Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 13# Menahan Emosi


__ADS_3

Melihat kedua kawannya sibuk menghafal Qur'an. Hasna bingung sendiri.


Pasalnya, hanya ia sendiri yang tidak di beri hukuman atau mungkin belum.


Sebab, Hasna belum ketemu lagi dengan ustadz tampan yang menjadi idola di kalangan santri satu pesantren itu.


Hasna sudah selesai melaksanakan tugasnya. Mencuci, merapikan kamar dan menyapu halaman. Dua kawannya masih belum selesai muroja'ah sejak subuh tadi.


Pukul tujuh pagi kelas akan di mulai. Selesai sarapan mereka semua langsung masuk kelas masing-masing.


Hari ini yang mengajar Ustadjah yang lain. Sehingga, Hasna tidak memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai hukumannya.


Berita, tentang dirinya yang sudah menarik Gus Musa hingga terjengkang ternyata sampai ke telinga santriwati yang lain.


Seketika, tatapan mereka semua mengarah tajam padanya.


Keadaan sungguh berbeda ketika ia berada di kampus.


Dimana kala itu di sana, justru kehadirannya bagikan pahlawan yang membela hak dan martabat kaum perempuan.


Hasna di segani dan di sayangi mahasiswi.


Sementara di sini, ia di musuhi.


Karena secara tak sengaja telah bersih dengan pengajar yang merupakan idola para santriwati.


"Hey! Anak baru!" panggil seorang santriwati yang cukup cantik seraya mengebrak meja Hasna.


Syifa dan Sarah tak ada, karena mereka tengah menyetor surah hafalan pada Ning Khumaira.


"Ada masalah apa sih kamu? Sampe berani banget nyakitin calon imam aku!" hardik salah satu santri yang mengenakan jilbab segi empat yang menjulur sampai dada.


Tetapi, santri ini mengenakan gincu di bibirnya. Hal itu, membuat Hasna mengernyit. Bukankah, pada peraturan yang ia baca semalam di area pesantren maupun di luar, santriwati di larang bersolek atau berdandan secara berlebihan.

__ADS_1


Tetapi, apa yang ia saksikan saat ini. Gadis di hadapannya melanggar itu semua. Bahkan, Hasna tau jika gadis ini mengenakan bedak yang super tebal sehingga, kulitnya begitu glowing.


Pantas saja dia lebih bersinar dari santriwati yang lain.


"Maaf, bisa gak ngomongnya biasa aja? Yang sopan dan berakhlak, tanpa harus menggebrak meja dan narik urat," seloroh Hasna, ia menutup bukunya lalu berdiri menatap gadis di hadapannya.


"Gak usah ngomong soal akhlak! Kamu, ada akhlak gak pas narik Gus Musa hingga beliau terjengkang!" hardik gadis yang bernama Rekha Salamah itu.


"Kamu gak tau kejadian yang sebenarnya. Jadi, jangan main menghakimi aja. Lagipula, aku sudah meminta maaf pada beliau dan juga Ning Khumaira. Jadi, kurasa gak ada masalah lagi. Itu semua, murni kesalahpahaman saja," jelas Hasna.


Gadis muslimah ini berusaha sabar untuk menahan emosinya. Hasna mencoba bicara dengan nada lembut untuk pertama kalinya dalam hidup. Ia tak mau ada masalah lagi. Bagaimana pun dirinya harus menunjukkan perubahan sikap kepada bunda dan juga kakeknya.


Setidaknya, mereka juga bangga karena telah memilikinya. Hasna sebenarnya iri dengan sang kakak. Akan tetapi, bagaimana lagi, jiwanya memang tak suka di kekang dengan banyak aturan. Hari ini, Hasna bertekad untuk mencoba menjadi lebih baik.


"Gak ada masalah lagi kamu bilang!" sentak Rekha. Gadis judes ini masih tak terima begitu saja. Entah bagaimana kalau dia melihat ketika Musa terkena tendangan langsung dari Hasna.


Hasna menghela napasnya ketika gadis di hadapannya ini membentak dirinya berulang kali.


Jika bertemu Hasna yang sebelumnya, mungkin rekha sudah terkena bogem mentah pada wajahnya yang penuh dempulan itu.


"Eh, urusan kamu sama Gus Musa mungkin udah selesai. Tapi, urusan kamu sama aku itu baru di mulai. Sini kamu!" Rekha yang tak tau sedang berhadapan dengan gadis seperti apa, menarik lengan Hasna dengan kasar.


Gadis itu menyeret Hasna hingga, ke kamar mandi perempuan.


