Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 26# Bikin Dua Gus Galau


__ADS_3

Lain dengan para santri lain pula dari kubu para pengajar.


Mereka menyesal karena tidak sempat mengetahui siapa sosok misterius yang menakjubkan itu.


"Sekilas kayak Zoro ya. Berpakaian serba hitam dan menyerang diam-diam. Siapa sih dia? Sumpah aku penasaran banget!" seru Ustadjah Ainun. Sambil meletakkan punggung tangannya di bawah dagu.


Wanita berpakaian muslimah ini menyangga wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Mereka berada di kantor guru.


"Apalagi aku, Kak. Aku tuh mau ngucapin terima kasih gitu. Mbok Minah juga. Karena, menurut cerita si mbok. Sewaktu beliau lagi di sandera juga, pencuri itu ada yang lempar pake batu gitu kepalanya. Sampai akhirnya, dia kaget dan lengah, lalu mbok Minah bisa melepaskan diri," terang Ustadjah Nurul bercerita dengan suara khasnya yang lembut.


"Huh, kita jadi pada galon mikirin itu sosok muslimah misterius. Kok biasa ya, di pondok pesantren ini ada cewek jagoan kayak gitu. Perasaan ... selama ini gak ada deh murid yang keliatan mencolok," ucap Ustadjah Ainun masih terus menganalisa kejadian semalam.


Salah satu pengajar santriwati ini terlanjur kagum dan penasaran terhadap sosok yang telah menjadi fenomenal. Lantaran kejadian semalam yang cukup menggegerkan seluruh penghuni pondok pesantren Darussalam.


Beberapa pengajar perempuan yang berkumpul di ruang guru terus saja membicarakan sosok misterius semalam. Mereka tak habis pikir dan sudah kehabisan akal untuk menebak.


Kejadian semalam pun juga di bahas di kediaman Kyai Faisal.


"Sehebat itu, Bii?" heran Ning Khumaira kala mendengar cerita dari kyai Faisal. Pria paruh baya pemilik pesantren ini pun tau jelasnya dari kedua putranya sendiri.


"Iya, Mi, kedua anakmu yang bercerita begitu antusias dan seru sama Abi pas subuh tadi. Bahkan hanya dalam satu tarikan napas tuh mereka cerita. Saking, kagum luar biasa," jelas Kyai Faisal kemudian.


Ning Khumaira mengangguk-angguk tanda mengerti, sambil memegangi dadanya.


"Alhamdulillah, pencuri itu ketangkep juga ya, Bi. Ummi sempat khawatir dengan keselamatan semuanya semalam. Sampai, tak henti-hentinya Ummi berdzikir kepada Allah, Bi," kata Ning Khumaira, mengadu pada suaminya.


"Iya, Mi Alhamdulillah. Itulah, Allah mengirim sosok muslimah misterius yang jago banget berkelahi. Meksipun, Abi gak sempat melihatnya secara langsung. Tapi, mendengar kedua anakmu bercerita dengan binar kekaguman dari mata mereka, Abi bisa bayangkan betapa hebatnya dia," terang Kyai Faisal lagi.


"Kira-kira, dia itu siapa Bi? Pengajar atau salah satu santriwati kita?" tanya Ning Khumaira penasaran. Bahkan wanita paruh baya ini terlihat memberi remasan pada lengan suaminya.


"Penasaran sih boleh Mi. Tapi gak di remet juga ini tangan Abi. Nanti batal nih shaum kita," tegur Kyai Faisal yang mana langsung menyadarkan istrinya itu.


"Eh, maaf. Ummi kelepasan, Bi. Saking gemesnya sama sosok misterius itu," ucap Ning Khumaira dengan pipi yang memerah.


"Mi, kayaknya kedua anak kamu terpesona tuh sama Ukhti jagoan ini. Gimana coba?" tanya Kyai Faisal yang merasa bingung. Karena terlihat sekali pancaran kekaguman itu dari mata kedua putranya tadi.


"Semoga salah satu dari mereka berjodoh, Bi. Ummi mau dong punya menantu jagoan kayak gitu," seloroh Ning Khumaira yang kemudian mendapat jitakan di keningnya oleh Kyai Faisal.

__ADS_1


Cletak!


"Astagfirullah! Sakit Bi!" protes Ning Khumaira dengan ujung bibir yang sudah maju sekitar lima senti ke depan.


"Makanya, Ummi kalo ngomong jangan asal dan dan sembarangan aja. Kalo dia jadi sama salah satu anak kita, berarti satu anak kita yang lainnya kan patah hati dong!" jelas kyai Faisal Basri.


Dimana kini istrinya itu, hanya nyengir polos.


