Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 35# Aku Sayang Kamu, Hasna


__ADS_3

"Papa--"


"Apa yang tengah, Papa rencanakan pada putriku?" tanya Hanifa dengan tegas. Ia merasa bahwa orang tua di hadapannya ini tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Mereka berdua saat ini berada di taman. Terpaksa meninggalkan Hasna sendirian karena mereka butuh makan. Angkasa juga sengaja ingin mengutarakan jawabannya jauh dari Hasna.


"Maaf, Han. Kamu jangan marah ya. Papa melakukan semua ini hanya demi kebaikan Hasna saja," ucap Angkasa berusaha untuk menenangkan Hanifa, putri satu-satunya dari mendiang sang istri yang telah memberikannya dua orang cucu yang cantik dan Sholihah.


"Tau darimana kalau itu untuk kebaikan Hasna, Pa? Selama ini Hanifa menuruti apa keinginan, Papa hanya untuk mencetak karakter Hasna menjadi lebuh baik. Bukan untuk menentukan masa depan dia," protes Hanifa.


Wanita ini sungguh tak menyangka jika Angkasa telah merencanakan perjodohan untuk putrinya.


Hanifa, yang juga memiliki trauma terhadap laki-laki, bahkan telah menolak lamaran berkali-kali yang datang menghampirinya. Karena itulah, Hanifa juga tak pernah menekankan pada putrinya untuk segera menikah. Apalagi, di usia muda.


"Papa memang tidak tau, Han. Tapi setidaknya Papa mencoba untuk menyerahkan Hasna pada laki-laki yang beragama dan juga berakhlak baik. Dari lingkungan yang juga baik," jawab Angkasa berusaha memberi pengertian agar putrinya ini tak salah paham akan maksud dan juga tujuannya.


"Tetapi, Papa tetap salah karena tidak melibatkan Hanifa dalam masalah ini! Hanifa itu orangtuanya Hasna, Pa! Hanifa yang lebih, bertanggungjawab terhadap kebahagiaan Hasna!" ujar Hanifa dengan emosi yang sudah tak mampu di kontrolnya. Hingga, ia berkata dengan nada tinggi pada laki-laki yang merupakan orang tuanya ini.


"Tenang sayang. Kamu jangan marah. Kalau begini, kamu mengingatkan Papa akan Mamamu," sahut Angkasa berusaha meredam kemarahan putrinya itu.


Hanifa membuang mukanya. Bagaimana pun, Angkasa telah membuatnya kesal. Selama ini apa yang pria itu katakan Hanifa selalu menurut. Hingga, keputusan untuk memasukkan Hasna ke pesantren pun Hanifa ikut.


Entah kenapa, Angkasa sama sekali tidak melibatkan dirinya soal perjodohan ini.


Hanifa merasa kehadirannya tidak dianggap.


"Tolong jangan marah begini. Sifat kamu itu mirip sembilan puluh sembilan persen dengan Mamamu. Papa jadi merindukannya kalau begini," rengek Angkasa berusaha meredam kemarahan Hanifa.


Angkasa tau bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar. Karena telah diam-diam mengambil keputusan besar ini.


"Hanifa mau kembali ke kamar Hasna," ucap wanita yang menutup wajahnya dengan niqob itu lesu.


"Oke kita kembali." Angkasa pasrah jika saat ini putrinya itu terlanjur kecewa padanya.


Dua hari sudah mereka menemani Hasna di rumah sakit.


Untuk pakaian ganti terpaksa Hanifa memesannya dari toko online shop.


Sebab, kediaman mereka cukup jauh dari rumah sakit ini.


Keadaan Hasna sudah cukup membaik.


Berbagai macam selang pun sudah di copot dari tubuhnya. Hanya tinggal selang infus saja.


Hasna juga sudah bisa makan bubur.

__ADS_1


Pagi tadi, bahkan Gus Musa sudah mau merepotkan dirinya datang untuk mengantarkan bubur buatan Ning Khumaira.


Hasna yang tidak napsu makan olahan dari rumah sakit pun, seketika lahap ketika makan bubur buatan Ning Khumaira.


Hasna hanya melirik sekilas ke arah Gus Musa yang duduk di sofa. Sementara, Hanifa tengah memasukkan suapan terakhir kedalam mulut putrinya itu.


"Hasna, boleh gak besok makan bubur ini lagi, Bund?" tanya Hasna pelan.


"Nanti, Bunda bicarakan pada Gus Musa ya. Ning khumaira pasti senang karena kamu suka dengan bubur buatannya," jawab Hanifa yang mana langsung membuat Hasna tersenyum.


