
Kanaya meringis memegang pipinya, rasa sakitnya berdenyut hingga di telinga.
"Damian! apa yang kamu lakukan nak! sadar, di dalam sana anak kalian sedang berjuang. Kalian seharusnya bersabar dan berdoa, bukannya berantem seperti ini." Sentak Weni.
"Dia bukan anak kandung ku Mah! Radit anak laki-laki lain." Bentak Damian penuh penekanan tanpa mengalihkan tatapan nyalangnya dari Kanaya.
"Naya! Katakan pada Mama, apa yang dimaksud Damian itu tidak benar!" Tanya Weni.
"Dia anak kamu Mas, aku yakin." Sergah Kanaya.
"Heh, kamu belum mau mengakuinya? sekarang jelaskan siapa laki-laki yang bersamamu di Apartemen." Tanya Damian.
Kanaya tertegun, ia mengingat Rudi yang sering memanggilnya ke apartemen. Kanaya juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Pada saat Damian menyentuhnya dia masih gadis. Sedangkan pada Rudi, ia baru melakukannya setelah beberapa bulan pernikahannya dengan Damian, itupun karena Rudi sering mengancamnya.
.........
Di ruangan Anastasya, Jack masuk ke dalam melihat keadaan Anastasya dan juga Bosnya.
"Jack, apa sudah ada kabar dari anak buahmu?" Tanya Austin berjalan menuju sofa.
"Sudah bos."
"Siapa yang melakukannya?"
"Kanaya yang menabrak ibu Tasya." Ungkap Austin.
"Kanaya? sudah aku duga. Aku tidak akan memaafkannya Jack, aku hampir saja kehilangan dua orang yang paling aku cintai karena ulahnya." Geram Austin mengepalkan kedua tangannya.
"Apa mereka sudah menemukan Kanaya?" Tanya Austin.
"Sudah, dia di rumah sakit ini, Radit juga mengalami kecelakaan, dan sekarang mereka sedang menunggu di ruang IGD." Jelas Jack.
"Baiklah, ayo kesana sekarang, mumpung Anastasya tertidur." Ajak Austin.
Austin dan Jack berjalan menuju ruang tunggu IGD. Saat mereka tiba di sana, langkah mereka tertahan karena tak sengaja mendengarkan pertengkaran Damian dan Kanaya serta Weni.
"Lo denger Jack?" Tanya Austin berbisik.
"Radit bukan anak kandung Damian, itu artinya Damian mandul dong bos!" Ujar Jack ikut berbisik.
Austin mengangguk dan tersenyum dengan seringai licik di wajahnya.
"Hehehe, gw akan balas mereka yang selalu menghina istri gw. Mereka selalu mengejek Tasyaku mandul." Ujar Austin.
"Ayo, bos gw juga sudah tidak sabar memberi mereka pelajaran." Semangat Jack.
Mereka melangkah menghampiri Damian, Kanaya dan Weni.
"Khemm." Dehaman Austin menghentikan perdebatan mereka.
"Apa kalian tidak malu berdebat di rumah sakit?" Ejek Austin.
"Untuk apa kalian ke sini? kita sudah tidak ada urusan lagi." Geram Damian.
__ADS_1
"Hehehe, tentu saja masih ada. Tidak semudah itu lepas dari Austin jika kalian telah melakukan kesalahan pada istriku, ia kan Kanaya?" Ujar Austin dengan wajah datar dan dinginnya melirik Kanaya.
Kanaya gugup dan lututnya mulai gemetar, ia sangat takut jika Austin sampai tahu dialah yang menabrak Anastasya.
"Apa maksud kamu." Kanaya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Tidak perlu berpura-pura, aku tau kamu lah yang menabrak istriku. Akan ku pastikan kau akan membusuk di dalam penjara Naya! Aku tidak akan melepaskanmu karena telah berani mencelakai istri dan anakku. Maka tunggulah sebentar lagi polisi akan datang menjemput mu." Ancam Austin.
"Tidak, aku tidak melakukannya." Elak Kanaya.
"Jack hubungi polisi sekarang, berikan semua buktinya pada polisi termasuk bukti kejahatan Kanaya pada Syasya." Perintah Austin.
"Apa benar yang di katakannya Naya?" Bentak Damian.
"Tidak Mas, dia menuduhku." Sergah Kanaya.
"Tidak usah mengelak! Oiya, satu lagi, jangan pernah kalian menghina istriku mandul karena sekarang dia sedang mengandung anakku." Jelas Austin.
"Hamil? Tasya bisa hamil?" Lirih Damian.
