Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Pergi dari Rumah


__ADS_3

"Brengsek! bukti apa yang kamu punya? Bentak Kanaya mencengkram dengan kuat tangan Anastasya.


"Aku punya bukti rekaman saat kau mengakui perbuatan mu. Aku nggak tau kamu terlalu bodoh atau terlalu cemburu hingga mengakui perbuatan mu sendiri padaku. Jadi jangan macam-macam denganku. Jika kau melakukan sesuatu padaku, atau mencoba melakukan pembunuhan lagi. Aku jamin kau akan masuk penjara karena aku sudah menyerahkan bukti itu ke orang lain. Begitu kau melakukan kesalahan maka orang itu akan memberikan bukti itu pada polisi." Ancam Anastasya.


"Berikan bukti itu padaku! atau aku akan menghancurkan mu!" Ancam Kanaya.


"Lepaskan!"Bentak Anastasya melepaskan tangan Kanaya, "Jangan mengancam ku! Dasar wanita ular. Aku yakin suatu saat Mas Damian akan menyesal karena menikah dengan wanita seperti kamu. Wanita licik dan penuh drama, sok baik di depan semua orang, tapi di belakang menusuk, Munafik!" Cerca Anastasya.


"Kamu makin hari, makin berani dengan ku ya?" Bentak Kanaya.


Di sela perdebatan mereka, Weni berjalan menuju dapur. Sedangkan Mbok Siti hanya diam saja mendengar perdebatan mereka sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Kenapa kalian berdebat di sini?"Tanya Weni.


"Mah, Tasya mengancam aku Mah!" Adu Kanaya.


"Tasya! apa yang kamu lakukan dengan Kanaya." Bentak Weni.


"Apa yang aku lakukan? aku hanya membela diri dari orang yang berniat jahat padaku Mah. Apa salah jika aku juga memberinya pelajaran sama dengan yang kalian lakukan padaku? kalian mencoba membunuhku. Aku nggak percaya Mama tega melakukan itu padaku. Aku sangat sayang dengan Mama. Aku Anggap Mama seperti ibuku sendiri, tapi Mama membalasnya dengan kebencian hingga Mama juga ikut ingin menyingkirkan ku." Cerca Anastasya.


"Dasar menantu kurang ajar!" Teriak Weni.


Plak!


Weni menampar wajah Anastasya hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipinya. Anastasya meringis memegang pipinya. Air matanya sudah menetes tak tertahan. Hatinya lebih sakit dari pada rasa sakit di pipinya.


"Hikss, hikss, Seperti inikah mertua yang aku sayang? aku nggak akan membalas Mama karena aku masih menghargai Mama. Tapi suatu saat Mama akan menyesal memperlakukan aku seperti ini. Mama akan kehilangan semuanya karena keegoisan Mama." Anastasya semakin menangis.


Damian keluar kamar mencari Anastasya karena terlalu lama menunggunya di kamar.


"Tasya!" Jangan bicara seperti itu dengan Mama." Bentak Damian yang hanya mendengar ujung kalimat Anastasya.


Kanaya tersenyum kecil saat Damian membentak Anastasya.


"Mas! kamu membela mereka? mereka menyakitiku Mas!" Ujar Anastasya.

__ADS_1


"Ayo masuk kamar! Aku nggak mau kalian berdebat. Aku capek dan muak dengan semua ini. Kalian selalu berdebat seperti anak kecil." Kesal Damian.


"Sekarang aku tau, kalo kamu sudah tidak bisa membelaku Mas. Kamu tidak ingin mendengar yang mana yang salah dan yang mana yang benar agar kamu masih tetap mempertahankan semuanya. Kamu sangat egois!" Geram Anastasya meninggalkan dapur menuju kamarnya.


"Mah, aku harap Mama bisa lebih bijak sebagai orang tua dan menghargai Tasya sebagai istriku. Aku sangat mengenalnya Mah, dia nggak akan bersikap kasar jika tidak lebih dulu di perlakukan seperti itu. " Ujar Damian.


"Mas! jaga sikap Mas! Mama melakukan itu juga agar Tasya tidak melawan. Ia membantah Mama dan bertindak seenaknya." Sela Kanaya.


"Lebih baik kamu diam Naya!" Bentak Damian.


Damian mengikuti langkah Anastasya masuk ke dalam kamar. Saat di kamar, Anastasya sedang dikamar mandi. Ia menatap wajahnya yang memerah sambil menangis di depan cermin. Setelah puas mengeluarkan kesedihannya, ia segera membersihkan diri kemudian keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah ia ganti.


