
"Tanggung, sementara lagi juga sampai." Ujar Dodi masih memegang lengan Tirani. Ia tidak mau melepaskan tangannya hingga masuk di teras rumah.
Tirani merasa tidak enak. Dia akan malu jika pemilik kontrakan meminta uang kontraknnya di depan Dodi. Orang yang baru beberapa hari dia kenal, itupun dalam keadaan yang tidak menenangkan.
"Assalamualaikum.." Ujar Tirani.
"Waalaikumsalam.." Balas Rika ibu Tirani.
"Nah, kebetulan kamu datang, sekarang ibu mau nagih uang kontrakan, Sudah dua bulan kamu belum bayar. Kamu pasti sudah gajian bukan?" Bentak Bu Mirna sambil marah.
Tirani menelan salivanya dengan kasar. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Ia melirik ibunya dengan sekilas lalu menatap Dodi.
"Maaf Pak, sebaiknya anda pulang." Ujar Tirani merasa tidak enak.
Dodi Kesal, bukannya diajak masuk ke dalam rumah dan di sediakan teh, ini malah di usir seperti tamu tak di undang.
"Pak tolong pulanglah!" Melas Tirani sebelum Ibunya bertanya.
Dodi malah tidak bergerak menatap ibu Mirna dengan tatapan dingin.
"Berapa sewa kontakannya selama setahun?" Tanya Dodi.
"Setahun lima belas juta, emangnya kamu mau bayarin?" Tanya ibu Mirna mulai berbinar.
Dodi mengambil ponselnya di dalam saku celana lalu meminta nomor rekening ibu Mirna. Ia menekan beberapa kali layar ponselnya lalu menyimpannya kembali ke saku celana.
"Sudah bu, saya sudah transfer tiga puluh juta untuk dua tahun, apa tidak ada lagi? kalo sudah, silahkan anda pergi dari sini." Kesal Dodi. Menurutnya meminta uang kontrakan seharusnya denga cara baik-baik dan tidak mempermalukan orang lain.
"Pak, kenapa bapak melakukan itu? aku bisa membayarnya nanti." Sela Tirani tidak terima.
"Biarkan saja, agar dia tidak sering kemari menagih uang kontrakan padamu." Ujar Dodi.
"Sombong sekali pacar kamu Tira, penampilan sih oke, apa jangan-jangan kamu salah satu simpannya?" Ejek Ibu Mirna.
"Bu, aku tidak seperti itu." Elak Tirani.
"Aku rasa urusan ibu dengan Tira sudah selesai, Jika ibu tidak pergi sekarang, maka saya minta anda mengembalikan uang saya dan mereka akan pergi dari rumah ibu." Tegas Dodi.
Ibu Mirna jadi gugup, ia tidak mau mengembalikan uang yang sudah Dodi transfer karen sebenarnya dia juga lagi membutuhkan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi." Ujar ibu Mirna dengan pasrah.
Setelah kepergian Ibu Mirna, Dodi juga pamit pada Tirani dan Ibunya.
"Tira, bu, aku pamit pulang, masih ada urusan yang harus saya selesaikan. Maaf karena telah melukai anak ibu, kami benar-benar tidak sengaja." Ujar Dodi.
"Tira, kamu terluka?" Tanya Rika pada anaknya.
"Tidak apa-apa Bu, hanya lecet dikit, dianya aja yang berlebihan bawa aku ke rumah sakit." Ujar Tirani.
"Sudahlah sekarang kamu masuk. Terimakasih sudah mengantar Tira pulang, dan soal uang yang tadi.." Ucapan Rika terpotong saat Dodi langsung bicara.
"Saya memberinya dengan ikhlas bu, anggap saja uang ganti rugi karena saya telah menabrak Tira. Permisi." Potong Dodi sedikit menunduk lalu berbalik keluar dari gang.
.....
Di tempat lain, Anastasya dan Austin baru saja makan malam bersama Jack, mereka mampir di sebuah supermarket untuk membeli keperluan dapur dan keperluan Anastasya. Austin mengambil susu untuk ibu hamil yang telah di rekomendasikan oleh dokter. Baru kali ini ia sangat bersemangat menemani istrinya berbelanja.
