Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Meninggal


__ADS_3

Kanaya dilarikan kembali ke rumah sakit oleh warga yang berada di sekitar kejadian. Para medis segera melakukan tindakan di ruang IGD namun naas, nyawa Kanaya sudah tidak bisa tertolong lagi.


Polisi yang sedang mengawasi Kanaya, menghubungi Damian dan Jack sebagai pelapor. Mereka mengabarkan bahwa Kanaya sekarang berada di rumah sakit karena kecelakaan dan baru saja meninggal di ruang UGD.


"Mah, Kanaya meninggal dan sekarang masih di rumah sakit. Kita harus bagaimana?" Tanya Damian.


Weni berpikir sejenak, biar bagiamanapun marahnya dia dengan Kanaya, dia tidak tega jika tidak mengurus pemakamannya karena Kanaya adalah anak dari sahabatnya.


"Kita ke rumah sakit dan Mama akan menghubungi Tante Gina. Kita harus mengurus pemakamannya sekarang. Mama tau kamu masih marah dengannya, ini yang terakhir kita melihatnya nak!" Jawab Weni membujuk Damian agar mau membantu proses pemakaman Kanaya.


Damian mengangguk kemudian mengambil kunci mobil di dalam kamarnya. Mereka segera menuju rumah sakit dan di sana masih ada beberapa polisi yang sedang bertugas.


"Permisi Pak, saya Damian suami dari Kanaya." Ujar Damian memperkenalkan diri.


Damian langsung masuk ke dalam bersama Weni. Ia sangat terkejut melihat keadaan Kanaya yang sangat mengenaskan.


Setelah mengurus administrasi rumah sakit. Damian mengurus pemakaman Kanaya. Orang tua Kanaya dari Bandung juga datang. Mereka sangat terkejut mendengar berita kematian Radit beberapa hari yang lalu.


Orang tua Kanaya tidak percaya kenapa anak dan cucunya sama-sama meninggal karena kecelakaan. Tapi, setelah mendengarkan penjelasan dari polisi, akhirnya mereka mengerti.


Beberapa hari berlalu, Damian mendapatkan panggilan dari kantor polisi. Beberapa polisi datang menjemputnya di rumah membuat Weni syok dan penyakit jantungnya kumat. Mbok Siti dengan sigap membantu Weni dan membawanya ke rumah sakit.


Kini Damian berada di dalam penjara. Jack benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.


Geri membawa pengacara untuk membantu Damian keluar dari penjara, namun semuanya sia-sia, Jack tidak memberikan sela sedikitpun agar Damian bisa bebas. Geri bahkan berusaha melakukan negosiasi dengan Austin.


Setelah beberapa hari Austin dan Jack datang menjenguk Damian. Mereka ingin memastikan keadaan Damian selama di penjara.


Damian keluar dari sel di temani seorang penjaga di sampingnya. Dia menghentikan langkahnya saat melihat Jack dan Austin sedang duduk di kursi.


Mereka saling mentapnya dengan tatapan dan datar. Damian lebih kurus dari sebelumnya, rambut dan bulu halus di pipinya mulai tak terurus.


"Bagaimana? apa kamu suka dengan balasan yang ku berikan?" Ejek Austin.


Damian duduk di kursi lalu membuang muka, kedua tangannya mengepal kuat dan wajahnya memerah menahan amarah. "Chk, ngapain kalian kesini? mau melihat keadaanku? atau mau menertawakanku?" Geram Damian.


"Hehehe, tentu saja keduanya. Dengar Damian! sampai kapanpun kamu nggak akan keluar dari tempat ini." Ancam Austin datar.


"Bajingan! kamu sengaja mengurungku di sini agar aku tidak mengganggu Tasya bukan? kamu sangat licik Austin!" Geram Damian mulai menaikkan nada suaranya, "Sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan cinta Anastasya, dia hanya mencintaiku, karena itu kamu takut aku merebutnya, hah!" Bentak Damian.


"Sstt... pelankan suaramu, kenapa kamu baru tau kalo aku ini licik? aku tidak suka orang lain berteriak di hadapanku. Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak mengganggu istriku, tapi kau tetap keras kepala. Jadi nikmatilah hasil keberanianmu." Ujar Austin.

__ADS_1


"Brengsek! aku tidak perduli dengan ancamanmu. Apa kamu pikir aku takut denganmu? aku akan rebut Tasya kembali karena kami masih saling mencintai." Geram Damian.


"Hehehe, kamu terlalu percaya diri Damian, Dia sudah mencintaiku, bahkan sekarang dia sedang mengandung buah cinta kami, apa itu belum cukup membuktikan kalau kami saling mencintai?" Ujar Austin sengaja membuat Damian makin geram.