Anastasya berjalan menuju meja rias, ia memakai krim wajah dan body lotion di tubuhnya. Ia mengambil ponselnya yang ia cas kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil bersandar di kepala tempat tidur.


Anastasya melirik sekilas ke arah Damian kemudian menarik selimut untuk tidur.


"Aku minta kamu lebih sabar lagi menghadapi Mama. Jika kamu terus melawannya, maka dia akan semakin marah padamu." Ujar Damian.


"Mas nggak usah khawatir, mulai sekarang aku akan sangat dan lebih sabar lagi menghadapi mereka. Aku nggak akan membalas omongan mereka lagi bahkan omongan mu Mas. Ini yang terakhir kalinya kita bicara karena aku juga nggak mau bertengkar." Anastasya menutup matanya, tanpa terasa air matanya kembali berlinang. Hatinya sangat perih dan sakit.


Anastasya terbangun di tengah malam karena ingin buang air kecil, ia segera masuk ke dalam kamar mandi kemudian keluar setelahnya dan kembali ke tempat tidur.


Matanya sangat sulit terpejam, dan akhirnya Dia memutuskan untuk bangun mengambil barang-barangnya yang penting, dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah selesai ia membawanya keluar menuju mobil.


Anastasya kembali masuk ke kamar setelah menyusun sisa barang-barangnya. Ia menatap sendu wajah Damian. Ia tidak ingin rumah tangganya berakhir tapi bertahan juga akan saling menyakiti.


Anastasya kembali naik ke atas tempat tidur. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya sambil menangis. Berharap esok akan lebih baik, pergi dari rumah itu adalah keputusan yang tepat dan terbaik yang ia ambil.


Pagi hari Anastasya sudah bangun ia mempersiapkan sarapan untuk Damian untuk yang terakhir kalinya. Ia memasak semua makanan kesukaan Damian kemudian di tata dengan rapi diatas meja makan.


Ia kemudian kembali ke kamar bersiap ke kantor dan membangunkan Damian. Setelah semuanya siap, mereka keluar dari kamar menuju meja makan.


Damian heran melihat semua menu makanan hari ini begitupun dengan Weni dan Kanaya.


"Bi..? kenapa masak sebanyak ini? kita cuma mau sarapan, bukan makan siang." Tanya Weni.

__ADS_1


"Ini yang masak Nyonya Tasya, bibi hanya bantu menyiapkannya." Jawab Mbok Siti.


Damian menatap Anastasya meminta penjelasan, tapi Anastasya lebih memilih diam. Semalam dia sudah berjanji untuk diam dari pada bicara dan berakhir dengan pertengkaran.


Anastasya mengambilkan makanan di piring Damian kemudian mengambil makanan untuknya. Ia juga ingin melayani Damian di meja makan untuk yang terakhir kalinya.


"Tasya? kenapa masak sebanyak ini?" Tanya Damian.


Anastasya tidak menjawab ia tetap menikmati makan yang sudah ada di piringnya.


"Tasya!" Bentak Damian.


"Ia Mas, aku hanya ingin masak untuk kamu aja. Sudah, ayo kita makan. Makanan ini aku buat khusus untuk kamu Mas." Jawab Anastasya kemudian kembali menikmati makanannya tanpa menghiraukan Weni dan Kanaya yang sedang melotot ke arahnya.


Setelah beberapa menit Anastasya selesai makan lebih dulu. Ia kembali ke kamar kemudian mengambil, ponsel, kunci mobil dan tas kerjanya.


"Mas, aku duluan." Pamit Anastasya kemudian melangkah keluar sedangkan yang lainnya baru saja selesai makan.


"Tasya tunggu!" Panggi Damian dengan suara gak tinggi.


Anastasya berbalik menatap Damian, kemudian berbalik kembali.


"Tunggu aku, kita satu mobil ke kantor." Ajak Damian.


"Nggak usah Mas! aku bawa mobil sendiri. Aku akan ke rumah Ibu setelah pulang kantor." Tolak Anastasya.


"Kalo dia nggak mau, nggak usah dipaksa Mas! Sok nolak padahal ngarep." Sindir Kanaya.


"Sudahlah Damian, untuk apa kamu masih bertahan dengan perempuan seperti ini. Dia sudah tidak mau mendengar mu dan selalu saja membantah Mama. Kanaya jauh lebih baik darinya. Lebih baik kamu ceraikan saja dia." Ketus Weni.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2