
Saat itu juga Austin berangkat ke Bandung. Jack yang sedang fokus mengendarai mobil, sekali-kali melirik Austin yang sedang gelisah duduk di kursi belakang.
"Bos! lagi mikirin apa?" Tanya Jack memberanikan diri.
"Syasya, aku khawatir dengan keadaannya." Jawab Austin, "Kamu bisa bawa mobil lebih cepat lagi nggak sih! kenapa jalannya seperti jalan kura-kura." Kesal Austin.
"Ini juga kecepatan maksimal bos! jika ingin cepat kenapa nggak naik pesawat aja." Ide Jack.
"Kamu benar Jack, kenapa gw nggak kepikiran ke sana? Arghhh! ini pasti karena gw terlalu menghawatirkan Anastasya." Kesal Austin memukul kursi.
"Sejam lagi kita juga sampai, lebih baik bos istirahat. Nanti aku bangunin jika kita sudah sampai." Ujar Jack.
Austin mencoba menutup mata, sejak beberapa hari belakangan ini Dia memang kurang tidur. Entah kenapa wajah Anastasya selalu saja terlintas di pikirannya. Ia sudah mencoba beberapa kali untuk melupakan Anastasya tapi itu sangat sulit baginya.
"Shirt..!" Umpat Austin. Ia tidak bisa tertidur. Bayangan wajah Anastasya yang sedang ketakutan meminta tolong terlintas dipikirannya.
"Lebih cepat lagi Jack! kalo nggak gw bakalan pecat Lo detik ini juga." Ancam Austin.
Jack hanya bisa pasrah. Kecepatannya mengendarai mobil sudah maksimal bahkan sudah seperti seorang buronan yang melarikan diri. Jika Austin bukan bosnya dia pasti sudah menyuruhnya mengendarai mobilnya sendiri.
'Gila nih bos! mau kecepatan yang bagaimana lagi. Ini sudah full injak gas masih juga ngomel.' Batin Jack dengan kesal mengumpat bosnya.
"Berhenti mengumpat gw Jack! fokus liat jalanan di depan." Ujar Austin tanpa membuka mata.
"Ini juga lagi fokus bos!" Ujar Jack.
Setelah menempuh jarak waktu dua jam, akhirnya mereka tiba di Bandung. Austin langsung menyuruh Jack menuju villa.
"Bos! sepertinya villa ini dikawal beberapa orang, mereka juga bersenjata." Ujar Jack melihat sekitar Villa.
"Apa Lo takut dengan kacung Damian?" Kesal Austin yang bertambah khawatir karena melihat villa dijaga enam orang di luar.
"Bukan takut bos! aku hanya mengatakannya saja. Itu artinya Ibu Tasya di sekap." Ujar Jack.
Jack dan Austin turun dari mobil di ikuti enam orang anak buahnya dari belakang.
"Bereskan mereka " Perintah Austin pada anak buahnya.
Dan terjadilah perkelahian dan saling tembak menembak diantara mereka.
Dor! dor! dor!
Suara tembakan menggema di luar. Bi Yun yang di dalam sempat kaget dan tidak berani keluar.
Setelah aman dan anak buah Damian berhasil di lumpuhkan. Jack menekan bel rumah kemudian langsung masuk tanpa permisi saat bi Yun membuka pintu dengan gugup dan takut
"E..eh.. mau kemana? kalian ini siapa?" Tanya bi Yun ketakutan.
__ADS_1
Ada Enam orang berbadan besar, tinggi, berotot, memakai setelan warna hitam yang ikut dengan Austin dan Jack ke dalam. Mereka mencari keberadaan Anastasya di setiap kamar, hingga menemukan salah satu kamar yang terkunci.
Bi Yun sudah tidak bisa berbuat apalagi karena tangannya di pegang ke belakang oleh salah satu anak buah Austin.
Jack mengetuk pintu kamar yang terkunci beberapa kali namun belum juga terbuka. Ia segera menendang pintu kamar dengan kuat bersama seorang temannya.
Prakkk!
Pintu terbuka lebar.
Austin segera masuk seorang diri. Sontak membuat Damian dan Anastasya berbalik melihat ke arah pintu.
"Tolong aku." Melas Anastasya dengan keadaan tangan terikat tanpa memakai pakaian, begitupun dengan Damian. Ia baru saja memaksa Anastasya melakukan hubungan suami-istri. Karen Anastasya menolak dan memberontak, Damian mengikat tangannya dengan rim yang ia pakai. Damian bahkan menggigit bibir Anastasya hingga terluka karena Anastasya tidak mebalas ciumannya.
"Brengsek!" Umpat Damian, ia segera menutup tubuh Anastasya dengan selimut kemudian mengambil celana lalu memakainya.
