Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 20# Gus Amar Al Buchori


__ADS_3

Pada saat itulah, Musa masuk.


Tatapan pria tersebut pun langsung berpindah dari Hasna kepada Musa.


"Mas Amar!" Musa berteriak dan berlari mendapati sosok di sebelah Ning Khumaira.


"Musa!" pria itu mendekat sambil merentangkan tangannya lebar. Akhirnya keduanya pria sama tinggi itupun berpelukan.


"Sejak kapan datang?"


"Mas mu baru saja tiba satu jam yang lalu," jelas Ning Khumaira menjawab keterkejutan putra keduanya itu.


Gus Amar Al Buchori. Adalah putra pertama Kyai Faisal Basri dengan Ning khumaira. Pria dewasa berusia 30 tahun ini baru saja pulang, setelah tiga tahun menempuh pendidikan dari Kairo.


"Hasna, sini sayang. Kenalkan ini adalah Gus Amar, putra pertama Ummi," ucap wanita paruh baya itu. Dimana kini dia berdiri dengan di apit oleh kedua putranya.


Hasna pun langsung mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Begitupun dengan Gus Amar.


Hasna sekilas menatap ke arah Gus Amar. Setelahnya hadis itu menundukkan pandangannya.


"Nama yang hampir sama. Wajah yang juga sama teduh. Ilmu yang cukup tinggi dan mumpuni juga. Semoga, sifatnya berbeda," batin Hasna.


"Ayo Hasna. Mumpung kumpul semua, kamu ikut makan malam di sini bareng kita ya. Sekalian ada yang mau Ummi bicarakan sama kamu," tawar Ning Khumaira.


Demi menjaga hubungan baik antara kekayaan Kyai Faisal dan juga kakeknya, maka Hasna pun menurut saja.


Kemungkinan besar kedua kawannya bingung ketika Hasna tak kembali ke asrama.

__ADS_1


"Baik, Ning," jawab Hasna sopan dan lembut.


Ning Khumaira pun berlalu ke dalam dengan masih di rangkul oleh Gus Amar. Sementara itu, Gus Musa nampak mendekati Hasna.


"Nah gitu dong. Kalo bicara itu yang lembut. Kan dengernya enak, sampe dengan empuk ke dalam hati,"seluruh Gus Musa kepada Hasna.


"Terserah!" jawab Hasna datar. Gadis itu pun masuk mengikuti ke arah mana Ning khumaira tadi berjalan. Tanpa menoleh dan memperdulikan lagi pria yang terus memanggil namanya.


Makan malam telah berlangsung.


Tak ada satupun yang mengeluarkan suara.


Hanya terdengar suara denting dari sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Bahkan suara kunyahan pun tak terdengar, sekalipun menu yang mereka makan adalah udang krispi dan tumis labu siam.


Hasna merasa ia menjadi pusat perhatian dari dua sosok pria yang kini berada di depannya. Hasna menyadari itu hanya melalui ekor matanya saja.


"Ngapain sih mereka berdua. Di kira aku gak tau apa ya? Bikin orang susah makan aja. Aku kan paling gak suka di liatin kayak gitu," batin Hasna.


Ternyata apa yang dilakukan oleh kedua putranya tak lepas dari pengawasan Kyai Faisal.


Gus Amar nampak menyenggol siku sang adik yang duduk bersebelahan dengannya. Lalu, memberi tatapan seakan bertanya siapa gadis itu.


Dengan jahil, Gus Musa hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban tak tau.


Tak lama mereka semua selesai makan malam. Kyai Faisal mengumpulkan semua di ruang keluarga.

__ADS_1


"Hasna sini, Cah Ayu," panggil Ning Khumaira.


Hasna pun menghampiri wanita paruh baya itu, meski berbagai pertanyaan sejak tadi berseliweran di kepalanya.


"Maaf ya, atas kelakuan putra Ummi. Musa, tidak seharusnya menghukum kamu seperti itu. Kami benar-benar merasa bersalah dan tidak enak hati jika saja bunda dan juga kakekmu mengetahui hal ini," tutur Ning Khumaira. Seraya mengusap bahu Hasna.


Gadis itupun langsung paham maksud ia diundang ke sini.


"Tak apa, Ning. Semua ini adalah kecelakaan kerja. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi bukan?" jawab Hasna tenang.


"Ummi yang akan bertanggung jawab. Merawat lukamu hingga bekasnya pun hilang. Lain kali, kamu harus berani menolak jika tugas itu belum pernah di lakukan," tutur Ning Khumaira lagi seraya mengangkat telapak tangan Hasna dan meletakkannya di atas pangkuan.


"Kalau begitu, Hasna pamit ya, untuk kembali ke asrama." Ning khumaira pun mengangguk. Begitupun dengan Kyai Faisal.


"Ijin mengantar Hasna ya, Bii!" ujar Gus Amar.


"Tak perlu! Saya bisa sendiri," tolak Hasna halus seraya mengibaskan kedua telapak tangannya.


"Mas Amar kan baru datang. Mending istirahat aja. Biar Musa yang antar Hasna," ucap Musa. Memberi saran yang masuk akal tapi, sayangnya Amar menggeleng.


"Mas, gak lelah sama sekali. Lagipula sekalian cari angin malam, terus mampir solat isya di musholla," kilah Gus Amar.


Sontak Gus Musa pun memberikan tatapan tajam ke arah saudaranya itu.


"Mereka berdua nyeremin. Aku harus bisa pulang sendiri," batin Hasna, seraya bergidik.


Apanya yang serem sih, Na? 😁

__ADS_1


Mereka berdua kan ganteng.


Bersambung


__ADS_2