
Tidak lama kemudian, Suster keluar dari IGD mendorong brankar Anastasya menuju salah satu ruang rawat inap VVIP. Austin ingin memberikan perawatan yang terbaik untuk Anastasya.
Setelah memindahkan Anastasya kedua Suster yang membawanya keluar dari kamar. Austin menghampiri Anastasya yang sedang berbaring tanpa menutup mata.
"Maafkan aku, aku terlambat menolong mu." Ujar menggenggam tangan Anastasya.
Anastasya menggeleng dan tersenyum tipis, "Makasih. Aku nggak tau gimana nasibku jika kamu nggak datang." Lirih Anastasya mengeluarkan cairan bening dari matanya.
"Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya." Austin menghapus air mata Anastasya.
"Lagi-lagi aku merepotkan mu." Lirih Anastasya kembali.
"Istirahatlah, aku akan menemani mu di sini." Austin menarik kursi dan duduk di sisi brankar.
Tok.. tok.. tok..!
Jack mengetuk pintu kemudian masuk membawa 3 bungkus makanan beberapa air minum. Ia langsung meletakkan di meja kemudian memberikan satu bungkus ke Austin.
"Ini untuk Ibu Tasya. Mungkin Ibu Tasya belum makan." Ujar Jack.
"Jangan panggil Ibu, ini bukan kantor. Panggil Tasya atau Syasya aja seperti Austin.
"Tidak! kamu panggil Tasya aja, hanya aku yang boleh memanggilnya Syasya." Jelas Austin.
Jack mengernyitkan keningnya, "Kenapa nggak boleh? sepertinya panggilan Syasya lebih manis. Ia nggak Sya...!" Tanya Jack menggoda.
"Sana Lo! Lo bilang lapar, kenapa nggak makan? jangan ganggu Syasya." Austin memukul lengan Jack.
"Lo nggak asik Bos!" Kesal Jack menuju Sofa dan duduk mengambil makanan yang sudah di belinya.
"Jangan dengerin dia! Sekarang kamu makan." Ujar Austin.
Anastasya menggeleng tidak mau makan.
"Sya.. menurut lah! jangan membuatku marah! Liat tubuh kamu makin kurus. Apa Damian brengsek itu tidak memberimu makan?" Kesal Austin melihat tubuh Anastasya makin kurus.
Semenjak gugatan perceraian di urus Tirta, Anastasya jarang makan hingga berat badannya turun 7 kilo.
Anastasya memperbaiki duduknya. Dari pada bertengkar dengan Austin yang pemaksa mendingan ia menurut dan makan, "Ia aku makan, sini." Anastasya meminta makanannya tapi Austin malah menyuapinya.
"Buka mulut kamu." Austin menyodorkan sesendok nasi ke mulut Anastasya.
__ADS_1
Dengan perlahan Anastasya membuka mulutnya. Austin menyuapinya dengan telaten dan juga memberikan minum. Setelah makanan Anastasya habis, Damian memberinya obat.
"Makasih." Ujar Anastasya menatap Austin. Sejenak mata mereka saling bertemu, Austin langsung memeluk Anastasya dengan erat. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Haru dan bahagia karena Anastasya di sampingnya, Sakit karena melihat penderitaan wanita yang di cintainya.
Anastasya menangis dalam pelukan Austin. Pelukan yang selama ini ia rindukan untuk menenangkannya akhirnya ia dapatkan. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Austin untuk meluapkan kesedihannya.Austin merasakan ada yang aneh. Sesuatu yang di bawah sana mulai menegang.
"Bos, aku juga pengen di peluk." Sela Jack menyadarkan keduanya. Austin dan Anastasya melepaskan pelukannya.
"Lo sudah makan kan? sekarang keluar dari sini." Kesal Austin, baru saja melepas rindu pada wanita yang selam ini ia cintai.
Jack berdiri keluar membuka pintu. Sebelum menutup pintu ia kembali menjahili Austin.
"Bos nggak mau peluk aku dulu sebelum keluar?" Jahil Jack.
"Keluar!" Bentak Austin yang sudah terbiasa dengan kelakuan Jack jika sedang bercanda.
Jack segera menutup pintu kemudian pergi.
Anastasya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Jack menghilangkan di balik pintu.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Austin.
"Jangan memuji orang lain di depanku. Sini aku masih ingin memelukmu." Austin kembali merentangkan tangannya agar Anastasya masuk dalam pelukannya.
Anastasya kembali memeluk Austin. Setelah beberapa menit Austin melepaskan pelukannya.
