Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 15# Salep Luka Bakar


__ADS_3

"Jadi apa hukumanku?" tantang Hasna.


Akan tetapi, Musa hanya tersenyum menanggapinya.


Saat ini, Hasna tengah berada di dapur pesantren.


Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Rahangnya mengeras, dengan sorot matanya yang tajam menatap pada berbagai macam sayuran yang terhampar di atas meja.


Maaf ya Na, author mau ngakakk😆


Napas gadis muslimah ini terdengar menderu kesal. Lebih baik, ia di suruh menghapal dari pada berkutat dengan segala peralatan dapur dan berbagai macam bumbu di dalamnya.


"Kenapa tuh cowok tau sih kelemahan aku!" kesal Hasna, seraya melempar-lempar daun kangkung di hadapannya.


"Hey! Sayurannya itu di petik bukan di lempar-lempar gitu!" ujar seseorang yang baru masuk ke dapur. Kini, dia sudah ada di depan Hasna dengan bertolak pinggang.


"Ck, dia lagi." Batin Hasna. Ketika ia melihat sosok Ustadjah yang sejak awal menyimpan kebencian terhadapnya.


"Ayo siangi dan bersihkan. Nanti akan ada beberapa santri lain yang bantu kamu," titahnya dengan ketus. Sungguh tak seiras dengan raut wajahnya yang manis dan lembut. Perangai perempuan ini seperti ibu tiri yang kejam.


"Yang kayak gini mau jadi istri Gus. Haihh!" Batin Hasna lagi. Akan tetapi, ia menurut apa perintah Ustadjah Ainun.


Hasna duduk dengan tenang dan mulai memetik daun-daun kangkung tersebut. Seandainya saja dia membawa ponsel. Mungkin, sudah di carinya tutorial menyiangi sayuran.


"Hei, kamu itu salah. Kalau seperti itu caranya, bisa selesai sore nanti!" omel Ustadjah Ainun.


"Maaf, bisa tidak anda jelaskan caranya? bukannya justru marah-marah!" sarkas Hasna. Mumpung hanya ada mereka berdua. Nampaknya ia tak bisa lagi menahan yang namanya sabar itu.


"Kamu itu kan perempuan. Masa kayak gini aja harus di ajarin!" ketus Ustadjah Ainun.


"Apa setiap perempuan harus mengerti hal seperti ini?" balas Hasna tak kalah ketus.


"Kamu--"


"Assalamualaikum!" tiba-tiba ada suara lembut dari seorang wanita paruh baya.

__ADS_1


"Wassalamu'alaikum!" jawab Hasna dan Ustadjah Ainun serempak.


"Oalah, ini toh yang namanya Non Hasna?" tanya wanita gemuk dengan tahi lalat di pelipisnya. Wanita itu biasa di panggil mbok Minah.


"Iya, mbok saya Hasna. Maaf, saya belum mengerjakan apapun," ucap Hasna.


"Bikin malu perempuan aja!" celetuk Ustadjah Ainun lagi.


Hasna langsung menoleh dan ia pun mendapat tatapan sinis dari wanita yang menjadi salah satu pengajar di pondok pesantren ini. Akan tetapi, attitude-nya terhadap Hasna sama sekali tidak mencerminkan tatakrama seorang pengajar.


Hasna berusaha tak menanggapi. Ia mencoba abai atas apapun yang di katakan oleh wanita yang secara jelas menyukai Gus Musa.


"Gapapa toh, Non. Nanti mbok bantuin," ucap mbok Minah seraya memasang tabung gas.


Tak lama datang santri Wati lainnya sekitar empat orang. Akan tetapi, Ustadjah Ainun sengaja mengisyaratkan agar mereka balik kembali.


"Hemm. Jadi gitu ya permainannya. Oke, kamu pasti bisa Hasna. Ini cuma sayuran dan ikan mati. Kamu pasti bisa menyelesaikan hukuman yang sekaligus tantangan ini," batin Hasna.


"Loh, yang lainnya kemana? Mosok cuma kamu sendirian yang bantuin di mbok? Padahal, yang mau di masak cukup banyak hari ini," keluh wanita paruh baya itu. Mbok Minah memang adalah petugas dapur. Sehari-hari, dirinya akan dibantu oleh para santriwati secara bergiliran.


"Setidaknya, setelah ini aku gak akan merasa berhutang lagi." Batin Hasna.


Kita tinggalkan kesibukan Hasna yang berperang dengan sayuran dan segala jenis bumbu itu.


Beralih pada keluarga kyai Faisal Basri.


