
Senja sudah menghilang, malam pun datang dan lampu-lampu jalan menyala satu persatu menerangi kota.
Anastasya hampir satu jam berada di dapur dan akhirnya menyelesaikan semua masakannya. Ia segera ke kamar membersihkan diri, memakai dress rumahan dan sedikit berdandan lalu mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan singkat pada Austin.
[Aku masak untuk makan malam. Jangan lupa mampir jika kamu sudah pulang dari kantor] Isi pesan Anastasya kemudian menunggu balasan dari Austin.
Lama tidak mendapatkan jawaban, Anastasya mengirim pesan kembali.
[Aku menunggumu] Isi pesan Anastasya kembali.
Tidak lama kemudian Austin membalas pesan Anastasya.
[Aku akan datang] Isi pesan Austin.
Sambil menunggu Austin datang, Anastasya berbaring di sofa. Ia bermain ponsel hingga tertidur karena kelelahan.
2 jam kemudian, Austin baru sampai di apartemen. Ia langsung masuk karena dia sendiri yang membuat password untuk apartemen Anastasya.
Ia masuk ke dalam dan langsung di sambut pemandangan yang menggoda iman. Ditatapnya wajah Anastasya dengan lekat lalu memperbaiki posisi tidur Anastasya dengan baik. Ia mengecup kening Anastasya, bibir, dan lehernya hingga Anastasya menggeliat.
"Mmghh.." Anastasya membuka dengan perlahan. Matanya langsung melotot melihat jarak wajahnya dan Austin begitu dekat.
"Maaf membuat mu menunggu. Kamu belum makan?" Tanya Austin.
"Belum."
"Baiklah, ayo kita makan." Austin menarik lengan Anastasya ke meja makan. Tapi Anastasya mencuci wajahnya terlebih dahulu di wastafel sebelum duduk di kursi.
"Ini semua kamu yang masak?" Tanya Austin.
"Iya, siapa lagi? tapi makanannya sudah dingin." Jawab Anastasya sambil mengisi piring untuk Austin.
"Nggak apa-apa, Masih enak di makan kan? makanlah!"
Mereka menikmati makanan sambil sesekali mengobrol. Setelah makan, Anastasya membersihkan meja makan dan mencuci piring lalu menyusul Austin duduk di sofa.
"Besok aku akan bertemu dengan Tirta. Apa boleh?" Tanya Anastasya.
"Boleh, tapi di Cafe saja, jangan membawa orang lain ke apartemen kamu. Usahakan tidak ada satu orangpun yang tau kamu tinggal di sini. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengawasi kamu." Jelas Austin.
"Nggak usah. Aku nggak suka di awasi, aku merasa tidak bebas." Tolak Anastasya.
"Baiklah, jika kamu tidak mau, aku tidak akan melakukannya. Tapi kamu harus hati-hati, bisa saja Damian sedang menyuruh anak buahnya mencari keberadaan mu." Ujar Austin.
__ADS_1
"Ia aku tau." Lirih Anastasya.
"Ya sudah! aku pulang, makasih untuk makan malamnya, sekarang kamu kunci pintunya dan istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir dengan otak kecilmu ini." Tunjuk Austin tepat di pelipis Anastasya.
"Ihh.. Apaan sih! Otakku ini kecil-kecil tapi muat memikirkan banyak hal." Sergah Anastasya.
"Aku tidak yakin." Ejek Austin kemudian keluar dari pintu apartemen Anastasya.
..............
Keesokan harinya Anastasya sedang duduk di salah satu cafe menunggu kedatangan Tirta untuk makan siang.
"Sorry gw telat, Lo sudah lama nunggu?" Tanya Tirta yang baru saja menghampiri tempat duduk Anastasya.
"Ya.. lumayan! gw sudah menghabiskan seporsi nasi goreng." Anastasya menunjuk piring kosong di depannya.
"Lo tega amat sih! nggak nungguin gw makan." Kesal Tirta sambil menaikkan tangannya memanggil pelayan.
Tirta memesan makanan dan minuman untuknya kemudian menyerahkan satu amplop pada Anastasya.
"Ini surat cerai Lo. Oiya, ada temen gw yang tertarik dengan rumah Lo. Apa Lo sudah bawa surat-suratnya?"
"Sudah."
Tidak lama kemudian pelayan datang menghampiri mereka dan meletakkan pesanan Tirta diatas meja. Setelah menatanya Tirta mulai menikmati makanannya sambil berbicara dengan Anastasya.
