Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 23# Hasna Mulai Bertindak


__ADS_3

Hasna kaget karena ranting yang ia pijak mengalami keretakan. Bunyinya agak nyaring. Hingga, beberapa orang di bawah sana sempat melihat ke arah pohon dimana dirinya bersembunyi di sana.


Segera, Hasna berpindah ranting lain sebagai pijakannya dengan pelan dan hati-hati. Jangan sampai keberadaannya ini diketahui.


Beberapa santriwan dan pengajar masuk menyergap area dapur. Hingga terjadilah perkelahian di sana. Mbok Minah yang keluar dari kamarnya karena kegaduhan yang terjadi. Lantas menjadi sasaran empuk yang di jadikan sandera oleh pencuri yang mulai terpojok itu.


Hasna masih memperhatikan dari atas pohon uang lain. Sungguh, gadis ini bagiamana hewan primata yang asik melompat dan memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya.


Jika ada yang melihat, mungkin bisa mengira jika Hasna itu keturunan Tarzan.


Nyatanya, Hasna itu memang gesit.


Sejak kecil kalau dia merajuk pasti akan kabur dan lari ke atas pohon.


Dia baru turun jika sang ayah sudah pulang dari kantor dan membujuknya.


Hanya sang ayah, satu-satunya lelaki yang bisa meluluhkan hati Hasna.


Juga, satu-satunya lelaki yang pertama kali memberikan rasa sakit dan kecewa di hatinya.


Hasna melihat dengan jelas bagaimana pencuri itu memiliki ilmu beladiri yang lumayan. Mereka juga nekat dan sadis.


Mungkin, karena terpojok.


Berhubung mereka telah mendapatkan sandera maka demi keselamatan mbok Minah. Para santri dan pengajar pun tidak berani mengambil tindakan sembarangan.


Apalagi, jika yang di kalangan di leher mbok Minah itu adalah sebuah clurit.


Salah bertindak, maka mbok Minah bisa celaka.


Hasna bisa mendengar Gus Musa mengkondisikan para santriwan agar tidak bertindak gegabah.


"Biarkan mereka mundur. Kita pantau saja jangan sampai mereka melukai mbok Minah," titah Gus Musa.


Hasna, dari atas sini dapat melihat sikap Gus Musa yang tidak seperti biasanya. Pria itu tegas dengan air mukanya yang keras. Tatapan matanya nyalang memperhatikan setiap gerak-gerik para pencuri.


Sekilas rasa kagum itu menyentil naluri perempuan dalam dirinya. Buru-buru, Hasna menghempas rasa itu agar tak berlama-lama singgah di dalam hati yang telah ia kunci rapat itu.


Di atas dahan pohon, Hasna mengedarkan pandangannya, demi mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menolong tukang masak itu. Hasna tak tega melihat air mata mbok Minah sudah bercucuran lantaran wanita itu ketakutan dengan amat sangat.


Hingga ada akhirnya, Hasna menemukan biji buah.


"Semoga kalian yang di bawah sana bisa melihat peluang untuk menyelamatkan mbok Minah," gumam Hasna.


Dengan gerakan cepat, Hasna menggunakan jadi tengahnya untuk menyentil biji buah itu hingga mengenai pelipis sang pencuri.


Tak!


Aww!


Sang pencuri yang kaget dan juga merasa sakit seketika mengendurkan cekalannya di leher Mbok Minah.

__ADS_1


Salah satu santri melihat peluang itu dan sengaja melempar kayu ke arah kepala sang pencuri.


Pletak!


"Ah, sialan!"


Kayu itu mendarat tepat di kepala pencuri tersebut hingga dia terhuyung ke belakang. Sementara, mbok Minah yang lepas langsung melarikan diri.


"Mbok Minah sini!" panggil Musa. Lelaki itu pun langsung menangkap raga sepeda wanita paruh baya itu yang langsung ambruk tak sadarkan diri. Nampaknya mbok Minah sangat syok.


"Bawa beliau ke klinik!" titah Gus Musa kepada beberapa santri, lalu menyerahkan mbok Minah pada mereka.


Pencuri pertama langsung menarik kawannya itu dan mereka pun berlari dari kejaran para santriwan.


"Woyy! Jangan lari kalian!!" teriak para santri bersamaan.


Beberapa dari mereka membawa alat seadanya.


Ada yang potongan kayu, sapu ijuk maupun bambu.


Sementara, para pencuri bersenjatakan clurit dan parang.


Sesekali pencuri mengibaskan senjata mereka untuk memukul mundur para santri yang mengejar.


Hingga kini mereka telah berada di area asrama santriwati.


