Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Kabar bahagia


__ADS_3

Austin hanya diam, dia sangat tahu bagaimana kedua sahabatnya bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan.


"Sayang, telpon Mommy dong..! aku ingin bicara." Melas Anastasya.


"Kamu ingin menyampaikan kabar baik ini?" Tanya Austin mengelus perut rata Anastasya.


"Ia sayang, aku ingin berbagi kebahagiaan denga mereka." Jawab Anastasya.


"Baiklah, aku akan menghubungi mereka. Mereka pasti senang mendengarnya, apalagi Mommy, dia pasti ingin segera datang ke sini." Ujar Austin.


Auastin mengambil ponselnya lalu menghubungi Mayang lewat video call.


"Halo sayang...!" Jawab Mayang melihat gembira melihat wajah Austin di layar ponselnya.


"Mommy dan Daddy sehat-sehat aja kan?" Tanya Austin.


"Kami sehat sayang, ini Daddy lagi istirahat." Mayang mengalihkan kamera ponselnya ke arah Rainart yang sedang berbaring.


"Hai son." Sapa Rainart.


"Jaga kesehatan Dad, jangan terlalu keras bekerja." Ujar Austin.


"Ia, Daddy juga tau. Kalian di rumah sakit?" Tanya Rainart memperhatikan di belakang Austin ada nakas milik rumah sakit.


"Ia Dad, Syasya habis kecelakaan, kata dokter tidak apa-apa, semuanya sudah di tangani dokter dengan baik." Jelas Austin.


"Mana Syasya, Mommy pengen liat keadaannya." Sela Mayang mengkhawatirkan Anastasya.


"Ini Mom." Austin mengarahkan ponselnya ke Anastasya.


"Kamu baik-baik aja nak? apa ada yang sakit? atau Mommy kesana aja ya jagain kamu?" Panik Mayang, melihat perban di kepala Anastasya.


"Nggak usah Mom, kasian Daddy jika Mommy tinggal. Syasya baik-baik aja. Mommy jangan khawatir. Aku punya kabar gembira untuk Mommy." Ujar Anastasya.


"Kabar gembira apa sayang?" Tanya Mayang penasaran.


"Mommy akan jadi Oma dan Daddy jadi Opa." Seru Anastasya berbinar.


"Beneran sayang..? kalian nggak lagi ngeprank Mommy dan Daddy kan?" Tanya Mayang tidak percaya.


"Beneran Mom, tidak lama lagi Mommy akan menimang cucu." Sela Austin.


"Ohh, Mommy pengen peluk kamu sayang, Mommy makin kangen Sya.." Ujar Mayang meneteskan air mata.


"Syasya juga kangen Mom. Doain Syasya selalu sehat agar bisa menjaga cucu Mommy dengan baik." Ujar Anastasya ikut meneteskan air mata.


"Mommy selalu berdoa yang terbaik untuk kalian nak! Ingat jangan terlalu lelah." Balas Mayang.


"Makasih Mom."


"Austin cepat bereskan pekerjaan mu, dan bawa Syasya pulang, biar Mommy yang menjaganya di sini." Pinta Mayang.


"Ia Mom, Austin akan usahakan." Jawab Austin.


ยนยน"Kamu tau siapa yang menabrak Syasya?" Sela Rainart.


"Belum Dad, anak buahku sedang mengejarnya." Jawab Austin.

__ADS_1


"Selesaikan masalah kalian di sana, trus pulang. Daddy mau kalian menetap di sini." Ujar Rainart.


"Baik Dad." Sahut Austin kemudian menutup telponnya.


Setelah menutup telpon, Austin meminta Anastasya untuk Istirahat lalu duduk bersama Jack di sofa.


"Jack, apa sudah ada kabar siapa yang menabrak Syasya?" Tanya Austin.


Jack menghela napas kasar. "Belum, berikan mereka waktu sampai besok, mereka harus memastikan tidak salah orang." Jawab Jack.


"Baiklah, jika sudah menemukan orangnya, bawa dia ke hadapan ku." Ujar Austin.


"Itu pasti bos!"


"Pulanglah, ambilkan aku pakaian dan Tasya." Perintah Austin.


"Ok, bos!" Jack beranjak lalu mengambil kunci mobil dan meninggalkan ruangan Anastasya.


Austin berbaring di sofa. Ia sangat lelah hari ini, melihat Anastasya yang sedang hamil terbaring lemah di brankar hatinya ikut sedih.


"Istirahatlah sayang, aku di sini bersama kalian. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kalian lagi." Lirih Austin.


