
Musa tak memperdulikan ucapan Gus Amar selalu saudara lelaki satu-satunya.
Dia tetap pada niatan pertama, yaitu menemui Aira dan mengutarakan perasaannya yang ia simpan sejak lama.
Walaupun, hatinya sempat terisi oleh Hasna selama beberapa waktu. Bahkan, jika boleh jujur hingga saat ini perasaan itu masih tersisa. Akan tetapi, Musa berusaha untuk menghilangkannya perlahan.
Kebetulan bukan, Aira kembali.
Sehingga, Musa akan lebih mudah mengganti posisi Hasna dengan gadis yang pernah ia kagumi sebelumnya. Gadis yang ingin ia susul kepergiannya.
Akan tetapi, terhalang permintaan sang Abi. Dimana pria itu menginginkan agar Musa membimbing Hasna dalam bidang pengetahuan agama lebih luas lagi.
Kini, dengan kehadiran atau kepulangan Aira yang lebih cepat, bagi Musa itu merupakan jawaban atas doa-doanya selama ini.
Tetapi, ternyata bahkan saudaranya sendiri tak mengerti perasaannya.
Kecewa.
Ya, sedikit.
Musa hanya berharap saudaranya itu mau berada di pihaknya saat ini.
Musa kembali menghubungi, Aira bahwa dirinya saat ini sedang menuju ke rumah sakit menggunakan motor ninja miliknya.
"Anak itu mau kemana, Um? Kenapa seperti terburu-buru?" tanya Kyai Faisal terheran-heran. Karena tak seperti biasanya, putra keduanya itu menekuk muka ketika di hadapan kedua orang tuanya.
"Ummi juga tak tau, Bi. Seperti ada yang tengah Musa pikirkan, atau ... entahlah, Bi. Kita lihat saja nanti. Lagipula, Musa sudah dewasa. Anak itu pasti tidak akan melakukan hal yang di luar batasnya," tutur Ning Khumaira, berusaha menenangkan sang suami dan juga hatinya.
Perasaan seorang ibu itu takkan bisa di bohongi. Wanita ini telah lebih dulu merasa ada yang tengah di sembunyikan oleh putra keduanya itu.
"Semoga, Um. Ya sudah, Abi mau ke selatan sebentar, ada pertemuan dengan pengurus yayasan yatim-piatu yang baru saja di buka di desa sebelah," pamit Kyai Faisal kepada istrinya.
Ning Khumaira melepas kepergian suaminya dengan mencium tangan dan memeluk sebentar raga pria yang masih nampak gagah di usia senjanya itu.
"Aku harus menemui, Amar," gumam Ning Khumaira. Baru selangkah berjalan, ada yang memanggil dari arah pintu.
"Assalamualaikum, Ning!" panggil Ustadjah Ainun.
"Wa'alaikum salam. Ada apa Ustadjah?" tanya Ning Khumaira langsung.
"Hanya ingin mengingatkan, bahwa nanti Ba'da juhur, Ning yang giliran mengisi tausiah di majelis," terang Ustadjah Ainun yang sejak tadi sambil mengedarkan pandangan matanya.
__ADS_1
"Astagfirullah. Iya, saya hampir saja lupa. Syukron ya Ustadjah sudah diingatkan kembali. Tetapi, sebenarnya Ustadjah tak perlu capek untuk datang jauh-jauh kesini, kabari saya lewat chat juga tidak apa-apa. Itulah gunanya alat komunikasi bukan?" tegur Ning Khumaira.
"Tak apa, Ning. Saya lebih suka mencari pahala dengan melakukan hal kecil dan sederhana seperti ini. Lagipula, saya lebih senang bicara langsung dengan Ning," jawab Ustadjah Ainun.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal ke dalam ya. Silakan, Ustadjah mengajar kembali," ucap Ning Khumaira.
"Silakan, Ning. Saya juga permisi kalau begitu. Assalamualaikum!" pamit Ustadjah Ainun.
"Kemana Gus Musa. Seharian ini tidak mengajar dan di pendopo juga tak ada. Hasna juga, tak terlihat di kediaman Kyai Faisal. Sementara, dia sudah kembali dari kelas berapa jam yang lalu. Apa gosip itu benar, kalau gadis itu akan diangkat jadi menantu dari salah satu putra Kyai? Menyebalkan sekali!" gerutu Ustadjah Ainun sepanjang jalan.
Hingga wanita itu tak melihat jalanan yang ada di hadapannya.
Dukk!
Aduh!
Ustadjah Ainun, memegangi kakinya sambil mengaduh. Bahkan salah satu jarinya terlihat berdarah karena terantuk batu.
"Sakit sekali! Kenapa hanya dengan memikirkan Hasna saja aku jadi mendapat sial begini?" umpatnya lagi.