"Bajingan! pergi dari sini." Rutuk Damian geram.


"Tanpa kamu suruh pun aku akan pergi, Ayo Jack! jangan biarkan dia lepas dari penjara meskipun Geri memohon untuknya."


Austin berdiri di ikuti Jack meninggalkan Damian yang masih menatap kepergian mereka dengan mengepalkan kedua tangannya.


Austin dan Jack menuju kantor. Mereka mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.


Dodi ikut masuk ke dalam ruangan dan ikut berbincang masalah pekerjaan dengan mereka.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh malam, mereka keluar dari perusahaan menuju restoran, tapi sebelumnya mereka ingin menjemput Anastasya di apartemen terlebih dahulu. Saat menuju restoran, tiba-tiba Jack menginjak rem karena seorang gadis tiba-tiba muncul di depannya untuk menyelamatkan seekor kucing.


Ciiiiiitttt!


"Lo apaan sih Jack!" Kesal Dodi yang duduk di samping Jack.


"Ada apa Jack." Tanya Austin yang sedang sibuk dengan ponselnya.Ia meminta Anastasya menunggunya di lobi apartemen.


"Ayo kita liat." Dodi dan Jack segera turun melihat keadaan Tirani.


Tirani gadis yang baik, cantik, rambut sebahu, kulit langsat, memiliki lesung pipi, serta tubuh yang ramping.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dodi dan Jack.


Tirani meringis memegang lututnya yang terbentur aspal, sedangkan kucing yang di selamatkan sudah berlari entah kemana.


"Nona yang cantik... kamu nggak apa-apa?" Ulang Jack, ia mengeluarkan jurus menggoda agar urusannya tidak sampai ke hukum. Benar-benar pemikiran yang licik.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Dodi datar.


Tirani mengangkat wajahnya menatap Jack bergantian Dodi.


"Kamu?" Pekik Tirani dan Dodi.


Tirani dan Dodi pernah bertemu di sebuah Cafe tempat Tirani bekerja. Saat itu Dodi selesai meeting bersama kliennya menggantikan Austin dan Jack. Waktu itu Jack dan Austin mengantar Anastasya ke rumah sakit saat kecelakaan di depan kantor.


Tirani tanpa sengaja menabrak Dodi yang hendak keluar dari Cafe yang menyebabkan jas yang dipakainya kotor terkena jus strawberry. Dodi jadi kesal dan sempat memaki Tirani. Ia juga memarahi managernya hingga Tirani di pecat dari pekerjaannya.

__ADS_1


Jack bingung mengernyitkan keningnya, " Kalian saling kenal?" Selidik Jack.


"Tidak." Jawab Tiran dan Dodi serentak.


"Baiklah, Nona manis..! lutut kamu terluka, apa perlu kami bawa ke dokter?" Tanya Jack dengan lembut.


"Nggak usah, aku bisa mengobatinya sendiri." Tolak Tirani berusaha beranjak namun lututnya begitu perih hingga tidak bisa menjaga keseimbangannya dan hampir terjatuh.


Dodi segera memegang tangan Tirani agar tidak terjatuh. Tatapan keduanya saling mengunci selama sepersekian detik lalu saling membuang muka karena malu dan salah tingkah.


Jack menyeringai licik melihat tingkah keduanya. "Sepertinya kamu butuh bantuan Nona manis, siapa namamu?" Tanya Jack.


"Tirani." Jawab Tirani.


"Dod, namanya Tirani! Lo bantuin dia ke rumah sakit obatin lukanya. Gw nggak bisa anterin dia, soalnya Bucan mungkin sudah menunggu di Apartemen." Ujar Jack.


"Kenapa bukan Lo aja yang nganterin dia? biar gw yang temenin bos ke restoran." Tolak Dodi.


"Jack!" Teriak Austin setelah membuka kaca samping mobil.


"Lo apaan sih Dod! ini urgent, gw pergi dulu. Bos sudah marah tuh! Sekalian anterin dia pulang setelah dari rumah sakit." Pesan Jack.


"Brengsek Lo Jack, lo yang nabrak dia, gw yang Lo suruh tanggung jawab." Kesal Dodi.


"Tiran yang manis dan cantik, maaf ya? abang Jack nggak bisa anterin ke rumah sakit. Tapi Dodi akan tanggung jawab menggantikan aku." Ujar Jack lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Dodi menghela napas kasar, dalam hati ia tidak berhenti mengumpat Jack yang menurutnya sangat keterlaluan.


Dodi menelpon anak buahnya untuk membawakan satu mobil untuknya, sedangkan Jack sudah melajukan mobilnya menuju Apartemen.


.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2