
Austin membuka pintu kamar untuk Anastasya kemudian menemaninya masuk.
"Istirahatlah, panggil saja Aku atau bi Imah jika kamu butuh sesuatu. Oiya, nanti Jack akan datang membawakan ponsel untukmu. Jangan menghubungi orang lain jika itu tidak terlalu penting. Karena Damian bisa dengan mudah menemukan mu jika kamu lakukan itu." Jelas Austin.
Anastasya mengangguk kemudian berbaring menarik selimut. "Makasih." Lirih Anastasya kemudian menutup mata karena mengantuk akibat pengaruh obat yang sudah diminumnya saat di rumah sakit.
Austin keluar dari kamar Anastasya menuju kamarnya. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Dodi.
"Halo." Jawab Dodi setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Bagaimana keadaan kantor? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Tanya Austin.
"Aman terkendali Bos!"
"Bagus, Gw ada tugas buat Lo. Selidiki perusahaan Damian. Cari celah untuk menghancurkan perusahaannya." Perintah Austin.
"Oke bos! ada lagi?"
"Nggak ada, Gw tunggu laporan Lo besok."
Setelah menutup telpon, Austin menuju balkon.membawa sebotol wine dan gelas. Ia menuangkan wine ke dalam gelas lalu meminumnya dengan sekali tegukan. Ia mengeluarkan rokok dari saku celananya lalu mengambil satu batang. Setelah membakar ujungnya, ia menyesap lalu menghempaskan asap keluar dari mulutnya. Austin hanya menyesap rokok jika sedang berpikir keras untuk menenangkan pikirannya, atau ada masalah kerjaan yang membuat kepalanya pusing. Austin membuang puntung rokoknya kemudian kembali masuk setelah menghabiskan 2 batang. Hatinya belum tenang, kebencian pada Damian belum hilang semenjak melihat Damian memaksa Anastasya tepatnya memperkosa Anastasya.
Ia kembali menuangkan wine di gelasnya lalu meminumnya. "Brengsek kau Damian, akan aku balas kau hingga bertekuk lutut di hadapan Syasya ku." Teriak Austin mulai merancau.
Austin sangat tidak terima Anastasya diperlakukan seperti itu. Selama Anastasya di sampingnya ia selalu menjaganya sedangkan Damian membuatnya menderita.
Keesokan harinya, Mayang tiba di Bandung. Anastasya ingin menjemputnya di bandara tapi Austin melarangnya dengan alasan dia tidak boleh kelelahan.
Austin menjemput Mayang kemudian membawanya ke rumah. Saat di pintu, Anastasya langsung memeluknya hingga air matanya tak terbendung mengalir begitu saja.
"Kamu baik-baik aja nak?" Tanya Mayang membelai lembut Anastasya.
Mayang sudah tau semuanya tentang Anastasya karena Austin yang menceritakannya. Austin juga meminta pada Mayang untuk menemani Anastasya di Bandung sampai surat perceraiannya keluar karena Damian pasti akan mencarinya.
"Mom, Daddy nggak ikut?" Tanya Anastasya.
"Belum sayang, masih banyak pekerjaan yang harus di tangani di sana. Jika sempat ia akan menyusul nanti." Jawab Mayang.
Setelah menyerahkan koper pada bi Imah, Mayang langsung menuju kamarnya. Ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar untuk makan malam.
__ADS_1
Kini mereka sedang duduk di kursi meja makan. Mayang, Austin dan Anastasya, mereka menikmati makanan tanpa ada yang berbicara. Setelah selesai, mereka duduk di ruang keluarga.
"Setelah Syasya cerai, apa rencana kamu?" Tanya Mayang dengan serius menatap Austin.
"Aku akan menikahinya Mom." Jawab Austin yakin.
"Maaf Austin, tapi aku belum ingin menikah. Aku tidak mau kedepannya kamu menyesal karena aku tidak bisa memberikan kamu keturunan." Tolak Anastasya.
"Sya... banyak cara untuk memiliki anak. Kita bisa program bayi tabung. Rahim kamu nggak ada masalah bukan? Jikapun itu gagal, kita masih bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Ayolah..! sekarang jaman modern, keturunan tidak menjamin hidup bahagia. Di luar sana banyak pasangan suami-istri yang memiliki anak, tapi mereka juga bercerai." Jelas Austin.
"Ia sayang, Mommy setuju dengan Austin. Mommy yakin kalian akan memiliki anak jika kalian berusaha mendapatkannya. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha dan berdoa." Sela Mayang.
"Tapi aku.."
