
"Oke, aku akan panggil nama ketika kita hanya berdua saja. Tapi, juga di depan orang lain, aku akan memanggilmu ... adik ipar!" ucap Hasna bermaksud menggoda balik Aira.
Ucapan nya tersebut ditanggapi dengan sudah senyum oleh sang kakak yang kini nampak begitu bahagia.
"Sebentar lagi, pasti kamu akan di suruh ke bawah. Ketemu sama Gus tampan," ucap Aira tak hentinya menggoda, Hasna.
Wajah Hasna seketika menjadi bersemu, membuat kedua pipinya semakin merona. Make-up tipis di wajahnya semakin membuat aura kecantikannya memancar.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu dan masuk. Dialah, Mila. Sahabat dari Hasna.
"Masyaallah. Hasna. Ini ... kamu!" Mila membekap mulutnya saking kaget dan takjub akan penampakan sosok sahabatnya yang ia tau selama ini muslimah bar-bar itu.
Hasna yang cantik dengan kealamian pada wajahnya. Kini nampak bersinar dengan aura pengantin.
"Iya dong ini Hasna. Kamu pikir siapa, Mila," decak Hasna gemas.
Sahabatnya ini nampak terlalu ekspresif sejak semalam.
"Sumpah pangling banget. Kak Aira juga. Duh, bidadari iri kayaknya kalo liat kalian berdua," puji Mila yak henti-hentinya mengagumi.
"Diem deh, Mil. Kamu juga dandan nih. Cakep deh. Mau cari jodoh ya. Hayo ngaku," ledek Hasna mengubah haluan pembicaraan.
"Ih, Hasna. Emang ketara banget ya." Mila pun berhasil membuat kedua pengantin yang tegang itu tertawa renyah.
"Ya Allah, Mila."
"Temen kamu itu, Na," ledek Aira.
"Ayo, Na. Aku di suruh jemput kamu."
__ADS_1
Hasna pun menatap Aira.
"Gih, sana," ucap Aira.
"Hasna akan tetap di sini hingga Gus Musa selesai ijab Qobul." Hasna yang telah berdiri kembali meletakkan bokongnya di atas kursi.
"Unch. So sweet." Aira dan Hasna saling menggenggam kembali.
Mau tak mau, Mila ikut mencari tempat duduk.
Kini, suara lantunan Al Qur'an terdengar dari bibir Gus Musa.
Pria itu melafazkan ayat demi ayat dengan fasih dan merdu.
Tak terasa, kristal bening yang mengembun di pelupuk mata Aira pun menetes untuk membasahi kedua pipinya.
Momen yang selama ini hanya mampu ia impikan. Kebersamaan yang selalu ia minta dan munajatkan di sepertiga malam kepada Tuhannya.
Jika sesuatu itu miliknya maka akan menjadi jodohnya.
Gus Amar membaca suroh An-Nisa, hingga beberapa ayat.
Kali ini, Kyai Faisal Basri yang tak tahan untuk menyeka bulir air matanya.
Kedua putranya yang selama ini ia didik dengan keras dan penuh disiplin akan memulai hidup baru mereka.
Pria itu tak menyangka jika nasibnya begitu baik. Mendapatkan menantu dari kedua cucu sahabat baiknya sendiri. Dimana kedua gadis ini berasal dari bibit yang bagus dan baik. Dengan perangi dan juga pembawaan yang baik.
Sungguh ini merupakan anugerah dan rejeki tak ternilai dari Allah ta'ala.
__ADS_1
Tak lama berselang, kini giliran Gus Musa yang menjabat tangan wali hakim.
Hingga hentakan itu mengurai gugup pria tersebut hingga ke puncaknya Akan tetapi dia sadar harus menyelesaikan semua ini untuk memulai kehidupan yang baru dengan gadis impian dan juga idamannya.
"Sah?"
"Sahhhh!!"
Alhamdulillah.
Barokallahu laka wa baroka alaika wa jamaa bainakuma fii Khoir.
Doa demi doa pun di lantunkan untuk kedua pasang pengantin yang lada hari ini mengucap janji di hadapan Tuhan mereka.
Di saksikan oleh para malaikat yang ikut mengaminkan doa semuanya.
"Kamu akhirnya sah juga, Dek," bisik Gus Amar.
"Toss!" jawab Gus Musa dengan berbisik pula.
Keduanya pun tersenyum lega.
Lalu melirik ke arah sang Abi, hingga pria tersebut mengangkat kedua belah tangannya ke atas.
Sementara di kamar khusus, dimana kedua pengantin wanita menunggu.
Aira yang sejak awal terlihat tenang, kini justru menangis sesenggukan.
"Kak, tenang ... tenang.Tarik napas. Kalian sudah sah, lho. Itu nanti make-upnya luntur deh," ucap Hasna yang kebingungan, meladeni sang kakak.
__ADS_1
Bersambung