
"Mas Amar!"
Pria yang di sebut namanya hanya tersenyum lebar dengan alis yang dimainkan.
"Allah benar-benar gercep buat kamu. Gak jadi sad boy deh. Alhamdulillah," ucap Gus Amar.
"Allah maha tau, Mas. Doa anak Sholeh langsung diijabah," kelakar Gus Musa. Mereka berdua pun berpelukan sambil tertawa dalam rasa syukur.
Setidaknya, tak akan ada yang iri hati nanti diantara keduanya. Allah menjaga perasaan mereka, dimana kedua saudara ini saling menyayangi satu sama lain.
Kyai Faisal dan istrinya kembali ke rumah sakit untuk menemui Angkasa, sahabat mereka. Dimana pada pertemuan kali ini keduanya sama-sama tergelak.
Mereka tertawa bahagia, juga penuh syukur. Ketika Allah merestui rencana mereka yang ingin mempererat hubungan dengan menjadi besan.
Masyaallah.
Tabarokallah.
Allahu Akbar.
Hanya itu yang mereka sebut berkali-kali.
Hingga tiba, kepulangan bagi Angkasa. Hasna pun ikut mengantar hingga kerumah.
Itu artinya, ia akan berpisah sementara dengan keluarga Kyai Faisal, termasuk Amar.
Pria itu tidak akan bisa lagi menemui Hasna sebelum mereka resmi menikah nanti.
Karena kepulangan Hasna mengantar sang kakek juga berarti kepulangan Hasna sebelum menjadi pengantin. Begitu juga dengan Aira.
Karena pernikahan kakak beradik ini telah di tetapkan pada waktu yang sama.
"Gimana perasaan kamu, Dek?" tanya Aira pada Hasna.
"Entahlah, Kak. Semua perasaan berkumpul jadi satu. Antara ingin berteriak saking senangnya dan juga menangis," sahut Hasna sambil memegangi kedua pipinya yang serasa kesemutan.
"Kamu benar, Dek. Kakak juga gak nyangka niat pulang itu ya ingin kumpul sama kalian lebih cepat. Meski terselip dalam hati sebuah nama. Tak menyangka jika Allah mengabulkan keinginan Kakak tanpa di pinta. Allah memang yang paling tau apa yang menjadi kebutuhanmu," ucap Aira.
"Kak, kenapa jodoh kita bisa saudaranya gini sih?" heran Hasna.
__ADS_1
Aira pun menggeleng sambil tertawa.
"Rahasia Allah, Dek. Intinya, kita menikah dengan. pria yang memang haram untuk kita sentuh. Jadi di perbolehkan. Meskipun, nanti kamu jadi kakak iparnya kakakmu yang comel ini kan," seloroh Aira.
"Iya, ya Kak. Bener juga. Jadi ribet dong ah manggilnya," ucap Hasna.
"Untuk apa di pusingkan. Toh itu hanya sebuah panggilan. Sekarang, yang harus kita pikirkan adalah. Bagaimana menjalankan peran seorang istri yang disyariatkan sesuai tuntunan agama Islam. Apa adek udah paham? Pernah baca kitab Fathul Izhar?" cecar Aira.
Hasna pun menggeleng. Tak ada satupun, kalimat yang ia mengerti.
"Tak apalah, Kakak yakin, Gus Amar akan mengajarkan kamu perlahan dengan kesabarannya. Pria itu, sangat lembut Kakak rasa," ucap Aira. Jika bersama Hasna maka sifat dewasa akan muncul sendiri. Berbeda jika dirinya sudah bersama dengan Musa.
Entah, kenapa sifat ceria dan seenaknya tanpa sungkan dari Aira lebih dominan. Mungkin karena keduanya pernah menjadi kawan akrab sebelumnya.
"Iya itu, Kak. Satu hal yang bikin Hasna yakin dan berubah pandangan. Melihatnya ada satu perasaan damai dan tenteram. Hal yang tak pernah Hasna rasakan kecuali jika bersama kakek. Hasna seakan melupakan rasa kecewa itu sesaat. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu menyejukkan hati. Hasna bahkan, sadar akan kesalahan dari langkah yang Hasna ambil ini, berkat isi ceramahnya. Mungkin, Allah menyentuh hati Hasna melalui nasihat yang terucap dari Gus Amar," tutur Hasna terus terang. Menceritakan perasaanya pada Aira.
Hal yang bahkan tak pernah ia ungkapkan pada sang Bunda.
"Allah itu adalah pemilik hati kita yang sesungguhnya. Jadi, ketika sudah waktunya maka Allah akan mempertemukan dengan orang yang tepat. Bahkan, hati sedingin dan sekaku apapun, akan mencair," jelas Aira seraya mengusap rambut panjang Hasna. Karena keduanya kini berada di dalam kamar.
