Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Bangkrut


__ADS_3

"Iya." Singkat Shintia membalas senyuman Jack.


"Oke, kita langsung aja bahas masalah pekerjaan kamu. Jadi di sini kamu akan bekerja sebagai sekertaris Dodi, meskipun sebenarnya aku ingin kamu jadi sekertaris ku, tapi Dodi lebih butuh karena aku sering keluar dengan bos! Gimana?" Ujar Jack.


"Oke."


"Kalo kamu Oke, aku juga Oke!" Canda Jack.


"Jack." Anastasya mendelik.


"Hehehe, becanda bucan! jangan terlalu serius, bos juga nggak ada di sini kan? ini juga bukan jam kerja lagi." Kekeh Jack.


"Kamu panggil apa tadi?" Tanya Anastasya.


"Bucan alias Ibu cantik!" Jawab Jack.


"Kamu bisa aja Jack." Anastasya tersipu malu.


'Untung istri bos! jika bukan, udah gw kejar cintanya. Beruntung banget bos arogan itu.' Batin Jack.


"Jadi kapan aku mulai kerja?" Sela Shintia.


"Sekarang juga bisa, mulai dari membuatkan aku kopi misalnya." Canda Jack.


"Yang serius Jack?" Kesal Anastasya.


"Jack kenapa sayang..?" Tanya Austin setelah beberapa menit istirahat.


"Jack bercanda terus sayang! Masa Dia menyuruh Shintia buatkan kopi untuk memulai kerjaannya. Emangnya kamu suruh Jack jadiin Shintia OG?" Adu Anastasya.


"Hehehe, kamu baru sadar betapa menjengkelkan dia? aku sih sudah biasa. Dia itu lagi PDKT dengan Shintia." Kekeh Austin kemudian duduk di samping Anastasya lalu duduk bersandar dan menarik kepala Anastasya ke dadanya. Austin membelai lembut rambut anastasya lalu mencium keningnya.


'Oo.. manis banget..! kenapa sikapnya sangat berbeda dengan ku tadi?' Batin Shintia.


"Shin, pulang yuk! gw anterin dari pada kita jadi penonton tayangan live di sini." Sindir Jack.


"Baik Pak Jack." Ujar Shintia, "Sya, gw pamit pulang dulu ya? Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Tuan Austin saya pamit." Pamit Shintia.


"Ia Shin, kalian hati-hati! Oiya, itu untuk kamu, tadi aku sempat beli sepatu di Mall." Anastasya menunjuk paper bag di dekat meja.


"Makasih Sya..! gw pulang dulu." Ujar Shintia mengambil paper bagnya.


"Awas kamu Jack jika berbuat macam-macam dengan sahabatku." Ancam Anastasya


"Ah, bucan sudah seperti bos saja, main ancam-ancam segala. Aku janji nggak akan macam-macam dengannya. Cuma satu macam doang! Hehehe. Bos gw duluan." Pamit Jack.

__ADS_1


"Hati-hati Shintia jangan termakan rayuannya, dia itu playboy cap kerupuk." Ejek Austin setelah mereka berdiri.


"Mana ada? Aku ini pria sejati." Kesal Jack karena kartunya dibuka.


Setelah kepergian Jack bersama Shintia, Anastasya dan Austin juga kembali ke apartemen.


Keesokan harinya Damian sedang uring-uringan di ruangannya. Sekarang perusahaannya bangkrut dan tidak ada yang bisa membantunya. Dia harus membayar penalti dan utang di bank yang jumlahnya tidak sedikit. Ia menekan pelipisnya berkali-kali sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Geri yang melihat ruangan Damian berantakan hanya bisa diam. Ia juga tidak menyangka jika Austin bisa menghancurkan perusahaan Damian dengan mudah.


"Arghh..! Brengsek Lo Austin! Lo benar-benar menghancurkan perusahaan gw." Kesal Damian sambil memukul meja kerjanya.


"Aku tidak menyangka ibu Tasya menikah dengan orang sehebat Austin. Dia benar-benar berbahaya dalam dunia bisnis. Aku pikir dengan bekerja sama dengan perusahaannya, maka perusahaan kita akan lebih maju. Tapi mereka malah menghancurkan perusahaan kita. Apa Lo nggak curiga, Austin sudah lama merencanakan semua ini?" Tanya Geri.


"Mungkin, karena sebenarnya dia sudah lama mengancam ku untuk tidak menyakiti Tasya. Tapi saat di Bandung, ia melihat ku memaksa Tasya melakukan hubungan suami-istri. Itu sebabnya dia sangat marah. Bahkan kemarin, dia tiba-tiba saja datang dan memukulku di Mall karena mendekati Tasya kembali." Jelas Damian.


"Lo parah bos! ya jelas dia marah lah! sekarang Tasya itu istrinya. Lo tau? orang seperti dia itu nggak mungkin ngebiarin istrinya pergi sendiri. Pasti dia menyuruh anak buahnya menjaga keluarganya, apalagi Tasya adalah istrinya. Lo pake otak nggak sih! Itulah penyebabnya dia makin marah dan hancurin Lo. Seharusnya Lo menghindar berurusan dengan dia selain bisnis." Kesal Geri.


