Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 16# Luka Gak Elit


__ADS_3

Setelah memberikan salep tersebut, Musa pun berlalu. Karena harus mengajar kembali di kelas lain.


Sementara itu, Hasna berlalu ke dalam kelasnya. Ketika sampai, maka kedua kawannya itu segera menghampiri tempat duduk Hasna.


"Aku denger kamu tadi masak sendirian, apa itu hukuman dari Gus Musa?" tanya Syifa heran.


"Hemm," jawab Hasna dengan deheman. Sebenarnya ia tak mau membahas hal itu lagi. Lelahnya masih terasa sampai sekarang. Bukan hanya itu, kepala pusing memikirkan berbagai macam bumbu yang harus ia hafal.


"Kok jawabnya gitu doang sih, Na. Kamu capek ya?" tanya Syifa lagi.


"Gak kok. Itu udah konsekuensiku. Namanya juga hukuman, pasti semua sengaja di persulit," jawab Hasna. Ia mulai terlihat gelisah, karena luka di punggung tangannya mulai terasa perih.


"Kamu kenapa, Na?" heran Syifa yang mendengar Hasna meringis pelan.


"Aku gak apa-apa," jawab Hasna seraya menurunkan lengan bajunya hingga menutupi punggung tangan yang terluka. Akan tetapi, justru semakin perih jika tersentuh kain.


Hasna jadi serba salah.


Tak lama kemudian datang Sarah menghampiri mereka. Jam pelajaran hampir di mulai tapi Ustadjah Nurul belum datang.


"Hasna, gimana tadi pas masak. Katanya kamu sendirian. Mana masak segitu banyak ya?" cecar Sarah yang baru datang.


"Alhamdulillah lancar. Gak usah di perbesar. Aku ikhlas," jawab Hasna. Ia ingin segera menghentikan pembahasan soal masak-memasak tadi.


Biarlah itu jadi pengalaman yang takkan ia lupakan seumur hidup. Karena dalam waktu dekat, Hasna belum tentu akan kembali lagi ke dapur.


"Oh iya, Na. Sebenarnya tadi yang mau bantuin kamu banyak. Emang jadwal mereka kan. Tapi, katanya mereka di larang sama Ustadjah Ainun," tanya Sarah lagi, sambil meletakkan telapak tangannya ke atas luka bakar di punggung tangan Hasna.


"Sshh!" Secara reflek Hasna pun meringis dan segera menarik tangannya.


"Eh, tangan kamu kenapa, Na?" kaget Syifa yang akhirnya melihat luka itu.


"Gapapa, kok. Cuma kena cipratan minyak dikit pas lagi goreng ikan," jawab Hasna, pada akhirnya. Sebenarnya ia tak mau menjelaskan hal ini pada kedua temannya. Tapi apa jadi mereka akhirnya melihat juga luka itu.


"Gapapa gimana, Na. Luka bakarnya lumayan gede itu. Kamu harus diobatin. Ayo aku anterin ke klinik deh!" ajak Syifa khawatir.


"Gak usah Fa. Aku udah kasih salep tadi. Tapi gak tau kenapa kok masih perih ya?" tolak Hasna seraya menarik Syifa agar kembali duduk.

__ADS_1


"Kok bisa kena minyak panas sih, Na. Emang gak kamu tutup wajannya ya? Kasian kamu. Kalo kayak gini bisa membekas nanti," ucap Sarah khawatir. Melihat bagaimana luka bakar itu sudah menggelembung.


Semua itu, karena Hasna telat mengobatinya.


"Gapapa membekas juga. Kan nanti bisa bersaksi dan sebagai bukti kalau aku sudah melakukan kewajibanku dalam menjalankan hukuman. Setidaknya, aku terbebas dari rasa bersalah," tutur Hasna, hingga membuat kedua kawannya itu bungkam.


Beberapa saat kemudian, Ustadjah Nurul masuk. Beliau mengajar tentang fiqih.


Kebetulan membahas soal bagaimana tata cara wudhu yang benar. Bagaimana jika kita sakit dan terdapat luka di tubuh kita. Apakah harus dibasuh air atau boleh bertayamum saja.


Ustadjah Nurul pun membawakan kisah nabi Ayyub alahi salam. Dimana pada saat itu beliau tengah sakit parah Hingga sekujur tubuhnya di penuhi koreng yang membusuk. Hingga pada setiap koreng itu terdapat belatung di dalamnya.


"Jadi, nabiullah Ayyub alaihi salam. Mengeluarkan belatung-belatung itu satu persatu dari setiap luka di tubuhnya pada suatu tempat. Kemudian beliau mengambil wudhu seperti biasa. Setelah itu, binatang kecil tersebut beliau letakkan lagi ke dalam lukanya dan beliau pun sholat." Ustadjah Nurul menjeda ucapannya sebentar demi melihat ke antusiasme para santriwati.


