
"Buat Damian tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik saat proyek berjalan." Perintah Austin.
"Siap bos!" Jawab Dodi.
"Jack, mana kunci mobil?" Pinta Austin.
Jack meletakkan kunci mobil diatas meja kerja Austin.
"Bos! jangan lupa nanti malam kita akan menghadiri acara Pak Dave." Ujar Jack mengingatkan.
"Ia gw ingat. Kalian lanjutkan kerjaan gw." Perintah Austin mengambil ponselnya dan kunci mobil kemudian keluar dari ruangannya.
Austin keluar dari perusahaan dengan wajah datarnya seorang diri. Para karyawan heran, baru kali ini melihat CEO nya keluar dari perusahaan tanpa Jack atau Dodi. Tapi itu tidak mengurangi wibawa dan ketampanannya, dengan langkah lebarnya ia berjalan memasuki lift kemudian menuju mobilnya.
Di perjalanan ia menghubungi Anastasya untuk bersiap karena sebentar lagi ia akan tiba menjemputnya.
Beberapa saat kemudian Austin tiba di Basement. Di sana sudah Anastasya yang sedang menunggunya di depan lift.
"Masuk." Ajak Austin.
Anastasya segera membuka pintu depan kemudian duduk di samping Austin.
"Kita mau kemana?" Tanya Anastasya.
"Nanti juga kamu tau." Jawab Austin.
Banar-benar jawaban yang Anastasya tidak harapkan.
"Apa kamu sudah makan?" Austin balik tanya.
"Sudah, dengan Tirta tadi siang." Jawab Anastasya.
Kamu lapar nggak?" Tanya Austin.
"Belum." Singkat Anastasya.
Austin mengendarai mobilnya menuju butik. salah satu butik langganan Mayang jika sedang ke Jakarta.
"Untuk apa kita ke sini Austin?" Tanya Anastasya.
"Mulai sekarang rubah panggilan kamu ke aku."
"Maksudnya?"
"Panggil sayang, babe, cinta atau apalah terserah."
Anastasya mendelik menatap Austin. Menurutnya ini terlalu cepat.
__ADS_1
"Kenapa? ayo!"
"Nggak ah.. malu." Lirih Anastasya menunduk.
Austin mengangkat dagu Anastasya kemudian menciumnya dengan lembut. Ciuman yang sejak Anastasya masuk kedalam mobil ingin dilakukannya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi rakus dan dalam, tangan Austin berpindah menahan tengkuk Anastasya, berbagi saliva, bermain-main di dalam dan menyesap satu sama lain. Jantung keduanya berdetak kebih kencang dan menuntut untuk melakukan lebih. Austin menghentikan ciumannya mengingat mereka sedang berada di depan butik.
'Ini gila! kenapa aku selalu tidak tahan jika melihatnya.' Batin Austin.
"Itu hukuman mu jika tidak mau mendengarkan ku." Ujar Austin menghapus bibir Anastasya yang basah akibat ulahnya.
Anastasya benar-benar tidak bisa berkata-kata jika berdekatan dengan Austin yang notabennya pemaksa dan tidak mau mendengar penolakan.
"Iya sayang..!" Kesal Anastasya mengerucutkan bibirnya.
Austin turun dari mobil kemudian membuka pintu mobil untuk Anastasya lalu masuk ke dalam butik.
Seorang wanita paruh baya datang menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Selamat sore Tuan Austin" Sapa Tante Melly.
Tante Melly adalah pemilik butik yang sudah diakui sebagai seorang designer yang hebat dan terkenal. Semua yang membeli gaun dari hasil rancangannya pasti sangat puas.
"Sore, berikan dia gaun yang cocok untuk dipakai ke pesta nanti malam." Ujar Austin.
"Kita akan ke pesta?" Tanya Anastasya.
Setelah hampir satu jam Anastasya keluar menghampiri Austin yang sedang sibuk dengan ponsel canggihnya.
Anastasya memilih gaun warna gold dengan leher berbentuk v tanpa lengan, dan belahan hingga diatas lutut memperlihatkan kaki jenjang dan paha putih mulusnya. Dipadukan dengan high heels warna senada. Wajahnya memakai makeup tipis dan sedikit lipstik menambah kesan anggun dan elegannya seorang Anastasya.
"Sayang, gimana?" Tanya Anastasya.
Austin mengangkat kepalanya perlahan menatap Anastasya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala ia menatapnya tanpa berkedip. Mulutnya terbuka sedikit sambil.menelan salivanya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
'Jika penampilannya seperti ini, aku malah khawatir dengan tatapan pria yang akan hadir di sana? Aku saja yang melihatnya sudah traveling kemana-mana, bagaimana dengan yang lain?' Batin Austin.
