
Suara dering ponsel Austin membangunkan sepasang suami-istri yang masih terbungkus dalam satu selimut.
"Halo." Jawab Austin dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"Austin!" Teriak Mayang di balik ponsel.
Sontak Austin menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Dasar anak nakal! Mana Tasya? Kenapa mengurungnya seharian? Keluarga besar kita sudah pada mau balik ke tanah air, kamu malah sembunyi. Mommy nggak mau tau! sekarang juga kalian harus pulang ke Mansion!" Seru Mayang dengan nada kesal.
"Mom, 2 jam lagi boleh?" Tanya Austin.
"Austin....!" Teriak Mayang kembali.
"Ia Mom, iya... Austin pulang sekarang!" Balas Austin.
"Hehehe, kamu dimarahin Mommy ya? kaciaann..." Ejek Anastasya sambil menarik selimutnya menuju kamar mandi.
"Jangan menggodaku Syasya, Kalo tidak mau berakhir dibawah kungkungan ku." Ujar Austin membiarkan Anastasya menarik selimutnya.
Austin pasrah membiarkan Anastasya mandi lebih dulu. Jika mandi bersama bisa-bisa lebih gawat lagi urusannya dengan Mayang.
Anastasya keluar dari kamar mandi kemudian berjalan menuju lemari pakaian. "Sejak kapan koperku ada di sini? Ah, ini pasti kerjaan Austin!" Monolog Anastasya.
Setelah beberapa menit keduanya telah berpakaian dengan pakaian casual.
"Kamu cantik sekali sayang..!" Puji Austin setelah Anastasya memakai makeup tipis.
"Ayo sayang..! jangan mulai lagi, nanti Mommy makin marah." Ajak Anastasya menarik kopernya.
"Mommy mengacaukan hari pertama kita menikah. Kamu pasti senang kan?" Austin menggerutu dengan kesal sambil berjalan memasuki lift.
Anastasya tersenyum melihat Austin seperti anak kecil yang sedang merajuk. Saat tiba di basement mereka segera masuk kedalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Mansion.
Saat mereka tiba, Semuanya sudah bersiap untuk pulang ke tanah air. Mayang sangat senang karena baru kali ini keluarga besarnya datang ke Mansion miliknya.
"Maaf, aku telat." Ujar Austin pada semuanya.
"Tidak masalah nak, kami ngerti kok." Ujar Tante Grace.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang Tante, Om." Ujar Austin.
"Sama-sama nak! Sekarang tanggung jawab mu bertambah. Jika ada masalah di bicarakan dengan baik-baik dan cari jalan keluarnya sama-sama. Kalian harus saling percaya satu sama lain." Nasihat Tante Grace.
"Iya Tante, Makasih." Ujar Anastasya dan Austin.
Mereka berpamitan dan saling berpelukan lalu keluar menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Setelah kepergian keluarga besarnya, Austin mengajak Anastasya menuju kamar.
"Kalian mau kemana lagi?" Tanya Mayang.
"Kamar Mom. Mommy pengen cepet dapat cucu kan? Tunggu saja, Austin akan buatkan yang banyak." Jawab Austin dengan santai.
Anastasya langsung mencubit lengan Austin.
__ADS_1
"Aww.. sayang cubitan mu sakit banget!" Pekik Austin pura-pura mengelus bekas cubitan Anastasya.
Mayang menghela napasnya geleng-geleng kepala, terlalu sulit mengatur anaknya yang satu ini. Sedangkan Rainart langsung menuju kamarnya.
"Terserah kamulah! Mommy juga mau istirahat. Jangan lupa turun makan malam. Jangan membuat Tasya sampai kelaparan mengikuti keinginan mu." Ujar Mayang dengan pasrah.
"Mom Syasya ke atas dulu." Pamit Anastasya.
"Ia sayang, istirahatlah! jangan biarkan Austin menyakitimu." Ujar Mayang.
"Mana ada, yang ada aku membuatnya meraih kenikmatan Mom!" Balas Austin absurd sambil menarik tangan Anastasya masuk ke dalam lift menuju kamarnya.
Sampai dikamar Austin langsung mengunci pintu lalu membawa Anastasya menuju sofa.
"Bagaimana kalau kita lakukan di sini?" Austin mulai mengelus wajah Anastasya.
"Sayang..."
"Ayolah sayang, kasihan dia." Melas Austin melihat ke bawah."
Anastasya mengikuti pandangan suaminya melihat sesuatu yang sudah siap bertempur. "Ya ampun..! Aku menikah dengan maniak ternyata." Anastasya menepuk dahinya.
"Ya, dan akan aku perlihatkan padamu bagaimana maniaknya suami mu ini sayang...!" Ujar Austin makin mendekat hingga mereka tak berjarak.
Drrt.. drrt.. drrtt..!
