
Setelah Damian menghilang di balik pintu. Anastasya menghela napas panjang. Ia berjalan masuk ke dalam kamar kemudian mencari ponselnya.
Anastasya mengambil tasnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Tirta. Tirta adalah pilihan yang tepat untuk dia hubungi untuk saat ini. Austin? tidak mungkin, ia tidak ingin Austin terlibat dalam masalah rumah tangganya. Shintia? itu adalah pilihan keduanya jika Tirta tidak bisa membantunya.
Anastasya segera menghubungi Tirta namun tangan Damian bergerak dengan cepat merebut ponselnya. Panggilan pun terputus setelah Damian mematikan ponselnya bahkan membantingnya ke lantai hingga retak.
"Kamu apaan sih Mas! kenapa ponselku kamu hancurkan? aku hanya ingin bicara dengan Tirta." Kesal Anastasya tidak terima ponselnya ghancur.
"Kamu pikir aku bodoh? kamu ingin dia membantumu kabur dari sini bukan?" Tanya Damian sambil berteriak di telinga Anastasya.
Anastasya mundur beberapa langkah, Damian kini tahu apa yang akan dia lakukan.
Dengan terpaksa ia duduk di sisi tempat tidur, ia mengambil remote tv kemudian menyalakannya, ia menonton film Korea yang sedang populer saat ini. Tanpa sengaja air matanya ikut mengalir. Film yang sedang di tontonnya menceritakan perselingkuhan suami dengan sekertarisnya. Kisah di film hampir sama dengan kisahnya hanya berbeda profesi. Jika di film yang menjadi selingkuhan adalah sekertaris, di kehidupan Anastasya istrilah yang menjadi sekertaris. Tapi ceritanya tetap sama suami selingkuh.
Damian yang tadinya cuek kini mengakibatkan pandangannya ke layar. Ia mematikan tv saat Anastasya semakin menangis.
"Jangan samakan kisah mu dengan di film. Itu hanya sebuah film, bukan dunia nyata." Kesal Damian.
"Aku hanya kasihan melihat istrinya. Kenapa kamu yang marah? Kamu kan tau aku paling suka nonton Drakor meskipun akhirnya aku juga ikut menangis. Kenapa sekarang kamu protes?" Anastasya balik kesal,
"Sini remotenya! kamu mengganggu ketenangan ku. Ponselku sudah kamu rusak, kamu mengurungku di kamar, dan sekarang aku juga nggak boleh nonton. Mau kamu apa?" Teriak Anastasya sambil menarik remote tv di tangan Damian.
Damian keluar dari kamar saat mendapat telpon dari Kanaya. Kanaya mengabarkan bahwa Weni sudah dipindahkan di kamar rawat inap.
............
Di tempat lain Kanaya sedang duduk di kursi samping brankar.
"Akting Mama bener-bener top, dokter aja mengira Mama sakit beneran. Jika Mama jadi artis, pasti Mama dapat piala artis paling berbakat." Puji Kanaya.
"Kamu pikir Mama pura-pura pingsan? Mama beneran sakit. Mama sudah hampir mati, kamu malah berpikir Mama pura-pura." Kesal Weni.
"Jadi, Mama beneran sakit kemarin?" Tanya Kanaya penasaran. Awalnya Kanaya menyarankan Weni untuk berpura-pura sakit agar Damian tidak jadi menghadiri persidangan, dengan begitu, itu akan mempermudah proses perceraiannya dengan Anastasya.
"Ia, Mama nggak pura-pura sakit." Weni masih kesal.
"Maaf Mah, Aku nggak tau." Ujar Kanaya.
"Nggak apa-apa, terus gimana dengan Damian? apa mereka sudah bercerai?" Tanya Weni.
"Pasti Mah, Tinggal menunggu sidang putusan. Aku yakin 100 persen mereka akan bercerai karena Mas Damian terlambat ke pengadilan." Jawab Kanaya.
"Bagus! Jika mereka nggak jadi cerai, sia-sia dong Mama masuk rumah sakit." Weni tersenyum lega.
"Ia Mah." Kanaya membalas senyuman Weni.
"Dimana Damian?" Tanya Weni.
__ADS_1
"Di Bandung, ada masalah dengan kantor yang di sana. Mungkin beberapa hari baru kembali." Jawab Kanaya.
"Dia ke sana tidak dengan Tasya kan?" Tanya Weni khawatir.
Kanaya sedang berpikir. Ia tidak pernah berpikiran sampai ke sana.
"Sebentar Mah, aku hubungi Ibu Lilis." Kanaya segera mengambil ponselnya lalu menghubungi ibu Lilis.
Ibu Lilis mengatakan jika Ia tidak pernah melihat Tasya di rumah itu. Kanaya dan Weni bernapas lega mereka berpikir mungkin Damian butuh waktu untuk sendiri.
"Coba kamu telpon Bi Yun. Biar Mama yang bicara dengannya." perintah Weni.
Kanaya menghubungi Bi Yun kemudian memberikan ponselnya pada Weni.
"Drrtt.. drrtt... drrtt.."
"Halo." Jawab Bi Yun di balik telpon.