"Lalu ... istri beliau yang paling setia, dimana di kisah tersebut bernama Rahmah bertanya. Kenapa nabi Ayyub meletakkan kembali hewan-hewan menjijikkan itu. Kemudian nabiullah menjawab bahwa bagaimanapun belatung itu adalah mahluk Allah. Sungguh beliau adalah manusia yang sangat sabar dan bertawakal sehingga Allah memberikan mukjizat serta kesembuhan." Ustadjah Nurul menatap lembut ke arah santriwati di hadapannya.


"Dari kisah ini bisa kita ambil pelajaran. Bahwa sakitmu bukanlah suatu halangan berarti untuk meninggalkan wudhu maupun sholat. Jika memang keadaan tidak sesuai dan memungkinkan maka bertayamumlah," tutur Ustadjah mengakhiri pelajarannya.


Pada saat itu Hasna ingin sekali bertanya apakah ia juga harus membasuh lukanya dengan air. Meskipun rasanya sangat perih.


Akan tetapi, hal itu ia urungkan setelah mendengar kisah tersebut.


"Wa'alaikum salam, jawab semua santriwati serempak.


Tiba, waktunya solat ashar. Hasna benar kebingungan. Karena lukanya sangat perih. Jika terkena air maka ia akan meringis sepanjang solat. Itu bisa mengacaukan ibadahnya. Karena itu, Hasna memutuskan untuk bertayamum.


"Hasna sini kamu!" panggil Ustadjah Ainun agak kencang. Hingga para santriwati yang lain menoleh ke arahnya.


"Ada apa Ustadjah?" tanya Hasna setelah ia menghampiri.


"Kenapa saya gak liat kamu berwudhu?"tanyanya.


"Maaf, tangan saya sakit. Rasanya sangat perih jika terkena air. Maka itu saya bertayamum," jawab Hasna. Kebetulan, Musa yang akan menjadi imam sholat ashar melewati mereka. Akan tetapi tak ada yang tau karena terhalang hijab pemisah shaf.


"Manja! Mana sini liat!" Wanita berwajah teduh dengan Khimar lebarnya itu menarik tangan Hasna. Kemudian ia pun berdecak.


"Cuma luka gini aja, Hasna! Makanya jadi perempuan harus tau dapur," sentak Ustadjah Ainun melepas kembali tangan Hasna.

__ADS_1


Hasna meringis pelan sambil menahan kesal di dalam hatinya. Sungguh kesabarannya di uji semenjak masuk ke lingkungan ini.


Sementara, Sarah dan Syifa hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Mereka tidak mau mencampuri urusan Hasna dengan Ustadjah Ainun. Mereka baru kali ini melihat Ustadjah yang baik dan ramah itu bertindak ketus dan tega terhadap santrinya.


Setelah dia pergi, barulah Sarah dan Syifa menghampiri Hasna. Mereka berdua hanya bisa mengusap punggung Hasna agar gadis itu dapat mengontrol napasnya yang sudah menderu.


"Sabar, ya Na. Yok ah, udah komat tuh," ajak Sarah agar mereka segera mengisi barisan di bagian shaf perempuan.


Rasa kesal di hati Hasna seketika terhempas ketika, telinganya mendengar suara merdu Gus Musa melafazkan bacaan sholat.


Sudah beberapa kali semenjak berada di tempat ini, Hasna merasa lebih khusuk pada saat sholat. Apabila, yang menjadi imamnya adalah Gus Musa.


Selepas sholat.


Sudah waktunya para santriwati dan santriwan kembali ke asrama mereka masing-masing. Meskipun mereka berkumpul di musholla yang sama akan tetapi pintu masuk dan keluar yang di bedakan membuat para santri ini tidak bertatap muka satu sama lain.


Pintu keluar langsung menuju asrama mereka masing-masing. Sehingga, tak ada yang namanya saling lirik-lirikan.


Hasna kembali ke asrama lebih lambat dari Syifa dan Sarah. Karena, dirinya menenangkan dirinya sebentar. Hasna berjalan ke arah danau buatan yang ada di belakang. Bahkan, para santri sendiri jarang ke tempat ini.


Mungkin sebagian dari mereka takut. Tapi tidak dengan Hasna.


Gadis ini butuh tempat yang tenang untuk sendirian.


Huhh!


Hasna menghembuskan napasnya kasar. Kemudian melihat kembali ke arah lukanya yang memerah.


"Baru berapa hari di sini, kamu sudah mendapatkan bekas luka. Mana gak elit banget. Bukan karena pisau atau benda tajam lainnya. Tapi, karena minyak panas," monolog Hasna.


Lalu, tiba-tiba ada derap langkah kaki di atas daun kering yang Hasna tangkap melalui indera pendengarannya.


Gadis itu pun siaga. Hasna memasang kuda-kudanya dan menoleh dengan cepat.


"Astagfirullah, Hasna!"


Seperti biasa, secara reflek kakinya menyerang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2