
"Kamu tenang aja. Insyaallah kakek Angkasa baik-baik saja. Serahkanlah semuanya kepada Allah, maka hatimu akan tenang. Segala ketentuan adalah hak mutlak bagi Allah. Kita sebagai hambanya yang taat hanya perlu menerima semua baik dan buruknya. Karena, hanya Allah yang maha tau, semua yang terbaik untuk hambanya," tutur Ning Khumaira menasihati Hasna, dengan kalimat yang mampu menentramkan hati.
"Boleh Hasna peluk, Ummi?" tanya Hasna parau. Gadis itu tengah berupaya sekuat tenaga untuk menahan tangisnya.
"Ya Allah, boleh dong sayang. Sini ...!" Ning Khumaira pun menarik raga gadis manis di hadapannya yang kini berwajah penuh kesedihan.
Membiarkan Hasna meluapkan emosinya agar dada gadis itu tak lagi sesak. Karena rasa sedih yang di tahan hanya akan membuatmu sakit.
Maka, luapkanlah.
Menangislah jika kau ingin menangis.
Itu adalah salah satu nikmat yang Allah berikan untuk menjadikannya kembali kuat dalam menghadapi setiap cobaan hidup.
Setelah puas menangis, Hasna mengendurkan pelukannya. Ning khumaira, mengusap sisa air mata Hasna dengan jemarinya. Bahkan, wanita itu membiarkan Hasna membasahi khimarnya dengan air mata.
"Maaf. Kerudung Ummi jadi kotor karena ulah Hasna," ucap gadis itu penuh sesal akan sikapnya.
Ah, betapa dirinya kurang ajar. Telah mengotori Khimar istri dari sang pemilik pesantren tempatnya menuntut ilmu.
"Jangan pikirkan hal itu, Ummi sama sekali tidak mempermasalahkannya. Daripada kau menangis di bahu Musa. Itu lebih kacau nanti," kelakar Ning Khumaira.
Tentu saja ucapannya itu membuat kedua pipi Hasna seketika memerah. Wajah gadis itu mendadak kesemutan. Sementara, Musa tiba-tiba menjadi kikuk.
Pikiran liarnya pun seketika membayangkan, ketika dirinya yang ada di posisi sang ummi. Memeluk untuk menenangkan Hasna. Melabuhkan kecupan dalam di ujung Khimar gadis itu.
Ah, kau ini Musa.
Apa-apaan!
Nunggu halal dulu ya. 😁
Ini semua gara-gara wanita yang ia panggil ummi itu.
Membuat pikirannya seketika berkelana kemana-mana.
"Aku akan ke bagian administrasi. Untuk mengurus kepulangan Hasna," pamit Gus Musa.
Hal itu pun diangguki oleh kedua wanita beda usia ini.
Sementara itu di rumah sakit kota.
Seorang pria tua, tengah di tangani dengan serius oleh tim dokter.
Mereka melakukan operasi tanpa persetujuan dari pihak keluarga, lantaran ingin menyelamatkan nyawa sang pasien.
Hanya tim kepolisian yang menjamin semuanya. Lantaran, ada salah satu dari mereka yang merupakan jamaah dari Angkasa.
"Berikan pengobatan serta tindakan terbaik untuk ustadz saya ya, Dok," pinta salah satu pria berseragam yang memiliki pangkat lumayan itu.
"Tenanglah, Pak. Beliau juga adalah guru saya. Tentu saja saya akan mengajak tim untuk melakukan yang terbaik bagi tuan guru Angkasa," jawab sang Dokter dengan mata yang juga berkaca-kaca.
__ADS_1
"Masyaallah. Ternyata, Ustadz guru memiliki jamaah dimana-mana. Sungguh kebetulan sekali," ucap polisi tersebut penuh syukur.
Tak lama, Hanifa tiba. Wanita berpakaian syar'i dengan niqob sebagai penutup sebagian wajahnya itu pun di sambut oleh polisi tersebut.
Hanifa menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Sang polisi tersebut langsung melakukan hal yang serupa.
"Terimakasih, karena telah membawa papa kerumah sakit. Lalu, sekarang bagaimana keadaannya?" ucap Hanifa seraya bertanya mengenai keadaan Angkasa.
"Kebetulan kami sedang patroli. Dan ternyata, beliau adalah guru kami," jelas sang polisi.
"Masyaallah," Hanifa sontak mengucap pujian.
"Sementara itu, keadaan tuan guru sedang di operasi. Karena terjadi pembengkakan pembuluh darah di bagian kepala karena benturan keras. Maaf, saya melangkahi anda untuk mengambil tindakan ini," jelasnya lagi.
Sang polisi memiliki tubuh tinggi tegap dengan wajah dewasa yang begitu berwibawa.