Ustadjah Nurul yang kebetulan berada di depan jalan untuk memukul mundur santriwati yang hendak berangkat tahajjud ke masjid alangkah kagetnya.


Pikirnya tadi para pengajar akan mengumpulkan santriwati ke dalam masjid dan berdoa bersama agar pencuri segera tertangkap.


Siapa yang menyangka jika kejadiannya seperti ini.


Para pengajar dan santriwati yang masih berada di area jalan pun sontak lari kocar-kacir sambil berteriak histeris.


Apalagi pencuri itu menodongkan senjata mereka.


Hasna yang ikut berlari di belakang para santri pun menarik napasnya. Karena gerakan lari para pengejar ini justru mendorong pencuri k area yang ramai. Sehingga, mereka lebih mudah mendapatkan sandera selanjutnya.


Benar saja. Para perempuan yang panik ini pun sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk melakukan perlawanan. Padahal, pondok pesantren ini telah membekali mereka dengan ilmu beladiri dan juga memanah.


Dengan gerakan cepat. Pencuri pertama menangkap ustadzah Nurul yang terlihat lemah dan lambat diantara yang lainnya.


"Akh!" teriak wanita itu ketika ia di tarik dan sebuah benda tajam seketika menempel di lehernya.


"Astagfirullah," bisik Ustadjah Nurul dengan bibir gemetar. Matanya terpejam dengan kedua tangan yang memegangi lengan sang pencuri.


Hasna hanya bisa berdecak penuh sesal. Karena gerakan brutal tanpa perhitungan dari para pengajar dan juga santriwan.


Juga para Ustadjah yang sembrono mengeluarkan para santriwati.


Hanya Sarah dan Syifa yang terjebak di kamar lantaran Hasna membawa kunci kamarnya itu.

__ADS_1


"Tahan gerakan kalian!" titah Gus Musa. Ia tak mau sampai ada korban lagi. Gus Musa membiarkan pencuri itu mundur semakin jauh sambil membawa salah satu pengajar wanita.


"Mundur kalian semua! Kalau mau leher wanita ini utuh, maka biarkan kami berdua keluar dari pesantren ini dengan aman! Mengerti!!" ujar sang pencuri yang mengalungkan celurit di leher Ustadjah Nurul.


"Ya Allah. Astagfirullah Hal adzim. Tolong lepasin saya," rengek Ustadjah Nurul sambil menangis.


"Diem lu! Mendingan lu kerja sama dan nurut sama gua, kalo mau leher lu ini kagak gua bikin pisah dari lu punya badan!" hardik sang pencuri.


Hal itu membuat wanita itu bergetar hebat. Saking takut dia mengunci bibirnya rapat-rapat.


Merasa tak ada tindakan apapun dari para santri. Hasna semakin maju ke depan perlahan. Dirinya sudah tak tega melihat bagaimana Ustadjah Nurul kini seakan pucat tanpa darah di wajahnya.


Hasna pun melompat dari atas pohon ke bawah, lalu gadis ini pun melempar sesuatu ke arah kepala sang pencuri pertama.


Drep!


Tuk Tuk!


Mendapat serangan diam-diam di pelipisnya sang pencuri pun mengaduh kencang lagi.


"Heh! Sapa sih yang berani lempar batu!" teriak sang pencuri kesal.


Melihat pegangannya pada clurit agak mengendur, Hasna pun maju untuk menyerang dengan pukulan jarak dekat yang langsung mengenai kepala sang pencuri.


Bugh! Bugh!


Pencuri tersebut terjengkang dan celuritnya terlempar. Kemudian sang sandera lepas dan berlari menyelamatkan diri.


Hasna sudah dengan kuda-kudanya. Sehingga, pencuri kedua maju dan menyerangnya.


Hasna pun berkelit dan menyerang dengan berani sekalipun pencuri itu menggunakan parang sebagai senjatanya.


Pencuri pertama bangun dan kini berhadapan dengan Gus Musa.


Sementara santri yang lain hanya melihat dan menonton bagiamana lagi wanita muslimah ini bergerak begitu lincah mematahkan setiap jurus pencuri yang jago beladiri tersebut.


"Siapa tuh perempuan?"


"Kayak ninja ya!"


Gus Musa pun sekilas menoleh, hingga ia hampir mendapat sabetan celurit di tangannya jika, Hasna tidak menolongnya dengan menendang rusuk sang pencuri.


Brugh!


"Makasih!" ucap Musa.


"Makanya Fokus!" tegur Hasna ketus.


"Siapa wanita ini? Suaranya seperti? Apa iya dia ... ?"


"Awas!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2