"Gw nggak kepikiran ke sana, yang gw pikir dia janjian dengan Shintia, dan pasti Austin tidak menemaninya." Sesal Damian.


Geri menghela napas, dia juga bingung harus berbuat apa sekarang.


"Ger, bagaimana ini? apa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan?" Tanya Damian penuh kekhawatiran.


"Maaf bos, gw juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk bantu Lo. Mereka bekerja sangat cepat dan tidak memberikan kita kesempatan untuk melawan, bahkan semua pemegang saham menarik modalnya secara bersamaan." Jelas Geri.


"Hebat juga Tasya, aku makin kagum denganya. Gw kan sudah peringatkan sebelumnya. Jangan menikah dengan Kanaya karena Ibu Tasya pasti nggak akan mau di madu. Tapi Lo nggak perduliin gw. Dan sekarang kamu malah menceraikannya dan memilih Kanaya." Kesal Geri yang memang tidak pernah menyukai Kanaya.


"Aku menyesal Ger! sekarang semuanya sudah hancur, rumah tanggaku dan perusahaanku ikut hancur bersama dengan kepergian Tasya dari hidupku." Sesal Damian.


"Apa yang akan Lo lakukan selanjutnya?" Tanya Geri.


"Entahlah." Lirih Damian.


............


Setelah seminggu di rumah sakit, akhirnya Weni sudah bisa keluar. Ia terkejut saat Damian membawanya pulang ke rumah suaminya. Rumah yang sudah lama ia tidak tinggali.


"Jadi, selama Mama di rumah sakit, kalian tinggal di rumah ini?" Tanya Weni. Saat mobil memasuki halaman rumah.


"Ia Mah, gara-gara Tasya jual rumah Damian, kita terpaksa tinggal di sini." Kesal Kanaya.


Rumah yang mereka tinggali sekarang, berada di perumahan sederhana, bukan lagi kompleks elit yang hanya di tempati orang-orang kaya.


Mereka masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Radit mana?" Tanya Weni.


"Ada di kamarnya lagi tidur Mah." Jawab Kanaya.


"Mah, sebenarnya aku akan ke bandung dalam waktu dekat ini. Aku akan memperbaiki perusahaan di sana." Ujar Damian.


"Untuk apa kamu kesana? siapa yang akan mengurus perusahaan di sini?" Tanya Weni.


"Bukan cuma aku, tapi kita semua juga pindah kesana. Perusahaan akan aku pindahkan ke bandung." Jelas Damian. Ia tidak mau jika Weni kembali sakit jika mengetahui perusahaannya sudah bangkrut.


Damian berdiri meninggalkan Kanaya dan Weni di ruang tamu. Ia masuk kedalam kamar lalu membersihkan diri. Pikirannya belum tenang saat ini karena belum mendapatkannya jalan keluar untuk membayar utang perusahaan.


Kanaya dan mbok Siti membawa Weni masuk kedalam kamar. Sebelah itu menyusul Damian menuju kamarnya.


"Mas, kenapa kita tiba-tiba pindah ke Bandung?" Tanya Kanaya melihat Damian duduk di sisi tempat tidur sambil pemijit kepalanya yang pusing.


"Jangan banyak nanya, aku lagi pusing sekarang." Lirih Damian berbaring.


Kanaya membiarkan Damian tertidur. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang yang bekerja di perusahaan Damian sebagai mata-matanya.


"Halo." Jawab Ridwan staf di balik telpon.


"Ridwan, katakan padaku apa yang terjadi di kantor?" Tanya Kanaya.


"Perusahaan Pak Damian hampir bangkrut bu'. Sekarang Bapak harus mengganti semua kerugian klien, jika tidak di bayar Bapak bisa masuk penjara bu." Lapor Ridwan.


"Hah..? apa separah itu?" Tanya Kanaya tidak percaya.


"Iya bu, sekarang sudah banyak karyawan yang resign, termasuk saya." Ujar Ridwan.


"Apa kamu tau apa penyebabnya?" Tanya Kanaya.


"Kalo nggak salah, karena Pak Damian tidak bisa menjalankan proyek Royal Group sesuai dengan kontrak. Jadi mereka menuntut dan meminta ganti rugi, serta beberapa pemegang saham menarik dana mereka dari perusahaan." Jelas Ridwan.


"Kenapa pemegang saham ikut menarik dananya?" Tanya Kanaya.


"Karena mereka takut ikut rugi! Gagal menyelesaikan pekerjaan yang di berikan Royal Group, sama saja tidak bisa menyelesaikan proyek besar perusahaan yang lain. Jadi, mereka sudah tidak percaya dengan Pak Damian sebagai pimpinan perusahaan. Sudah dulu bu, saya harus pergi." Jelas Ridwan lalu menutup telepon selulernya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2