
"Gak usah di cari. Nanti juga dateng sendiri," ucap Kyai Faisal.
"Kalo lama gimana? Kan Ummi maunya mereka nikah bareng. Biar gak ada yang iri kalo liat saudaranya lagi mesra-mesraan," dalih Ning Khumaira.
"Ummi, dengerin Abi ya. Jodoh itu kan rahasia Allah. Tuh, kayak Amar dan Hasna. Abi dan Angkasa justru merencanakan agar Hasna dekat dengan Musa. Tanpa tau bahwa pertemuan keduanya sudah di mulai ketika berada di kota. Bahkan, seringnya mereka berdua ada konflik, kami berpikir mungkin memang ini jalan Allah mendekatkan keduanya. Tetapi, nyatanya, justru Hasna yang menantang Amar agar menghitbahnya," tutur Kyai Faisal panjang kali lebar.
"Abi benar, kita gak akan tau kapan jodoh itu hadir menyapa. Bahkan, ketika Amar pasrah akan jodohnya ... justru ada perempuan muslimah cantik yang menyerahkan hari serta hidup padanya," timpal Ning Khumaira.
"Jadi ... masih mau nyari-nyari jodoh buat Musa?"
"Gak jadi deh, Bi. Siapa tau aja jodohnya nongol tiba-tiba. Soalnya, perasaan Ummi tuh kayak seneng banget. Ngerasa kayak bakal ada kejutan selanjutnya yang bakal bikin Ummi tuh bahagia," jawab Ning Khumaira, penuh keyakinan.
"Aamiin, semoga harapan istriku ini Allah ijabah," ucap Kyai Faisal tulus.
Kedua orang ini tak tau saja jika, putra yang di maksud tengah menjemput jodohnya sendiri.
Saat ini, Musa tengah senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya.
"Aku telpon saja deh," gumamnya.
Panggilan pun terhubung, karena yang bersangkutan juga sedang memegang ponsel.
"Halo, Gus. Kenapa kok menelpon?" tanya Aira di seberang sana.
"Gini, Ai. Aku mau nanya. Boleh gak aku kesana, kerumah sakit?" tanya Gus Musa langsung.
"Boleh aja, gak ada yang larang kok. Di sini kan ada Bunda, jadi gak masalah meskipun kamu datang sendirian," jawab Aira.
"Ya udah. Selesai ngajar, besok aku langsung ke sana. Makasih ya Ai, udah ngijinin aku," ucap Gus Musa, dengan debar yang luar biasa.
"Sama-sama, Gus. Ai tunggu besok ya."
"Insyaallah. Assalamualaikum, Ai."
"Wa'alaikum salam, Gus."
Panggilan pun terputus.
Gus Musa mendekap ponsel ke atas dadanya. dengan senyum lebar dan mata terpejam.
Begitu cepat Allah memberi hadiah atas ketulusannya. Dia pikir juga rasa untuk Aira sudah terkikis lantaran kehadiran Hasna.
__ADS_1
ternyata, rasa itu masih berdiam di dalam kalbunya. Kepulangan Aira ke tanah air, rela membuat Gus Musa kembali bersemangat.
"Kira-kira, Aira mau gak ya ... nikah sama aku? Jadi pengantin bareng sama Mas Amar pasti lucu. Apalagi, Aira dan Hasna kan juga kakak adik," gumam Gus Musa seorang diri. Pria itu hampir saja terlonjak saking, girangnya.
Malam harinya, Gus Musa tak tahan lagi untuk menahan rasa yang bergejolak di dalam dadanya seorang diri. Karena itu ia memutuskan untuk menceritakannya pada Gus Amar.
"Ada apa, Dek? Tumben kamu nyamperin Mas ke ruang kerja?" cecar Gus Amar yang heran.
"Mas. Ada yang mau aku ceritain sebenarnya dari tadi. Cuma, kan Mas sepulang dari rumah sakit langsung mengurung diri di ruang kerja. Makanya aku putuskan kesini aja deh. Nungguin, Mas keluar, gak keluar juga," jelas Musa belum pada intinya.
"Kayaknya ada hal penting. Apaan sih?" tanya Gus Amar penasaran.
Gus Musa langsung duduk di depan saudaranya itu. Manik matanya menatap serius ke arah pria yang memiliki brewok tipis di rahangnya itu.
"Ini tentang Aira, Mas," ucap Musa.
Mendengar nama perempuan tersebut, kedua manik mata Gus Amar pun langsung membesar. Sebab, pria itu teringat pertemuan mereka di rumah sakit tadi sore.
