Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 54# Dua Bidadari


__ADS_3

Malam ini, Hasna justru kedatangan sahabatnya, Mila.


Gadis sederhana itu memaksa agar Hasna mengijinkannya menginap.


"Pokoknya ijinin aku nginep malam ini. Aku gak akan ganggu kamu, aku akan tidur di ruang tamu. Atau, sama bunda Hanifa saja," rengek Mila penuh permohonan. Padahal, Hasna sudah mengusirnya berkali-kali.


"Ya ampun, tamu gak ada akhlak. Udah di suruh pulang kok maksa nginep," ledek Hasna tak serius.


"Ya Allah, Hasna. Kamu tuh udah lama gak ketemu aku. Sekalinya pulang, tau-tau mau nikah aja. Di kasih makan apa sih kamu di pondok pesantren sampe jadi waras gini, Na?" cecar Mila yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Hasna.


"Pulang gih sana. Aku jadi makin stress dengerin ocehan lu, Mil!" usir Hasna lagi.


"Gak mau pokoknya aku gak mau pulang! Aku udah ijin sama ibu bakal jadi pendamping mempelai besok!" tolak Mila yang menahan tubuhnya pada pilar tempat tidur, agar Hasna tak mendorongnya keluar kamar.


"Yaudah, kalo mau nginep kamu jangan bawel." Akhirnya Hasna pun mengalah juga. Sebenarnya dirinya pun tak keberatan dengan keberadaan Mila. Hanya saja ia tak suka ketika Mila terlalu banyak bertanya.


Tanpa di ketahui oleh siapapun juga, hatinya saat ini sedang risau, bingung dan tak tenang.


Pernikahannya sudah tinggal besok.


Itu artinya beberapa jam lagi saja, maka sttusnya akan berganti.


Perannya akan berubah.


Sekalipun Hasna telah menguatkan mentalnya selama beberapa pekan ini, namun tetap saja beberapa jalan pikiran menghantui tidurnya.


Beberapa hal, membuatnya tak percaya diri dan yakin, bahwa dirinya akan mampu menjalankan perannya sebagai seorang isteri nanti.


"Dih, ngapa bengong nih bocah!" seru Mila, seraya mengibaskan tangannya ke depan wajah Hasna.


"Diem lu Mil. Gue lagi bingung ini. Suami gue nanti itu Gus. Seorang petinggi di pesantren ayahnya. Lu liat kan gue ini cuma ukhti bar-bar. Ilmu gue masih minim banget. Pembawaan gue juga masih seenaknya. Gue takut banget kalo nanti, justru dia malu punya pendamping kayak gue, Mil," tutur Hasna yang para akhirnya jujur jiga akan isi hatinya yang gundah gulana pada sahabatnya ini.

__ADS_1


"Hussh! Kamu kok ngomongnya gitu sih, Na. Pelan-pelan nanti juga kamu terbiasa dengan kehidupan sana. Apalagi, kamu udah dua bulanan tinggal di pesantren. Kalo kamu udah di minta jadi istrinya beliau, berarti itu artinya kamu emang udah pantes Hasna. Kamu harus yakin. Ini mungkin jalan dari Allah, biar kamu itu lebih baik. Gak jadi ukhti bar-bar lagi. Tapi, jadi Ning Hasna istrinya Gus tampan yang berwibawa," ucap Mila dengan bangga.


Hasna pun di buat tertawa malu-malu mendengar ucapan sahabatnya itu. "Lu bisa aja, Mil. Apa iya gue pantes menyandang panggilan itu. Apalagi, Gus Amar ini anak pertama. Pasti dia yang nantinya langsung menggantikan tampuk kepemimpinan abinya di pesantren," ucap hasna lagi masih dengan sedikit keraguan.


"Na. Apapun dan gimanapun nantinya. Pokoknya kamu tuh sekarang harus yakin. Bahwa apapun itu rencana Allah ... adalah yang terbaik. Ini indah banget, Na. Sumpah siapapun akan iri liat kamu. Menikah bisa barengan sama kakak sendiri. Bahkan, calon suami kalian juga bersaudara. Bukanlah, ini fenomena langka? Kamu harus tenang dan yakin serta banyak bersyukur, Na. Makanya aku gak mau sedetik pun melewati momen kebahagiaan ini. Karena, aku juga bahagia banget Na. Aku sampe gak tau lagi harus ngomong apa." Mila mengakhiri ucapannya dengan derai air mata yang ia hapus kasar di kedua pipinya.


