
"Cucumu itu menyamar dengan pakaian serba hitam laksana Zoro. Lalu dia berlompatan dari pohon satu ke pohon yang lain. Memberi serangan diam-diam, entah dengan apa. Pokoknya, kalau kata anak sekarang itu keren dah!" tutur kyai Faisal.
Angkasa tersenyum, meskipun dalam hati ia tak habis pikir dimana Hasna mendapatkan ilmu beladiri itu. Apakah ini tandanya ia terlalu sibuk sehingga kurang perhatian dengan salah satu cucunya itu. Ah, lagi-lagi angkasa merasa bersalah pada Hasna.
"Cucuku sehebat itu ternyata. Apakah semua itu karena traumanya? Sehingga Hasna membuat tameng sebegitu kuat untuk melindungi hati dan juga dirinya? Memang, cucuku itu memiliki kepedulian yang tinggi dan Hasna sangat benci penjahat," tutur Angkasa.
"Sekarang, antum udah paham kan, kenapa kedua putra ana yang tampan dan gagah itu, bisa tertarik dan jatuh cinta pada Hasna. Sayang sekali, jika hari Hasna masih tergembok dengan masa lalunya yang pahit itu. Gimana nasib anak ana, Ang?" ucap kyai Faisal lesu.
Hasna yang tak pernah mau berurusan dengan kaum pria, selalu menolak cinta laki-laki sejak sekolah menengah. Membuat kyai Faisal bingung akan kelangsungan nasib para putranya itu.
"Setelah Hasna sehat. Aku akan coba membicarakan ini dengan putriku, Hanifa. Setidaknya, putramu, Musa. Bisa memanfaatkan momen sakit Hasna untuk mencuri hatinya," ucap Angkasa.
"Kau benar juga, Ang. Tapi ... apakah aku sanggup melihat salah satu anakku bahagia sementara satunya lagi patah hati?" tanya kyai Faisal lesu.
Mereka berdua bertemu untuk saling mengungkapkan kegalauan hati masing-masing. Sejak dulu memang seperti itu.
Meksipun kini keduanya sudah berumur, mereka tetap saja tak bisa menyembunyikan apa yang ada di hati dan pikiran masing-masing.
Keduanya telah terbiasa untuk bertukar pikiran terhadap apapun itu.
"Kita lihat nanti saja dimana, Fai. Aku juga belum tau apakah Hasna kali ini akan membuka hatinya. Lagipula, jodoh itu di tangan Allah. Kita berdoa saja, semoga kita bisa besanan. Juga, anak dan cucu kita mendapat kebahagiaan dari itu semua. Hanya itu harapanku, Fai" tutur Angkasa.
"Antum benar, Ang. Kita hanyalah sekedar berusaha di sini. Selebihnya, segala ketentuan adalah hal prerogatif Allah taala. Syukron. Telah mengingatkan sahabatmu yang masih minim ilmu ini," ucap kyai Faisal.
"Antum lagi nyindir ana ya, minim ilmu apa! Banyak alumni santri antum yang jadi orang di luar sana," puji Angkasa.
"Semua itu bukan karena ana, bung! Tapi karena Allah udah berkehendak," sahut Kyai Faisal merendah.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali ke kamar Hasna," ajak Angkasa.
Pria itu belum sempat menyapa cucunya.
Di dalam kamar perawatan, Syifa dan Sarah semakin bingung.
Karena terdapat banyak orang di sini. Mereka mau pulang tapi, juga sungkan. Bingung bagaimana mengatakannya pada Hasna.
Jadilah mereka duduk di pojokan ambil muroja'ah.
"Hasna, kamu beruntung sekali memiliki teman-teman seperti itu. Mereka sangat perhatian dan peduli padamu," bisik Hanifa yang kini berada di samping kepala Hasna.
Hasna hanya tersenyum di balik alat bantu pernapasan itu.
Sementara itu, Angkasa masuk ke dalam kamar perawatan. Pria berusia enam puluh tahun itu mendekati sang cucu yang terbaring lemah. Saat ini, Hasna sedang proses memasukkan makanan melalui selang yang langsung masuk ke tenggorokannya.
Proses yang sangat tidak nyaman tentu saja.
__ADS_1
Kedua mata Angkasa pun memanas melihat keadaan cucunya ini.
Entah apa yang terjadi hingga Hasna bisa sakit seperti ini.
Apakah, dirinya memang telah terlalu berlebihan dengan memasukan Hasna ke dalam pondok pesantren? Apakah Hasna merasa terkekang hingga berujung jadi penyakit yang menyerang tubuhnya?
Berbagai pertanyaan pun berseliweran dalam kepala Angkasa. Sejumput sesal itu masih bertenggernya di hatinya.
Angkasa akui, dirinya terlalu keras pada cucu perempuannya ini.
Sekalipun itu semua ia lakukan demi kebaikan Hasna.
"Hasna. Maafkan kakek ya. Apakah kamu sakit begini karena kakek yang memaksamu masuk pesantren? Kalau iya, setelah mau sembuh ... kamu boleh kembali. Lanjutkan lagi kehidupanmu yang dulu sayang. Kakek tidak akan melarangmu lagi," tutur Angkasa dengan suara parau.
Pertahanannya runtuh ketika melihat dari dekat keadaan cucunya ini.
Angkasa langsung menyalahkan dirinya, atas apa yang terjadi pada Hasna.
Ia lebih memilih melihat Hasna berulah tapi dalam keadaan sehat Wal Afiat. Daripada, melihat cucu kesayangannya lemah seperti ini. Bahkan untuk makan saja harus melalui selang. Hasna pasti tersiksa sekali, pikirnya.
