Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 18# To the Point


__ADS_3

Hari ini jam pelajaran Gus Musa. Para santriwati terlihat sangat bersemangat. Kecuali Hasna. Dia sangat risih ketika melihat para perempuan ini begitu mengidolakan sosok pria sampai segitunya.


Dari sebelum masuk kelas mereka terus membicarakan kekagumannya terhadap sosok Gus Musa yang tampan ini.


Wajah menawan, kulit putih bersih dengan kumis tipis. Pembawaan yang irit bicara dan kalem. Kepandaiannya, hingga di usia muda sudah meriah jelas sarjana S2.


Gus Musa selama tak ada cacat cela di mata kaum hawa. Sungguh sosok pria idaman yang layak di jadikan pasangan hidup. Karena itu bukan hanya para santri yang berkhayal di jadikan istri tapi juga para Ustadjah.


Terkadang, Hasna berpikir. Kenapa wanita itu mudah sekali jatuh cinta dan kagum hanya dari sosok visual semata. Giliran sudah di sakiti barulah mereka menyesal tujuh turunan.


Hasna selalu memagari harinya dari hal-hal yang hanya membuang waktu semacam itu. Karena, ia telah melihat dan mengalami betapa sempurnanya sosok sang ayah. Sholeh, tampan, pintar dan berwibawa.


Sayang terhadap keluarga. Bahkan, Hasna kecil sangat dekat dengannya. Hasna kecil sangat mengidolakannya. Hingga, terucap kata-kata polos dari bibirnya yang mungil itu.


[ Kalau Hasna besar nanti. Mau punya suami seperti ayah. ]


[ Hasna sayang ayah. ]


Sekelebat momen belasan tahun lalu itu terbayang.


Tanpa sadar, Hasna menitikkan air matanya.


Pria itupun begitu sempurna di matanya. Pria itu melimpahkan kasih sayang yang besar padahal. Akan tetapi, pada akhirnya pria itu pula yang memberikan kekecewaan dari pengkhianatannya.


Nyatanya, Hasna kecil telah merasakan yang namanya patah hati. Hasna kecil telah merasakan bagaimana kecewanya ketika sang ayah lambat laun melupakan. Bagaimana perlakuan sang ayah yang dulu menyayangi dan memanjakannya, setelah memiliki istri baru maka sikapnya langsung berubah.


Rasa sakit itu takkan ia lupakan seumur hidupnya. Rasa sakit dan kecewa itu nyatanya mampu membentuk pribadi Hasna menjadi sekeras baja. Hatinya sedingin es di kutub utara.

__ADS_1


Hasna, telah menutup hatinya untuk menerima kebaikan apapun itu dari seorang laki-laki. Ia bertekad dan berjanji takkan jadi wanita yang mudah mencintai dan lembut selembut sang bunda. Hingga dia bisa di bohongi dan di sakiti oleh mahkluk yang bernama laki-laki.


Hasna bukan hanya takut duitnya yang kecewa. Tetapi, lebih dari itu. Ia tak mau jika sampai memiliki anak, dan putrinya itu merasakan serta mengalami hal yang sama dengannya. Itu hal yang sangat ia hindari. Hasna tak mau kesakitannya ini di alami oleh orang lain.


Satu kejadian yang bekasnya tak kunjung hilang meskipun sang ayah sudah meminta maaf padanya. Semua rasa itu tak sama lagi. Kekecewaannya telah menghapus semua memori indah.


Hingga sebuah tepukan di bahu menyadarkan Hasna.


"Astagfirullah, maaf aku melamun," ucap Hasna penuh sesal. Karena ia tahu pasti dua kawannya ini sudah memanggilnya berulang kali.


"Kirain kamu kesambet, Na. Dari kelas tadi, bawaannya bengong melulu," kelakar Syifa berharap kawannya itu tertawa atau terhibur sedikit.


"Na, emangnya kamu gak suka apa sama cara mengajarnya Gus Musa. Perasaan kamu di kelas tuh b aja gitu. Padahal kita semua aja terhipnotis sampe semangat banget belajarnya," cecar Sarah.


Bagaimanapun gadis ini heran karena hanya Hasna yang tidak pernah tertarik ketika mereka membahas tentang kekagumannya terhadap Gus Musa.


Sarah dan Syifa seketika melongo ketika mendengar kata bijak itu meluncur dari bibir Hasna.


"Waw, Na. Kamu sekali bersuara berat banget isinya," ucap Syifa, kagum pada Hasna.


Hasna hanya menanggapi pujian Syifa dengan senyum tipis. Hasna kembali fokus pada laptop yang berada di atas pangkuannya.


Mereka berada di depan taman untuk menunggu jam pelajaran berikutnya. Sebagian waktu istirahat ini digunakan oleh beberapa santri untuk menghafal materi, baik itu hadist maupun bacaan Al Quran mereka.


Berbeda dengan Hasna yang lebih memilih tempat yang sepi untuk membantunya menghafal dengan lebih mudah. Ketimbang di tempat ramai seperti ini. Ya, Hasna memang tipikal menyendiri untuk fokus.


Karena itu, Hasna tidak akan bisa jika melakukan tugas bersama-sama. Misalnya tugas kelompok. Hasna lebih suka dia yang mengerjakan dan para kawannya itu hanya mempersiapkan bahan-bahannya saja.

__ADS_1


"Menurutku, kamu tuh udah paham banget sama agama. Tapi, kenapa kamu di masukkan ke kelas pemula sih?" heran Sarah. Karena menurutnya Hasna telah mengerti beberapa ilmu Islam. Bacaan Al Qur'an juga sudah fasih. Beberapa hadis juga telah Hasna hapal.


"Mana ada, sih Sar. Ilmu agama Islam itu luas. Bahkan ngalahin luas dan dalamnya samudera. Lagipula, kita gak boleh cepet puas dengan ilmu yang baru kita miliki sedikit ini. Setidaknya, aku itulah masih jauh dari baik. Dan aku kesini, ingin memperbarui itu semua," jelas Hasna.


Hanya kepada dua kawannya ini Hasna bisa cerita sedikit mengenai dirinya. Ya, Hasna memang perlahan akan terbuka kepada sahabatnya. Setidaknya kedekatan mereka ini mengobati kerinduannya kepada sahabatnya seperti Mila dan yang lain ketika di fakultas beberapa saat lalu.


"Semoga kalian baik-baik aja," gumam Hasna pelan.


Selesai pelajaran selepas ashar.


Hasna mendapat panggilan dari Gus Musa.


"Makasih ya!" ucap Hasna pada salah satu santriwati yang menyampaikan salam Gus Musa kepadanya.


"Ngapain lagi sih, dia pake manggil-manggil segala," sungut Hasna yang memang tak suka jika bertemu Musa. Hasna tak mau banyak santri dan Ustadjah yang salah paham dengannya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


"Kirain cuma berdua kayak biasa. Ternyata dia bawa orang lain ke ruangannya," batin Hasna kala melihat ada satu santri lain berada di dalam ruangan Gus Musa. Nampaknya dia guru pengajar juga.


"Silakan duduk dulu," ucap Musa.


"Gak usah!"


"To the point aja. Ada apa panggil saya ke sini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2