
Tidak lama kemudian anak buahnya membawakan satu mobil untuknya. Dodi segera mengambil kuncinya lalu membuka pintu mobil depan untuk Tirani.
"Cepat masuk! ngapain lo bengong di situ?" Bentak Dodi dengan wajah datar dan dingin sama saat mereka pertama kali bertemu.
"Gw nggak bisa jalan." Lirih Tirani.
Dengan kesal Dodi menghampiri Tirani lalu menggendongnya ala bridal style lalu meletakkannya di kursi.
"Tubuh Lo kurus dan kecil, tapi kenapa berat sekali?" Gumam Dodi tapi masih sempat di dengar Tirani.
"Siapa suruh angkat gw?" Ketus Tirani.
"Jika bukan karena Jack! gw nggak akan mau nolongin Lo. Lo selalu saja membuat gw susah!" Kesal Dodi memukul stir mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Nggak usah kalo terpaksa. Turunin saja gw di rumah sakit, setelah itu kita tidak punya urusan lagi." Kesal Tirani sambil meringis melihat lukanya yang berdarah.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit. Dodi membuka pintu mobil lalu kembali mengangkat tubuh Tirani naik ke brankar. Meskipun awalnya tirani menolak, namun dengan terpaksa ia mengangguk karena dirinya memang tidak bisa berjalan.
Dodi duduk menunggu di depan ruangan IGD. Tidak lama kemudian Dokter keluar bersama suster dan Tirani yang duduk di kursi roda.
"Dokter bagaimana lukanya?" Tanya Dodi.
"Tidak ada masalah, kami sudah mengobati lukanya, sebaiknya dia istirahat untuk beberapa hari. Saya sudah memberikan resep obat padanya. Sekarang juga sudah boleh pulang" Jelas Dokter.
"Baik dokter, terimakasih." Balas Dodi.
Dodi mendekati Tirani lalu mengambil alih kursi rodanya.
"Makasih Suster." Ujar Dodi lalu mendorong Tirani menuju tempat menebus obat.
"Untuk apa kita ke sini?" Tanya Tirani.
"Jangan banyak nanya, mana resep obat yang diberikan dokter." Dodi mengadahkan tangannya meminta resep obat.
"Nggak usah! gw bisa beli di apotek nanti." Tolak Tirani.
Netra hitam Dodi membulat tajam menatap Tirani. Membuat nyali Tirani langsung menciut, ia memberikan resep obat yang sempat di sembunyikan di dalam sling bagnya.
Setelah menebus obat Dodi kembali mendorong kursi roda keluar dari rumah sakit.
"Mau kemana Lo?" Tanya Dodi saat Tirani berdiri dan melangkahkan kakinya dengan perlahan.
"Mau pulanglah! masa ia gw mau di sini terus. Sudah! jangan perduliin gw lagi. Lebih baik Lo pulang karena kita sudah tidak ada urusan lagi. Terimakasih untuk obatnya." Ujar Tirani lalu berbalik berjalan.
Melihat Tirani berjalan tertatih-tatih Dodi tidak sampai hati jika Tirani pulang sendiri. Dia segera menghampiri lalu mengangkat Tirani masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan, dasar kurang ajar!" Kesal Tirani sambil memberontak.
__ADS_1
"Duduk dan diam!" Bentak Dodi.
Dodi duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya menuju rumah Tirani. Di dalam mobil mereka hanya diam, Tirani tidak mau bicara karena jika dia bersuara pasti mereka akan bertengkar. Dodi menyalakan tape mobil untuk menghilangkan keheningan, sedangkan Tirani bersandar di kursi sesekali mencuri lirikan ke arah Dodi.
"Tunjuk di mana arah rumah Lo." Perintah Dodi.
Tirani mendelik kesal melirik sekilas wajah Dodi. 'Dasar menyebalkan, dia sangat kasar dan tidak ada lembut-lembutnya dengan cewek. Dari pertama ketemu sampai sekarang sikapnya tetap sama, cuek dan dingin tidak seperti temannya yang tadi. Baik dan perhatian.' Batin Tirani.
"Hei, Tunjukin dimana rumah Lo." Sentak Dodi dengan nada tinggi membuat Tirani tersentak kaget.
Tirani menghela napas kasar. Laki-laki yang duduk di sampingnya benar-benar menguji kesabarannya. "Di sebelah sana belok kanan." Ujar Tirani.
Dodi mengikuti ucapan Tirani tanpa membalas.
"Di sana belok kanan lagi."
Dodi pun memutar stir mobilnya berbelok.
"Di depan belok kiri."
"..."
"Di depan Kanan lagi."
"..."
"Terus sampai Alfi mart lalu belok kiri."
"Terus kiri di depan penjual bakso. Gw turun di sana aja karena mobil Lo nggak bisa masuk." Ujar Tirani tanpa memperdulikan kekesalan Dodi. Rumah kontrakan Tirani masuk ke dalam Gang kecil yang bisa di lewati motor.