Melihat sang papa menangis, Hanifa langsung menghampiri. Wanita empat puluh tahun itu langsung merangkul lengan Angkasa.
"Papa jangan bicara seperti itu. Semuanya bukan hanya kesalahanmu, Pa. Aku jga salah. Hanifa salah, Pa," lirihnya ikut menangis.
Hasna yang mendengar itu semua hanya bisa menggeleng lemah. Tentunya dengan air mata uang juga mengalir dari mata dan jatuh ke bantal.
Semua ini kesalahannya yang tak bisa menjaga pola makan dan istirahat. Hasna terlalu larut dalam penyesalan dan juga dosa-dosa yang selama ini ia lakukan.
"Ka–kek ...," lirih Hasna yang tidak terlalu jelas suaranya.
Angkasa pun paham dan pria itu langsung meraih tangan Hasna yang di lingkari selang infus. Angkasa menggenggamnya lembut. Memberi usapan jari di sana.
Mengutarakan perasaannya lewat tatapan dan juga sentuhan.
"Hasna --"
"Jangan bicara lagi. Istirahatlah sayang," ucap Angkasa.
Tak lama proses pemasukan nutrisi ke tubuh Hasna selesai.
Kedua Gus telah pamit pulang begitu juga dengan Ning Khumaira. Meksipun, wanita paruh baya itu berat hati meninggalkan Hasna.
"Ummi gak tega, Bi. Lihat Hasna seperti itu. Ingin rasanya, ummi yang merawatnya," ucap Ning Khumaira mengungkapkan apa yang ia rasakan dalam hatinya. Wanita itu, nyatanya telah benar-benar jatuh cinta pada sosok Ukhti bar-bar ini.
"Sabar, ummi. Hasna juga punya keluarga yang akan mengurusnya dengan baik. Ini kesempatan bagi Angkasa dan juga Hanifa untuk meluangkan waktunya kepada Hasna.
__ADS_1
Setidaknya, ada hikmah di balik kejadian ini. Allah takkan memberikan musibah tanpa pelajaran di dalamnya. Semua itu hanya bagi orang-orang yang mau berpikir," tutur Kyai Faisal, lembut dan mengena.
Gus Amar dan Gus Musa kembali menggunakan kendaraan roda dua. Pikiran mereka masih terfokus pada satu sosok yang mereka tinggalkan dalam keadaan yang masih lemah di kamar rumah sakit.
Sementara itu, Hanifa menghampiri dua sahabat Hasna. Yaitu, Sarah dan juga Syifa.
"Terimakasih ya, kalian gajian berdua sudah menjaga Hasna. Bunda gak tau lagi harus bilang apa," ucap Hanifa seraya menggenggam tangan Sarah dan Syifa.
"Bunda gak usah bilang apa-apa. Ini akan tanggung jawab kita. Sesama muslimah itulah Harus saling peduli dan membantu," jawab Sarah.
Ucapannya itu kemudian diangguki oleh Syifa dan di beri senyum oleh Hanifa.
"Hasna beruntung memiliki teman yang baik seperti kalian berdua. Sekarang, kalian pulang dan istirahatlah. Biar Bunda yang jaga Hasna kali ini," titah Hanifa.
"Baiklah, Bunda. Semoga Hasna cepat sembuh dan kembali lagi ke pondok untuk belajar bareng kita," ucap Syifa kali ini.
Setelah itulah keduanya pun pamitan pada Hasna. Meksipun, gadis bar-bar itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk saja.
"Kamu cepet sehat ya, Na. Jangan bikin dia Gus tampan itu galau," bisik Sarah seraya terkekeh kecil. Hal itu membuat Syifa menyikut lengannya.
"Aw! Sakit Syifa!" kesal Sarah.
"Hasna lagi sakit, jangan kamu kasih PR gitu!" celetuk Syifa.
Hal itu pun membuat Sarah langsung nyengir kuda.
"Na, pokoknya kamu harus kuat dan cepat sehat. Nanti kamu pilih Gus Musa ya. Soalnya Gus Amar buat aku," ucap Syifa yang juga di akhiri dengan tawa tertahan.
"Kalian ini dua kawan yang menyebalkan tapi aku sayang," batin Hasna. Ia hanya bisa tersenyum dan menatap lesu kdua kawannya itu.
Kalau bukan karena tindakan mereka yang cepat tanggap mungkin Hasna akan menderita lebih parah dari ini.
Sejatinya, satu hal yang Hasna pelajari dari penyakit yang di deritanya saat ini.
Bahwa, seberapa pun kau mengira bahwa dirimu kuat. Nyatanya, kau hanya manusia lemah yang tak kan bisa berbuat apa-apa ketika ketentuan Allah datang.
Seberapa banyak ilmu beladiri yang Hasna kuasai. Tak ada satupun yang mampu mengusir penyakit yang tiba-tiba datang ke tubuhnya.
Pada saat ini hati kecil Hasna pun tersentuh.
"Ya Allah, apakah selama ini aku sudah menjadi hamba-mu yang sombong? Apakah ini hukuman dariku, karena selama ini aku telah menganggap orang lain sebelah mata. Terutama kaum pria. Apakah ini buah dari kesalahanku yang ingin berada lebih tinggi dari mereka?" batin Hasna. Gadis itu pun menangis dengan mata terpejam.
"Papa, tidak akan memaksakan kehendak lagi pada Hasna. Papa akan membatalkan perjodohan ini," ucap Angkasa.
"Maksud Papa, apa? Apakah ada yang Hanifa tidak tau?"
__ADS_1
Bersambung