"Kamu ingin kembali pada Damian?" Kesal Austin.
"Tidak, bukan itu."
"Apalagi?"
"Aku belum siap, masa Iddah ku juga belum selesai. Untuk sementara, aku hanya ingin hidup sendiri." Tolak Anastasya.
"Jika kami sudah bercerai, ia tidak akan menggangu ku lagi."
"Apa kamu yakin?"
"Ia." Singkat Anastasya menganggukkan kepalanya.
"Terserah kamu. Aku juga lelah mengingatkan mu. Aku tidak akan memaksamu menikah dengan ku lagi. Lakukan saja apa yang menurutmu baik." Kesal Austin kemudian pergi meninggalkan Anastasya dan Mayang.
Anastasya ingin berdiri menyusulnya, tapi Mayang menahan tangannya sambil menggeleng.
"Biarkan dia sendiri, dia butuh waktu untuk memikirkan keputusan mu. Mommy pikir kamu juga butuh waktu untuk memikirkan keputusannya. Mommy tau kamu belum siap berkeluarga, mungkin karena trauma atau hatimu yang belum siap. Mommy minta cobalah membuka hati untuk Austin. Dia tidak mudah menyukai seorang wanita makanya sikapnya seperti itu, Jika sudah sayang dan cinta ia akan menjaga dan tidak akan melepaskan apa yang dia inginkan. Mommy sarankan ambil jalan tengahnya agar kalian tidak saling menyakiti. Pikirkanlah! Mommy mau istirahat." Nasihat Mayang berdiri menepuk bahu Anastasya dengan lembut lalu berjalan menuju kamarnya.
Anastasya duduk termenung memikirkan kata-kata Mayang. Ia memejamkan matanya sambil berpikir. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk segera menikah apalagi dengan Austin. Disisi lain ia juga tidak tenang mengingat Damian yang selalu menjadi ancaman bagi hidupnya.
"Kenapa tidur di situ?" Masuk ke kamar mu." Perintah Austin kemudian keluar dari rumah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anastasya.
__ADS_1
Austin mengernyitkan keningnya. Sekilas senyum licik muncul di wajahnya. Ternyata Anastasya tidak bisa jika Austin cuek padanya.
"Apa peduli mu?" Ujar Austin tanpa berbalik, ia meninggalkan Anastasya kemudian segera melajukan mobilnya menuju hotel Mercy tempat ia sering menginap.
Keesokan harinya Anastasya telah selesai menyiapkan sarapan, ia membantu bi Imah menyiapkan semuanya. Ia tidak ingin tinggal gratis di rumah Austin tanpa melakukan apapun. Walaupun Austin sudah melarang bi Imah untuk tidak membiarkan Anastasya bekerja di rumahnya. Tapi Anastasya tetap ingin memasak untuk Austin dan Mayang.
"Wah... kelihatannya enak, siapa yang masuk bi?" Tanya Mayang saat menghampiri meja makan.
"Non Tasya Nyonya." Jawab bi Imah.
"Oya..? ini pasti enak kalo Syasya yang masak." puji Mayang, "Bi' panggil Austin makan, bilang Syasya sudah menyiapkan makanan untuknya." Perintah Mayang.
"Maaf Nyonya, sepertinya Tuan tidak pulang dari semalam." Ungkap Bi Imah.
"Anak itu, jika sedang marah pasti tidak pulang ke rumah. Ya sudah kita makan aja. Selesai makan, kamu antarkan Austin sarapan di hotel. Sekalian selesaikan masalah kalian." Kesal Mayang melihat tingkah Austin seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Iya Mom." Singkat Anastasya kemudian mulai mengambil makanan untuknya.
Setelah beberapa menit mereka selesai makan. Anastasya mengambil beberapa macam makanan ke kotak makanan untuk di bawanya ke hotel. Setelah semuanya siap ia diantar oleh supir menuju Hotel Mercy.
Dengan langka berat ia masuk ke dalam. Jika bukan karena Mayang yang menyuruh nya ke hotel itu, ia tidak akan mau karena mengingatkan nya pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia melihat Damian bersama Radit sedang merayakan ulang tahunnya.
"Ayolah Tasya... lupakan mereka." Gumam Anastasya kemudian segera menghampiri resepsionis.
"Maaf mbak, saya ingin ke kamar Tuan Austin." Ujar Anastasya.
"Maaf Bu'! Tuan Austin baru saja keluar bersama Tuan Jack. Kata Tuan Jack mereka akan kembali ke Jakarta." Ujar resepsionis.
.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1