
Gus Amar melebarkan manik matanya kala mendengar ucapan Hasna. Otaknya seketika bekerja keras mengartikan maksud dari perkataan gadis yang membelakanginya.
Sementara, pria yang bersembunyi dibalik pilar, alias Gus Musa. Terlihat tengah menyentuh dada sebelah kiri lalu mencengkeram Koko yang ia kenakan tersebut.
Gus Musa dan Gus Amar nampak sama-sama tengah berusaha menguasai diri mereka. Menguasai emosi akan rasa yang seketika merasuk ke dalam dada.
Hasna sendiri, kini tengah menutup bibirnya dengan jari telunjuk. Nampaknya gadis itu menyesal telah meluncurkan kata-kata bernada tidak tau malu itu begitu saja.
Gus Musa tengah menahan dirinya untuk tidak menampakkan diri saat ini. Ia menunggu apa jawaban yang akan di keluarkan dari mulut Gus Amar.
Setidaknya, ia pun ingin tahu juga, bagaimana perasaan saudaranya saat ini.
"Hasna. Apa maksud dari ucapanmu barusan? Tolong yang jelas, aku ini laki-laki yang tidak mengerti jika perempuan memberikan ku teka-teki," ucap Amar.
Hasna yang membelakangi pria itu, menggigit bibirnya. Ia pun tak tau harus menjawab apa. Ingin rasanya lari saja menuju kamar tapi itu terkesan pengecut dan tidak bertanggung jawab bukan.
Hasna memejamkan matanya sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan Gus Amar yang di akibatkan oleh ucapannya sendiri.
"Maksud Hasna. Gus Amar egois saja. Jika memang Hasna ini berarti bagi Gus. Tapi, jika tidak bersikaplah sewajarnya. Jangan seakan-akan bahwa aku ini beban di sekitar hidupmu," tegas Hasna semakin menusuk relung hati Amar yang paling dalam.
"Aku tidak bisa egois Hasna. Aku tidak mungkin, bersaing dengan adikku satu-satunya," jawab Amar terdengar pasrah.
Hal itu membuat Gus Musa tertawa getir di balik pilar sana.
"Mas, kupikir perasaanmu biasa saja. Ternyata sebesar itu," gumam Gus Musa. Pria itu mengusap wajahnya kasar.
Dia harus melakukan sesuatu pikirnya. Belum pernah, Amar melihat Hasna berlaku seperti itu. Bukankah, niatnya dan Amar itu sama. Yaitu, ingin memberikan kebahagiaan dan ketentraman pada Hasna. Ingin membuat gadis itu percaya bahwa laki-laki tak semuanya buruk seperti dugaannya.
Mendengar penjelasan dari Hasna, meskipun gadis itu tak menoleh padanya. Nyatanya hal itu mampu membuat Gus Amar tersenyum.
"Apa ini artinya Hasna juga memiliki perasaan yang sama denganku? Hingga dirinya ingin aku perjuangkan?" batin Amar.
"Semua ini masalah hati dan perasaan juga seberapa besar arti seseorang itu bagi kita. Hasna memang salah. Tidak seharusnya menaruh kepercayaan pada manusia lagi. Maaf, sudah mengganggu wkatunya. Sekarang, Hasna mengerti," ucap Hasna, kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
"Hasna, kamu salah paham!" seru Gus Amar Hasna sudah jalan menjauh darinya.
Langkah Hasna kembali berhenti, lalu pria itu berjalan pelan mendekat ke arahnya.
"Paham apa yang salah? Jelaskan!" tegas Hasna lagi.
Entah kenapa dadanya seakan sesak. Ia seperti gadis yang sedang mengemis cinta. Sungguh ini bukan dirinya.
Hasna hanya ingin kepastian. Hasna, hanya ingin dihargai. Bukan di oper bagaikan bola pingpong antara kakak dan adik.
"Bukan aku tidak menghargai mu, Hasna. Tapi aku juga cukup tau diri. Sebelum kau menolak bukankah lebih baik aku mundur. Setidaknya aku tau bahwa pria yang akan bersamamu adalah adikku sendiri. Pria yang kutau bagaimana sifat dan juga ilmunya," jelas Gus Amar.
Niat pria itu ingin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan agar terlupa akan Hasna.
Tetapi, malam ini justru dirinya tengah diinterogasi oleh gadis yang susah payah ia hindari.
