Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Sah


__ADS_3

"Aku nggak peduli." Kesal Damian.


Damian segera masuk ke dalam mobilnya setelah keluar dari hotel. Begitu Kanaya duduk, ia langsung menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah.


"Mas, jangan terlalu kencang bawa mobilnya, kita bisa kecelakaan jika seperti ini." Teriak Kanaya karena tegang sambil memegang pegangan tangan diatas kepalanya.


"Diam kamu! ternyata kamu selingkuh di belakang aku? bahkan kamu juga menggoda Austin? awas saja jika aku menemukan buktinya. Aku akan membuang mu ketempat seharusnya kau berada." Bentak Damian.


"Tidak Mas! Tasya pasti salah liat. Aku tidak pernah kemana-mana selain ke Mall. Percayalah padaku, Tasya mengatakan seperti itu karena dia ingin kita bertengkar." Elak Kanaya.


Saat Anastasya kembali ke apartemennya setelah bertemu dengan Tirta, ia melihat Kanaya masuk bersama Rudi ke dalam lift apartemen yang sama dengannya. Ia hanya melihat di lantai 15 lift itu akan berhenti. Ia mencoba menyusulnya dengan lift yang lain, namun saat sampai di lantai 15, mereka sudah menghilang entah kemana.


"Tasya tidak mungkin berbohong Naya. Apa kamu pikir aku akan lebih percaya padamu? kamu salah! Aku sangat mengenalnya ia tidak akan menuduh seseorang tanpa bukti." Jelas Damian.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Perdebatan diantara mereka masih saja terus berlanjut.


"Kalian kenapa? datang-datang langsung berantem?" Sela Weni mendengar ribut-ribut, ia segera keluar dari kamarnya.


"Ajarin anak mantu kesayangan Mama. Jadi perempuan jangan keganjengan tawar tubuh sana-sini. Bikin malu keluarga saja." Kesal Damian.


"Mas! aku tidak seperti itu." Sergah Kanaya.


"Kalo tidak seperti itu lalu apa? Kamu mau bilang Austin bohong lagi? Cuma kamu orang yang paling jujur?" Geram Damian kemudian melangkah menuju kamar lalu menguncinya.


"Ada apa sih?" Tanya Weni.


"Mah, Mas Damian salah paham! Tasya menuduhku selingkuh dan dia percaya. Sungguh Mah, aku tidak melakukan seperti tuduhan Tasya." Ujar Kanaya meyakinkan Weni.


"Iya, Mama percaya sama kamu. Tapi kenapa ada Tasya di pesta itu?" Tanya Weni.


"Ternyata itu pesta Tuan Dave dan Austin pacarnya Tasya Mah. Tuan Austin dan Tasya akan segera menikah. Makanya Mas Damian marah-marah terus." Ungkap Kanaya.


Kedua bola mata Weni melotot, ia tidak percaya Anastasya akan menikah secepat ini. "Kamu yakin Tasya akan menikah dengan Tuan Austin itu?" Tanya Weni.

__ADS_1


"Iya Mah."


"Enak bener hidupnya Tasya itu, dapat calon suami kelas kakap. Kenapa Tasya sangat beruntung? Kamu harus menghentikan pernikahannya, aku ingin dia menderita karena selama ini dia menguasai keuangan Damian." Kesal Weni.


"Aku sudah mencobanya Mah! tapi gagal. Sepertinya Austin itu tidak mudah percaya dengan omongan orang lain. Tapi aku akan cari cara lain untuk menghalangi pernikahan mereka. Mama tenang aja, sebaiknya Mama istirahat. Aku susul Mas Damian ke kamar ya Mah!"


Kanaya meninggalkan Weni yang masih bengong. Ia tidak ingin Anastasya mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Damian. Bahkan dia ingin Anastasya hidup menjanda selamanya dan hidup menderita.


Tok.. tok.. tok..!


"Mas, buka pintunya. Aku juga mau istirahat." Teriak Kanaya sambil mengetuk pintu kamar. Sekarang mereka kembali sekamar atas permintaan Radit yang selalu ingin tidur bertiga dengan Kanaya dan Damian.


.....


Tiga bulan kemudian.


Anastasya dan Austin melangsungkan pernikahan di Jerman. Acara yang sakral berjalan dengan lancar di salah satu hotel bintang lima di Jerman. Dihadiri oleh keluarga besar Austin yang ada di Jerman dan keluarga dari Indonesia.


Anastasya berjalan memasuki ruangan dengan balutan kebaya putih gading yang sangat indah sesuai dengan impiannya.


Anastasya ikut duduk berdampingan dengan Austin di depan penghulu yang akan menikahkan mereka.