"Ah, Mas ingat sekarang. Ya Allah, mau ngomong Dari tadi tapi lupa!" ungkap Amar yang seketika berdiri dari duduknya.
Melihat reaksi saudaranya itu tentu saja, membuat Gus Musa juga melakukan hal yang sama.
"Ini tentang Aira," jawab Gus Amar.
"Hah, Aira? Kenapa bisa tentang Aira? Eh, tunggu dulu? Apa kalian tadi bertemu di rumah sakit?" cecar Gus Musa lagi.
"Loh, kok kamu tau?" Gus Amar justru berbalik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan dari Musa.
"Ya tau, kan aku yang kasih alamat rumah sakitnya ke Aira," ungkap Musa.
"Oh, pantes aja." Amar pun melemaskan kembali ototnya, untuk kemudian duduk.
"Kita ketemu di depan lift. Mas sempat gak ngenalin dia tadi, kalo aja Hasna gak nyebut namanya. Mungkin, Mas juga gak akan ngeh kalau itu Aira," terang Gus Amar.
"Loh, emangnya beda Mas? Kok bisa gak ngenalin gitu?" heran Gus Musa. Debaran di dadanya kembali berdebar bak ombak yang sedang mencoba memecah batu karang.
"Beda deh, auranya. Nanti aja kamu liat sendiri. Oh ya, apa kamu gak ada niat ketemu sama Aira?" tanya Amar langsung pada intinya.
"Nah, itu dia maksud aku kesini, Mas!" seru Musa sambil memukul meja.
"Astagfirullah. Kaget, Dek!" protes Gus Amar seraya mengeratkan gerahamnya gemas.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Maksudku kesini ya itu. Mau minta pendapat dari Mas. Gimana baiknya. Aku tuh mau ketemu dia di rumah sakit besok," terang Gus Musa.
Gus Amar pun mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Gapapa, ketemu aja. Tapi, kamu mau ngomong apa emang. Segala mau nemuin dia?" Kulik Gus Amar pada adik satu-satunya ini.
"Kira-kira, kalau aku langsung mengutarakan keinginanku mengkhitbah dia, gimana, Mas?" tanya Gus Musa. Berharap jawaban dari saudaranya yang lebih dewasa darinya ini mampu menentukan langkahnya besok.
"Apa itu tidak terlalu cepat. Kalian kan baru ketemu. Setelah satu tahun lebih," jawab Gus Amar memberi pertimbangan.
"Iya juga sih. Tapi, aku mau nikah bareng Mas Amar. Pasti seru!"
Pletuk!
Sebuah bolpoin di ketuk ke pucuk kepala Gus Musa oleh, saudaranya ini.
"Uhh!" Musa langsung mengusap kepalanya sambil menunduk karena Gus Amar telah memberinya tatapan tajam.
"Musa, Musa. Nikah itu masalah hati dan juga ibadah. Jangan di lihat seru dan hebohnya. Kamu ini!" Gus Amar terlihat sekali tengah menahan gemas sejak tadi pada adik satu-satunya ini.
Mendapat Omelan dari Gus Amar, Musa lantas menggaruk rambutnya yang sebenarnya tak gatal.
"Gak gitu juga maksudnya, Mas. Menurut ku, kepulangan Aira bukan hanya kebetulan. Tapi, Allah yang memang sengaja mendatangkan dia untuk aku, iya kan? Mas ingat kan doa ku tempo hari?" dalih Musa.
Amar pun langsung berpikir serius. Mengingat-ingat akan ucapan doa sang adik ketika di rumah sakit.
"Tapi, jangan terlalu berharap banyak. Kita tidak tau, apa alasan Aira mempercepat pendidikannya. Gadis itupun hebat juga. Gelarnya langsung LC. Ma dan juga S2 bahasa Arab. Bahkan dia menguasai lima bahasa lainnya," terang Gus Amar.
"Dengan kata lain, menurut Mas, aku tidak selevel begitu?!"
" Bukan begitu, Dek," dalih Gus Amar.
"Aku tau, Mas. Bahkan sudah tau tentang Aira sejak beberapa waktu yang lalu. Ku pikir, bertukar bicara denganmu akan menemukan solusi dan kekuatan hati. Ternyata--" Gus Musa tidak meneruskan ucapannya, pria itu hanya mendengus pelan.
Tak menyangka saudaranya ini akan mengecilkan dirinya.
"Dek, bukan seperti itu--"
Musa tak peduli lagi pembelaan diri dari Gus Amar. Pria itu melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan cepat.
Bersambung
__ADS_1