Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Istriku


__ADS_3

Suara dering ponsel Austin membangunkan dua sejoli yang menghabiskan malam dengan saling berbagi peluh. Keduanya masih dalam posisi saling berpelukan tidak ingin melepas satu sama lain.


"Kurang ajar! siapa yang berani nelpon pagi gini?" Umpat Austin sambil meraih ponselnya di atas nakas lalu bersandar di sisi tempat tidur.


Anastasya menggeliat membuka mata lalu duduk, merentangkan kedua tangannya sambil menggerakkan lehernya ke kiri, kanan, atas, dan bawah.


"Hehehe, kenapa kamu?" Tanya Austin terkekeh melihat tingkah lucu Anastasya.


"Ini semua karena kamu, tulang-tulangku rasanya hampir remuk. Lihat nih! aku sudah seperti macan tutul." Jawab Anastasya dengan kesal dan mulut yang mengerucut. Ia menunjuk tanda kepemilikan Austin yang hampir saja memenuhi seluruh tubuhnya.


"Hehehe, maaf sayang..! aku terlalu bersemangat membuat Austin Junior." Ujar Austin dengan santai.


Austin menarik tubuh Anastasya dalam pelukannya.


"Siapa yang nelpon, kok nggak di angkat?" Tanya Anastasya.


"Jack sayang, aku akan kirim pesan padanya."


[Gw nginap di hotel Twiss presidential suite kamar 777, 2 jam lagi Lo dateng bawain gw pakaian kantor dan Tasya.] Isi pesan Austin yang mampu membuat Jack mengumpatnya setengah mati.


Bagaimana tidak, kemarin dia menyuruh Jack menjemput nya di Apartemen pagi-pagi, Jack bahkan belum sempat sarapan karena telat bangun. Saat tiba di basement, ia menunggunya hampir satu jam, karena Austin tidak juga muncul, ia menghubungi tapi tidak diangkat.


"Dasar bos nggak ada akhlak! dia enak-enakan di hotel, gw di sini kelaparan." Umpat Jack memukul stir mobil.


[Kenapa nggak bilang bos! kita ada jadwal meeting pagi-pagi. Jika tau begini, aku ke kantor aja temenin Dodi meeting.] Isi balasan pesan Jack lalu mengirimkan gambar emoji kesal.


Austin tertawa geli sambil menggeleng melihat isi pesan Jack. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah kesal Jack saat ini.


Dua jam kemudian, Jack datang membawa dua paper bag di tangannya. Ia menyerahkan pada Austin lalu duduk di sofa menunggu keduanya bersiap ikut ke kantor.


"Sayang..! kamu duluan aja dengan Jack, aku mau ketemu dengan Shintia. Oiya, di kantor kamu ada lowongan nggak? soalnya aku nggak mau Shintia kerja di kantor Damian lagi." Ujar Anastasya.


"Shintia?"


"Sahabat aku sejak kuliah."


"Oo.. Kalo itu kamu tanyakan pada Jack sayang, Aku nggak tahu masalah seperti itu. Tapi jika nggak ada lowongan, kamu minta Jack untuk mencarikan posisi yang tepat untuknya."


"Dia sekertaris aku sayang."


Austin berpikir sejenak. "Kalo begitu suruh dia jadi sekretaris Dodi."


"Kamu nggak mau jadiin dia sekertaris kamu, cantik lho."

__ADS_1


"Aku nggak butuh sekertaris cantik sayang..! Dodi dan Jack sudah lebih dari cukup. Yang aku butuh istri cantik dan pintar, dan aku sudah mendapatkannya." Austin memeluk Anastasya lalu mencium keningnya.


"So sweet!" Anastasya mencium pipi Austin lalu segera berlari keluar. Ia sangat tau apa yang di lakukannya itu dapat membuat Austin batal ke kantor.


"Kamu mulai nakal, sayang..!" Ujar Austin tersenyum sebelum keluar menyusul Anastasya menuju sofa.


Anastasya berbicara dengan Jack masalah Shintia, dan Jack akan mengurus semua keinginan istri bos nya itu. Jika dia menolak, maka sama saja ia cari mati atau bersiap jadi pengangguran.


"Jack kamu sudah sarapan?" Tanya Austin ikut duduk di sofa.


"Sudah bos." Jawab Jack.


"Kalo sudah kamu duluan aja ke kantor." Perintah Austin.


"What? jadi gw dari tadi duduk di sini hanya nungguin Lo mau ngomong itu?" Kesal Jack memukul sofa.


"Iya" Jawab Austin dengan santai.


"Brengsek lo! gw pergi sekarang." Umpat Jack.


Dengan kesal Jack melangkah keluar dari kamar hotel. Bagaimana tidak, belum hilang rasa kesalnya tadi pagi, sekarang bosnya mengerjainya kembali.