"Oke! Lo mau jual berapa rumah Lo?"
"Terserah Lo mau jual berapa. Gw terima beres aja, usahakan dalam bulan ini semuanya sudah selesai, soalnya gw mau pindah ke Jerman." Jelas Anastasya.
"Jauh amat Lo lari dari Damian. Emang di Jerman Lo mau ngapain. Tinggal di negara orang itu susah Tasya!"
"Calon laki gw tinggal di sana."
"What..! calon laki? hahahaha jangan becanda Tasya. Yang selingkuh sebenarnya siapa sih..? Lo atau Damian? Baru aja gw serahin surat cerai Lo. Ini Lo malah bilang sudah punya calon suami."
Hampir saja Tirta tersedak makanan jika dia tidak segera minum air.
"Damian lah! Dia yang lebih dulu menikah siri dan memiliki anak." Kesal Anastasya.
"Tapi Lo juga berhubungan dengan pria lain sebelum menikah. Apa itu namanya jika bukan selingkuh!" Ejek Tirta.
"Jangan mengejek gw, ceritanya panjang. Dia nggak ada hubungannya dengan perceraian gw dan Damian."
__ADS_1
"Gw jadi penasaran! seperti apa pria yang bisa membuat Lo berpaling dari Damian. Dulu kan Lo cinta mati dengannya, kenapa sekarang lo semudah ini melupakannya? Tadinya gw pikir gw bakalan liat Lo menangis Bombay karena Lo terima surat cerai Lo. Ternyata malah sebaliknya."
"Gw sudah keluarin semua kesedihan dan sakit hati gw. Gw sadar, mungkin Damian memang sampah yang harus gw buang jauh-jauh dari hidup gw. Lo tau kenapa? ternyata selama berumah tangga dengannya, dia hanya memberikan gw luka."
"Kemana aja Lo selama ini? kenapa baru sadar sekarang? Oke, Lo tunggu kabar dari gw. Gw akan jual rumah Lo secepatnya"
"Makasih Tirta. Gw pulang dulu." pamit Anastasya.
"Tunggu! biar aku antar." Tawar Tirta ikut beranjak.
"Nggak usah Tirta, makasih. Gw nggak mau ngerepotin Lo lagi, Lo kembali ke kantor aja. Gw pengen ke makan ibu gw dulu." Tolak Anastasya kemudian pergi meninggalkan Tirta.
Anastasya langsung masuk ke dalam mobil taksi online yang di pesannya saat sementara berbicara dengan Tirta. Ia langsung kembali ke apartemen dan beristirahat di sana.
....
Seseorang sedang menelpon Austin melaporkan apa saja yang di lakukan Anastasya hari ini. Tanpa sepengetahuan Anastasya, Austin tetap menyuruh anak buahnya mengawasi Anastasya dari jauh meskipun Anastasya menolaknya.
"Bagus, lanjutkan kerjaan kalian. Awasi dia 24 jam. Jika terjadi sesuatu dengannya. Kalian akan kehilangan pekerjaan." Ancam Austin.
Tidak lama kemudian Dodi masuk keruangan Austin setelah mengetuk pintu bersama Jack.
"Ini berkas ya g bos minta." Dodi menyerahkan berkas di atas meja Austin.
"Jelaskan apa yang Lo dapat." Ujar Austin sambil membaca satu persatu laporan yang dia minta. Austin menyeringai menaikkan sudut bibirnya.
"PT Multi Jaya milik Ayah Damian. Perusahaan itu hampir bangkrut sebelum Damian yang mengelolanya. Damian dan Anastasya bekerja sama untuk memajukan perusahaan itu hingga memiliki cabang di Bandung. Bisa di bilang semua proyek yang masuk adalah campur tangan Anastasya karena dia sangat pandai bernegosiasi dengan kliennya. Termasuk dengan proyek yang sedang kita jalankan bersama perusahaan Damian. Itu karena persentase dari Anastasya." Jelas Dodi.
Austin mengangguk mengerti.
"Hehehe..Ternyata Syasya ku cukup pintar, Aku tak menyangka Damian brengsek itu bergantung dengan Syasya ku! Kita liat bagaimana kamu hancur tanpa Syasya Damian!
Sepertinya kita hanya melakukan sesuatu yang kecil untuk membuatnya bangkrut." Ujar Austin.
"Apa yang akan kita lakukan bos?" Tanya Dodi.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1