Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Bukan Anakku


__ADS_3

Sambil menunggu dokter menangani Radit di depan ruang IGD, Kanaya mengambil ponselnya lalu menghubungi Damian.


Drrtt.. drrtt.. drrtt..!


Bunyi ponsel Damian.


"Halo." Jawab Damian.


"Hikss, hikss, Mas, Radit, Radit Mas!" Kanaya menangis tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Radit kenapa Kanaya? jangan membuatku khawatir." Tanya Damian.


"Radit kecelakaan Mas! sekarang kami di rumah sakit Bhakti, kamu kesini sekarang ya Mas, aku sangat takut." Jawab Kanaya.


"Kecelakaan? aku akan segera ke sana." Damian segera menutup sambungan telponnya.


Damian menutup laptopnya. Ia sedang ingin melihat isi flashdisk yang di berikan Anastasya padanya. Tapi karena ia terlalu mengkhawatirkan keadaan Radit, akhirnya ia memutuskan untuk ke rumah sakit. Ia kemudian mengambil kunci mobil diatas nakas lalu berjalan keluar.


Saat melewati ruang tamu. Damian melihat Weni sedang duduk sambil minum teh di sana.


"Mah aku pergi dulu." Pamit Damian.


"Kamu mau kemana?" Tanya Weni.


"Mau ke rumah sakit Mah! Radit kecelakaan, aku pergi dulu Mah." Pamit Damian.


"Tunggu! Mama ikut." Ujar Weni lalu berjalan dengan perlahan menuju mobil Damian.


Damian melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata karena ada Weni di sampingnya.


"Kok bisa Radit kecelakaan? Mereka kan cuma bermain di taman?" Tanya Weni.


"Aku juga nggak tau Mah, Nanti aja nanya nya ke Naya." Ujar Damian, pikirannya hanya tertuju pada keadaan Radit sekarang. Anak satu-satunya dan kebanggaan keluarganya.


Damian langsung menuju ruang IGD, di sana sudah ada Kanaya yang sedang duduk menangis tersedu-sedu.


Saat Damian menghampirinya, ia langsung berdiri memeluknya.


"Hikss, hikss, maafkan aku Mas, karena kelalaian ku Radit jadi begini." Tangis Kanaya pecah saat Damian memeluk untuk menguatkannya. Begitupun saat Weni memeluk Kanaya.


"Maafkan Naya Mah! Naya tidak becus menjaga Radit." Lirih Kanaya.


"Sudahlah, jangan menangis terus, apa kata dokter." Tanya Weni.


"Dokter belum keluar Mah." Jawab Kanaya.


Mereka duduk bersama menunggu Dokter keluar. Saat melihat keluar, Damian tidak sengaja melihat Jack masuk lewat pintu utama rumah sakit.


"Itu kan Jack? apa yang di lakukannya di sini?" Monolog Damian.

__ADS_1


"Ada apa Mas?" Tanya Kanaya.


"Aku melihat Jack asisten Austin masuk ke dalam. Kamu tunggu di sini, aku ingin bicara dengannya." Damian beranjak dan segera menyusul Jack.


Ia berhenti melangkah saat melihat Jack masuk ke dalam ruangan VVIP kamar mawar. Di depan pintu ada dua orang berjaga dengan pakaian serba hitam dengan tubuh tinggi dan tegap.


"Siapa yang sakit?" Monolog Damian.


Karena penasaran, Ia menuju tempat informasi untuk menanyakan siapa yang sedang Jack kunjungi.


Saat suster mengatakan yang dirawat atas nama ibu Anastasya. Ia mulai gelisah ingin melihat keadaannya. Tapi ia tidak berani ke ruangan Anastasya karena ada dua anak buah Austin yang berjaga di luar. Akhirnya Damian memutuskan kembali menunggu Radit.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan IGD.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Damian langsung menghampiri dokter.


"Pasien masih kritis, kami butuh tambahan darah satu kantong sekarang." Ujar Dokter.


"Ambil darah ku saja Dok, aku ayahnya." Ujar Damian.


"Baiklah, silahkan ikut dengan suster ke ruangan transfusi." Ujar dokter.


Damian mengikuti langkah suster. Ia akan memberikan darahnya untuk anaknya Radit yang sangat ia sayangi.


Suster segera memeriksa darah Damian apakah cocok dengan darah Radit.


Setelah beberapa menit, barulah hasilnya keluar. Suster yang melihat hasilnya juga heran, kenapa darah mereka tidak cocok sementara Damian adalah ayahnya.


