Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Terlambat


__ADS_3

Dua hari telah berlalu semenjak kepergian Anastasya. Ia sedang duduk di pinggir pantai menikmati suasana pantai di pagi hari. Hatinya mulai tenang saat ini. Tapi setelah mendapatkan kabar dari Tirta bahwa Damian sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan Agama, hatinya kembali gelisah. Ia sangat yakin Damian tidak akan mudah menerima semuanya.


Besok adalah hari persidangannya bersama Damian. Ia sudah menyerahkan semuanya pada Tirta pengacaranya. Dia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Damian sebelum sidang putusan perceraiannya.


"Semuanya akan berakhir Mas! kisah cinta kita telah usai dan berakhir di ketukan palu. Sungguh menyedihkan hidupku. Aku akan mendapatkan gelar seorang janda tanpa anak dan kamu akan hidup bahagia bersama anakmu." Lirih Anastasya yang kembali meneteskan air mata.


Ia mengedarkan pandangannya dan melihat seorang anak laki-laki sedang bermain bola dengan Ayah dan ibunya. Sekilas senyum nampak di wajah cantiknya kala anak itu datang menghampirinya. Anak kecil itu datang meminta bola yang sedang bergulir ke hadapannya.


"Tante, El minta bolanya." Pinta anak kecil laki-laki yang berumur 4 tahun.


"Ini bola kamu ya? lucu banget sih kamu." Tanya Anastasya tersenyum dan memegang pipi El. Ia sangat gemas dengan pipi bocah ini.


"Ia Tante." Jawab El.


"Ini." Anastasya menyerahkan bola itu ke tangan El.


"Makasih Tante." El mengambilnya kemudian berlari kembali ke orang tuannya.


"Jika kita punya anak, pasti sudah sebesar itu Mas." Lirih Anastasya.


Ia mengingat awal Pernikahannya dengan Damian. Mereka sangat bahagia dan menginginkan seorang anak.


Namun setelah satu tahun menikah dan mereka belum juga di karuniai anak. Anastasya selalu mengajak Damian untuk periksa ke dokter. Namun karena kesibukan Damian yang saat itu sangat padat, Anastasya terpaksa ke dokter memeriksa kandungannya sendiri.


Setelah beberapa jam akhirnya hasilnya keluar. Dokter menjelaskan bahwa kandungannya subur dan sehat tidak ada masalah. Dokter menyarankan untuk membawa suaminya untuk periksa namun Damian selalu tidak punya waktu bahkan sering mengatakan nanti saja atau tunggu pekerjaanku selesai.


"Seandainya kamu mau ikut ke dokter Mas. Mungkin kita bisa memiliki anak meskipun itu bayi tabung, karena kata dokter masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk memiliki anak." Lirih Anastasya.


Sebenarnya Anastasya selalu berat untuk bicara masalah anak dengan Damian karena dia takut Damian akan tersinggung dan marah. Sehingga ia tidak lagi ingin membahasnya dan memilih diam. Tapi setiap Weni menyinggungnya masalah anak, mereka pasti akan bertengkar karena Damian selalu membelanya.


Anastasya beranjak dari tempat duduknya kemudian kembali ke dalam kamarnya.


..............


Di tempat lain Damian terus marah dan memaki semua pegawai kantornya. Siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya pasti akan berakhir dengan amukan, termasuk Geri dan Shintia.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih! Jika kamu marah dengan keputusan Ibu Tasya, jangan lampiaskan kemarahan mu pada karyawan. Kasian mereka sudah bekerja dengan baik, malah kamu maki sesuka hati kamu!" Kesal Geri.


"Arghhh...! aku tidak mau bercerai dengannya dan dia sekarang pergi entah kemana." Teriak Damian memukul meja kerjanya.


"Tenang! Jika kamu masih ingin mempertahankannya, kamu harus menghadiri persidangan besok. Itu satu-satunya kesempatan untukmu. Dan mungkin saja Ibu Tasya juga akan datang. Kalian bisa bicara di sana. Ia kan?" Nasihat Geri.


"Kamu benar Ger! besok aku harus datang dan memperjuangkannya." Ujar Damian.


Setelah mendengar Geri, Damian sedikit tenang. Ia akan menghadiri persidangan besok agar dapat bertemu dengan Anastasya. Dia juga masih penasaran atas kebenaran yang Anastasya ungkapkan atas kasus penculikan yang menimpanya, karena Kanaya dan Weni tidak mengakuinya saat Damian bertanya kepada mereka. Mereka mengatakan Anastasya berbohong agar Damian meninggalkan Kanaya dan dia tetap di samping Damian.