"Tidurlah! Aku akan menemanimu."
Austin membaringkan Anastasya kemudian menyelimuti tubuhnya hingga dada.
Setelah Anastasya menutup mata. Austin menuju sofa. Ia mengambil makanan yang ada di atas meja kemudian menikmatinya. Setelah makan ia membuka laptopnya yang selalu Jack bawa. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaannya kemudian berbaring meluruskan tubuhnya. Entah karena terlalu lelah atau karena sudah tenang Anastasya kini berada di dekatnya, akhirnya Austin tertidur dengan pulas di sofa.
Jack mengetuk pintu kemudian masuk. Melihat keduanya tidur terlelap di tempat yang berbeda Jack tidak jadi masuk. Ia tidak mungkin mengganggu Austin karena selama ini ia kurang tidur terus memikirkan Anastasya. Ia memilih keluar kembali dari ruangan Anastasya kemudian membiarkan keduanya beristirahat.
Hari ini Anastasya sudah diperbolehkan pulang. Selama 3 hari pula Austin menemaninya di rumah sakit. Austin bergantian dengan perawat untuk menjaga Anastasya. Kadang Jack menawarkan diri untuk menjaga Anastasya namun Austin menolaknya karena tidak ingin Jack mendekati Anastasya.
"Ayo kita pulang." Ajak Austin setelah pakaian Anastasya sudah siap.
"Aku akan pulang ke rumah Ibu." Ujar Anastasya.
"Tidak Sya...! aku tidak akan membiarkan mu tinggal sendiri. Kamu tau bagaimana bahanya Damian sekarang? Ia bisa saja membawamu pergi dari rumah Ibumu." Tolak Austin.
__ADS_1
"Trus..! aku harus kemana? nggak mungkin kan aku kita tinggal bersama?" Tanya Anastasya.
"Kamu bisa tinggal di rumah Mommy. Aku sudah bicara dengan Mommy, dan Mommy juga sudah setuju. Besok Mommy datang dari Jerman. Jadi untuk sementara waktu kamu tinggal di sini bersama Mommy." Jelas Austin.
"Terserah kamu saja." Pasrah Anastasya menghela napas.
"Bagus, kamu makin pintar dan makin penurut." Puji Austin mengacak puncak kepala Anastasya.
"Bos, semuanya sudah beres." Sela Jack langsung muncul di pintu. Ia baru saja menyelesaikan administrasi selama Anastasya dirawat di rumah sakit.
"Ayo kita pergi!" Ajak Austin menggandeng tangan Anastasya. Sedangkan tasnya dilempar ke arah Jack. Untung saja Jack selalu sigap hingga tas itu langsung di tangganya.
Mereka keluar dari rumah sakit menuju rumah Mayang. Begitupun dengan enam orang yang selalu mengawal kepergian mereka.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah Mayang. Rumah yang begitu luas dengan taman yang cukup besar. Garasi saja muat hingga puluhan mobil. Jika dilihat dari kejauhan, rumah ini lebih mirip Mansion karena memiliki lapangan golf di belakangnya.
"Ini rumah kamu?" Tanya Anastasya sambil mengedarkan pandangannya. Ia sangat kagum dengan rumah yang penuh dengan pepohonan dan bunga. Pemandangan yang sangat sejuk dan udara yang sangat segar. Ia membuka kaca mobil lalu menghirup udara sedalam dalamnya menikmati betapa sehatnya udara di tempat itu.
Austin keluar membuka pintu mobil untuk Anastasya, kemudian masuk bersama Anastasya ke dalam rumah setelah Bi Imah membuka pintu.
"Selamat datang Tuan dan Nona..." Sapa bi Imah namun perkataannya terhenti karena tidak mengetahui nama Anastasya. Bi Imah kepala pelayan di Rumah Austin. Semua pekerjaan ART yang lain dialah yang mengaturnya.
"Panggil Tasya aja Bi', dia akan tinggal di sini." Sahut Austin melihat kebingungan Bi Imah.
"Baik Tuan, mari Non Tasya silahkan masuk." Ajak bi Imah. Tidak lupa ia mengambil Tas Anastasya dari Jack kemudian menyerahkannya pada ART yang lain untuk membawanya ke kamar tamu.
Anastasya mengikuti langkah Austin memasuki lift naik ke lantai 2.
"Itu kamar kamu dan itu kamar aku." Tunjuk Austin pada dua kamar yang bersebelahan saat mereka sudah keluar dari lift.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1