Acara berlangsung begitu cepat dan singkat. Kini Anastasya tidak lagi berstatus seorang janda tapi berganti menjadi seorang istri. Istri dari Tuan Austin Van Rainart, pebisnis muda yang tampan dan kaya raya.


Mayang dan Rainart tampak sangat senang dan bahagia. Senyumnya tidak pernah hilang menyapa keluarga yang menghadiri pernikahan anaknya. Akhirnya putra tunggalnya menikah juga di usia 28 tahun.


Setelah acara selesai Anastasya dan Austin masuk ke dalam kamar pengantin hotel yang sama. Anastasya melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri cermin dan mulai menghapus riasannya.


Austin menghampiri Anastasya yang kesusahan membuka resleting bajunya yang ada di belakang.


"Sini! aku bantu buka baju pengantinnya, aku jadi penasaran dengan isi didalamnya." Tawar Austin menggoda,


Austin yang tadinya hanya diam memperhatikan Anastasya kini berada di belakang Anastasya. Bukannya membuka resleting, dia malah membalikkan tubuh Anastasya menghadapnya. Tatapan mata keduanya bertemu, terasa ada yang menggelenyar di dada Anastasya ketika Austin menatapnya.

__ADS_1


Austin menahan tengkuk Anastasya lalu menciumnya dengan lembut membuat Anastasya ikut menikmatinya. Perlahan Anastasya menutup mata mengikuti tarian lidah yang Austin lakukan didalam mulutnya.


Austin melepaskan bibirnya lalu menatap Anastasya lebih dalam. Jantung keduanya tak beraturan mengikuti napas yang ikut memburu. Anastasya tahu apa yang sedang di inginkan suaminya saat ini. Ia mengangguk lalu menunduk untuk menghilangkan wajahnya yang sudah bersemu merah.


Melihat Anastasya mengangguk, Austin tidak ingin membuang kesempatan. Ia segera kembali mencium bibir Anastasya lebih dalam dan memabukkan. Dengan sekali tarikan, baju pengantin yang Anastasya kenakan terlepas ke bawah. Austin mendorong pelan tubuh Anastasya naik ke atas peraduan.


Perlahan, Austin terus bergerak sambil tangannya menjelajah ke beberapa tubuh Anastasya yang sensitif. Desah napas Anastasya tertahan kala Austin menyentuh diarea yang tepat. Tangan Austin gemetar dan gugup saat akan melepaskan pembungkus terakhir di area paling inti Anastasya. Austin menatap seluruh tubuh istrinya dari atas hingga ke bawah dengan lekat. Anastasya benar-benar cantik dengan tubuh polosnya, sungguh indah pemandangan yang ada di depannya, Anastasya semakin malu dan merona membuat Austin tersenyum tanpa berkedip.


Tak bisa menahan lagi, Austin kembali mencium Anastasya dengan rakus dan sedikit terburu-buru. Kini Anastasya berada di bawah kungkungan-nya. Dari bibir, leher, dan bermain tepat di squisy kembar Anastasya, membuat Anastasya mendesah menyebut namanya.


Keduanya pun terhanyut dalam tarian penuh asmara, membuat mereka terbang menikmati indahnya surga dunia kemudian melakukan pelepasan bersama. Austin mengeluarkan bibit unggulnya di dalam, lalu mengusap perut rata Anastasya berharap akan tumbuh Austin junior di sana.


Pertarungan selesai setelah dua jam berlalu, Austin mengusap peluh di dahi Anastasya lalu mengeratkan pelukannya. Austin menarik selimut menutupi tubuh mereka hingga dada.


"Tidurlah! untuk sekarang cukup. Aku tau kamu sangat lelah saat di acara tadi." Ujar Austin lalu mencium kening Anastasya.


Anastasya hanya diam mengeratkan pelukannya. Berbantalkan lengan Austin, ia menutup mata mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Baru saja Austin membuatnya melayang dan kewalahan, ia tidak bisa mengimbangi permainan Austin yang menurutnya lebih kuat dari Damian.


Anastasya tersenyum membayangkannya hingga menutupi matanya dengan kedua tangannya.


"Jangan membayangkan yang aneh-aneh. Besok pagi kita akan mengulangnya lagi." Ucapan Austin membuatnya sontak membuka mata.


'Kok, dia bisa tau apa yang sedang aku pikirkan?' Batin Anastasya.


"Tidurlah! sebelum aku memakan mu kembali." Ujar Austin kembali tanpa membuka mata.


Anastasya mengangguk lalu kembali menutup matanya. Ia tidak mau Austin melakukannya kembali karena ia masih sangat lelah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2