Dodi menghentikan mobilnya tepat di depan penjual bakso.
"Apa bakso di sini enak?" Tanya Dodi yang merasa perutnya sudah sangat lapar. Ia melihat ruko yang menjual bakso itu kelihatannya bersih dan lumayan ramai.
"Enak banget, ini satu-satunya penjual bakso yang paling enak di daerah sini. Trimakasih sudah antar gw pulang. " Jawab Tirani lalu membuka pintu mobil.
Dodi ikut turun lalu membantu Tirani keluar dari mobil.
"Nggak usah bantuin gw, lebih baik lo pulang." Tolak Tirani.
"Temenin gw makan bakso sebentar, gara-gara urusin Lo, gw belum makan malam sampai sekarang." Ujar Dodi yang seharusnya ikut makan malam bersama Austin, Anastasya dan Jack.
"Kenapa gara-gara gw? yang mau bawa gw kerumah sakit kan Lo sendiri, gw nggak pernah minta tuh!" Seru Tirani yang tidak mau di salahkan.
"Pokoknya temenin aku makan, aku tidak mau makan sendiri di tempat ramai seperti ini." Dodi memegang pundak Tirani masuk ke dalam ruko tanpa memperdulikan tatapan mata pengunjung. Bagaimana tidak, penampilan Dodi sangat menarik perhatian para pengunjung yang lain. Dodi masih dengan setelah jas kantor mahal, serta jam tangan limited yang dipakainya.
Tirani pasrah karena tidak bisa melawan karena lututnya masih perih.
__ADS_1
Mereka duduk berdampingan sambil menikmati bakso yang sudah Tirani pesan. Tirani memang sudah sangat mengenal penjual bakso itu, hingga penjual bakso pun menyapanya.
"Oalahh... Pantesan neng Tira nggak pernah bawa pacarnya kesini, ternyata pacarnya sangat tampan, keren lagi, kayak bos-bos kantoran. Takut di rebut yang lain ya neng?" Puji Kang Tio, penjual bakso yang umurnya sudah tua.
"Dia bukan pacar saya Kang. Dia hanya orang nyasar yang minta ditemenin makan." Sergah Tirani ketus tapi sangat menikmati baksonya dengan lahap.
"Hehehe, neng Tira memang suka bercanda. Jangan ketus seperti itu, kalo lagi marahan diomongin baik-baik, kasian cowoknya masa di katakan orang nyasar." Ujar Kang Tio sambil melayani pembeli yang lain.
Dodi tidak bicara atau protes sedikitpun mendengar ocehan Tirani dan penjual bakso. Ia hanya fokus pada makanannya hingga bakso yang ada di piringnya habis. Dodi mengambil tissue lalu mengusap keringat di dahinya, wajah dan bibirnya juga memerah karena terlalu banyak makan sambel.
"Makanya jangan kebanyakan makan sambel." Ejek Tirani.
"Di piring Lo malah lebih banyak sambelnya." Dodi melirik piring bakso Tirani.
"Kalo aku sudah terbiasa makan bakso seperti ini. Lebih pedas, lebih menantang!" Seru Tirani.
"Menantang apaan? yang ada sakit perut. Cepat habiskan! aku tidak punya banyak waktu menunggumu makan." Tegas Dodi.
Tirani mengerucutkan bibirnya lalu kembali menghabiskan makanannya. Setelah selesai Dodi mengeluarkan uang di dompetnya.
"Ini, Lo aja yang bayar." Dodi menarik tangan Tirani lalu meletakkan uang lima ratus ribu.
Tirani melangkah membulatkan matanya. "Yang bener aja Pak, ini kebanyakan. Baksonya cuma lim puluh ribu doang." Todal Tirani ia hanya mengambil uang seratus ribu satu lembar.
"Ini Kang, sisanya ambil aja." Ujar Tirani menyerahkan uang seratus ribu.
"Makasih neng." Ujar Kang Tio.
Setelah membayar Tirani mengembalikan uang Dodi. Meskipun Dodi menolaknya tapi Tirani tetap memaksanya.
"Rumah kamu yang mana?" Tanya dodi.
"Di dalam Gang, kamu pulang aja, nggak usah di anterin. Sekali lagi makasih traktirannya." Ujar Tirani, sebenarnya dia juga sangat lapar, mengingat sudah seharian dia berjalan mencari kerjaan tapi belum juga ada yang menerimanya.
"Nggak, aku harus memastikan kamu sampai di rumah, setelah itu aku pulang." Tegas Dodi lalu memegang lengan Tirani untuk membantunya berjalan.
Saat sampai di rumah, ibunya dan pemilik kontrakan sudah menunggu disana.
"Sampai di sini saja itu rumah gw, sebaiknya lo pulang." Ujar Tirani, saat melihat Ibu Mirna pemilik kontrakan duduk bersama ibunya.
.
.
.
Bwrsambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