
"Kita akan kemana Mas! jangan bertindak seperti seorang penjahat mas! Jika kamu memaksaku seperti ini. Ini sama saja jika kamu sedang menculik ku." Tanya Anastasya mulai ketakutan. Matanya sudah mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Ia tidak pernah melihat Damian semarah dan senekat ini. Sikap Damian yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan yang ia kenal.
"Hikss, hikss, Kenapa kamu berubah Mas! Kamu sekarang bersikap arogan, pemaksa dan egois. Aku tidak lagi melihat Mas Damian yang lembut dan penyayang." Lirih Anastasya sambil menangis.
Damian menghela napas kasar. "Ini karena kamu yang memaksaku Tasya! aku sudah katakan jangan menggugat cerai aku, kenapa kamu lakukan itu?" Bentak Damian dengan wajah memerah menahan amarah. Ia menggenggam setir mobil dengan cengkraman yang kuat.
"Karena memang itu jalan yang terbaik Mas! aku sudah merelakan mu bersama Radit dan Naya. Dan kamu tidak bisa memaksaku menerima Naya sebagai istri keduamu. Meskipun kamu hanya mencintai ku tapi aku tetap terluka Mas! hatiku rapuh dan hancur, hikss, hikss.. kamu nggak tau bagaimana sakitnya aku, bagaimana hancurnya aku, melihat kamu sedang bersama Naya dan Radit layaknya keluarga yang bahagia dan utuh seperti yang lainnya. Hiks, hikss.. Sedangkan aku hanya bisa menangis menatap kalian. Meratapi nasibku yang tidak bisa melahirkan seorang anak. Apa kamu pernah memikirkan itu? Nggak kan Mas! yang kamu pikirkan hanya mempertahankan aku agar aku tetap di sisimu. Tanpa memikirkan perasaanku. Biarkan aku pergi dari kehidupan kalian. Cobalah menerima Kanaya dan hiduplah dengan tenang tanpa ada aku di sisimu." Ujar Anastasya menangis.
"Aku tidak bisa Sya...! aku juga tau kamu tidak bisa tanpa aku." Elak Damian sambil fokus menyetir mobil.
"Kamu bisa Mas! buktinya selama dua tahun aku dianggap meninggal, kamu sudah menerima Naya dan Radit sebagai keluarga kecil mu, kenapa sekarang bilang nggak bisa?" Ungkap Anastasya mengingat pertemuan pertama mereka di restoran setelah Anastasya kembali dari Jerman.
"Itu karena aku terpaksa! Mama yang selalu memaksaku untuk bersama mereka. Sedangkan hatiku terus menerus mengingat mu." Kesal Damian Anastasya menuduhnya.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku liat Mas!" lirih Anastasya. Ia berbalik menatap jalanan di kaca jendela.
Setelah menempuh waktu 3 jam, akhirnya mereka sampai di Villa. Damian langsung membawa Anastasya masuk ke dalam kamar.
"Mas!" Untuk apa kita ke sini?" Tanya Anastasya.
"Kita akan tinggal di sini." Jawab Damian.
"Mas! itu tidak mungkin! kita sudah bercerai, tinggal tunggu suratnya keluar aja." Bentak Anastasya.
"Tidak sayang, kita tidak akan bercerai, karena aku akan menghamili mu di sini." Ujar Damian.
Damian mendorong Anastasya menuju kamar. Kamar yang biasanya sering di gunakan Damian jika berada di Bandung.
__ADS_1
"Mas! lepaskan, aku nggak mau." Teriak Anastasya sambil memberontak.
Damian semakin memaksa Anastasya, dengan kasar ia melempar tubuh Anastasya ke atas tempat tidur. Ia segera menindih kedua tangan Anastasya dengan kedua tangannya. Kini Damian sudah berada diatas Anastasya.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Damian langsung mencium Anastasya dengan rakus dan penuh nafsu.
Anastasya mendorong dada Damian, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.
Sungguh Damian sudah tidak terkendali. Ia mulai mengecup, membelai dan memberikan sentuhan di setiap inci tubuh Anastasya, bahkan membuat tanda kepemilikan di sana. Damian memperdalam ciumannya menuntut Anastasya untuk membalas ciumannya. Sementara tangan Damian membuka satu persatu kancing kemeja yang Anastasya gunakan. Damian semakin liar mencumbuinya hingga melakukan penyatuannya.