Keesokan harinya waktu persidangan perceraian Damian dan Anastasya akan dilakukan pukul 10.


Damian sudah menuju persidangan bersama Geri sejak pukul 9, ia berharap bisa bertemu dengan Anastasya sebelum persidangan.


"Drrtt.. drrtt.. drrtt.." Bunyi ponsel Damian tiba-tiba bergetar.


"Halo." Jawab Damian.


"Mas! Mama kena serangan jantung. Sekarang aku sedang di perjalan menuju rumah sakit. Mas segera menyusul ya? aku khawatir dengan keadaan Mama karena sekarang Mama tidak sadarkan diri." Panik Kanaya membawa Weni menuju rumah sakit.


Geri melihat jam dipergelangan tangannya, "Masih ada waktu sebelum jam persidangan, lebih baik kita ke rumah sakit dulu, baru ke persidangan, bagaimana?" Tanya Geri.


"Oke!" Damian mengangguk.


Geri memutar arah laju mobilnya menuju rumah sakit. Damian sangat menghawatirkan keadaan Weni.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Kanaya langsung memeluk Damian saat Damian tiba di IGD.


"Mas, Mama lagi di tangani oleh dokter di dalam. Kita berdoa aja mudah-mudahan Mama baik-baik aja." Kanaya meneteskan air mata.


Damian melepaskan pelukan Kanaya kemudian duduk di kursi menunggu dokter keluar. Sedangkan Geri terus melihat jam yang ada di tangannya. Setengah jam lagi akan diadakan sidang. Jika mereka tidak ke sana sekarang maka mereka akan terlambat dan sudah tidak ada lagi harapan untuk kembali bersama dengan Anastasya.


"Bos, kita harus pergi sekarang. Jika tidak maka..." Geri menghentikan ucapannya saat Kanaya langsung menatapnya dengan tajam.


"Mas, kita belum tau keadaan Mama. Tunggulah sedikit lagi. Apa kamu lebih mementingkan wanita itu dari pada Mama kamu sendiri?" Sela Kanaya.

__ADS_1


Damian frustasi mengusap wajahnya dengan kasar, ia berdiri bolak balik sambil sesekali mengacak rambutnya. Wajahnya sudah memerah karena khawatirkan dengan perceraiannya dan khawatir dengan keadaan Weni.


Setelah 1 jam dokter baru keluar. Damian segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Weni.


"Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Damian.


"Beliau mengalami serangan jantung ringan. Anda tidak usah khawatir, beliau baik-baik aja, sebentar lagi kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap." Jawab dokter.


"Terima kasih dokter." Ujar Damian.


Dokter hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam ruang IGD.


"Ger! Ayo kita pergi." Ajak Damian.


"Mas tunggu! Mas mau pergi ke mana? jangan tinggalin Mama. Mama butuh kamu di sini." Sela Kanaya.


"Aku harus pergi Naya! Mama baik-baik aja. Aku kan segera kembali setelah urusanku selesai."Ujar Damian kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit bersama Geri. Ia tidak perduli lagi dengan Kanaya yang mencoba untuk menahannya.


Sedangkan Kanaya merasa senang, karena rencananya dengan Weni sudah berhasil. Meskipun Damian ke pengadilan ia sangat yakin jika mereka akan terlambat dan persidangan telah selesai. Ia menyunggingkan senyum tipis menatap kepergian Damian.


"Aku pastikan kalian akan bercerai Mas! jangan sebut namaku Kanaya jika tidak bisa memisahkan mu dengan Tasya. Kamu hanya milikku dan Radit. Tidak ada seorangpun yang bisa memiliki kamu termasuk Tasya calon mantan istrimu. Hehehe. Kamu sangat hebat Mah, selangkah lagi kita akan berhasil." Lirih Kanaya.


Geri melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh atas permintaan Damian. Bahkan Damian beberapa kali mengumpat karena mereka sempat melewati jalanan macet karena terjadi kecelakaan di dekat lampu merah.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di pengadilan Agama. Dengan langkah cepat Damian masuk ke dalam, pada saat itu juga Tirta keluar dari ruangan bersama Anastasya. Sedangkan Hakim baru saja meninggalkan tempatnya.


.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2