Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 21# Kejadian Di Tengah Malam


__ADS_3

"Hasna bisa, pulang sendiri. Lagipula, tidak baik jika diantara kalian berjalan berduaan," ucap Kyai Faisal.


"Astagfirullah. Abi benar," sahut Gus Amar.


"Hasna, hati-hati di jalan," ucap Gus Musa dengan seulas senyum yang justru membuat Hasna bergidik.


Dua lelaki di depannya ini, nampak menggelikan dengan tatapan mereka. Tampan? Gagah? Pintar, terpandang? Tentu saja. Akan tetapi hal itu semua sama sekali tidak mampu menggugah hati Hasna yang sudah terkunci rapat.


Lagipula, bukan kali ini dirinya menemui pria tampan yang menawan. Sejak sekolah menengah dulu, Hasna sudah antipati terhadap mereka. Terutama pria tampan lagi pintar.


Akan tetapi, bukan berarti Hasna akan memilih pria yang pas-pasan. Baginya, tak ada kamus percintaan dalam hidupnya. Entahlah, Hasna Nyatanya belum menemukan hakikat hidupnya hingga saat ini.


Karena itulah dulu Hasna tergerak untuk membela kaumnya untuk menjadikannya satu hal yang manfaat bagi waktu dan juga hidupnya.


"Assalamualaikum, Ning dan Kyai," pamit Hasna setelah mencium Takzim kedua pengurus ponpes tersebut.


Ning Khumaira melepas kepergian Hasna agak berat. Wanita itu tak tega, melihat luka di punggung tangan gadis itu. Meskipun, keadaannya sudah membaik.


Tanpa sepengetahuan mereka, Gus Amar menghilang.


"Mas Amar kemana?" Gus Musa mengedarkan pandangannya.


"Mungkin, Mas-mu itu mau istirahat," sahut Kyai Faisal.


"Kalau begitu, Musa juga pamit, Bi," ucap Musa. Setelah mendapat anggukan dari pria paruh baya berwajah penuh wibawa itu, Musa langsung pergi.


________


"Aku akan memastikan kamu aman sampai di asrama, Nona," gumam Gus Amar, dari balik pohon. Ternyata dia mengikuti Hasna hingga ke depan asrama santriwati.


Amar menghela napas lega, ketika Hasna telah masuk kedalam asramanya. Dia pun berbalik hendak kembali ke kediaman utama. Tetapi ...


"Jadi, Mas ngilang ke sini!" tegur sosok berjubah serba putih yang tentunya sangat mengagetkan Amar.


"Astagfirullah. Kamu tuh, ngagetin Mas aja. Lah, kamu sendiri ngapain di sini?" tegur Gus Amar pada Gus Musa.


"Niatnya mau pantau Hasna. Tapi udah keduluan, Mas," cebik Gus Musa.


"Hahaha! Ternyata, niat kita sama toh Dek," Gus Amar pun tergelak.


"Mas gak tega aja. Dia jalan sendirian. Walaupun ini masih area kawasan santriwati. Ya udah yuk, kita balik!" ajaknya setelah menjelaskan sekadarnya kepada sang adik.


Meskipun, nyatanya gus Musa telah berpikiran lain.

__ADS_1


"Mas, tertarik ya sama Hasna? Belum pernah Mas sepeduli ini ke perempuan. Ayo, Mas jujur aja," tebak Gus Musa, langsung pada intinya.


Musa tak ingin menyimpan prasangka terhadap saudara sendiri. Lebih baik ia segera menanyakannya langsung.


"Sepertinya iya. Gadis itu unik, Dek. Dia biasa aja liat Mas. Gak cari muka atau kaget sama sekali. Ekspresinya biasa aja," jawab Amar. Kedua kakak beradik ini mengobrol sambil jalan balik menuju kediaman utama.


"Dia bukan gadis sembarang, Mas. Hasna memang unik dan berbeda. Mas mau tau gak, perkenalanku dengannya pertama kali karena apa?" ungkap Musa pada satu-satunya saudara yang ia punya.


"Kayaknya menarik. Boleh ceritain deh!"


"Pertama, aku di serempet motornya Mas. Kayaknya waktu itu dia abis balapan liar trus di kejar tim jaguar," terang Musa dengan kekehannya kala mengingat dirinya nyungsep di trotoar gara-gara Hasna.


"Dia, pembalap liar? Masyaallah!" seru Gus Amar kaget.


"Iya. Tapi bagusnya penampilannya tetap syar'i dan tertutup. Dia juga kayaknya jago beladiri. Soalnya pas pertemuan kedua. Aku lagi-lagi di tabrak. Pas dia lari diarea pesantren, lagi-lagi aku kejengkang. Tenaganya lumayan kuat, apalagi tendangannya," terang Gus Musa lagi dengan senyum yang sesekali menghias wajah tampannya itu.


