
Persiapan demi persiapan untuk perhelatan besar hampir selesai.
Baik di kediaman Kyai Faisal maupun kediaman Angkasa.
Pondok pesantren Darussalam nampak hingar bingar, karena para santriwati senior dan pengajar sebagian membantu Ning Khumaira untuk menata parsel hadiah yang akan di bawa pas acara esok hari.
Nanti malam, juga akan di adakan malam doa untuk calon pengantin.
Karena itu, di dapur umum pesantren terjadi kesibukan yang lebih heboh dari biasanya.
Mbok Minah kedatangan banyak tenaga tambahan. Dimana, Ning Khumaira ambil dari desa sebelah.
Karena memang Kyai menyiapkan satu kerbau untuk di masak dan di nikmati bersama nanti malam.
Gus Amar dan sang adik pun ikut menyibukkan diri. Mereka tak tinggal diam dalam mempersiapkan hari besar keduanya besok.
"Jangan terlalu lelah, ingat jaga stamina kalian," pesan Ning Khumaira.
Wanita itu tak mengijinkan kedua putranya ikut begadang.
"Iya, Ummi," jawab keduanya serempak.
Pada akhirnya keduanya hanya membantu membereskan sisa pengajian dan juga makan-makan tadi.
Setelah itu, mereka kembali ke pendopo dan menyerahkan semuanya kepada para tukang dan tenaga sukarelawan untuk membereskan semuanya.
Dua Gus beda usia ini masuk ke kamar mereka masing-masing.
Tatapan mereka pun menuju ke belakang pintu kamar. Dimana tergantung sebuah pakaian pengantin yang akan mereka kenakan besok pagi.
Baju gamis berwarna putih gading itu berkilau di terpa sinar lampu. Sebuah kopiah dengan ukiran dan Payet di semua sisinya itu kini tengah berada di tangan mereka.
Senyum dari keduanya pun terukir.
Bahagia menyeruak dari dalam hati dua Gus tampan ini. Dimana mereka berdua sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya.
Kemudian memboyong para istri mereka ke lingkungan pesantren.
"Ya Allah, ini semua laksana mimpi. Hari yang selama ini hanya bisa hamba impikan, sebentar lagi akan jadi kenyataan," gumam Gus Amar.
Pria itu selama ini hanya bisa bermimpi berharap jodohnya datang mengisi hidupnya yang sepi di usianya yang memang sudah matang untuk menikah.
Akan tetapi apa boleh buat, takdir berkata lain. Allah selalu memberinya jalan dalam mengais ilmu agama terus.
Juga jalan berbagai macam usaha.
Kali ini, kepulangannya kerumah. Allah mengirimkan jodoh yang sungguh tak pernah ia sangka. Gadis kecil yang bar-bar.
__ADS_1
Gadis yang memiliki masa lalu dan trauma dengan kekecewaan dan luka yang tak terlihat oleh mata.
Sebuah misi bagi Amar untuk membimbingnya menjadi pribadi yang kuat dan qona'ah.
Saatnya bagi Amar untuk mengimplementasikan ilmu yang selama ini ia cari hingga ke ujung dunia.
Beda lagi dengan sang adik.
Gus Musa pada saat ini, terlihat mondar-mandir di depan tempat tidurnya.
Ia berkali-kali melihat pada layar ponselnya yang gelap. Dengan niat untuk menghubungi sang calon istri namun, perasaannya selalu menolak. Sementara otaknya mendorong untuk melakukan panggilan telepon.
Gus Musa menjatuhkan bokongnya di kasur. Memijat pelipisnya pelan. Menimbang lagi apa yang harus ia lakukan.
Perasaannya risau, hatinya dag-dig-dug tak karuan.
Ingin rasanya ia menghubungi sebuah nama kontak yang tertera di layar itu. Akan tetapi, keberaniannya seakan ditelan oleh bumi.
Acara sakral yang merupakan ujung penentuan akan statusnya hanya tinggal menunggu besok saja. Tapi, entah kenapa menuju waktu itu seakan lama sekali bila di nanti dengan kerinduan yang menggulung dirinya seperti ini.
Bahkan, dirinya sempat memohon pada sang ummi. Ketika wanita itu mengunjunginya di dalam kamar.
"Um, please ...!" rayu nya dengan ekspresi puppy eyes.
"Sayang! Sekali tidak tetap tidak! Jangan rayu Ummi dengan cara apapun!" tegas Ning Khumaira. Menolak permintaan putra keduanya itu yang ingin menelpon, Aira calon istrinya.
"Lebih baik, kamu hafalin lagi ijab qobulnya. A initau kamu tidur sana, apa luluran sana mandi kembang kalau perlu," saran sang ummi yang nyeleneh. Dimana hal itu sontak membuatnya mendengus.