___________
Kediaman Kyai Faisal Basri sudah ramai bukan main. Para sanak saudara dari belahan dunia dan juga kita sudah berdatangan.
Karena itulah, kyai Faisal menyiapkan sarana dan prasarana untuk menyambut para sanak saudaranya itu dengan sangat matang.
Satu kerbau sudah di sembelih untuk di masak pada malam mangkat pengantin.
Sementara lima sapi lagi untuk hari pernikahan atau walimatul ursy. Semua warga dari desa sekitar akan di undang hadir ke dalam pondok pesantren, untuk penyambutan pengantin nanti.
Kyai Faisal telah mengirim orang untuk mengantar daging sapi-sapi serta berbagai macam sayuran, buah dan beras untuk di kirim ke kediaman Angkasa.
Sementara dirinya dan juga kedua putranya telah mengantar uang seserahan beberapa hari yang lalu.
Tanpa bertemu dengan dua calon menantunya. Karena memang kedua gadis itu di pingit tubuh hari sebelum pernikahan. Sehingga, Kyai Faisal dan kedua putranya hanya bertemu dengan Angkasa dan Hanifa.
Uang tersebut akan di gunakan untuk biaya pernikahan. Sementara nanti mahar akan di berikan di saat pernikahan terlaksana.
Karena, acara pernikahan nanti akan di adakan di kediaman mempelai wanita.
__ADS_1
Bisik-bisik di kalangan para santri sudah santer terdengar sejak kepulangan Hasna kerumah. Meksipun, belum ada informasi resmi yang di sampaikan oleh pemilik pondok pesantren ini kepada para santri maupun pengajar.
Karena, bagi Kyai Faisal biarlah mereka juga akan tau pas hari akad tiba.
"Dua Gus idaman kita tau-tau sudah akan menikah. Ah siapa kira-kira pengantin wanitanya. Beruntung sekali mereka berdua."
"Apakah dari kalangan santri ataukah pengajar di sini? Jika iya, siapa?"
Mendengar bisik-bisik itu Ustadjah Ainun merasa bergejolak hatinya. Berhari-hari ia penasaran akan siapa wanita yang berhasil merebut Gus Musa darinya.
Bahkan penyelidikannya dengan melakukan pendekatan kepada Ning Khumaira pun tak membuahkan hasil sama sekali.
Justru ia menemukan sebuah bukti bahwa sosok misterius yang menjadi penyelamat pesantren kala itu adalah Hasna.
"Kenapa lagi-lagi gadis itu lagi. Kedatangannya ke pesantren ini mampu menarik perhatian hampir semua kalangan. Keterlaluan! Awas saja, jika dia yang merebut Gus Musa dariku!" batin Ustadjah Ainun dalam hati. Dengan segala kebencian yang entah karena apa.
"Ustadjah Ainun!!" panggil Ustadjah Nurul sambil berlari.
"Kenapa, kok lari-larian segala?" herannya. Padahal saat ini dirinya ingin sendirian.
Tetapi, bagaimana lagi, ruang guru ini adalah tempat bersama. Tempat para pengajar istirahat sebelum mereka kembali ke kelas.
"Ada beberapa santriwan yang menyebarkan ini." Ustadjah Ainun meraih secarik kertas yang di berikan oleh rekannya ini.
"A–apa ini?" kagetnya. Ketika melihat selebaran foto berbagai aksi dari Hasna.
"Ini hasil dari rekaman layar CCTV manual yang di baru di temukan dan di cetak. Alat tersebut memang sengaja di pasang oleh beberapa santriwan. Niatnya untuk melacak bila ada santri yang kabur maupun bertindak tidak sesuai syariah di lingkungan pesantren ini. Ternyata, sosok wanita misterius itu adalah Hasna!" ungkap Ustadjah Nurul dengan kedua manik mata yang berbinar.
Ustadjah Ainun terdiam.
Dia yang telah lebih awal tau mendadak semakin kesal. Karena dengan begini nama Hasna akan semakin melambung.
"Kak Ainun. Setidaknya saya sekarang tau siapa sosok misterius itu yang telah menyelematkan saya. Kak Ainun janji kan mau temani saya untuk menemui penyelamat itu. Ternyata, dia salah satu murid kita, Kak. Masyaallah," ucap Ustadjah Nurul penuh kagum.
"Kamu temuin saja dia sendiri nanti kalau sudah balik pesantren. Saya, tidak ada urusan dengan Hasna," ucap Ustadjah Ainun, dan wanita itu berlalu begitu saja.
"Ustadjah? Ada apa dengannya?"
Bersambung
__ADS_1