
"Bukan, Neng. Tapi, Bunda kerumah sakit," kilah Unang.
"Innalilahi! Siapa yang sakit? Rumah sakit mana, Pak?" cecar Aira mendadak panik.
"Sabar dulu atuh, Neng. Bapak jawab satu-satu. Dengerin!" ucap sang penjaga, yang sudah menunggui rumah itu semenjak Hanifa lulus sekolah.
Unang kala itu berkerja sebagai penjaga di sebuah sekolah Madrasah Aliyah. Akan tetapi karena sebuah fitnah pria itu di berhentikan. Hanifa memohon pada Angkasa agar menolong Unang yang pada saat itu belum lama menikah.
Pria itu takut gak bisa memberi makan istrinya jika ia tidak punya pekerjaan. Lagipula, Hanifa yakin bahwa kasus itu mencuat lantaran adanya beberapa orang yang tak suka pada kejujuran Unang.
Unang pun menceritakan kejadian demi kejadian pada putri pertama majikannya ini. Dari awal Hasna di bawa ke pesantren. Bahkan, Aira sempat duduk di kursi yang ada di teras.
Asisten rumah tangga tersebut menyediakan minum untuk mereka berdua.
Bahkan, juga sekotak tissue untuk Aira menyeka air matanya.
"Nah, berita terakhir yang bapak terima ketika, Ibu menelepon ya gitulah. Ibu karena Hanifa bilang bahwa Pak Angkasa kecelakaan ketika mau menjemput Hasna di rumah sakit. Setelah itu tak ada kabar lagi sampai sekarang," ungkap Unang.
Aira tak henti-hentinya meneteskan air mata sampai sesenggukan. Gadis itu tak menyangka kepergiannya selama setahun, membuatnya ketinggalan begitu banyak kisah di rumah ini.
Apalagi, beberapa bulan terakhir ini Aira sengaja tidak menghubungi orang rumah karena ia ingin fokus mempercepat kelulusannya.
"Sekarang bilang sama Aira, dimana rumah sakit tempat kakek di rawat. Aira mau kesana sekarang juga!" pinta gadis itu yang sudah bersimbah air mata dengan hidung yang juga memerah.
"Duh, Bapak lupa. Coba tanya sama Ijah," ucap Unang. Kemudian pria itu memanggil asisten rumah tangga tersebut dengan keras. Hingga, Aira menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Pak! Samperin aja sana. Jangan teriak dari sini, gak sopan. Memanggil orang itu ada adabnya. Kalau bisa mendekat, sebaiknya kita mendekat. Lalu panggil dengan sebutan atau panggilan nama yang baik. Jangan terlalu melengking apalagi di sertai emosi," jelas Aira.
Mendengar penuturan anak dari majikanya itu, Unang jadi malu sendiri. Sikapnya yang primitif memang susah di rubah.
"Maaf, Neng. Bapak lagi cosplay jadi Tarzan," kelakar Unang mencoba berdalih dari kesalahan yang ia lakukan.
"Minta maaf itu, untuk mengakui kesalahan, Pak. Bukan untuk mengelak dari kesalahan tersebut," ucap Hasna lagi, yang mana langsung menyentuh hingga ke ujung dasar hati Unang.
"I–iya, Neng. Makasih, udah ngingetin Bapak," sahut Unang. Setelahnya ia melangkah masuk ke dalam rumah untuk menanyakan tentang alamat rumah sakit tempat Angkasa di rawat.
"Jah, Ijah!" panggil Ujang, seraya masuk ke dalam ruangan dapur.
"Ada apa Pak? Apa Non Aira mau makan ya? Ini, Ijah belum selesai ... baru mau mulai masak," jelas Ijah, yang memang masih terlihat mencacah bumbu dan juga sayuran.
__ADS_1
"Bukan. Neng Aira, tadi nanya dimana alamat rumah sakit tempat Ustadz Ang di rawat. Kamu tau gak?" tanya Unang.
Ijah langsung menghentikan pekerjaannya. Bahkan wanita yang berusia sepantaran dengan Unang itu pun mematikan kompor. Terlihat keningnya berkerut tanda ia tengah berpikir keras saat ini.
"Lama banget sih mikirnya, jah?" protes Unang, dengan wajah yang mulai di tekuk karena kelamaan nunggu.
"Ijah lagi ingat-ingat. Waktu Ibu nelepon itu nama rumah sakitnya kan Ijah catet di kertas. Nah, Ijah lagi ingetin kira-kira kertas itu dimana. Soalnya Ijah lupa namanya rumah sakitnya," sahut wanita bertubuh gemuk ini penuh sesal.
Kenapa daya ingatannya harus selemah ini, pikirnya.
"Aduh, Jah. Kamu kan pelupa!"
"Ya, maka itu Ijah ada inisiatif buat catet nama rumah sakitnya. Kali aja kita mau besuk," kilah Ijah.