"Ya biar wangi, biar Aira lengket terus sama kamu nanti," kekeh sang ummi menggodanya.
"Ah, Ummi kan. Kaan ... aku jadi traveling lagi. Segala ngomongin nempel," gerutu, Gus Musa yang isi otaknya sudah ngebolang kemana-mana.
"Ck, itu mah kamu nya aja yang mecum!" seloroh wanita berbusana syar'i gemas, seraya mencubiti lengan putranya itu.
"Lha kan, ummi yang mulai duluan!" elak Gus Musa, ia tak terima jika dirinya di kata seperti itu oleh sang bunda.
"Ya udah, sabar, tahan, diem. Mending kamu wudhu sana biar hati kamu tenang dan gak gelisah. Biar tuh syaitonnirrojim pada pergi dari kepala kamu" saran, tegas Ning Khumaira kali ini.
Gus Musa lagi-lagi hanya bisa menelan ludahnya kalau sudah melihat ekspresi tegas dari wanita yang sudah melahirkannya keduanya ini.
"Sabar itu akan indah pada akhirnya. Setelah kalian sah nanti, kamu akan bebas menumpahkan segala kerinduan dan hasrat diri yang terpendam. Akan menjadi berkah dan berpahala malah. Biarlah semua rindu itu tumpah ruah bahkan meledak sekalipun. Asal pada saat yang tepat. Ngapain sih di cicil, kalo bisa langsung di bayar tunai! Udah tinggal besok juga, sabar!" tutur Ning Khumaira.
Bahkan kali ini wanita itu berucap dengan tegas dan penuh penekanan.
Menasihati orang yang tengah mabuk kepayang karena asmara itu memang menguras tenaga dan pikiran.
Padahal, sang putra sejatinya pun sudah mengerti dan faham. Hanya saja, rayuan dan bisikan setan itu akan terus menggoda siapapun dia.
__ADS_1
Membuat kadar iman manusia yang pasang surut, naik turun menjadi gamang dan di lema.
"Iya, deh Um ... Musa wudhu aja." pun bangkit dan berlalu. Mencoba mengusir gelora dan keinginannya.
Mencoba menahan segala hasrat yang bergejolak di dalam jiwanya. Dengan mendinginkan kulit, kepala juga hatinya.
Wudhu, sejatinya bukan sekedar menyiram atau membasuh kulitmu dengan air.
Tapi, wudhu juga memiliki kekuatan dan faedah dalam menahan bahkan menghempas segala emosi di dalam dirimu.
Wudhu juga dapat mendinginkan otak dan juga dadamu yang berdentum tak karuan. Apalagi jika di teruskan dengan solat dua raka'at serta membuka mushaf yang agung.
Semua saran dari sang ummi memang manjur. Kini tubuh tinggi putih dengan wajah rupawan itu telah damai dalam lelapnya.
Di atas sajadah berbahan tebal, sambil mendekap kitab suci Al qur'an. Lengkap dengan koko gamis turkish dan juga sarungnya.
Pria tampan berusia dua tiga puluh empat tahun itu, kini telah terlelap dengan senyum menawan yang terukir dari bibir sensualnya.
Sosok yang begitu mempesona, hingga mampu mematahkan hati wanita secara berjama'ah.
Ya, tentu saja para pengagumnya.
Ternyata, beberapa dari mereka syok berat sekaligus kecewa. Ketika mendapat kabar tentang pernikahan Gus Musa.
Tentunya, yang paling kena mental adalah Ustadjah Ainun.
Salah satu pengajar itu sampai meriang dua hari dua malam.
"Kamu keterlaluan Gus. Apa kau tidak bisa melihatku di sini!" Ustadjah Ainun terlihat mencengkeram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Masya Allah! Beruntung banget ya siapapun gadis itu."
"Jadi, dia sukanya sama anak kecil?"
"Tau darimana kalau Gus Musa nikah sama anak kecil?"
"Kurang apa sih aku, coba ...!"
"Semoga, dia bahagia. Kalau belom jodohnya, mau bilang apa?"
Berbagai komentar dan tanggapan muncul lagi berbagai sisi. Ada yang dari bagian santriwati maupun pengajar muda.
Tak ada yang mengomentari akan Gus Amar. Karena sosoknya terlalu jauh dengan para santri maupun pengajar. Mereka menghormati Gus Amar kayaknya Kyai Faisal.
Semua orang yakin jika jodoh Gus Amar pasti dari kalangan anak Kyai juga.
Seandainya mereka tau.
__ADS_1
Apakah akan membesar manik mata mereka semua?
Bersambung