"Sayang..! Bajunya bagus nggak?" Tanya Anastasya membuyarkan lamunannya.
"Biasa aja. Ganti!" Perintah Austin kembali dengan wajah datar dan dinginnya. Ia tidak mau Anastasya mengetahui bahwa dia sedang mengaguminya.
"Cuma ini yang agak tertutup sayang..! yang lainnya memperlihatkan punggung ku." Protes Anastasya. Padahal sebenarnya dia sangat suka dengan gaun yang sedang ia kenakan.
"Ya sudah, itu aja." Ujar Austin dengan pasrah.
Austin mengalah dari pada berdebat dengan Anastasya, makhluk ciptaan Tuhan paling langka menurutnya. Satu-satunya wanita yang mampu membuatnya bertekuk lutut dan merasakan cinta.
Setelah mentransfer bayaran untuk Tante Melly, mereka langsung masuk ke mobil kemudian menuju hotel Clarion. Salah satu hotel milik Austin dan temannya Dave.
__ADS_1
Di sinilah mereka, Dave dan Austin sedang merayakan pesta keberhasilannya dalam mengembangkan bisnisnya. Semua yang hadir adalah CEO dari berbagai kalangan bisnis dan pebisnis-bisnis hebat.
Jack dan Dodi lebih dulu tiba di hotel dan sedang menunggu kedatangan bos mereka.
Saat sampai di depan lobi hotel, Jack membuka pintu untuk Austin kemudian mengitari mobil lalu membuka pintu untuk Anastasya.
Austin mengulurkan tangannya untuk membantu Anastasya kemudian berjalan menuju red karpet.
Lengan keduanya terpaksa harus bertaut akibat ulah Austin. Ia bersikeras agar Anastasya berpegangan pada lengannya layaknya sepasang kekasih yang sangat serasi pada umumnya.
Awalnya Anastasya menolak, namun dengan sedikit ancaman yang Austin lontarkan membuatnya langsung menautkan tangannya.
Anastasya masih waras, ia tidak mau berciuman di depan umum apalagi di sisi kiri dan kanan terdapat banyak wartawan yang sedang mencari berita hangat. Apa jadinya jika mereka jadi santapan publik di acara itu.
Anastasya menyerah hingga membuatnya dengan mudah mengikuti permintaan Austin.
Mereka berdiri di depan para wartawan sambil bergandengan tangan dan menampilkan senyum termanisnya. Mereka layaknya pasangan artis yang sedang berfoto sebelum masuk di acara penghargaan bergengsi. Austin bukanlah seorang artis, namun wajah tampannya sudah sering muncul di majalah bisnis karena termasuk pebisnis muda yang sukses dan kaya.
Apalagi ini adalah acara besar yang diadakan untuk merayakan keberhasilan bisnis bersama rekan bisnisnya Dave.
Setelah berdiri sejenak di red karpet dan membiarkan wartawan mengambil gambar, mereka masuk kedalam pesta. Austin sudah mengancam Anastasya untuk tidak melepaskan tangannya hingga mereka kembali pulang.
Tanpa mereka sadari Damian dan Kanaya melihat semuanya. Mulai dari Anastasya turun dari mobil hingga berjalan masuk. Damian mengepalkan kedua tangannya sedangkan Kanaya kesal dengan tingkah Damian yang menurutnya cemburu dan berlebihan.
'Kamu makin cantik Sya..' Batin Damian memuji kecantikan Anastasya.
"Tasya juga di sini? hebat juga Dia setelah bercerai dengan kamu, dia langsung bersama laki-laki lain lebih kaya lagi. Dasar munafik, cewek matre. Apa jangan-jangan mereka beneran selingkuh di belakang kamu Mas?" Tanya Kanaya bergidik ngeri, semakin membuat darah Damian makin mendidih.
"Lebih baik kamu diam jika masih ingin berada disini." Kesal Damian.
Sebenarnya Damian hanya ingin pergi seorang diri di pesta itu. Tapi karena Weni yang terus memaksanya untuk mengajak Kanaya, mau tidak mau dia menyetujuinya asalkan Kanaya tidak membuatnya malu di pesta.
Austin menyapa rekan-rekannya satu persatu sambil saling mengucapkan selamat.
Anastasya hanya tersenyum kadang sedikit menunduk untuk menyapa yang lain, karena tangannya tidak di biarkan bersalaman dengan siapapun.
"Dasar protektif!" Gumam Anastasya.
"Apa sayang." Austin mendekatkan telinganya.
"Aku lapar." Elak Anastasya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...