"Dia, si Hasna itu, yang telah melakukannya beberapa hal itu padamu, Dek?" heran Gus Amar dengan kening yang berkerut.


Gus Musa pun mengangguk cepat mengiyakan ucapannya.


"Wah, ternyata dia ukhti bar-bar juga!" celetuk Gus Amar. Keduanya pun tertawa, Sementara itu di dalam kamar asrama Hasna terlihat menggaruk telinganya.


"Kamu kenapa, Na?" tanya Syifa.


"Pasti ada yang lagi ngomongin kamu deh!" celetuk Sarah.


"Semoga saja, hal yang baik-baik. Tapi, hal baik apa yang bikin telinga aku gatal banget!" kesal Hasna karena hal itu mengganggu tidurnya.


Beberapa saat kemudian di sebuah kampung yang terletak tak jauh dari pondok pesantren Darussalam.


Ada sebuah kejadian yang membangunkan sebagian penduduknya di tengah malam buta.


"Maling!"


"Maliiingg!"


Teriak para petugas ronda yang kebetulan memergoki kejadian tersebut.


"Ada apa ini?" tanya salah satu aparat desa.


"Ada dua pria berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumah seorang juragan kambing. Dan dia membawa banyak sekali perhiasan juga uang tunai. Kata juragan, itu simpanan buat pergi umroh," jelas salah satu pria yang memergoki kejadian itu.


"Lalu, kira-kira kemana larinya maling-maling itu?"

__ADS_1


"Masuk ke kebun milik pondok pesantren Darussalam. Takutnya, mereka menyusup masuk ke area pesantren, lewat tembok belakang," jelasnya lagi.


"Kalau begitu, kalian terus kejar dan cari. Saya akan ke pondok pesantren untuk memperingati Kyai Faisal akan hal ini," ucap sang aparat desa langsung berlalu cepat dengan beberapa orang warga. Sementara yang lainnya meneruskan aksi pengejaran.


Di ketahui, para maling itu cukup sadis dan nekat. Mereka juga memiliki senjata tajam.


Terbukti, salah satu pembantu di rumah juragan kambing tersebut mengalami luka yang lumayan serius karena berusaha menghalang si maling membawa kabur bawang curiannya.


Para warga itu telah sampai di gerbang.


Pak Satpam yang berjaga lantas bertanya dengan tegas.


"Ada apa ini, tengah malam mendatangi pesantren?"


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada Kyai Faisal. Ini menyangkut keselamatan dan keamanan para santri," jelas aparat desa itu.


"Memangnya ada apa? Biar nanti saya yang akan sampaikan kepada Kyai. lagipula, ini adalah jam istirahat," tegas Pak satpam.


"Tolong biar saya yang sampaikan sendiri. Lagipula ini gawat dan berbahaya. Jika tidak, untuk apa kami semua tengah malam berjalan jauh hingga sampai ke sini!" Pak aparat desa mulai tak sabaran.


"Sebenarnya ada apa? Coba jelaskan dulu pada saya?" paksa Pak satpam. Beliau juga bersikeras karena tau keamanan pondok adakah tanggung jawabnya. Bahkan, satu teman jaganya pun setuju.


"Agak aneh kalian ini. Di depan dijaga begitu ketat. Tapi pada bagian belakang pesantren terdapat tembok yang landai sehingga mudah di masuki oleh orang asing!" ujar Pak aparat desa lagi.


"Apa iya?" Kedu satpam tersebut pun kaget. Karena mereka memang tak pernah memeriksa bagian belakang. Itu karena area pesantren cukup luas. Lagipula, belum pernah ada kabar cerita tentang santri yang kabur juga dari sana.


Akhirnya, gerbang di buka dan aparat desa serta beberapa warga di perbolehkan masuk. Salah satu satpam mengantar hingga ke kediaman Kyai Faisal.


"Assalamualaikum Kyai. Maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Pak aparat desa mengawali kedatangannya ke ponpes ini.


Pria itu pun menceritakan apa yang terjadi.


"Astagfirullah!" ucap Gus Musa dan Gus Amar yang juga ikut menemui warga bersamaan.


"Jika maling itu benar menyusup lewat area tembok paling belakang. Itu artinya kawasan danau yang menjurus ke asrama santriwati," terang Gus Musa.


"Panggil beberapa santriwan yang terbaik dalam bidang beladiri dan juga para pengajar laki-laki untuk berjaga. Kita ronda malam ini!" titah Kyai Faisal.


Sementara itu di area belakang asrama santriwati.


Srek srekkk!


Langkah kaki gusar yang menginjak daun kering terdengar begitu gaduh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2