"Jadi Mas Amar mau pulang? Kok bisa?" heran Musa.


"Bisa dong, Nak. Kan Abangmu itu memang jenius. Sehingga, kelulusannya bisa dipercepat," jelas Kyai Faisal.


"Kalau Abang udah pulang. Bisa dong ngajar gantiin Musa. Jadi, aku bisa nyusul ... ehm, maksudku ... aku bisa berangkat ke Yaman," ucap Musa. Keinginan pria itu nyatanya belum pupus juga.


"Teun depan, dong Nak. Kau lupa akan misimu?" Tegus kyai Faisal. Pemimpin pesantren Darussalam ini tak mungkin mengijinkan Musa pergi dan menggagalkan rencananya bersama sang sahabat, Angkasa.


"Alihkan saja nanti, ke Mas Amar Bi," pinta Musa.

__ADS_1


"Sayang, anak Ummi yang tampan. Ini kan sudah tugas kamu. Dan kamu, juga sudah menyetujuinya. Masa, mau kamu lepas begitu saja. Amanah ini pahalanya besar, Nak. Apa kamu rela diambil sama Mas-mu?" bujuk Ning Khumaira.


Wanita paruh baya itu mendekati Musa dan mengusap bahu putranya.


"Iya deh, Ummi. Kalau begitu. Musa mau balik lagi ke pesantren," ucap Musa pasrah. Kalau sudah wanita yang melahirkannya itu berbicara, maka tak ada apapun yang bisa ia lakukan.


Kyai Faisal mengusap punggung istrinya yang terpisah Khimar panjang itu. Pada saat itulah, Ning khumaira menoleh dan tersenyum padanya.


"Abi yakin, jika Musa bisa mengontrol Hasna. Sejak awal bertemu secara tak sengaja mereka sudah memiliki chemistry. Itu pertanda, jika Allah sudah setuju dengan rencana kita. Buktinya, Allah lebih dahulu mempertemukan mereka berdua. Iya kan, Khumaira-ku?" tanya Kyai Faisal, seraya menoleh ke arah sang istri yang berada di dalam rangkulannya ini.


"Iya, Bii. Ummi setuju aja deh pokoknya. Lagipula, Ummi juga suka dan merasa terhibur jika di dekat gadis itu. Ingin cepat-cepat menjadikannya menantu. Pasti seru," seloroh Ning Khumaira di sertai lelehan kecilnya.


"Kamu ini, sabar sedikit dong. Gadis itu, Hasna. Memiliki trauma yang tidak akan sembuh semudah itu. Kita doakan saja. Semoga semua berjalan seperti yang kita semua harapkan. Angkasa telah mempercayakannya kepada kita. Semoga Allah, membantu setiap niat baik kita," tutur Kyai Faisal yang langsung diangguki oleh Ning khumaira.


Wanita yang telah setia berada di sisinya lebih dari tiga puluh tahun.


Waktu makan siang pun tiba.


Hasna mengusap peluh yang sejak tadi membanjiri pelipisnya. Bahkan, pakaian bagian belakangnya juga ikut basah. Ujung saja, semua tertutup oleh Khimar yang panjang dan lebar.


"Rasanya sangat melelahkan, ternyata. Aku gak nyangka, kalau memasak bisa menguras energi sebanyak ini." Batin Hasna dengan helaan napasnya yang berat.


Setelah selesai baru para santriwati datang untuk membantunya menyajikan makanan.


"Makasih ya, Non. Mbok gak nyangka kamu ternyata emang cepet belajar. Kerjaan kamu juga gesit. Jadinya semua bisa deh selesai telat waktu. Nih, Mbok masih buat kamu. Simpan ya, bisa buat ngemil nanti," ucap mbok Minah seraya menyerahkan sekotak camilan tempe orek kering kesukaan Hasna.


"Makasih, Mbok. Tapi, lebih baik di makan bersama saja. Biar lebih berkah," tolak Hasna halus.


"Hasna!" panggil Musa ketika ia melihat Hasna berjalan menuju asramanya.


"Kenapa! Tugas ku sudah selesai. Hukuman juga sudah kulaksakanan dengan baik. Jadi, apa lagi!" ketus Hasna tak memberi kesempatan pria di hadapannya untuk berbicara.


"Astagfirullah, itu mulut apa gak ada rem-nya? Aku cuma mau kasih ini!" Musa menyodorkan sebuah salep luka bakar.


"Tau darimana nih orang kalau aku kena minyak panas?" Hasna menatap ke arah Musa dan benda di tangannya itu bergantian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2