"Kenapa Sus?" Tanya Damian heran.


"Karena golongan darah bapak A sedangkan pasien B.


Deg!


Damian terdiam karena terlalu terkejut.


"Tidak mungkin Suster, saya ayahnya. Mana mungkin darah kami tidak cocok, mungkin anda salah. Coba periksa ulang. " Sergah Damian.


"Saya sudah tiga kali mengecek untuk memastikannya, tapi hasilnya tetap sama." Jelas Suster.


"Tidak mungkin!"


Damian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa terima jika Radit bukan anak kandungnya. Wajahnya memerah karena amarahnya sudah tidak bisa tertahan. Sambil mengepalkan kedua tangannya, Ia berjalan keluar dari ruangan transfusi menuju ruangan IGD.


Damian menatap Kanaya dengan nyalang, ia tidak menyangka Kanaya membohonginya selama bertahun-tahun.


"Kamu kenapa?" Tanya Kanaya.


"Jelaskan kenapa darah ku dan Radit berbeda?" Bentak Damian.

__ADS_1


Deg!


"Berbeda? tidak mungkin Mas, Radit itu anak kamu, tidak mungkin golongan darah kalian berbeda." Sergah Kanaya.


"Apanya yang tidak mungkin? itu kenyataan Naya! katakan padaku siapa ayah kandung Radit?" Bentak Damian.


"Kamu Mas, aku yakin itu." Tegas Kanaya.


"Dasar perempuan murahan! jika aku ayahnya, tidak mungkin darah ku tidak mengalir di tubuhnya." Kesal Damian.


"Apa maksud kalian? kenapa darah kamu nggak cocok dengan Radit?" Sela Weni melihat Damian.


"Tanyakan pada menantu kesayangan Mama." Kesal Damian, lalu berbalik ke Kanaya, "Aku sudah meminta suster untuk mencari pendonor untuk anakmu. Aku akan pulang sekarang." Damian segera pergi dari rumah sakit.


"Mas tunggu! jangan tinggalkan aku dan Radit, kami membutuhkan mu di sini." Melas Kanaya.


Tanpa memperdulikan teriakan Kanaya, Damian terus melangkah menuju perkiraan. Ia segera masuk ke dalam mobilnya lalu kembali ke rumah.


Beberapa menit kemudian, ia tiba di rumah. Damian langsung membuka laptopnya lalu melihat isi flashdisk yang di berikan Anastasya padanya.


Damian mengusap wajahnya dengan kasar, emosinya semakin memuncak saat tau Weni juga terlibat dalam kecelakaan Anastasya. Bahkan di sana terlihat Kanaya dan Rudi sedang memasuki salah satu kamar apartemen sambil berpelukan dengan mesra.


"Arghh... Penghianat kamu Naya!" Teriak Damian frustasi.


Ia sama sekali tidak menduga jika Kanaya berselingkuh. Meskipun dia tidak mencintai Kanaya tapi dia tidak terima Kanaya berbohong padanya selama bertahun-tahun. Damian sangat sayang dengan Radit, selama ini dia bertahan dengan Kanaya semata-mata hanya demi Radit. Namun kenyataannya sekarang Radit bukanlah anak kandungnya.


"Apa mungkin Radit anak laki-laki ini? kurang ajar kamu Naya!" Monolog Damian sambil mengepalkan kedua tangannya.


Setelah melihat isi Flashdisk, Damian kembali menuju rumah sakit. Ia sangat marah dengan Kanaya.


Sementara di rumah sakit, Radit makin kritis meski sudah mendapatkan donor darah dari Rudi.


Rudi diam-diam mengikuti Kanaya dari taman menuju rumah sakit. Saat ia di taman ia menuju tempat keramaian dan melihat Kanaya masuk ke dalam mobil. Ia juga mendengar saat Damian bertanya pada Kanaya siapa ayah kandung Radit. Sejak saat itu, Rudi yakin jika Radit adalah anak kandungnya, dia pun dengan segera menuju ruang transfusi lalu mendonorkan darahnya untuk Radit. Di juga meminta pada suster untuk merahasiakan jika dialah pendonornya.


Tidak lama kemudian, Damian tiba di rumah sakit. Dia segera menghampiri kanaya yang sedang duduk di kursi tunggu.


Kanaya langsung berdiri menyambut kedatangannya dan berharap kemarahan Damian sudah menghilang.


Plak! Plak!


Dua kali tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kanan wajah mulus Kanaya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2