Setelah troli penuh, mereka menuju kasir. Anastasya membayar belanjaannya dengan menggunakan salah satu black card yang di berikan Austin padanya.
Austin membantu Anastasya memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil. Setelah selesai, Austin membuka pintu mobil untuk Anastasya. Setelah Anastasya duduk, ia mengutarakan mobil dan membuka pintu.
"Apa lagi Rea? kita sudah tidak ada urusan lagi, dan hubungan kita sudah lama selesai." Tolak Austin.
"Apa karena perempuan murahan itu?" Geram Andrea menunjuk ke kursi depan.
Anastasya melihat Andrea sedang menunjuk dirinya, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Dia. Memang hubungan kita sudah lama berakhir sebelum aku bertemu denganya. Jangan memancing kemarahanku Rea!" Geram Austin, ia lalu menarik Anastasya dalam pelukannya.
"Ayolah sayang..! tinggalkan perempuan ini dan kita memulai dari awal, aku janji akan setia dan akan menuruti semua keinginan kamu." Melas Andrea.
"Kenapa kamu memaksanya? apa tidak ada laki-laki lain yang mau denganmu? hingga kamu menurunkan harga diri demi mendapatkan suami orang?" Sela Anastasya memaki Andrea yang menurutnya tidak akan menyerah untuk mendapatkan Austin.
"Dasar wanita kelas rendah! kamu tidak pantas bicara denganku, kamu hanya wanita dari kelas rendahan dan kumuh yang tidak cocok bersanding dengan Austin ku, harusnya kamu sadar dimana tempat yang cocok untukmu." Rutuk Andrea tidak mau kalah.
Anastasya tersenyum mengejek lalu menatap Austin. "Sayang..! menurutmu siapa yang cocok denganmu? wanita dari kelas rendah atau wanita tukang selingkuh yang begitu mudah membuka ************ dengan laki-laki lain?" Tanya Anastasya.
"Tentu saja kamu sayang..!" Jawab Austin sambil mengelus pipi Anastasya. Hatinya sangat senang karena Anastasya tidak tinggal diam saat Andrea menghinanya. Mungkin karena pengaruh hamil membuatnya tidak bisa mengontrol rasa cemburunya.
__ADS_1
"Sana pergi! mulai sekarang jangan ganggu suamiku, atau aku akan mempermalukanmu karena menggoda suami orang." Tegas Anastasya denga penuh penekanan.
Andrea mengepalkan kedua tangannya, ia tidak terima Anastasya menghina dirinya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah dihina apalagi di maki, justru dialah yang biasanya melakukan itu. Kini dia mendapatkan lawan yang sama kerasnya dengan dirinya.
"Austin, aku masih menunggumu berubah pikiran sayang..! Aku pulang dulu, wanita ini benar-benar bermulut tajam." Kesal Andrea.
"Itu lebih baik, dan jangan muncul lagi di hadapanku karena kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan." Tegas Austin.
Setelah berbicara denga Austin, Andrea mendekati Anastasya. "Dengar ya! aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk mendapatkan Austin cinta pertamaku." Bisik Andrea lalu pergi menuju mobilnya.
Setelah kepergian Andrea, Anastasya memeluk Austin dengan erat.
"Hei, kamu kenapa sayang?" Tanya Austin mencoba melontarkan pelukan Anastasya." Tanya Austin heran.
"Hikss, hikss, kamu tidak akan meninggalkan aku kan?" Tanya Anastasya semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Austin.
"Apa istriku yang cantik ini sedang cemburu?" Tanya Austin sambil mengangkat dagu Anastasya.
"Tidak! aku hanya tidak suka jika dia terus mendatangimu." Elak Anastasya.
"Tentu saja tidak sayang, mana mungkin aku meninggalkanmu. Apalagi di sini ada calon bayi kita." Ujar Austin lalu mengelus perut Anastasya.
"Janji? biarpun Dia datang lagi padamu?"
"Janji sayang..! Ayo kita pulang." Austin menarik pipi Anastasya yang sudah mulai cabi.
Mereka masuk ke dalam mobil lalu kembali pulang menuju apartemen.
Saat sampai di Apartemen ponsel Anastasya berdering, ia mengambil ponselnya dan tersenyum melihat siapa yang sedang menghubunginya.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