Kita tinggalkan pasangan mateng yang uwwu ini. Dan beralih pada kedua sosok tampan yang sedang memikirkan sosok yang sama tapi di tempat yang berbeda.


Gus Amar di ruangan kerjanya dan Gus Musa di ruangan kelas. Dimana pada saat ini dirinya tengah menatap lama ke arah Hasna.


Gadis di hadapannya ini nampaknya sedang serius mengerjakan tugas yang beberapa saat lalu ia berikan pada seluruh santri di kelas ini.


Entah, kenapa. Gus Musa tak bisa menahan dirinya.


Semenjak kejadian semalam otaknya tak berhenti untuk tidak memikirkan Hasna.


Setelah sadar, pria ini mengusap wajahnya kasar. Lalu terdengar ucapan istighfar dari mulutnya.


"Gak baik ini. Bahaya deh buat hati dan juga imanku," bisik Gus Musa pada dirinya sendiri.


Karena itulah, Gus Musa memutuskan ijin keluar kelas sebentar untuk pergi menuju musholla. Pria ini merasa harus membasahi dirinya dengan wudhu.


"Ya Allah. Apa ini benar. Lalu, bagaimana dengan perasaanku sebelumnya. Kenapa semudah itu hatiku berpindah haluan," gumam Gus Musa di atas sajadah musholla.


Pria ini baru saja menyelesaikan empat lembar mushaf dan menutupnya dengan perasaan yang justru bimbang.


"Bagaimana ini? Apa yang salah?" Gus Musa menyentuh dada sebelah kirinya dengan telapak tangan kanan.


Kita tinggalkan Gus Musa yang lagi galau. Mending ngintip ke ruangan kerja Gus Amar.


Skuy😁


Pria bertubuh tinggi tegap dengan brewok halus di sekitar rahangnya ini, menatap layar laptopnya serius. Akan tetapi, pikirannya tidaklah bertumpu pada pekerjaannya. Melainkan, pada sosok yang telah mampu menganggu tidurnya semalaman.


"Astagfirullah. Gimana aku mau fokus kerja ini. Kalau wajah kamu yang selalu terbayang. Dasar ukhti bar-bar," gumam Gus Amar seraya terkekeh setelahnya.

__ADS_1


"Masa sih, aku kudu saingan sama adek sendiri." Gus Amar pun langsung menyenderkan bahunya di kepala kursi.


Pria dengan kontur wajah khas Asia timur ini belum pernah merasakan perasaan seperti ini seumur hidupnya. Karena, anak pertama dari Kyai Faisal dan Ning Khumaira ini, hanya memikirkan belajar dan belajar.


Hingga, di usianya yang menginjak usia tiga puluh tahun, sudah mendapat gelar Lc. Ma. Bahkan beliau ini baru saja menyelesaikan gelar S3 dalam waktu yang singkat. Hingga gelar doktor pun tersemat di belakang namanya.


"Apa kamu, adalah pelabuhan yang menghentikan kapal ini? Apakah ini akhirnya aku, mengubah status lajang menjadi ... suami?" gumam Gus Amar lagi seraya senyum-senyum sendirian.


Nah loh Hasna. 😁


Apa telinga kamu tak gatal😁


"Ya Allah. Siapa sih yang lagi ngomongin Hasna. Bunda atau kakek?" gumam Hasna sembari memainkan bolpoin dan mengetuk-ngetuknya di atas meja. Sementara telapak tangan satunya menopang dagu.


"Na, kamu lagi mikirin apa sih? Ciee ... jangan-jangan Gus Musa ya?" cecar Syifa seenaknya menebak dan menghancurkan lamunan Hasna.


Seketika itu juga Hasna berpaling dan memberi tatapan tajam ke arah Syifa.


"Ishh, biasa aja napah ngeliatinnya. Serem banget tauk!" seloroh Syifa yang bukannya takut tapi justru semakin meledek.


"Diem deh, Fa. Aku lagi gak mood bercanda," ketus Hasna. Perasaannya mendadak ambyar ketika nama pria di sebut di hadapannya.


Karena, Hasna tak pernah sekalipun memikirkan mahkluk yang bernama laki-laki. Selain kakeknya.


"Ih Hasna. Jangan marah. Tadi aku liat loh, kalo Gus Musa merhatiin kamu terus," ungkap Sarah. "Tapi, sekarang kok belum balik-balik juga ya, dari musholla?" sambungnya lagi.


"Huh!" Hasna hanya menghela napasnya.


Semoga hal yang ia khawatirkan tidak terjadi.


"Ciee ... seneng tuh di perhatian. Aku mau juga dong ... !" seloroh Sarah lagi.


Pletak!


Bolpoin Hasna pun mendarat di kening Sarah.


"Maaaakk!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2