"Ngapain kamu bawa aku kesini?" tanya Hasna datar. Sebenarnya ia kaget juga. Ternyata di area pesantren ada juga gadis bar-bar tak tau malu seperti Rekha. Bahkan punya pengikut pula.


Hasna sama sekali tak takut. Ia hanya khawatirkan kali ini tak mampu lagi menahan dirinya.


"Sengaja, biar para Ustadjah gak tau. Udah kamu jangan banyak nanya. Pokoknya dengerin apa yang aku katakan tadi!" kecam Rekha. Kali ini, gadis itu sudah mencengkeram ujung jilbab Hasna.


Hasna masih mencoba menahan emosinya. Ia menahan cekalan Rekha dan menatap tajam ke arahnya.


"Setau aku, di pesantren itu ukhtinya lemah lembut dan penuh tata krama. Ternyata, sama aja ya kayak di sekolah lain. Atau, memang ada beberapa santri yang gak bisa nerima pelajaran secara optimal?" sindir Hasna. Karena perbuatan Rekha sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku santriwati yang paham agama.

__ADS_1


"Jangan banyak omong kamu!" Rekha semakin berani. Bahkan dirinya mendorong Hasna ke pinggir wastafel. Hingga, Hasna meringis menahan ngilu pada pinggangnya.


Ia berharap masih bisa mengontrol emosinya untuk tidak membalas perbuatan Rekha. Atau, jika kelepasan, Hasna bisa membuat Rekha tak mampu menggunakan tangannya lagi.


"Lepasin tangan kamu. Apa kamu gak sadar kalo udah nyakitin sesama muslim?" tegas Hasna. Berharap Rekha sadar dan menghentikan perbuatannya ini.


Mendengar perkataan dari Hasna, Rekha pun seketika tersadar. Gadis itu melepaskan Hasna dengan kasar.


"Denger ya, sekali lagi kamu berurusan dengan Gus Musa. Akan ku buat kamu angkat kaki dari sini seperti santriwati yang lainnya!" ancam Rekha lagi. Hasna hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Setelah Rekha berlalu meninggalkannya sendirian di dalam toilet, pada saat itu juga Hasna menggeleng pelan.


"Dasar perempuan murah! Otak kosong!" Umpatan itu akhirnya tak dapat teredam juga dari bibir Hasna.


Setidaknya, Hasna mampu memecahkan rekor dalam menahan emosi dan amarahnya. Karena jika Rekha bertemu dengan Hasna yang bukan hari ini. Mungkin, gadis itu sudah mengalami patah tulang, minimal di jari.


Hasna yang tak pernah sekalipun membiarkan orang lain mengintimidasi dirinya. Kini, diam tanpa perlawanan di saat santriwati yang cuma jago gertak mengancamnya.


"Yang sabar ya Na, bagaimana pun kamu harus bisa bikin bunda dan kakek bangga sekali aja. Meskipun, kamu tersiksa berada di tempat dan lingkungan yang ke depannya akan terus bikin kamu terkekang. Hasna yang dulu, telah berada didalam kerangkeng sekarang," gumam Hasna. Seraya menghela napasnya panjang.


Sementara itulah di kediaman Kyai Faisal.


Musa kini berada di depan sang ayah.


"Bersabarlah. Sahabat Abi, sengaja menitipkan Hasna di sini bukan hanya untuk mendidiknya secara agama. Atau bahkan mencetaknya agar menjadi mubaligh seperti bundanya. Ustadjah Hanifa. Akan tetapi, kita di sini memiliki tugas untuk mengontrol emosi Hasna yang meledak-ledak," tutur Kyai Faisal, setelah ia mendengar cerita mengenai kejadian sang putra yang terjatuh karena di tarik sorbannya olah Hasna.


"Insyaallah, Bi. Musa akan berusaha melupakan kesalahannya dan mencoba memberi bimbingan padanya. Tetapi, demi kemudahan ijinkan Musa memberi hukuman padanya. Sekedar, memberinya pelajaran dan arti konsekuensi," ucap Musa.


"Berikanlah, tapi yang manusiawi. Karena kunci dari memberi pelajaran adalah pengertian dan kelembutan," ucap kyai Faisal lagi memberi nasihat pada putranya ini.


"Insyaallah, Bi. Musa akan pegang semua nasihat dari Abi," jawab Musa dengan senyum ramahnya. Akan tetapi, terdapat tarikan senyum miring yang tercetak di wajah tampan ustadz muda ini.


"Tunggu giliranmu, Hasna," gumam Musa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2