"Tidak usah heran Tuan Damian, bukankah itu bisa membuktikan betapa hebatnya aku? bisa menghamili istriku hanya dalam beberapa bulan? Atau jangan-jangan yang sebenarnya mandul itu kamu?" Ujar Austin.
"Brengsek!" Geram Damian mengepalkan tangannya.
"Bagaimana bisa Tasya hamil? bukannya dia wanita mandul?" Lirih Weni tidak percaya.
"Jangan menyebut istriku mandul, dia sedang hamil sekarang! Lebih baik kamu ajak Damian ke dokter karena dialah yang mandul." Bentak Austin tidak terima Weni menghina istrinya.
"Brengsek kalian! pergi dari sini!" Bentak Damian.
"Dokter, bagaimana dengan anak saya, apa kami sudah bisa melihatnya?" Tanya Kanaya penuh harap.
"Maaf, bu! Kami sudah melakukan yang terbaik, namun Tuhan berkehendak lain. Waktu kematian pukul 20.15." Ujar Dokter.
Kanaya tersentak mundur, tubuhnya seketika lemas, Ia sangat syok dan terpukul.
"Tidak dokter, tidak..! anakku masih hidup kan? dia baik-baik aja kan?" Teriak Kanaya berlinang air mata sambil berlari masuk ke dalam ruangan IGD.
Damian dan Weni juga ikut masuk ke dalam ruangan IGD untuk melihat Radit.
Melihat suasana lagi berduka, Austin mengajar Jack untuk pergi dan kembali ke ruangan Anastasya.
"Jack, Lo sudah hubungi polisi?" Tanya Austin.
"Belum bos, ini baru mau." Jawab Jack.
"Tunda dulu laporannya, biarkan dia mengurus pemakaman anaknya. Setelah itu kamu bereskan Kanaya." Perintah Austin.
"Siap bos!" Ujar Jack mengikuti Austin duduk di sofa.
"Satu lagi, tuntut Damian untuk membayar ganti rugi proyek di Bali. Jika dia tidak bisa membayarnya jebloskan dia kedalam penjara." Tegas Austin.
"Oke bos!" Balas Jack.
__ADS_1
Austin menghampiri Anastasya yang sudah bangun.
"Kamu butuh sesuatu sayang?" Tanya Austin.
Anastasya menggeleng, ia penasaran apa yang baru saja di bicarakan Austin bersama Jack.
"Kalian ngomongin apa tadi?" Tanya Anastasya.
"Masalah proyek sayang."
Austin berbohong, ia tidak mau membebani pikiran Anastasya jika mengetahui keadaan Damian sekarang. Austin hanya ingin Anastasya cepat sembuh dan sehat bersama bayinya.
Tok.. tok.. tok..!
Shintia mengetuk pintu lalu masuk, Ia datang bersama Dodi untuk menjenguk Anastasya.
Jack yang sedang duduk di sofa menatap tidak suka pada keduanya. Mungkin karena ia merasa bersaing dengan Dodi untuk mendapatkan cinta Shintia.
"Kok kalian bareng ke sini?" Tanya Jack Kesal.
"Kenapa kalo kami bareng? ada yang salah?" Tanya Dodi ketus.
"Tentu saja Lo salah. Lo pergi barengan calon istri gw." Ujar Jack.
"Calon istri dari mana? orang Shintia ngga suka sama Lo, ia kan Shin?" Ejek Dodi.
"Dia bukan nggak suka, tapi masih malu-malu mengakuinya. Sini sayang!" Jack menepuk sofa dipingnya untuk Shintia.
"Kalian ini apaan sih! Jangan dengerin mereka Shin. Sini duduk deket gw." Kesal Anastasya.
Saat Shintia melangkah, Austin juga berdiri menuju sofa tempat Jack duduk.
"Gimana dengan lukanya? apa masih sakit?" Tanya Shintia khawatir.
"Sudah nggak kok, Lo tau nggak Shin? sekarang gw hamil 2 minggu, seneng banget...!" Ujar Anastasya langsung memeluk Shintia karena terlalu bahagia.
"Gw turut bahagia dengernya Sya, semoga kehamilan Lo ini membawa kebahagiaan di dalam rumah tangga Lo bersama Austin."
"Amin..! makasih Shin, doanya." Ujar Anastasya melepaskan pelukannya.
"Lo sudah tau belum siapa yang nabrak Lo?" Tanya Shintia.
Anastasya menggeleng, "Tidak, ah, sudahlah gw nggak mau mikirin itu, yang penting sekarang calon bayi gw. gw akan menjaganya dengan baik."
Anastasya mengelus perutnya yang masih rata. Di ikuti tangan Shintia juga ikut menyentuhnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