Wanita tersebut pun kembali ke gedung santriwati dalam keadaan jalan yang terpincang-pincang.
Sementara itu, Gus Musa yang mengendarai kendaraan roda duanya cukup cepat. Kini telah tiba di rumah sakit. Pria itu lebih dulu memarkirkan motornya di pelataran parkir.
"Em, boleh banget deh, Gus. Tapi, ini agak sensitif," jawab Aira.
"Maksudnya? Sensitif gimana? Sebut aja apa yang harus aku beli, atau kamu kirim aja daftarnya lewat chat. Aku tunggu ya!" ujar Gus Musa lagi.
Tak lama terdengar bunyi notif pesan masuk lewat aplikasi hijau.
"Roti, kopi instan, makanan ringan, minyak kayu putih dan ... pembalut. Hah, apa! P–pembalut!" kaget Gus Musa ketika ia melihat nama barang pada susunan daftar terakhir.
"Apa lagi ini, nb: Ukuran 29 centimeter, dengan merek Cha**m." Kali ini Gus Musa semakin mengerutkan keningnya.
Huft!
Ujian!
"Apa ini artinya kau sedang mengujiku, Ai. Aku bahkan belum melihat wajahmu yang sekarang. Tapi, kau sudah memberiku tugas dengan pembelian pembalut. Barang yang dulu sering ummi perintahkan padaku untuk membelinya di warung mbok Latifah." Gus Musa sempat menaikkan sebelah sudut bibirnya.
Mungkin hal ini, Aira anggap hal yang tabu untuk di lakukan oleh laki-laki. Tetapi, tidak bagi putra Ning Khumaira.
__ADS_1
Sejak kecil, sang Ummi sudah menjelaskan mengenai *** education pada kedua putranya. Pertama-tama, ketika sang ummi mengalami menstruasi.
Sehingga, Amar dan Musa kala itu bersatu padu untuk meringankan penderitaan yang di alami oleh setiap wanita persatu bulan sekali itu.
"Jadi, dia sedang datang bulan. Kasian sekali. Bahkan harus menginap di rumah sakit," gumam Gus Musa.
Pria itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket. Mengambil keranjang, kemudian memasukkan apa saja yang di pesan oleh Aira. Kini, tiba giliran Musa berada di depan rak berbagai macam pembalut.
Dengan lihai dan cepat Gus Musa, meraih satu bal pembalut yang isinya hanya sepuluh pcs. Karena ia pikir, besok kemungkinan Angkasa sudah pulang. Sehingga, ukuran dengan isi segitu lebih dari cukup.
Musa juga, mengambil beberapa botol minuman pelancar haid. Juga, vitamin penambah darah.
Musa juga meletakkan buah-buahan di dalam keranjangnya.
Tiba, di depan Kasir. Musa menanyakan dimana stand under ware perempuan. Sang kasir pun menunjuk bagian lantai atas. Hingga, Musa pun berkelebat secepatnya.
Pria itu memilih beberapa lembar celana segitiga berbahan katun. Musa tidak tau ukurannya. Tetapi, jika di lihat dari postur tubuh Aira yang mungil ukuran all size pasti masuk.
Tak lama, pria itu telah berada di depan kasir lagi.
Sang kasir, nampak sesekali melirik ke arah Musa.
Wanita itu tengah menimbang, apakah pria di hadapannya ini sudah menikah atau belum.
Jika belum, apakah pria ini tengah berbelanja untuk kekasihnya? Kalau iya, oh so sweet sekali. Macam melihat drama Korea bukan?
"Kenapa mereka melihatku seperti itu? Apakah aneh jika kaum laki-laki membeli barang pribadi wanita? Apa sebagian dari mereka ini berpikir aku kelainan?" batin Musa.
Karena ia melihat tatapan aneh dari beberapa laki-laki yang juga berbelanja di sana. Bahkan, Musa juga tak sengaja mendengar bisik-bisik, tentang dirinya.
Padahal, sejak kecil dia dan Amar telah terbiasa membelikan benda-benda ini untuk ummi mereka.
Karena memang itulah kewajiban mereka sebagai anak. Setidaknya ketika keduanya memiliki istri nanti pun sudah tidak tabu dan merasa aneh lagi.
Sebab, laki-laki harus tau, apa saja yang terjadi pada saat wanita mengalami menstruasi. Apa yang harus mereka lakukan ketika ibu, kakak bahkan teman mereka tiba-tiba kesakitan maupun mendapat datang bulan dadakan.
Ketika sosok laki-laki sudah paham. Maka mereka akan bisa melakukan pertolongan pertama pada wanita dimanapun mereka berada.
"Tampang pria itu cukup manis. Wajar saja jika dia sedikit menyimpang," bisik salah satu pengunjung.
"Astagfirullah," batin Musa.
__ADS_1
Bersambung