"Afwan. Syukron Katsir atas semuanya. Tidak apa, justru papa saya membutuhkan tindakan yang cepat sebagai upaya penyelamatannya. Saya harap, papa baik-baik saja," tutur Hanifa lirih.
Wanita, itu menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu memejamkan mata untuk menenangkan hatinya sejenak.
Semua ini begitu mendadak serta mengagetkan dirinya.
Bahkan ia harus meninggalkan Hasna yang baru sembuh dari sakitnya.
Akan tetapi, Hanifa bersyukur karena ia bisa mempercayakan kelurga kyai Faisal. Bersyukur lagi, karena sang papa di tolong oleh salah satu jama'ahnya sendiri.
Hanifa tidak tau, jika dokter yang menangani sang papa juga merupakan jama'ahnya Angkasa.
Ketika kita menebar kebaikan karena Allah. Maka kita tidak akan pernah tau dimana biji kebaikan itu akan tumbuh dan dapat kita tuai buahnya.
Teruslah bergantung hanya kepada Allah yang tidak akan mengecewakan hamba-nya yang selalu yakin dan qona'ah.
Sekian jam menunggu.
Akhirnya pintu ruang operasi tersebut pun terbuka.
Tak berapa lama, keluar pria paruh baya yang mengenakan kostum serba hijau.
Dokter tersebut langsung di hampiri oleh Sang polisi. Hanifa juga merangsek dengan gegas.
"Bagaimana keadaan Papa saya?" sosor Hanifa.
Padahal, sang dokter juga sedang ingin menjelaskan hasil dari operasi barusan.
"Anda ..."
"Saya, ... putri beliau," potong Hanifa. Sebelum sang dokter menyelesaikan pertanyaannya.
"Oh, Alhamdulillah. Akhirnya ada anggota keluarganya juga," ucap sang dokter merasa lega.
"Jadi, begini. Kebetulan beliau adalah guru saya juga. Alhamdulillah, operasi barusan berjalan lancar dan beliau berhasil keluar dari fase kritis.
__ADS_1
Setelah ini, beliau akan di pindahkan ke ruang rawat inap," jelas sang dokter, dengan senyum ramahnya.
Hanifa nampak berucap syukur.
Kemudian menangkupkan tangan di depan tanda seraya mengucapkan terimakasih pada sang dokter.
"Qodarullah. Papa dapat kebaikan di saat musibah menimpanya. Alhamdulillah, Syukron Katsiron, Dokter," ucap Hanifa.
"Saya juga akan memerintah perawat untuk memberikan kamar yang terbaik untuk Kyai. Jangan khawatirkan soal biayanya. Insyaallah, kami akan lakukan yang terbaik," ucap sang dokter lagi seraya melakukan hal yang sama dengan Hanifa.
Sungguh hal ini membuat kedua mata indah Hanifa tak sanggup lagi membendung kristal bening itu.
Hingga perlahan cairan itu pun luruh membasahi niqob-nya.
"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah." Tak henti-hentinya Hanifa mengucap syukur. Karena di balik musibah Allah memberikan kemudahan bagi Angkasa.
Beberapa saat kemudian.
Hanifa telah berada di sebuah kamar perawatan.
Menatap nanar tubuh sang papa yang mengatakan pakaian rumah sakit.
Berbagai alat bantu melingkar di tubuh renta pria itu.
Kepala yang di bebat dengan perban putih. Beberapa kabel terpasang di dada. Belum selang oksigen, infus dan juga kateter. Dan, masih ada lagi kabel yang menjepit telunjuknya dan kabel yang melingkar di pergelangan kakinya.
Hasna tetap sabar menunggu Angkasa sadar.
Dokter bilang tak lama lagi.
Benar saja, Hanifa melihat pergerakan yang dimulai pada mata sang papa.
Pria itu, menggerakkan bola matanya di dalam kelopak kemudian mulai membuka perlahan.
Angkasa mengedipkan matanya perlahan demi menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang terang di sekitar.
Hasna buru-buru mendekat lalu menggenggam tangan sang papa.
"Pa ... Papa sudah sadarkah?" tanya Hanifa lirih. Jantungnya berdebar tak karuan sejak tadi. Wanita itu sangat takut jika sang papa terpejam selamanya. Meksipun itu semua adalah takdir dan ketentuan Allah, tetap saja ia merasa takut.
"Hanifa ... maaf ...," ucap pelan Angkasa.
Pria itu ingin membuka alat bantu pernapasan nya namun Hanifa melarang.
"Jangan di lepas nanti Papa sesak!" ucapnya ambil menekan tombol merah di atas kepala hospital bed.
Tak lama petugas medis pun datang dan kembali memeriksa keadaan Angkasa.
Semua hasilnya baik, sehingga Hanifa kembali mengucap syukur berkali-kali.
"Hasna ...," panggil Angkasa.
__ADS_1
Bersambung