"Ya terus sekarang kamu juga lupa, nyimpen catetannya dimana!" pekik Unang frustrasi.
"Nah itu dia masalahnya. Seenggaknya, Ijah pinter, punya inisiatif. Walaupun, ikut lupa, he," cengir Ijah tanpa dosa.
"Kalo kamu pinter, nyatetnya itu di ponsel. Bukan di kertas yang bisa aja kamu lupa juga letakinnya dimana, Ijah!!" geram Unang.
Aira yang mendengar keributan dari teras pun akhirnya masuk kedalam.
Unang dan Ijah sontak menengok ke sumber suara.
"Maaf, Non. Bibik lupa alamat rumah sakitnya," jawab Ijah.
Aira hanya tersenyum.
Gadis itu sudah menemukan cara lain. Karena itu dirinya seketika tak lagi kebingungan.
"Gapapa, Bik. Lupa itu kan memang sifatnya manusia. Hal itu Allah berikan pada kita untuk menunjukkan salah satu kuasanya. Dan juga, sekaligus mengingatkan bahwa kita sejatinya hanyalah manusia yang lemah," timpal Aira.
Gadis itu kembali keluar seraya mengutak-atik ponselnya.
"Beda ya kalo orang ngerti agama. Semua hal akan di kaitkan dengan kekuasaan sang pencipta," ucap Ijah. Seraya kembali meneruskan aktivitasnya.
Sementara itu, Aira terlihat melebarkan senyumnya ketika panggilannya terhubung.
"Assalamualaikum, Gus Musa. Ini, Aira," ucapnya menyapa dengan hati yang penuh debaran tak biasa.
__ADS_1
Unang sudah pamit untuk kembali ke pos. Tadi pria itu lagi enak ngopi. Mungkin sekarang sudah dingin. Karena itu dia tadi membuatnya lagi ke dapur.
Mendengar jawaban dari lawan bicaranya di ponsel. Aira senang bukan main. Selain mendapat kabar dimana rumah sakit sang kakek. Aira juga tau bagaimana kabar dan keadaan Hasna sekarang.
Hanya saja, belum ada pembahasan soal rencana pernikahan.
"Aku akan hubungi Mas Amar agar beliau mengirimkan Sherlock alamat rumah sakit tersebut. Kamu tunggu ya. Nanti aku kirim," ucap Gus Musa dari seberang telepon.
"Afwan, Syukron juga Gus. Aira akan tunggu dengan sabar," ucap Aira dengan senyum terkembang yang sejak tadi tak terlepas dari wajahnya.
Tak lama masuklah notif pesan di ponsel Aira.
"Sudah ku terima, Gus. Aira akan berangkat sekarang juga," ucap gadis ini semangat luar biasa. meskipun, dirinya masih terlihat lelah.
"A–itu ...." Gus Musa tidak bisa meneruskan ucapannya karena panggilan sudah di putuskan secara sepihak.
Aira segera berlari ke dapur lagi. Membuat asisten rumah tangga terlonjak saking kaget akan panggilan dari Aira padanya.
"Maaf, aku udah buat Bibik kaget ya," sesal Hasna dengan ekspresi salah yang kentara si wajahnya.
"Enggak kok, Non. Bibik aja nih yang suka latahan gini. Gak tau gimana ya cara ngobatinnya. Bibik capek jadi bahan tertawaan orang dimana aja. Eh, kok jadi curhat. Tadi, Non, mau bicara apa ?"
"Bibik mau sembuh dari latah. Gampang Bik. Biasakan aja mengucapkan kalimat-kalimat toyyibah di setiap kegiatan yang sedang Bibik kerjakan," jelas Aira.
"Apaan tuh, Non. Kan banyak!"
"Ya Bibik tinggal ucapkan salah satu sesuai dengan apa yang sedang Bibik kerjakan. Ucapkan dengan sepenuh hati," tutur Aira lagi.
"Contohnya, Non? Maaf Bibik orang awam jadi banyak nanya,"
Hasna kembali tersenyum dan memulai penjelasannya.
"Misal gini, Bibik kan lagi masak maka awali setiap kegiatan ini dengan mengucap basmalah terlebih dulu. Akhiri dengan Alhamdulillah ketika ada menu yang sudah matang. Selama menyiapkan maupun memasak, Bibik bisa sambil istighfar atau tahlil, yaitu mengucap kalimat Lailaha ilallah."
"Oh, gitu ya Non. Hooh deh. Sekarang, Bibik ngerti. Jadi pas lagi kerja Bibik harus dzikiran terus ya?"
"Iya, Bibik ...! Selain bisa menyembuhkan latah, Bibik juga dapet pahala dan juga keberkahan. Masakan yang Bibik masak jadi sekali enak dan barokah Bik," jelas Aira.
Sementara itu, Gus Musa sedang berjalan mondar-mandir. Bak orang keder di dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung