Kita berdua jadi ketinggalan berita dan kayak sapi ompong ini sekarang. Kagak nyambung mereka semua ngomongin apaan!" gerutu Sarah, yang kali ini berdengung di telinga Hasna.
Gadis itu hanya tersenyum simpul, menanggapi protes kedua kawan sekamarnya itu.
"Kalo keluar juga, kayak kalian berani aja liat tuh maling," seloroh Hasna tanpa rasa bersalah.
"Ih, Hasna nyebelin!" pekik dua kawannya itu bersamaan.
__ADS_1
Hasna langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Bersambung.