"Bagaimana bisa seseorang berpikir dia akan ditolak sebelum mengajukan penawaran? Apakah itu artinya Gus sudah mendahului ketentuan dari yang maha mengatur kehidupan," cecar Hasna lagi. Kali ini gadis itu menoleh ke arah pria yang membuatnya geram setengah mati.
"Bukan mendehului ketentuan, tetapi tau diri," kilah Gus Musa.
"Gadis ini, apa sih maksudnya? Kenapa dia seakan memojokkan aku? Tapi, bikin orang gemas jadinya. Liat saja itu bibirnya yang maju seperti itu. Dengan bola mata uang mendelik ke arahku. Apa dia tidak berkedip?" batin Gus Amar, menelisik gadis di hadapannya.
"Sudahlah Hasna. Saya tidak mau berdebat dan lebih lama lagi bicara berdua sama kamu kayak gini. Nanti, bisa-bisanya imanku rubuh. Jadi, gini ... usia saya kan lebih tua dari Hasna, sedangkan Gus Musa dengan Hasna itu hampir sepantaran. Jadi saya pikir, kalian berdua akan menjadi pasangan yang cocok. Lagipula, memangnya kamu mau sama laki-laki yang tua kayak saya? Hahaha!" Gus Musa pun tertawa karena ucapannya sendiri.
Entah sejak kapan dia menjadi pria yang insecure seperti ini.
"Jadi itu masalahnya? Perbedaan usia?" tanya Hasna memastikan. Karena gadis ini sempat tak percaya jika pria tampan dan berilmu macam Gus Amar saja bisa insecure dengannya. Memangnya, apa yang ia punya?
Sementara itu Gus Musa seperti menemukan rahasia yang selama ini membuatnya bertanya-tanya kenapa saudaranya itu lebih memilih mengalah tanpa perjuangan.
Selain memikirkan perasaannya, Gus Amar juga takut Hasan tak nyaman dengan perbedaan usia mereka.
Kenapa saudaranya itu begitu naif, pikirnya.
__ADS_1
"Jika sudah selesai. Saya mohon pamit. Hasna juga istirahat yang cukup. Besok kan mau menjenguk kakek. Perjalanannya lumayan juga dari sini," tutur Gus Musa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oke, tapi sebelum itu ijinkan Hasna meminta penjelasan satu hal lagi."
"Baiklah."
Jika Hasna tidak mempermasalahkan usia di antara kita. Apakah, Gus Amar akan memperjuangkan Hasna?" cecar gadis itu dengan dentum jantung yang tidak beraturan.
"Itu--"
"Gus Musa kan--"
"Hasna mau suami yang dewasa. Pria yang sudah membuka mata hati Hasna mengenai takdir kehidupan. Pria yang bisa menekan egonya demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Hasna, ingin pria yang seperti itu!"
"Hasna--"
"Bicarakan dengan Gus Musa. Hasna tunggu di depan kakek, besok!" tegas Hasna.
Gadis itu kini benar-benar berlalu dengan cepat meninggalkan dua pria terjebak dalam kebingungan.
"Apa dia baru saja --" Gus Amar menerbitkan senyumnya. Tak menyangka jika perasaannya ternyata bersambut.
Akan tetapi, pria dewasa ini tetap memikirkan perasaan sang adik.
"Keluarlah, Dek. Hasna sudah pergi!" seru Gus Amar. Hingga Gus Musa yang berada di balik pikar pun menampakkan dirinya.
"Sejak kapan, Mas tau aku ada di sini?" tanya Gus Musa. Ia berjalan perlahan mendekati saudaranya itu.
Tak ada sinar permusuhan yang nampak dari keduanya. Gus Amar tetap tersenyum ramah dan hangat kepada saudara satu-satunya ini.
"Sejak, awal. Kenapa? Kau lupa jika sejak kecil itu kau selalu kalah main petak umpet sama Mas. Kau selalu payah dalam bersembunyi," tutur Amar seraya memberi tujuan ringan ke bahu sang adik.
"Jika Mas tau. Kenapa Mas bicara seperti itu? Apa Mas tidak memikirkan perasaanku?" cecar Gus Musa.
__ADS_1
"Mas, justru--" Gus Amar tidak meneruskan ucapannya. Karena ...
Bersambung