Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Jadian


__ADS_3

Anak buah Austin membawa Kanaya ke rumah sakit dan meninggalkannya di sana. Para tim medis mengobati lukanya lalu membawanya ke ruang rawat inap.


Kanaya bingung harus menghubungi siapa, ia tidak memiliki ponsel ataupun identitas diri. Ia sangat lelah, rasa sakit di tubuhnya masih bedenyut meskipun telah diobati dan beberapa bagian di beri perban. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak lalu menutup mata ke alam mimpi.


Austin, Jack dan Dodi kembali ke rumah sakit setelah urusannya dengan Kanaya selesai. Mereka ke kantor polisi dan membuat laporan untuk Kanaya dan Damian. Setelah semuanya beres, mereka kembali ke rumah sakit.


..........


Di rumah sakit Anastasya dan Shintia sedang bercanda. Anastasya bertanya padanya apa saja yang di lakukan Shintia dan Jack selama mereka di perjalanan.


"Kalian ngomongin apa aja di dalam mobil? Jack untuk ungkapin perasaannya ke Lo nggak?" Tanya Anastasya penasaran.


Wajah Shintia bersemu merah, ia memalingkan wajahnya begitu saja agar Anastasya tidak melihatnya.


"Nggak ngomongin apa-apa." Jawab Shintia.


Ia mengingat saat Jack, saat Jack tiba-tiba menepikan mobilnya.


.......... Flashback off ..........


"Shin, kita perlu bicara." Ujar Jack sangat serius.


"Mau bicara apa lagi? aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain pekerjaan." Tolak Shintia.


"Shin, kamu tau kan! aku suka padamu, melihatmu bersama Dodi, hatiku sakit. Aku tau kamu mungkin dengar di luar sana aku ini playboy karena wanita di luar sana hanya mainan bagiku. Aku tidak pernah bermain hati dengan mereka. Tapi dengan mu beda, aku bersumpah! baru kali ini aku benar-benar suka dan sayang dengan wanita, aku mencintaimu Shin..! aku janji, kamu wanita terakhir dalam hidupku." Ungkap Jack panjang lebar mencoba meyakinkan Shintia.


"Tapi aku tidak suka dengan mu." Lirih Shintia memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap wajah Jack dan benar-benar jatuh pada laki-laki casanova seperti Jack.


"Sungguh? tatap mata ku Shin! dan bilang kamu tidak suka padaku." Ujar Jack. Ia memegang dagu Shintia, menatap matanya dengan lekat, netra matanya tajam penuh harap.


Shintia berusaha memalingkan wajah agar tidak menatap mata itu. Namun tangan Jack menahan dagunya.


"Shin..! katakan kau tidak nyaman dekat dengan ku, katakan kau tidak suka padaku, dan katakan kau tidak mencintai ku. Maka aku akan pergi menjauh darimu." Ujar Jack dengan wajah datar dan dingin. Ia memang bukan tipe pria yang suka berbasa-basi dan mengulur waktu. Jika sudah suka dengan satu wanita maka dia akan serius dan menghentikan semua kegilaannya selama ini.


Shintia bingung, di satu sisi ada Dodi yang juga sedang mendekatinya. Di sisi lain, entah mengapa hatinya begitu penasaran denga sosok Jack, di kantor Jack terkenal dengan sang casanova, tapi tidak satupun dari mereka yang pernah pacaran dengan Jack. Entah dari mana gosip itu beredar.


Shintia menelan salivanya dengan kasar, saat tatapan mereka bertemu, bahkan Jack melihatnya dan terukir senyum tipis yang dia sembunyikan.

__ADS_1


"Lepaskan aku Jack." Lirih Shintia.


Jack mengusap wajahnya dengan kasar dan tersenyum mengembang di sudut bibirnya. Ada kelegaan di hatinya saat ini, meskipun Shintia tidak mengatakannya secara langsung, tapi dia Shintia mengatakan jika dia tidak suka dengan Jack.


"Kamu juga mencintaiku kan?" Tanya Jack.


Shintia hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Jika di dekat Dodi di bisa berbicara dengan santai, entah kenapa dengan Jack tidak, detak jantungnya selalu memompa lebih cepat dan tidak bisa tenang.


