
"Halo Mom." Seru Anastasya mengarahkan wajahnya ke kamera ponselnya.
"Halo sayang..! gimana kabar kalian." Tanya Mayang.
"Baik Mom, calon cucu Mommy juga sehat. Austin juga Mom." Semangat Anastasya.
"Baguslah jika kalian sehat, kapan kalian ke sini? Mommy sudah kangen." Tanya Mayang.
Austin mengarahkan layar ponsel Anastasya ke wajahnya, "Tiga hari lagi Mom, urusan Austin sudah beres. Perusahaan nanti bisa diatur sama Jack dan Dodi, yang penting Syasya di sana. Aku lebih tenang jika Syasya bersama Mommy di sana." Sela Austin mengecup kening istrinya.
"Bener ya? Mommy tunggu kalian." Semangat Mayang.
"Ia Mom." Jawab Austin.
Setelah menutup telpon mereka masuk ke dalam kamar istirahat.
..............
Dalam waktu tiga hari Austin telah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berangkat ke Jerman dan akan menetap di sana sampai Anastasya melahirkan.
Jack dan Dodi mengantar Austin dan Anastasya menuju bandara. Tidak banyak yang mereka bicarakan saat di perjalanan. Setelah tiga puluh menit, merek tiba di bandara. Jack dan Dod mengeluarkan koper dari bagasi mobil lalu menyerahkannya pada kru pesawat.
"Jack, Dod, gw titip perusahaan ya, Jack jangan lupa sering cek keadaan perusahaan yang ada di kota lain. Gw akan tetap pantau pekerjaan kalian dari sana." Pesan Austin.
"Jangan khawatir bos! gw harap jika kalian datang kembali ponakan gw sudah bisa berlari dan memanggil gw uncle." Ujar Jack.
"Amin..." Sela Anastasya.
"Cepatlah kalian cari pacar dan menikah agar kami memiliki alasan untuk kembali kesini secepatnya." Ujad Austin.
Jack dan Dodi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum.
Anastasya dan Austin masuk ke dalam pesawat jet milik Austin. Setelah semuanya siap, pesawat lepas landasan menuju Jerman.
Saat menikmati makanan, Anastasya tiba-tiba mual, ia tidak tahan dengan bau stik yang ada di hadapannya.
Ia segera berjalan menuju closet dan memuntahkan seluruh cairan yang ingin keluar.
Austin bergegas mengikuti Anastasya karena panik, ia lalu memijit pundak dan tengkuk Anastasya secara bergantian. Berusaha memberikan pijitan yang bisa membuat perasaan Anastasya membaik.
"Sayang.. gimana? apa masih mual?" Tanya Austin saat semua makanan yang Anastasya makan telah keluar.
Anastasya mengangguk lemas, wajahnya memucat dan keringat di dahinya juga bercucuran.
Austin membawa Anastasya berbaring di tempat tidur lalu mengambil tissue dan menghapus keringatnya.
"Tunggu sebentar." Ujar Austin. Ia menekan intercom lalu memesan teh hangat untuk Anastasya. Tidak menunggu lama teh yang diminta Austin diantar pramugari.
Anastasya meminumnya lalu kembali berbaring.
__ADS_1
"Apa kamu ingin makan sesuatu? isi dalam perutmu sepertinya keluar semua." Tanya Austin dengan cemas.
"Biskuit aja, lidahku rasanya pahit." Jawab Anastasya lemas.
"Baiklah." Austin kembali menekan intercom lalu meminta pramugari membawa biskuit dan beberapa cemilan lainnya.
Setelah makan beberapa potong biskuit, dan minum obat anti mual serta vitamin. Anastasya tertidur karena badannya masih sangat lemah.
.................
Di Jerman, Mayang sudah menyiapkan makanan kesukaan Anastasya, sambil
menunggu kedatangan Anastasya dan Austin dia duduk di sofa. Saking semangatnya ia tidak menyadari dirinya ketiduran di ruang tamu.
Rainart yang baru pulang dari kantornya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Ia masuk ke dalam kamar untuk mandi dan membiarkannya istirahat.
Beberapa jam kemudian Austin dan Anastasya tiba di Jerman, mereka langsung masuk ke dalam mobil yang sudah siap menjemput mereka di bandara.
Setengah jam berlalu akhirnya mereka tiba di Mansion. Austin mengangkat Anastasya masuk ke dalam Mansion lalu meletakkannya di sofa.