Ia mencoba menutup mata agar bisa istirahat selama Anastasya tertidur. Suara dengkuran halus yang terdengar menandakan Austin tertidur pulas.


.......................


Keesokan harinya, Radit sedang menangis karena mainannya rusak, ia tidak mau berhenti hingga kanaya dan Weni jadi pusing melihatnya.


"Naya, coba kamu ajak dia main di taman kompleks, disana kan banyak anak-anak, dia pasti senang karena memiliki banyak teman." Ide Weni.


Mendengar banyak mainan dan teman-teman, Radit langsung diam. Ia segera meminta di gendong oleh Kanaya.


Kanaya dan Radit jalan-jalan di taman kompleks, di sana banyak anak-anak yang sedang bermain. Ada yang main ayunan, seluncuran, main bola, dan masih banyak permainan anak-anak lainnya. Radit sangat senang karena di bawa kesana.


"Mah, Radit mau main di sana." Tunjuk Radit pada permainan luncur-luncuran.


"Ia sayang, ayo." Kanaya menuju tempat permainan kemudian membiarkan Radit bermain dengan anak-anak yang lain.


Drrttt.. drrtt.. drrtt..!


Suara ponsel kanaya berdering.


Kanaya mengambil di dalam tasnya lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo." Jawab Kanaya.


"Kamu dimana?" Tanya Rudi.


"Di taman kompleks bersama Radit." Jawab Kanaya.


"Aku kesana ya?" Ujar Rudi.


"Kamu di Jakarta ya?" Tanya Kanaya kembali.


"Iya, aku merindukanmu. Aku kesana ya? jangan pulang dulu sebelum aku datang." Ujar Rudi lalu menutup telponnya.


Setelah menutup telpon, Kanaya tidak melihat Radit di tempat perosotan. Ia segera berdiri lalu mencarinya.

__ADS_1


"Radit.. Radit..!" Teriak Kanaya bingung.


Sambil berjalan mencari Radit, ia juga bertanya ke beberapa ibu-ibu.


"Bu, liat anak saya nggak? ini anaknya." Kanaya memperlihatkan foto Radit di ponselnya.


"Tidak Bu." Jawab salah satu ibu-ibu.


"Apa ibu pernah melihat anak ini?" Tanya Kanaya pada ibu lain.


"Tidak." Jawabnya.


"Bu, liat anak ini nggak?" Tanya Kanaya pada ibu yang lain lagi.


"Sepertinya aku baru saja melihatnya, coba ibu cek di sana." Tunjuk salah satu ibu-ibu gendut. Ibu menunjuk ke tempat jajanan makanan.


"Makasih Bu." Kanaya segera menuju tempat yang di tunjuk oleh ibu itu.


Saat sampai di sana, ternyata Radit memang berada di sana.


Kanaya segera menghampirinya namun Radit tiba-tiba menyeberang jalan karena melihat ada penjual balon di seberang jalan.


"Radit...! jangan menyeberang nak!" Teriak Kanaya namun Radit tidak memperdulikannya, ia semakin berlari karena mengira Kanaya sedang mengejarnya.


Brakk!


Seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor menabrak Radit lalu segera kabur karena ketakutan. Di taman banyak orang, pasti dia akan di massa jika tetap tinggal melihat keadaan Radit.


"Radit...!" Teriak Kanaya panik. ia semakin mengencangkan larinya.


Kanaya tertegun melihat Radit terluka di bagian kepala dan lengannya. Darahnya mengalir tidak mau berhenti membuat kanaya semakin ketakutan.


"Mah.." Ujar Radit di sisa tenaga lalu pingsan.


"Radit sayang, bangun nak! Ini mama, hikss, hikss." Kanaya mencoba membangunkan Radit, namun Radit tidak juga sadar.


"Tolong..! tolong..! tolongin anak saya." Teriak Kanaya mengedarkan pandangannya agar orang yang ada di sana menolongnya.


Dalam sekejap warga membantunya, mereka memasukkan Radit ke dalam salah satu mobil warga lalu membawanya menuju rumah sakit.


Kanaya gemetar memegang tubuh Radit. Ia sangat takut kehilangan Radit karena darahnya belum juga berhenti mengalir.


"Hikss, hikss, Radit bangun nak, maafkan Mama, hikss..." Sesal Kanaya sambil menangis.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Radit langsung mendapatkan penanganan oleh dokter sedangkan warga yang mengantarnya pamit pulang.


.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik โค๏ธ


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2