
Ketika melihat siapa yang terkena tendangan darinya, Hasna juga berucap dengan kaget.
"Astagfirullah!" Hasna mundur dan membekap mulutnya.
Hasna membiarkan pria yang lagi-lagi terkena tendangan tak sengaja darinya itu, meringis memegangi pergelangan tangannya. Setidaknya kali ini Gus Musa tidak sampai terjengkang. Karena, pria itu sempat menangkis dengan lengannya.
Akan tetapi, tendangan Hasna yang kuat dan ternyata kaki gadis ini juga keras. Sehingga, pria di hadapannya ini merasakan ngilu pada pergelangan tangannya.
"Kenapa sih, kamu selalu mengagetkan? Jadi kena lagi kan?" sungut Hasna. Baru saja selesai masalahnya. Kenapa lagi-lagi pria ini muncul tiba-tiba.
"Siapa yang mengagetkan? Aku juga sudah panggil nama kamu semenjak di sana tadi. Tapi, kamu gak merespon. Makanya, aku putuskan untuk menghampiri kamu aja," kilah Gus Musa.
"Apa iya kamu manggil? Tapi, aku gak dengar apapun!" tolak Hasna tak percaya. Lama-lama Hasna kesal juga kenapa pria ini selalu muncul di hadapannya.
Karena akan ada masalah yang menyusul di belakangnya. Kenapa lelaki selalu mendatangkan masalah baginya. Pikir Hasna.
"Ya Allah, terserah deh kalo kamu gak percaya. Lagian ngapain sih sore-sore, kesini sendirian? Kamu tau gak tempat ini belum dibuka oleh Abi," ungkap Gus Musa.
"Di buka gimana? Emang kenapa klo aku kesini? Apa ada larangannya bagi santri?" cecar Hasna dengan tatapan tak suka. Sebab, pria di hadapannya ini mengganggu ketenangannya saja.
"Sebenarnya gak ada larangannya secara resmi. Cuma, karena beberapa santri pernah ketemu ... u–ular, jadi ya gak ada lagi yang datang kesini," jelas Musa seraya mengusap tengkuknya.
"Jadi, karena kalian semua takut dengan hewan melata itu, sehingga tempat sebagus ini jarang dinikmati?" tanya Hasna dengan tatapan heran.
"Kamu itu perempuan tapi gak ada takutnya. Ular itu kan beracun, bahaya!" kecam Musa lagi.
"Mereka gak akan ganggu kalo kitanya juga gak rusuh. Lagipula, kan ada bacaannya. Supaya kita gak ketemu sama binatang buas. Masa gitu aja gak tau! Katanya pengajar!" sarkas Hasna.
Mendadak emosinya naik melihat pria di hadapannya ini sok menasihati dirinya. Padahal, Hasna hanya butuh sendirian untuk beberapa saat saja.
"Sudah ngomong sama jagoan mah. Gak ada takutnya. Tapi, kenapa kamu diam aja ketika di bentak-bentak orang?" Kulik Musa.
"Di bentak orang? Apa dia denger pas Ustadjah Nurul negur aku?" batin Hasna, heran.
"Berani sama mengontrol emosi itu kan beda. Wahai, Gus muda yang tampan dan menjadi idola satu pesantren," goda Hasna niat meledek saja. Akan tetapi sampainya ternyata berbeda.
Musa seketika merasakan getaran aneh di dalam dadanya. Ketika, gadis muslimah yang cantik natural di hadapannya ini memberi pujian padanya.
"Sudah, jangan meledek. Sebaiknya aku antar kamu ke klinik pesantren. Atau, Abi dan Ummi akan marah. Karena keadaanmu ini," ucap Musa.
Hasna sekilas melirik ke tangannya. Kemudian ia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kirain, kamu peduli sama aku karena merasa bersalah. Ternyata, cuma takut sama Kyai Faisal dan Ning Khumaira," cebik Hasna.
Gadis itu pun melangkah maju dan melewati Gus Musa begitu saja. Baru beberapa langkah, Hasna tiba-tiba berhenti.
Ada hewan melata yang ditakutkan oleh Musa tengah merayap pelan di semak-semak depan mereka. Seketika, senyum jahil terbit di wajah cantiknya Hasna.
"Lumayan nih, buat hiburan." Batin Hasna.
Gadis itu tau, jika hewan berwarna hijau di depannya ini tidaklah beracun. Karena itu hanyalah ular pohon biasa. Tapi, kemungkinan besar pria di belakangnya ini tidak tau akan hal itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" kaget Musa. Karena dia hampir saja menabrak tubuh Hasna yang terbalut Khimar lebar. Hingga, sama sekali tidak memperlihatkan bentuk dari pada tubuhnya.
"Di depan a–ada ... itu ...!" tunjuk Hasna pada ujar yang naik perlahan ke ranting pohon.
"Allahu Akbar!" Gus Musa langsung kaget dan mundur ke belakang dengan cepat.