"Hehehe" Kekeh Austin puas melihat wajah kesal Jack.


"Jika dia bukan bos gw, sudah gw tembak kepalanya dengan pistol kesayangan gw." Monolog Jack dengan kesal saat memasuki lift untuk turun ke basement.


"Sudah, dia akan mengurus semuanya, makasih sayang..!" Ujar Anastasya.


"Mau turun sarapan di restoran atau di sini?" Tanya Austin.


"Di restoran aja sayang, aku bosan di kamar." Jawab Anastasya.


Saat tiba di restoran, mereka mengambil makanan lalu mencari tempat duduk yang nyaman.


"Duduk disana aja ya?" Tunjuk Anastasya pada salah satu meja yang kosong kemudian menuju ke sana.


Mereka menikmati sarapan tanpa memperdulikan sekitarnya. Tanpa mereka sadari ada satu gadis yang sedang menatap mereka dengan tatapan cemburu dan iri.


"Hai sayang..?" Sapa Andrea langsung mencium pipi Austin sebelum Austin menoleh kesamping.


Austin menoleh melihat siapa yang berani menciumnya. "Andrea! apa yang kamu lakukan?" Bentak Austin menghapus jejak bibir Andrea di pipinya.


Anastasya syok melihat perlakuan Andrea di depannya. Matanya melotot, mulutnya kaku tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Wanita cantik dan anggun yang mampu mengikat laki manapun yang ia inginkan, kulit putih bersih, hidung mancung, rambut curly di ujungnya serta pakaian yang modus. Itulah pujian dalam hati Anastasya.

__ADS_1


"Surprise sayang..! kamu dapat perempuan murahan ini dari mana sayang..? lumayan cantik juga, tapi dia nggak mampu memuaskanmu di atas tempat tidur kan? aku yakin, hanya aku yang mampu melakukannya." Ujar Andrea langsung duduk tanpa Permisi di kursi kosong samping Austin.


"Apa yang kamu katakan Rea? aku tidak pernah melakukan apapun dengan mu. " Kesal Austin dengan wajah yang memerah. Austin berbalik mentapa sendu wajah Anastasya, "Janga percaya sayang, dia bohong." Bujuk Austin panik menggenggam tangan Anastasya.


"Hei, sayang..! ada apa denganmu? kenapa kamu jadi panik begini? apa perempuan ini sudah bisa menggantikan posisi ku?" Ujar Andrea bergelayut manja di lengan Austin.


"Jangan membuat ku marah Andrea, lebih baik kamu pergi dari sini." Bentak Austin menipis tangan Andrea.


"Siapa wanita ini Austin?" Sentak Anastasya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang..! kamu jangan nangis, dengarkan aku dulu, dia.." Bujuk Austin


"Aku tunangan Austin, dan kami akan segera menikah," Sela Andrea mengulurkan tangannya, "itukan janji kamu sebelum menghilang dariku? Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kamu di sini bersama wanita murahan ini." Lanjut Andrea.


"Jangan menyentuhnya!" Austin tiba-tiba menepis tangan Andrea.


"Apa aku tidak salah sayang..? kamu membela perempuan ini?" Kesal Andrea.


"Diam kamu! Dia istriku, jangan mengatakan dia wanita murahan atau aku akan menyeret mu keluar dari tempat ini!" Bentak Austin mulai geram dengan sikap Andrea yang tidak mau pergi.


"Istri..? hehehe, jangan becanda sayang..! aku tau kamu marah padaku, tapi nggak usah sampai segitunya juga." Kekeh Andrea tidak percaya.


"Sebaiknya aku pergi, dan kalian selesaikan masalah kalian." Kesal Anastasya menghapus air matanya lalu berjalan menuju lift.


"Sayang, tunggu!" Panggil Austin namun tangannya tertahan saat akan melangkah mengikuti Anastasya.


"Mau kemana sayang, urusan kita belum selesai." Ujar Andrea menggenggam tangan Austin.


"Lepaskan Rea, Apa mau mu?" Bentak Austin menghempaskan tangan Andrea.


"Mau ku? kita kembali bersama. Jika wanita itu benar istriku, ceraikan dia." Pinta Andrea penuh harap.


"Menceraikan istriku? jangan mimpi! kenapa buka kamu saja yang pergi dari hidupku, kita sudah selesai dan sampai kapanpun aku tidak mau berhubungan dengan wanita licik sepertimu." Kesal Austin.


"Tidak sayang, aku sudah meninggalkan Dirly demi kamu. Aku tau di dalam hati kamu masih ada aku iya kan? dan wanita itu hanya sebagai pelarianmu saja." Yakin Andrea.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2