
"Lebih baik aku tunggu dia di depan toilet aja," gumam Musa berbicara seorang diri.
Pemuda itupun urung menjemput sang Abi di kediamannya yang tak seberapa jauh lagi dari lokasi ini. Hanya karena rasa penasarannya terhadap sosok yang menabraknya.
Dimana, Musa mencurigainya sebagai seorang perempuan. Musa hanya ingin memastikan jika itu bukanlah salah satu santri yang hendak melarikan diri dari lingkungan pesantren.
Setelah beberapa saat.
"Lama banget. Dia manusia apa bukan sih? Kalau bukan, fix ... aku kayak orang bodoh nunggu di sini. Mana ustadz Ang lagi nungguin di pendopo," monolog Musa seorang diri.
Pemuda itu bermaksud untuk berbalik dan meninggalkan tempat ini. Hingga, pada akhirnya terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu itu terbuka dengan cukup berisik.
Mungkin, karena ada salah satu engselnya yang kendur atau bahkan terlepas. Musa pun segera membalikan badannya.
Mendapati ada sosok tinggi tegap yang berdiri di hadapannya, ketika Hasna membuka pintu. Maka, gadis itu sontak berteriak dan melayangkan tendangannya.
"Heh! Siapa loh!"
Duagh!
Musa yang tidak menyangka tentu tidak siap sehingga ...
Brugh!
__ADS_1
Dirinya kembali terpental dan mendarat dengan mulus di atas tanah.
"Allahuakbar!" pekik Musa. Ketika lagi-lagi, bokongnya harus mencium tanah.
"Kena urut ini pasti besok sama Abi," gumam Musa sembari merintih kecil.
"Heh cowok mesum! Lo mau ngintip gue ya! Ngaku aja Lo, atau, gue kasih makan kaki gue lagi!" ancam Hasna seraya memasang kuda-kuda dengan memiringkan tubuhnya dan mengarahkan kakinya ke depan wajah Musa.
"Bu–bukan. Enak aja!" Musa berupaya bangkit dan menepis kaki Hasna dari depan wajahnya.
"Ya terus Lo mau ngapain, di depan toilet perempuan!" sarkas Hasna. Tetap jaga-jaga dengan memposisikan dirinya.
Hasna telah terbiasa mempertahankan dirinya dari ancaman apapun. Karena itu dia memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi apalagi, terhadap manusia berjenis kelamin laki-laki.
Sungguh pemuda alim nan sholeh ini tak terima atas tuduhan dari perempuan yang wajahnya tak terlihat jelas karena beberapa penerangan di jalan maupun di area depan toilet redup.
"Ho, kamu yang tadi gak sengaja aku tabrak. Maaf deh kalo gitu ya. Gue gak sengaja, karena udah kebelet," jelas Hasna jujur, gadis itu pun langsung menurunkan kakinya dan kembali pada posisi biasa.
"Hayo ke tempat sana yang agak terang sedikit. Di sini aku kurang jelas liat muka kamu. Ayo!" titah Musa. Anehnya Hasna menurut saja. Keduanya pun berjalan ke tempat yang lebih terang. Tepatnya di bawah lampu penerangan jalan.
Setelah keduanya sampai dan Musa pun menoleh ke belakang. Seketika membulatlah kedua manik matanya yang pekat bak langit malam itu.
"Kamu!"
__ADS_1
Hasna pun mengernyitkan kening ketika pemuda di hadapannya nampak kaget dan menudingakan telunjuk kanan padanya.
"Lo kenapa? Kayak liat hantu aja!" protes Hasna dengan alis berkerut. Entah kenapa, gadis ini terlihat biasa saja saat melihat penampakan pria tampan yang mana wajahnya seakan berkilau lantaran terbias cahaya lampu.
"Bukan hantu. Tapi kamu cewek yang kemarin-kemarin itu nyerempet aku pake motor sport. Iya kan?" tuding Musa begitu yakin. Bahwa perempuan yang ada di hadapannya ini adalah sosok yang sama.
"Nyerempet?" beo Hasna mencoba memutar kembali ingatannya pada kejadian dua hari yang lalu itu.
Seketika kedua matanya yang kini mendapat giliran membuka lebar. Dimana gadis itu telah menemukan kepingan ingatan pada malam di mana dirinya dikejar-kejar oleh polisi patroli.
"Hah! Jadi cowok yang nyungsep itu Elo!" kaget Hasna. Bahkan kini dirinya merasa bersalah. Karena itu Hasna langsung membekap mulutnya dan berdiri resah.
"Keterlaluan. Bahkan kamu udah nabrak aku untuk kedua kalinya. Sampai aku jatuh terpental. Parahnya lagi, kamu ... juga nendang aku!" protes Musa dengan nada kesal yang tak dapat ia tutupi lagi. Sekalipun gadis di hadapannya ini sangat cantik. Bulu mata lentik dengan manik berwarna kecoklatan, hidung yang mancung serta bibir pink dan kulit yang putih.
Bukankah, penampakan Hasna bak bidadari yang kesasar pada malam hari.
Mendengar kesalahannya di bacakan oleh Musa, Hasna hanya bisa menunduk diam sambil merutuki dirinya dalam hati.
"Duh. Parah Lo Na. Tapi, kenapa nasibnya tuh cowok kok apes banget ya setiap ketemu gue?" batin Hasna seraya menyembunyikan tawanya.
"Heh! Kamu gak lagi ngetawain aku kan!"
Bersambung
__ADS_1