Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 40# Pertahankan Aku!


__ADS_3

Malam hari Hasna keluar kamar untuk makan malam. Ning Khumaira langsung yang menghampirinya ke kamar. Wanita itu sangat perhatian dan terlihat begitu senang melihat kehadiran Hasna di kediamannya.


Senyum tak lapas dari wajah teduh wanita itu.


Formasi lengkap di maja makan membuat Hasna tersentuh. Ada Kyai Faisal sebagai seorang ayah. Ning Khumaira ibunya, lalu kedua putranya berkumpul dalam ketenangan di sana.


Sudah lama sekali Hasna tak merasakan momen seperti ini. Rasanya sangat damai dan harmonis.


Mereka semua menikmati makan tanpa suara. Bahkan dentingan sendok yang beradu dengan piring pun tidak terdengar. Semua makan dengan adab dan akhlak.


Setelah selesai, barulah mereka menikmati potongan buah sebagai pencuci mulut. Pada saat ini, Hasna menyadari jika Gus Amar selalu menghindar dari tatapannya.


"Ada apa dengannya? Apa Hasna ada salah?" batin Hasna merasa resah.


Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Gus Musa yang curi-curi pandang dan senyum padanya.


Hasna justru penasaran dengan sikap Gus Amar yang tiba-tiba dingin.


Sebelumnya, pria itu selalu tersenyum dan menyapanya. Bahkan, memanggilnya dengan sebutan ukhti bukan nama.


Hasna tak mengerti, kenapa ia begitu peduli dengan perubahan dari sosok pria yang dewasa itu. Dimana setiap isi ceramahnya selalu meneduhkan hati.


Bahkan Hasna menyadari kesalahannya dan terbuka mata hatinya setelah mendengar tausiah dari Gus Amar.


"Hasna, besok datanglah ke rumah sakit. Kunjungi kakekmu bersama Musa, dan juga Ummi. Maaf tadi tidak jadi Vidio call karena ponsel Abi lowbet. Sementara, handphone Bundamu, terjatuh ketika beliau turun dari taksi online. Karena itu, Hanifa tidak bisa menghubungimu," tutur Kyai Faisal mengabarkan hal yang sangat Hasna ingin tau.


"Jadi begitu. Iya Kyai, besok Hasna mau kesana," jawab Hasna."


"Besok pagi, jam sepuluh kita berangkat. Nanti, aku sampaikan ke Ustadjah Ainun dan Nurul bahwa kamu belum bisa memulai pelajaran mereka," timpal Gus Amar.


Hasna hanya mengangguk pelan dua kali.


Bagaimana pun pikirannya masih nyangkut di pria yang memiliki brewok tipis. Amar sama sekali tak merespon apapun, pada saat Kyai menceritakan tentang sang kakek.


Amar tetap fokus pada gawai yang ada di tangannya hingga pria itu bangkit berdiri dan pamit pada kedua orang tuanya.


"Bi, Ummi, Amar duluan ya," pamitnya. Tanpa sedikit pun melirik ke arah Hasna.


"Jangan tidur larut ya, Nak. Ingat waktu ketika bekerja," pesan Ning Khumaira pada putra pertamanya itu.

__ADS_1


Gus Amar langsung menghampiri sang Ummi yang kebetulan ada di sebelah Hasna. Lalu pria itu mencium pipi dan kening ummi-nya seraya tersenyum.


Bodohnya, kenapa Hasna memerhatikan setiap gerak-gerik pria itu. Dan, kenapa dia yang berdebar melihat sikap manis Amar kepada Ning Khumaira.


Sing!


Sekejap.


Atau sepersekian detik, Hasna mendapati tatapan dari Gus Amar tertuju padanya. Ia pun langsung mengalihkan pandangan karena tiba-tiba hatinya kaget dan jantungnya berdetak lebih cepat.


"Aku kenapa sih?" batin Hasna bingung sendiri.


Kepergian Gus Amar, membuat Hasna semakin malang kabur. Ia harus tau kenapa sikap Gus Amar seperti itu padanya.


Karena itu Hasna pun ikut berdiri dan pamit pada semua ya.


"Selamat istirahat sayang!"


"Iya Ummi," jawab Hasna seraya berlalu mengiringi kepergian Gus Amar. Pria itu berbelok ke arah belakang paviliun.


Terdapat aula yang cukup luas di sana.


Gerak-gerik Hasna tak lepas dari pantauan Gus Musa. Dia ikut pamit untuk mengikuti Hasna yang cukup mencurigakan menurutnya.


"Gus Amar tunggu!" panggil Hasna pada sosok pria yang mengenakan gamis panjang berwarna grey ini.