Maya telah bangun dari tidurnya sejak satu jam yang lalu. Saat Anastasya bangun, mereka melepas rindu dan mengobrol sejenak lalu menuju meja makan.
Mereka menikmati makanan tanpa bicara hingga selesai. Mereka kembali ke ruang keluarga untuk sekedar bersantai bersama.
"Mommy sangat senang kalian di sini. Mulai sekarang kamar kalian di sana, karena Mommy tidak mau Anastasya naik turun tangga atau lift, Mommy sudah alah satu kamar yang baru baru beberapa hari selesai di renovasi.
"Terserah Mommy saja, Austin yakin Mommy akan memberikan yang terbaik untuk Syasya." Ujar Austin.
"Son, bagaimana pekerjaanmu?"Tanya Rainart.
"Baik Dad. Jack dan Dodi bisa diandalkan." Jawab Austin.
Rainart mengangguk lalu melihat ponselnya yang yang sedang berdering. Ia segera berdiri lalu menuju ruang kerjanya.
"Mom, kami istirahat ya?" Pamit Austin.
"Ia sayang, Mommy juga mau istirahat." Sahut Mayang.
Austin berjalan menuju kamar bersama Anastasya. Anastasya mengedarkan pandangannya melihat kamar yang belum lama di renovasi, ada yang aneh dengan kamar itu, setahunya kamar itu tidak terlalu besar, dan ternyata Mayang menggabungkan dua kamar menjadi satu, makanya kamar itu terlihat sangat luas.
Anastasya langsung masuk ke dalam kamar mandi, belum sempat ia menutup pintu, austin juga ikut masuk dan menarik tangannya.
"Mandi bareng ya?" Ujar Austin.
"Tidak mau, nanti lama." Tolak Anastasya.
"Biar cepet sayang..! dan juga hemat air." Melas Austin.
"Apa sekarang Daddy sudah bangkrut sampai kita harus hemat air?" Tanya Anastasya dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ahh, kamu kelamaan sayang..!" Ujar Austin segera mengangkat Anastasya menuju kamar mandi.
Mandi yang seharusnya hanya setengah jam, kini sudah dua jam mereka belum juga keluar dari kamar mandi.
Di dalam Anastasya sangat Kesal bagaimana tidak jika Austin terus saja menahannya. Jika Anastasya tidak pura-pura sakit perut, Austin tidak akan membiarkannya mandi dan keluar.
Austin membantu Anastasya naik ke tempat tidur hanya dengan menggunakan bathrobe.
"Apa masih sakit?" Tanya Austin.
Anastasya mengangguk sambil pura-pura meringis memegang perutnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Apa perlu aku panggil dokter?" Tanya Austin.
"Tidak usah aku hanya ingin istirahat." Tolak Anastasya.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Austin berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian untuk Anastasya.
"Pakai ini dulu sayang, nanti kamu masuk angin jika tidur seperti itu." Ujar Austin menyerahkan pakaian beserta ********** untuk Anastasya.
"Makasih." Lirih Anastasya. lalu memakai pakaiannya.
"Jangan berterima kasih sayang..! aku ini suami mu, aku akan melakukan apapun untukmu agar kamu nyaman" Ujar Austin mengelus puncak kepala Anastasya lalu mengecup bibirnya.
Auastin kembali mengambil pakaian untuknya lalu memakainya di depan Anastasya.
"Dasar tidak tau malu! kenapa memakainya di depan ku?" Rutuk Anastasya lalu tersenyum.
"Hehehe, kenapa mesti malu? kamu setiap hari juga melihat semuanya. Buktinya tuh sudah ada hasil dari bibit unggul yang selalu aku tanam." Ujar Austin frontal menunjuk perut Anastasya dengan dagunya.
"Kamu memang gila." Anastasya geleng-geleng kepala.
"Kamu yang selalu membuatku tergila-gila sayang." Ujar Austin.
Austin naik ke atas tempat tidur lalu menarik Anastasya dalam pelukannya.
Anastasya menurut lalu ikut memeluk Austin dengan posisi yang nyaman. Austin membelai rambut Anastasya dan sesekali menciumnya hingga Anastasya terlelap damai di alam mimpinya.
Setelah Anastasya tertidur, ia beranjak mengambil laptopnya diatas nakas lalu berjalan menuju sofa.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