"Yaudah, lu di sini temenin gue. Karena kalo sendirian, gue gak akan tidur malam ini," ucap Hasna. Mencoba menghempas sedih yang juga hadir di dalam hatinya.


Merasa pun tidur ketika jam mendekati pukul satu dini hari.


Sebelum subuh, Hasna sudah bangun untuk melakukan ritual ibadah dan juga mulai merasa diri. Sebab, pukul sembilan nanti rencananya mempelai pria akan tiba, dan pernikahan di mulai jam sepuluh pagi.


Sungguh akan menjadi hari yang sibuk dan takkan terlupakan selamanya bagi keempat calon pengantin ini.


Bukanlah merupakan perjalanan yang mudah bagi keempatnya untuk singgah dan sampai di momen seperti ini.


Di butuhkan kesabaran dan rasa yakin untuk berserah diri kepada sang pemilik cinta itu sendiri.


Satu hal yang harus diingat oleh para muslimah, jagalah dirimu jangan sampai menjadi bunga yang layu sebelum berkembang dan bagi kalian wahai lelaki janganlah menjadi prajurit yang kalah sebelum berperang.


Sabarlah ... jodoh sudah di tetapkan pada setiap insan.


Bila tak di beri di dunia, Insyaallah, telah Allah siapkan di akhirat nanti.


Pasangan yang akan menemanimu di keabadian surgawi.


Karena di akhirat nanti tidak akan ada jombowan maupun jomblowati.😁


Setiap manusia akan mempunyai pasangan. Pasangan untuk mereguk manis dan nikmatnya kehidupan yang abadi.


Pasangan yang tidak akan pernah menua dan menyakiti.

__ADS_1


Karena itu, yang jomblo abadi di dunia jangan sedih.


Teruslah pada ketaatan dan tingkatkan ketaqwaan.


Karena, apa yang Allah janjikan itu benar!


________


Kediaman Angkasa, telah di sulap menjadi tempat perhelatan sakral bagi keempat insan yang saling mencinta dan merindu dalam diam.


Mereka, hanya dapat menyebut masing-masing nama yang selalu tersemat di setiap untai munajat mereka. Selama kurang dari satu bulan ini. Demi memantapkan mental dan juga niat mereka.


Mengiba dan memohon pada sang pemilik hati, agar terbuka restu untuk bersama dan saling memiliki.


Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah. Dua gadis jelita tengah di hias dan di dandani oleh tenaga perias pengantin.


"Masyaallah, baru kali ini saya merias calon pengantin mudah sekali. Soalnya udah cantik dari sananya sih jadi gak perlu poles banyak udah jadi kayak princess tuh," puji seorang penata rias yang menjadi kenalan Hanifa.


"Mbaknya, bisa aja deh muji anak-anak saya. Nanti terbang deh nih calon pengantinnya," sahut Hanifa dengan senyum di kulum.


"Ih, beneran lho, Ustadjah. Sembilan belas tahun saya merias. Baru kali ini klien saya kakak beradik yang sama cantiknya," ucap penata rias itu lagi yang selalu diangguki oleh asistennya.


Bahkan, wanita yang juga mengenakan kerudung ini, terus berdecak kagum melihat sosok keduanya di cermin.


"Alhamdulillah, makasih banyak atas pujiannya. Mbak, jadi bikin saya malu deh," ungkap Aira yang kedua pipinya semakin memerah itu.


"Kamu emang cantik banget si Neng, udah kayak boneka," kata sang asisten dari penata rias tersebut. Mereka berdua Bahkan saling tatap dan mengangguk bersamaan. Seraya membenarkan posisi beberapa detil hiasan pada gaun pengantin.


Sementara itu, Hasna hanya memasang senyumnya dan mengucap syukur ketika ia melihat bayangan dirinya pada cermin besar itu.


Hasna yang tak pernah merias diri, merasa takjub akan kecantikan yang ia miliki.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2