Hasna terkekeh pelan, niatnya untuk mengerjai pun semakin bersemangat. Karena itulah, Hasna mengulurkan tangannya untuk meraih hewan t tesebut. Membiarkan ular pohon yang berwarna hijau itu menjalar ke tangannya dan melilitkan tubuhnya di sana.
"Hasna! Apa yang kamu lakuin!"
"Itu hewan b–berbisa! Berbahaya, Hasna!" pekik Musa dengan raut wajah yang nampak ketakutan.
"Mana ular berbisa? Ini!" tunjuk Hasna seraya mengurutkan tangannya ke depan Gus Musa.
Hasna pun berbalik dan kembali berjalan maju dengan ular yang masih melingkar di lengannya. Menyembunyikan kekehannya kala melihat Musa terus bergidik ngeri.
"Hasna ... buang ular itu sebelum menggigit. Apa kau pikir itu hewan mainan hah! Ya Allah. Ummi kamu ngidam apa sih kok ya punya anak gadis ngeyel banget dikasih taunya," oceh Musa yang merasa kesal karena Hasna keras kepala.
"Dia gakkan gigit. Lagian ini tuh ular pohon gak berbisa!" terang Hasna. Setiap ia menunjukkan tangannya maka, Musa akan mundur dan menahan napas.
"Ya Allah, Untung aja kamu perempuan. Kalau laki-laki, sudah aku tempeleng dari tadi!" gemas Musa. Tapi tetap saja ia bergidik. Apalagi, ketika Hasna terlihat mengusap badan hewan melata tersebut.
"Daripada kamu, laki-laki ... macho ... tapi takut ular!"
"Bukan takut tapi aku waspada!"
"Ngeles aja terus!"
"Hasna, apa kamu mau bawa hewan itu ke pesantren! Cepat buang!" titah Musa lagi. Bahkan kali ini pria itu berkata setengah berteriak pada Hasna.
"Ck. Padahal mau aku pelihara nanti," ucap Hasna asal. Sambil memindahkan ular itu dari tangannya ke batang pohon.
__ADS_1
"Pelihara kepalamu! Edan!"
"Baru kali ini ada santriwati yang berkata mau pelihara ular. Kenapa gak sekalian buaya!" kesal Musa. Dadanya sesak menahan deg-degan sejak tadi.
"Emang boleh?" tanya Hasna dengan raut wajah serius.
"Boleh di dalam kamarmu sekalian!" pekik Musa seraya berjalan mendahului Hasna. Bahkan, pria ini sempat berlari kecil sambil bergidik.
Pada akhirnya, Hasna tak lagi dapat menahan tawanya. Gelak itu pun menyembur juga dari mulutnya. Akan tetapi, ia buru-buru, menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Berbahagia kau! Silakan tertawa sepuas hatimu!"
Mendengar Musa menggerutu, Hasna semakin tergelak sampai-sampai, ia memegangi perutnya.
"Terimakasih sudah menghibur dan mengantarku ke klinik, Wahai Gus Musa yang tampan," seloroh Hasna lagi berkelakar.
"Diamlah!" kecam Musa. Karena pria itu tau, jika yang keluar dari bibir Hasna ini bukan pujian melainkan sebuah sindiran baginya.
Kalau menjaga Hasna bukannya tugasnya, sudah dia tinggal sejak tadi di depan danau.
Entah kenapa, Abi Faisal memerintahkannya untuk menjaga dan mengawasi Hasna. Padahal, nyatanya gadis itu berani terhadap apapun dan mampu menjaga dirinya sendiri.
Hasna keluar klinik dan kini tidak hanya ada Musa, melainkan Syifa dan Sarah juga.
Musa mengerutkan keningnya ketika punggung tangan Hasna itu akhirnya di balut perban putih.
"Kok sampai di perban segala?" tanyanya heran. Bagaimanapun dia kasihan juga sama Hasna. Karena hukuman memasak itu merupakan idenya.
"Biar aman aja sih katanya. Gak usah ketakutan gitu. Aku gak bakal nuntut kamu!" ledek Hasna lagi ketika melihat guratan khawatir di wajah Musa.
"Asem nih anak. Udah di tungguin malah ngeledek!"
Di kediaman Kyai Faisal.
"Ajak kesini, si Hasna. Biar, Ummi yang rawat dia. Kamu keterlaluan Musa. Kenapa udah tau Hasna gak bisa masak malah kamu hukum bantuin mbok Minah! Untung minyak itu gak kena wajahnya!" ucap Ning khumaira tegas, ketika kejadian luka bakar di tangan Hasna sampai ke telinganya.
"Iya, Ummi. Memang Musa yang salah. Maaf," cicit Musa.
"Minta maaf sama Hasna. Bukan sama Ummi!" ujarnya lagi.
"Ummi marah sama aku, hanya gara-gara Hasna. Kamu hebat juga," gumam Musa dengan senyum miring di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung