
Sorry bos! belanja nggak ada dalam daftar planning hidup gw." Tolak Jack, itulah kata-kata yang sering Austin ucapkan jika Mayang mengajak Austin menemaninya belanja. Dengan sedikit drama, jadilah Jack yang menggantikan dirinya menemani Mayang.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Perusahaan. Anastasya langsung menuju ruangan Austin untuk menunggunya di sana, sedangkan Austin, Jack dan Dodi segera meeting untuk membahas masalah proyek yang sedang berjalan.
Satu jam berlalu, meeting selesai. Austin berjalan menuju ruangannya diikuti Jack dan Dodi.
"Jack buatkan surat pemecatan untuk Rihana. Suruh perempuan itu ke ruangan ku sekarang." Perintah Austin dengan wajah dingin dan datarnya.
"Rihana buat masalah apa bos?" Tanya Dodi setelah Jack keluar dari ruangan.
"Hampir saya dia menampar Istriku." Lirih Austin sambil melihat kearah ruangan kecil tempat Anastasya beristirahat. "Lo liat di cctv yang ada di lobi, dekat toilet." Ujar Austin.
Dodi mengambil alih laptop Austin lalu melihat cctv. "Gila nih cewek, cantik sih ia, tapi kelakuannya kayak nggak berpendidikan bos! Kok bisa dia lolos saat interview ya?" Kesal Dodi.
Tok.. tok.. tok..!
Rihana mengetuk pintu, sontak membuat Austin dan Dodi mengalihkan perhatian kearah pintu.
"Masuk!" Sahut Dodi.
Rihana masuk ke dalam ruangan Austin dengan perasaan senang. Kemarin saat Austin kekantor ia hanya melihat sekilas saat melewati lobi. Rihana sangat kagum dengan sosok Austin. Pria dengan sejuta pesona yang mampu mengikat kaum hawa begitupun dirinya saat pertama kali melihatnya.
Rihana berdiri di depan Austin dan menatapnya dengan lekat. hatinya sangat senang dapat menatap mata hazel milik Austin. Ia sangat tertarik dengan wajah tampan Austin apalagi Austin adalah pemilik Royal group.
'Oh, ternyata dia lebih tampan jika dilihat dari dekat. Beruntung sekali aku jika jadi istrinya. Semoga saja dia suka padaku.' Batin Rihana.
"Kamu tau kenapa aku memanggilmu ke sini?" Tanya Austin datar.
"Tidak Tuan." Jawab Rihana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.
Austin menghela napas, ia melonggarkan dasi dan melipat lengan bajunya.
Melihat itu Rihana makin senang dan semakin terpesona.
"Dod, Lo aja yang urus Dia. Gw nggak suka buang-buang waktu untuk mengurus perempuan seperti ini." Austin lalu beranjak dari kursinya menuju ruangan kecil tempat Anastasya sedang tertidur.
'Hah..? Apa dia bilang? Emangnya aku wanita apaan? Orang aku cantik gini. Aku yakin dia cuma jaga image karena ada Pak Dodi di sini.' Batin Rihana dengan seringai licik di wajahnya.
__ADS_1
"Maaf Pak Dodi, untuk apa saya dipanggil menghadap ya?" Tanya Rihana memberanikan diri.
"Kamu nggak tau apa kesalahanmu?" Tanya Dodi.
"Salah? emangnya saya salah apa Pak? Saya tidak pernah melakukan kesalahan." Jawab Rihana.
"Lihat ini." Dodi menggeser laptop yang ada di hadapannya hingga Rihana dapat melihatnya dengan jelas.
"Wanita ini yang duluan Pak, dia yang menabrak saya, dan lihatlah disini, dia juga menampar saya." Adu Rihana.
"Jadi seperti itu? Apa kamu pikir kami bodoh? Kenapa kamu bertindak seperti itu di kantor? Kamu tau sendiri konsekuensinya bukan? Kamu akan kesusahan mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain jika kamu dipecat. Mulai hari ini kamu dipecat di perusahaan ini karena tidak memiliki etika dan sopan santun!" Seru Dodi mulai emosi.
"Tidak Pak, aku mohon jangan memecat saya, aku akan lakukan apapun asalkan tidak di pecat. Itu juga bukan sepenuhnya kesalahan saya Pak. Wanita itu juga bersalah, apa yang wanita itu katakan ke bapak hingga saya harus di pecat." Tanya Rihana membela diri sambil menunjuk wajah Anastasya dilayar laptop.