Baru kali ini ia melakukan permainan dengan kasar pada Anastasya, hingga Anastasya meneteskan air mata dan pasrah. Damian semakin memompa tubuhnya di atas Anastasya meskipun Anastasya memintanya untuk berhenti.
"Ahh, mas..! hentikan." Suara rintihan Anastasya tidak membuat Damian berhenti, ia bahkan semakin menambah ritmenya hingga ia mengeluarkan lahar yang sudah beberapa lama tidak dikeluarkannya.
Anastasya menangis pilu setelah Damian mengangkat tubuhnya pergi dari atas Anastasya.
"Kenapa kamu menangis? seharusnya kamu senang kita masih bisa melakukan ini. Aku akan membuatmu hamil. Kita akan melakukannya hingga benihku berada di sini." Damian mengelus perut rata Anastasya. Sedangkan Anastasya semakin terisak.
"Jangan harap aku akan melepas mu! Tidurlah, aku akan menyuruh Bi Yun menyiapkan makanan untukmu." Damian membelai puncak kepala Anastasya kemudian menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri ia ke dapur dan meminta bi Yun membawakan makanan ke kamar untuk mereka.
Tidak lama kemudian Bi Yun datang membawa makanan di atas nampan.
Damian segera membangunkan Anastasya untuk makan bersamanya. Setelah membersihkan diri, Anastasya duduk di depan Damian dan memaksa masuk makanan yang di depannya. Air matanya kembali menetes mengingat apa yang Damian barusan lakukan padanya. Bagian intinya masih perih seperti anak perawan yang baru pertama kali melakukannya akibat permainan Damian yang terlalu kasar. Bahkan di bagian tubuhnya tanda kepemilikan Damian bukan memerah tapi membiru.
"Jangan menangis, aku akan melakukannya dengan lembut jika kamu tidak melawanku." Ujar Damian sambil menikmati makanannya.
"Hikss, hikss, aku membencimu Mas! kami menyakitiku, bukan hanya hatiku tapi juga tubuhku. Kamu bukan Mas Damian yang aku kenal. Kenapa sikap mu makin kasar dan tidak bisa terkontrol. Jangan mengurungku di sini! Biarkan aku pergi" Ujar Anastasya dalam tangisnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi. kamu sangat berarti di hidupku Sya..! hidupku akan hampa tanpamu di sisiku. Aku tidak rela berpisah denganmu." Tegas Damian.
Anastasya diam tidak ingin berdebat lagi. Percuma saja berdebat dengan Damian yang sangat egois.
Anastasya melangkahkan kakinya menuju balkon menghirup udara segar dari pepohonan yang rindang. Ia berdiri dengan tatapan kosong melihat ke depan. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Kebencian dan kekecewaan yang ia rasakan pada Damian semakin bertambah. Ia semakin ketakutan saat melihat suaminya sendiri. Ia semakin memutar otaknya sambil berpikir bagaimana caranya untuk pergi dari villa Damian.
Tanpa ia sadari Damian mendekat dan mendekapnya dari belakang. Tangan Damian memeluk erat pinggangnya, dagunya bertumpu pada bahu Anastasya.
Anastasya berusaha melepaskan pelukan Damian, namun Damian tidak bergeming, ia makin mengeratkan pelukannya hingga Anastasya membiarkannya melakukan apapun.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu nggak berpikir untuk pergi dari sini bukan? Jika itu kamu lakukan, aku pastikan kamu akan lebih merasakan yang lebih kasar lagi dari yang barusan kita lakukan." Tanya Damian.
"Kamu sudah gila Mas! Apa yang kamu lakukan ini, semakin membuatku yakin dengan keputusanku untuk bercerai dengan mu. Aku baru tau ternyata kamu sekejam ini!" Sentak Anastasya tanpa menatap Damian. Ia berbicara dengan penuh penekanan.
"Jangan bicara perceraian lagi Tasya!" Bentak Damian melepaskan pelukannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku sudah menyuruh pengacaraku untuk membatalkan perceraian kita. Aku yakin dia akan melakukan apa yang aku inginkan." Teriak Damian membuat nyali Anastasya menciut.
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, dan aku juga melakukan bagian ku! Kita sudah tidak sejalan. Pemikiran kita juga berbeda, tidak ada lagi yang perlu di pertahankan. Untuk apa pernikahan semacam ini?" Anastasya membalas teriakan Damian dan menghapus air matanya yang sempat menetes.
"Aku tidak perduli dengan yang lain, asalkan kamu tetap bersamaku." Damian meninggalkan Anastasya yang masih berdiri menatap langit senja.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