Gus Amar pun tersentak kaget dan segera berbalik. Di saat ia mengenali pemilik suara yang memanggil namanya itu.


"Hasna," kagetnya.


Ketika sosok gadis yang ia coba relakan itu kini ada di depan matanya. Gus Amar tak dapat membohongi hatinya. Semua ini rupanya cukup berat. Tak semudah apa yang ia sangka. Apalagi, Hasna koni tinggal bersama mereka.


"Ada apa? Kenapa tidak ke kamarmu saja?" cecar Gus Amar. Kedua matanya yang tegas menatap wajah Hasna yang menunduk.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Gus Amar membuat Hasna memberanikan dirinya untuk mendongak.


"Hasna mau tanya."


"Cepatlah, kamu ingin bertanya tentang apa?" tegas Gus Amar. Ia tak ingin berlama-lama dengan gadis yang bukan mahramnya.

__ADS_1


"Kenapa Gus Amar seakan menghindari Hasna? Apa, Hasna ada salah? Atau, Gus tidak suka melihat Hasna tinggal di sini?" cecar Hasna mengutarakan apa yang tersimpan dalam pikirannya.


Gus Amar terlihat terdiam sebelum menjawab pertanyaan dari Hasna. Pria itu sedang menimbang sesuatu. Apakah, dirinya jujur saja agar Hasna tak lagi salah paham padanya.


Gus Amar menghela napasnya perlahan.


"Iya, jujur ku akui ... jika aku memang sengaja menghindar darimu. Maaf, jika tingkah laku daripadaku ini membuatmu merasa tak nyaman. Aku, terima kau langsung menanyakannya ketimbang berspekulasi sendiri. Tetapi, untuk keberangkatanmu di sini aku sama sekali tidak masalah, hanya saja itu sedikit menambah beban di hatiku. Tapi, semoga ini semua tidak akan lama. Aku sedang mencoba untuk mengikhlaskan sesuatu yang belum di takdirkan menjadi milikku, itu saja," jawab Gus Amar yang justru menciptakan lipatan pada kening Hasna.


Gadis itu bingung, dan semakin tak mengerti dengan penjelasan Gus Amar yang terlalu berdiksi.


"Siapa yang sedang Gus ikhlaskan? Kenapa menghindari Hasna jika aku tak memiliki kesalahan pada Gus. Tolong jawab yang jelas tanpa memutar diksi. Aku hanya gadis bodoh yang tak paham verbal linguistik," tanya Hasna tegas.


Gus Amar saat ini ingin sekali tertawa melihat raut wajah Hasna. Tapi ia menahannya, dan hanya tersenyum tipis.


"Kalau aku jujur. Kamu jangan kaget ya. Jangan ge-er," kelakar Gus Amar mencoba mencairkan suasana. Karena ia tau jika hati Hasna mulai membara.


"Aku, mencoba mengikhlaskanmu untuk Musa adikku. Kau tau, aku yang lebih dulu ingin mengkhitbahmu sebelum kau jatuh sakit. Tapi, ketika kau sakit, kulihat Musa begitu khawatir padamu. Aku melihat cinta di dalam mata adikku itu. Karenanya, aku mundur Hasna. Lagipula, perasaanku baru sebesar biji sawi. Baru benih yang akan tumbuh. Jadi, kurasa ini semua tidak akan sulit," bohong Gus Amar. Padahal untuk berbicara seperti ini saja ia harus menahan sesak di dalam dadanya.


Hasna yang mendapati kenyataan seperti ini langsung melangkah mundur. Tungkainya lemas namun gadis ini tetap berusaha berdiri di atas kedua kakinya.


"Kenyataan apa ini.


Kenapa jadi begini?


Ternyata benar apa yang Gus Musa katakan.


Bahwa, ia tak mau keduluan Amar," batin Hasna.


"Tapi, kenapa hatiku merasa sedih. Ketika Gus Amar mundur dan bukan justru berjuang. Kenapa dia harus mengalah dari Gus Musa? Haih, Hasna! Sejak kapan kau memikirkan laki-laki." batinnya lagi.


"Kalian ini memang mahluk paling egois!" ujar Hasna. Dia pun berbalik.


Gus Musa yang bersembunyi di balik pilar ingin rasanya menampakan diri namun ia tak memiliki nyali.


"Kalau aku egois, aku pasti akan mempertahankan mu, Hasna!" seru Gus Amar yang sontak menghentikan langkah kaki Hasna.


"Kalau begitu, pertahankan aku!"


Deg!

__ADS_1


Ada yang terluka tapi gak berdarah.


Bersambung


__ADS_2