"Bi', apa Damian dan Tasya sudah sampai di sana?" Tanya Weni. Ia sengaja bertanya seolah sudah tau jika mereka akan ke sana.
"Sudah Nyonya." Jawab Bi Yun.
"Ya sudah, aku hanya khawatir bi! Damian tidak mengabari aku jika dia sudah sampai. Ya sudah, nggak usah bilang kalo aku menelepon bibi." Ujar Weni kemudian menutup telponnya.
Kanaya menggeleng tidak percaya ternyata Damian membawa Anastasya ke villa di Bandung.
"Aku nggak salah denger kan Mah? mereka di villa? Mereka kan sudah cerai?" Tanya Kanaya.
Kanaya mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak terima jika Anastasya dan Damian kembali bersama.
"Mama tunggu sebentar di sini, aku pergi dulu." Pamit Kanaya mengambil tas dan ponselnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Weni.
"Aku akan menemui Tuan Austin." Jawab Kanaya kemudian segera keluar dari kamar Weni.
Kanaya melajukan mobilnya menuju Kantor Royal Group.
Saat di lobi kantor, Ia langsung masuk menemui resepsionis dan meminta bertemu dengan Austin. Meskipun belum membuat janji, tapi Austin membiarkannya naik ke ruangannya.
"Kalian keluar dari ruangan gw, Sebentar lagi istri Damian akan datang." Perintah Austin pada Jack dan Dodi.
"Ibu Tasya kemari?" Tanya Dodi.
"Bukan istri Damian yang lain." Kesal Austin menjawab.
"Mau apa lagi Dia? apa dia mau menawarkan.kerjasama yang aneh-aneh lagi?" Tanya Mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Entahlah, lebih baik kalian keluar sebelum dia datang." Perintah Austin.
Jack dan Dodi keluar dari ruangan Austin. Tidak lama kemudian Dodi mengantar Kanaya masuk ke dalam ruangan Austin.
"Selamat sore Tuan Austin." Sapa Kanaya menggoda.
"Sore! langsung aja, aku nggak punya banyak waktu, apa tujuan kamu datang ke sini?" Tanya Damian dengan Tegas dengan wajah yang datar dan dingin.
"Oke! saya juga tidak punya banyak waktu bertemu dengan Anda. Saya datang kesini agar Anda ke Bandung menjemput Tasya. Saya sudah melakukan tugas saya memisahkan mereka. Mereka sudah bercerai, dan tinggal menunggu surat perceraian keluar dari pengadilan. Sekarang giliran Anda yang membawa Tasya menjauh dari Damian. Jika Anda tidak melakukannya, jangan menyalahkan saya jika saya bertindak di luar batas pada Tasya." Tegas Kanaya.
"Kami sedang mengancam saya atau memerintahkan saya?" Tanya Austin tidak terima.
"Terserah Anda menganggapnya seperti apa. Aku yakin Damian sedang memaksanya ke sana. Bisa jadi sekarang Damian sedang memaksanya melakukan hubungan suami istri. Ini alamat Villa kami di Bandung. Permisi Tuan Austin." Kanaya meninggalkan kertas diatas meja kerja Austin. Kertas itu berisi alamat villanya di Bandung.
Austin hanya diam berpikir.
Tanpa menunggu jawaban Austin, Kanaya keluar dari ruangannya dengan senyum licik menyeringai. Ia sangat yakin Austin tidak akan tinggal diam mendengar Damian memaksa Anastasya ikut dengannya.
Austin menekan pelipisnya berkali-kali. Membayangkan Damian memaksa Anastasya melakukan hubungan suami-istri membuat kepalanya bertambah pusing.
Austin mengambil ponselnya kemudian memanggil Jack dan Dodi ke ruangannya.
Tidak menunggu waktu lama Dodi dan Jack masuk kedalam dan duduk di sofa. Melihat Damian sedang duduk sambil berpikir. Jack berbisik di telinga Dodi
"Gw yakin ini ada hubungannya dengan Ibu Tasya. Lihat aja wajahnya yang memerah. Pasti terjadi sesuatu. Kita harus siapkan fisik dan mental kita menerima amukannya." Bisik Jack.
"Lo benar. Kita bakalan jadi bahan pelampiasan kemarahannya." Balas Dodi berbisik sambil mengusap wajahnya.
Austin menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan tajam.
"Jack ikut gw menjemput Tasya di Bandung. Panggil beberapa bodyguard bersama kita. Dan Lo Dod! handle semua meeting dan pekerjaan selama gw pergi." Perintah Austin dengan Tegas.
"Tunggu apa gw nggak salah denger? Lo mau jemput Istri orang Bos?" Tanya Dodi.
"Bukan lagi, mereka sudah bercerai." Jelas Austin.
Austin memakai Jas dan mengambil ponselnya keluar dari ruangannya bersama Jack. Sedangkan Dodi tinggal membereskan berkas yang seharusnya Austin kerjakan.
"Dasar bos arogan! seenaknya saja meninggalkan pekerjaan sebanyak ini. Jika Lo bukan bos gw, udah gw jitak tuh kepala Lo." Umpat Dodi kesal, pekerjaannya jadi bertambah dua kali lipat.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