"Sampaikan juga terimakasih Hasna kepada Gus Musa dan Ning khumaira ya Bun," ucap Hasna lagi pelan.


Meskipun begitu, Gus Musa dapat mendengarnya. Karena sejak tadi pria itu memang menguping pembicaraan dari ibu dan anak ini. Meskipun tatapan matanya mengarah pada ponsel yang ia mainkan.


Bisa aja Gus Musa pura-pura serius padahal menguping. 😆


Gak boleh tuh!


Kepo namanya! 😁


Keesokan harinya Gus Musa kembali membawakan bubur pesanan Hasna.


Hanifa sedang di dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Maka Musa takkan menyia-nyiakan, kesempatan untuk berbicara dengan Hasna.


Tentu saja ucapannya itu membuat kedua mata Hasna membulat sempurna.


"Ha, tidak usah. Lagipula, aku udah bisa makan sendiri kok," jawab Hasna menolak secara halus.


Tentu saja dia menolak. Baru berhadapan saja hatinya sudah tak karuan.


Perasaan yang baru pertama Kali Hasna rasakan.


Mungkin, semua datang setelah dirinya mencoba menerima kodrat dan juga segala takdir yang merupakan ketentuan dari Allah.


"Tapi akan, tangan kanan kamu masih diinfus!" tunjuk Gus Musa.


"Gapapa kok, aku bisa insyaallah. Cukup sudah selama tiga hari Hasna makan di suapi macam bayi. Sekarang, Hasna tak mau lagi merepotkan orang lain," jawab Hasna. Masih bersikukuh menolak tawaran dari Gus Musa.


"Kamu jangan merasa seperti itu, Hasna. Kamu sama sekali tidak merepotkan orang lain," kilah Gus Musa.


Hasna tetap menggeleng.


"Tolong, sampaikan terima kasihku kepada Ning Khumaira. Bubur buatannya sungguh membuat Hasna bersemangat," ucapnya tanpa memandang wajah pria di hadapannya ini.

__ADS_1


"Baik, nanti akan ku sampaikan. Ummi juga sangat bersemangat membuatnya. Setelah biaya tau kalau kamu sangat menyukainya. Ummi, sayang sama kamu Na. Aku juga."


Sontak, kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Gus Musa membuat Hasna mendongakkan kepalanya.


"Apa?"


Hasna tak tau apa apa yang harus dia ucapkan.


"Aku, sayang sama kamu. Mungkin, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk sebuah pengungkapan hati. Tetapi, aku gak tau kapan lagi ada keberanian untuk mengutarakan ini ke kamu. Kalau boleh, setelah kamu sehat dan pulang nanti. Aku, mau mengkhitbah kamu, Hasna," tutur Gus Musa dengan segala keberanian yang telah ia keluarkan. dari dalam dirinya.


Hasna kembali menunduk. Gadis itu tak tau harus menjawab apa.


Semua ini terlalu cepat untuknya.


Hasna masih baru mulai untuk menata hatinya kembali.


Tetapi, kenapa jodoh sudah datang menghampiri.


"Haihh, aku harus jawab apa?" batin Hasna menjerit minta tolong.


Udara seketika menipis.


Hasna ingin sekali Gus Musa menjauh agar dia bisa bernapas lega.


"Maaf, aku tidak ingin membebani pikiranmu Hasna. Aku hanya takut, jika ... Mas Amar yang lebih dulu mengutarakan perasaannya padamu."


Perkataan Gus Musa kali ini bukan hanya membuat mata Hasna yang membulat tapi, mulutnya juga.


Hasna melongo, bagaikan sapi ompong.


Ia bukannya tak mengerti dengan apa yang Gus Musa ucapkan.


Tapi, sebagus apa pribadinya hingga dua Gus yang pandai agama ini menyukainya.


Hatinya semakin dag-dig-dug tak karuan.


"Apa-apaan dia? Kenapa semudah itu bicaranya. Polos sekali," batin Hasna.


Hasna kembali menunduk semakin dalam setelah ia sadar telah menatap lama pria di hadapannya ini.


"Jangan di pikirkan dulu ya. Abaikan saja. Kamu istirahat lagi aja. Biar aku kembali duduk di sana," ucap Gus Musa.


"Kamu pulang aja gapapa kok. Gak usah nungguin aku. Kan udah ada Bunda," sahut Hasna.


"Kamu ngusir aku, Na?" Kedua mata Gus Musa terbelalak dengan jari telunjuk yang mengarah ke hidungnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2