Suara ponsel Austin menghentikan pergerakannya. Dengan wajah yang memerah karena aktivitasnya terganggu, ia bangun dan mengambil ponselnya di dalam saku celana.
"Brengsek! akan aku hajar orang yang menelpon ku kali ini!" Umpat Austin lalu menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Bos, Proyek di Bali bermasalah. Ada bangunan yang ambruk dan banyak pekerja yang terluka. Sepertinya ada yang bermain curang dengan kita." Jelas Dodi tanpa basa-basi.
Austin menekan pelipisnya berkali-kali sambil berpikir. "Apa ada korban yang meninggal?" Tanya Austin.
"Ada 2 orang bos! dan 10 orang yang terluka " Lapor Dodi.
"Berikan uang dispensasi pada keluarganya. Dan tuntut perusahaan yang bermain-main dengan kita. Aku akan ke Bali besok, aku ku bereskan mereka yang berani padaku." Perintah Austin.
"Baik bos." Dodi menutup telponnya.
Austin duduk lemas di sisi tempat tidur. sedangkan Anastasya bangun dan menghampirinya.
"Ada masalah di Jakarta?" Tanya Anastasya.
"Iya sayang, lebih tepatnya di Bali. Kita harus ke sana besok. Maaf ya? sepertinya bulan madu kita di Bali aja. kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Austin menatap mata sayu dan teduh Anastasya.
"Aku nggak masalah sayang. Kemana aja kamu pergi aku akan ikut." Anastasya tersenyum.
Austin langsung memeluk Anastasya dengan erat. "Makasih sayang, tidak salah aku memilihmu menjadi istri ku, kamu sangat baik. Sekarang siapkan barang-barang kita. Bawa yang penting-penting aja. Kita akan berangkat besok pagi." Ujar Austin kemudian berdiri menuju pintu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anastasya.
"Menemui Daddy, aku hanya sebentar sayang..!" Jawab Austin.
Austin keluar menemui Rainart di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Dad, boleh aku masuk?" Tanya Austin setelah mengetuk pintu.
"Masuklah nak." Sahut Rainart.
Austin masuk kemudian duduk di kursi depan meja berhadapan dengan Rainart.
"Kamu kenapa? pengantin baru kok loyo? jangan bilang kamu belum melakukannya." Selidik Rainart.
"Ini masalah kerjaan Dad, besok aku harus berangkat ke Bali. Ada masalah dengan proyek yang sedang aku bangun di sana." Ujar Austin.
"Masalah?" Tanya Rainart.
"Ia Dad, salah satu bangunan runtuh dan menimpa pekerja proyek. Aku nggak bisa tinggal diam aja di sini, sementara mereka sedang bertaruh nyawa di sana." Ujar Austin.
"Baiklah, Daddy setuju. Apa kamu juga membawa Tasya?" Tanya Rainart.
"Tentu saja Dad. Dia Istriku sekarang, dia harus ikut kemanapun aku pergi."
"Mommy mu pasti sedih jika dia pergi." Rainart menghela napas bersandar di kursinya. Dia sangat tahu bagaimana sayang dan perhatiannya Mayang pada Anastasya.
"Aku tau itu! Dad, aku ke kamar dulu ya?" Ujar Austin beranjak dan Rainart hanya menganggukkan kepalanya.
"Sayang..! apa semuanya sudah selesai?" Tanya Austin menghampiri Anastasya yang sedang merapikan barang-barang ke dalam koper kecil.
"Sebentar lagi aku selesai." Jawab Anastasya.
Tok.. tok.. tok..!
"Tuan makan malam sudah siap. Nyonya besar sudah menunggu di bawah." Ujar Bi Rima. ART baru yang Mayang bawa dari Bandung. Mayang menambah ART di Mansion yang pandai memasak makanan timur sesuai dengan lidahnya dan Anastasya.
"Baik bi, kami akan segera turun." Sahut Anastasya.
"Sudah sayang, nanti aja lanjutnya, kita turun makan dulu. Kamu harus makan banyak agar tenagamu kuat melawanku nanti." Goda Austin mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu selain maniak makin genit!" Anastasya menarik kedua ujung pipi Austin, "Aku pikir aku akan menikah dengan manusia kaku, dingin, arogan dan menyeramkan ternyata pikiranku berbanding terbalik dengan kenyataannya." Anastasya segera berlari meninggalkan Austin.
"Apa kamu bilang? aku manusia kaku? awas kau, aku akan memberikan hukuman untukmu!" Teriak Austin sambil mengejar Anastasya menuju meja makan.
"Mom." Tolongin aku. Anastasya memeluk Mayang dari belakang.
"Lepasin dia Mom, dia harus di hukum." Ujar Austin menggelitik pinggang Anastasya.
"Kalian ini apa-apaan sih, sudah menikah masih kayak anak kecil main kejar-kejaran. Lebih baik kalian duduk dan makan." Sela Mayang untuk menghentikan kejahilan Austin.
.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1