"Sya..." Panggil Austin. Ia tertegun melihat keadaan Anastasya. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras seperti singa yang akan mengaung memakan mangsanya. Ia mengepalkan kedua tangannya bersiap melayangkan tinjunya ke arah Damian.
"Tolong bawa aku pergi dari sini Austin." Melas Anastasya meneteskan air mata lalu pingsan.
"Brengsek!" Umpat Austin.
Bug! bug! bug!
Pukulan bertubi-tubi yang ia layangkan ke wajah dan perut Damian tanpa jeda. Ia tidak memberikan Damian kesempatan untuk melawan hingga Damian terjatuh ke lantai. Amarahnya pada Damian kian memuncak saat Damian menyeringai menghapus darah di bibirnya.
Bug!
Damian melayangkan tinjunya ke wajah Austin. Dan Austin membalasnya sekali lagi.
Bug!
"Aku pastikan kau tidak akan bertemu lagi dengan Syasya." Ancam Austin menghempaskan tubuh Damian.
Austin menghampiri Anastasya yang sedang pingsan berbalut selimut.
"Sya... bangun!" Austin menepuk wajah Anastasya, namun Anastasya tidak bergerak.
"Jack, suruh bibi itu masuk." Teriak Austin panik.
Bi Yun masuk dan menutup mulutnya melihat keadaan Anastasya. Ia segera menghampirinya, "Nyonya kenapa?" Tanya Bi Yun.
"Aku tunggu 5 menit, pakaikan pakaiannya." Ujar Austin segera keluar dari kamar.
Dengan cepat bi Yun mengambil pakaian di lemari kemudian memakaikannya. Bi Yun menangis melihat tubuh Anastasya memiliki banyak lebam yang berwarna biru.
"Sudah Tuan" Ujar bi Yun setelah keluar dari kamar.
__ADS_1
Austin segera masuk kemudian mengangkat Anastasya ala bridal style keluar dari Villa masuk ke dalam mobil.
"Cepat jalan Jack, cari rumah sakit yang terdekat!" Perintah Austin, "Brengsek kau Damian, urusan kita belum selesai." Teriak Austin mengepalkan kedua tangannya. Jika saja Anastasya tidak pingsan, entah bagaimana nasib Damian sekarang. Mungkin sudah tidak bernapas lagi akibat pukulan Austin yang bertubi-tubi. Sebelum keluar dari kamar, Austin masih sempat menendang perut Damian yang terbaring di lantai.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Austin segera mengangkat tubuh Anastasya masuk ke rumah sakit dan meletakkan diatas brankar.
"Dokter, tolong periksa keadaanya. Lakukan yang terbaik untuknya, berapapun biayanya itu tidak masalah buatku, yang penting dia kembali sehat." Pinta Austin setelah tiba di depan pintu IGD.
"Baik Tuan, silahkan menunggu di sini." Sahut dokter kemudian masuk kedalam ruangan IGD.
Austin mondar-mandir di depan pintu IGD. Sedangkan Jack duduk di kursi mengawasi. Baru kali ini ia melihat Austin menghawatirkan orang lain selain orang tuanya.
"Lo kayak setrikaan aja, mondar mandir nggak ada hentinya. Duduklah dan tenang! dia pasti baik-baik aja." Ujar Jack.
"Gw nggak akan tenang sebelum Dokter keluar dan mengatakan kalo Syasya baik-baik aja." Tolak Austin menekan pelipisnya sambil menutup mata.
Jack menghela napas panjang, memang tidak mudah menyuruh Austin tenang jika dia sedang menghawatirkan sesuatu.
"Kalo terjadi sesuatu dengan Syasya..! Gw nggak akan biarin Lo hidup tenang Damian. Setelah apa yang Lo lakukan pada Syasya." Geram Austin mengepalkan kedua tangannya.
Jack hanya geleng-geleng kepala. Dari pada melihat Austin yang tidak tenang, ia lebih memilih ke kantin mencari makan. Sudah hampir seharian perutnya tidak terisi akibat Austin.
"Aku ke kantin sebentar. Lo mau titip sesuatu?" Tanya Jack.
"Kopi." Singkatnya.
"Yang bener aja bos! Lo belum makan seharian. Nggak, gw beliin Lo makanan. Kopinya nanti saja." Jack pergi tanpa meminta persetujuan Austin. Jika berlama-lama di sana pasti ujung-ujungnya mereka akan berdebat.
Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD.
Austin segera melangkah menghampirinya, "Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya Austin panik.
"Dia baik-baik saja. Dia pingsan karena trauma dan rasa takut yang dialaminya. Kami juga sudah mengobati luka-lukanya, jadi Anda nggak usah khawatir. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya ke kamar rawat inap. Biarkan dia istirahat selama 3 hari di rumah sakit." Ujar Dokter.
Austin menghela napas lega, "Terima kasih Dokter." Ujar Austin.
Dokter mengangguk kemudian masuk kembali ke dalam ruangan IGD.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