Jack memang memiliki sejuta pesona yang bisa menarik lawan jenis dengan mudah, wajah tampan dengan rahang tegas, serta bulu halus di pipi dengan netra mata tajam, dan memiliki postur tubuh yang tinggi. Dia memiliki cara tersendiri untuk memikat hati Shintia. Mungkin karena sudah terbiasa menggoda dan meluluhkan hati wanita, hingga Shintia juga ikut terpesona.


"Oke, sekarang kita pacaran." Ujar Jack.


Shintia mendelik, seenaknya saja Jack mengatakan itu tanpa menunggu jawabannya. "Siapa yang mau pacaran dengan mu?" Ketus Shintia.


"Kamu! Bagaimana kalo kita denger malam ini? kita akan langsung pergi setelah pulang dari rumah sakit."


Pertanyaan Jack seolah tidak membutuhkan jawaban dari Shintia.


"Bolehkah aku minta sesuatu?" Tanya Shintia.


"Apapun yang kamu inginkan, akan ku berikan sayang..! asalkan jangan minta putus sekarang juga." Ujar Jack sedikit bercanda.


"Untuk sementara waktu, aku ingin ini menjadi rahasia kita berdua." Pinta Shintia.


"Sampai kapan kita merahasiakannya?" Tanya Jack.


"Sampai aku yakin, jika kamu benar-benar sudah berubah dan meninggalkan semua sifat burukmu." Ujar Shintia.


"Oke, deal!" Semangat Jack. Jack tidak perduli, mau rahasia atau terang-terangan yang penting mereka sudah resmi pacaran.


Jack kembali menginjak gas kemudian melajukan mobilnya, bakso yang mereka beli sudah mulai dingin. Urusannya dengan Shintia kini sudah beres, ada perasaan lega di hatinya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tinggal memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dirinya sudah berubah dan serius dalam menjalani sebuah hubungan.


............. Flashback on .........


"Shintia..?" Sentak Anastasya melihat Shintia sedang melamun.


"Eh, iya." Gugup Shintia.

__ADS_1


"Lo kenapa? Nggak mungkin kalian jauh-jauh pergi tapi nggak ngomongin apapun bahkan kalian lebih lama dari yang aku perkirakan, ia kan?" Selidik Anastasya memicingkan kedua matanya.


"Sudah ah, cepetan habiskan baksonya! jangan nanya-nanya terus, kami makan bakso dulu sebelum pulang." Kesal Shintia dengan wajah memerah.


"Ah, pasti ada rahasia yang kalian sembunyikan." Ejek Anastasya kembali.


"Lama-lama keselek bakso Lo, ngomong sambil makan." Kesal Shintia.


Tidak lama kemudian, tiga pria tampan masuk ke dalam kamar rawat inap tanpa mengetuk pintu. Kanaya dan Shintia mengalihkan pandangannya ke arah pintu, keduanya menatap pujaan hati masing-masing. Berbeda dengan Dodi yang langsung menuju sofa.


"Sayang..! kamu sudah makan?" Tanya Austin mendekati Anastasya.


Shintia langsung beranjak dari kursi menuju sofa, ia tahu harus memberi ruang untuk Austin dan Anastasya di sana.


"Hm, sudah." Anastasya mengangguk.


"Baguslah." Austin membelai rambut Anastasya lalu mencium keningnya, satu kecupan juga di mendarat di perut rata Anastasya lalu mengelusnya.


Anastasya tersenyum malu, disana banyak orang tapi Austin seolah tidak menganggap mereka ada. Selama mengetahui Anastasya hamil, suaminya makin perhatian dan sayang padanya lebih dari sebelumnya. Austin semakin memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Bahkan kadang Jack dan Dodi heran melihat tingkahnya yang semakin bertolak belakang dengan sifat Austin yang selama ini mereka kenal.


"Uh, Jadi pengen punya calon anak juga." Lirih Jack bersandar di sofa.


"Lo kenapa Jack? Lo iri? tuh ada Shintia di samping Lo, biasanya Lo langsung nyosor saat liat gadis lagi nganggur." Tanya Austin merasa tidak bersalah sambil memeluk erat istrinya.


"Tidak kenapa-napa bos!" Jawab Jack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


'Seandainya saja kalian tahu hubungannya dengan Shintia bagaimana, kalian pasti tidak akan percaya.' Batin Jack.


.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2