"Kamu tau wanita yang kamu tunjuk itu siapa?" Tanya Dodi.
"Tentu saja pak, dia tetangga saya dulu. Namanya Tasya, mantan istri pemilik perusahaan Multi Jaya, Dia itu wanita murahan yang suka menggoda pria kaya. Apalagi sekarang dia Janda tanpa anak. Makin bar-bar aja tuh orang! Bapak liat sendiri kan? Bagaimana dia menampar saya." Jawab Rihana dengan jelas menghina Anastasya.
Dodi geleng-geleng kepala sambil tersenyum sinis mendengar penjelasan Rihana. Sungguh di luar dugaan, perempuan cantik ini pandai menghina orang lain tanpa bercermin terlebih dahulu.
"Aku makin yakin, harus memecat mu sekarang! Keluarlah! Temui Pak Jack di ruangannya." Perintah Dodi.
"Hikss, hikss, Tuan Austin, saya mohon..! jangan pecat saya. Saya janji akan memperbaiki kelakuan saya Tuan. Berikan saya kesempatan sekali lagi." Melas Rihana hendak memegang Tangan Austin.
"Keluar!" Bentak Austin menyingkirkan tangannya sebelum Rihana memegangnya.
Seketika lutut Rihana gemetar, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat melihat kemarahan Austin. Air matanya sudah mengalir seperti aliran sungai. Dengan langkah perlahan ia berjalan keluar dari ruangan Austin menuju ruangan Jack.
Saat di ruangan Jack, Rihana mendapatkan surat pemecatan dan gaji terakhirnya.
Rihana semakin menangis saat mengambil semua barang-barangnya dan keluar dari perusahaan.
"Akan aku balas kamu Tasya. Brengsek! Gara-gara kamu, aku jadi kehilangan pekerjaanku." Geram Rihana saat berada di depan gedung, "Aku denger-denger sekarang kamu tinggal di kompleks kembali. Itu akan memudahkan ku membalas mu." Monolog Rihana kemudian memesan taksi online untuk kembali pulang ke rumahnya.
..........
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, Austin dan Anastasya menuju salah satu supermarket yang mereka lewati. Mereka hanya belanja untuk bahan makanan selama dua hari. Anastasya tidak ingin terlalu lama di rumahnya mengingat Austin pasti tidak merasa nyaman. Kehidupan Austin yang selama ini serba mewah berbanding terbalik dengan kehidupan di rumahnya.
__ADS_1
"Sayang..! Kenapa belanjanya cuma sedikit? Tanya Austin.
"Ini untuk keperluan dua hari aja sayang, setelah itu kita akan tinggal di apartemen."
"Sungguh?" Tanya Austin berbinar.
"Iya sayang..! Aku tau kamu pasti tidak betah di sana." Ujar Anastasya mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, Istri ku sayang..! kamu tau aja pikiran suamimu ini." Austin memeluk Anastasya di dalam supermarket.
"Ayo kita pulang, kamu nggak malu diliatin tuh, ibu-ibu yang sedang belanja." Tunjuk Anastasya ke arah ibu-ibu yang sedang melihat mereka.
Austin melepaskan pelukannya kemudian mengikuti Anastasya menuju kasir. Setelah membayar semua belanjaan mereka kembali ke mobil.
Jack dengan cepat menghampiri bos besarnya yang sedang mendorong troli sambil tersenyum. "Butuh bantuan bos?" Tawar Jack.
"Lo nggak liat ini? Kenapa malah nanya? Masukkan semuanya ke dalam mobil." Bentak Austin saat Jack tersenyum mengejeknya.
Setelah semuanya beres, mereka masuk ke dalam mobil.
"Mas, kita mampir ke makam Ayah dan Ibu ya? Sebentar saja." Melas Anastasya.
"Ia sayang..! Jack kamu dengar kan?" Austin mengalihkan pandangannya ke Jack.
"Siap bos!" Ujar Jack sambil fokus melihat kearah depan.
Setelah beberapa menit, Mereka tiba di TPU tempat pemakaman kedua orang tua Anastasya. Kedua orangtuanya di makamkan di tempat yang berdampingan, atas permintaan ibu Anastasya sebelum meninggal.
.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