Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Mengusir


__ADS_3

Austin melajukan mobilnya menuju rumah Damian dengan kecepatan rata-rata.


"Kok macet?" Tanya Anastasya melihat mobil di depannya berjalan pelan.


"Sepertinya ada kecelakaan di depan." Jawab Austin.


"Kita bisa telat lho sayang, kasian Tirta di sana." Ujar Anastasya.


"Ya mau gimana lagi, nggak ada jalan lain menuju ke sana kan?" Ujar Austin pasrah.


Sementara Tirta dan Mulyono sudah lebih dulu tiba di rumah Damian. Mereka segera turun dari mobil lalu menekan tombol bel rumah Damian.


Ting.. tong.. ting.. tong..!


Mbok Siti datang membuka pintu setelah mendengar beberapa kali bel rumah berbunyi.


"Maaf, Apa Tuan Damian ada di rumah?" Tanya Tirta.


"Ada Tuan." Jawab mbok Siti.


"Boleh saya ketemu dengannya? bilang aja Tirta ingin bertemu." Ujar Tirta.


"Boleh Tuan, mari silahkan masuk," Mbok Siti membuka pintu lebar, "Silahkan duduk, mbok panggil Tuan sebentar." Mbok Siti masuk menuju kamar Damian, sedangkan Tirta dan Mulyono duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya melihat isi rumah.


"Ada siapa mbok?" Tanya Kanaya saat bertemu dengan mbok Siti di depan pintu kamar.


"Itu Nyonya, di luar ada temennya Tuan, namanya Tirta." Jawab mbok Siti.


"Ya sudah, mbok buatkan minum aja, biar aku yang panggil Mas Damian." Perintah Kanaya.


"Mas, bangun! di luar ada temen kamu yang datang, namanya Tirta." Kanaya membangunkan Damian.


"Tirta?" Lirih Damian masih setengah sadar. Ia kemudian bangun lalu menuju kamar mandi.


"Mas, Tirta itu siapa?" Tanya Kanaya setelah Damian keluar dari kamar mandi.


"Temanku dan Tasya, dia juga pengacara yang mengurus perceraian ku." Jawab Damian.


"Mau apa dia mencarimu? bukannya urusan dengan Tasya sudah selesai?" Ketus Kanaya.


"Mana aku tau?" Balas Damian.


Damian keluar dari kamar menuju ruang tamu. Setelah saling menyapa, Damian juga duduk berhadapan dengan Tirta dan Mulyono.


"Apa ada masalah dengan perceraian ku dengan Tasya? sampai-sampai kamu datang mencariku di sini? atau dia menuntut harta gono-gini?" Tanya Damian.


"Kedatangan ku ke sini, tidak ada hubungannya dengan perceraian kalian atau harta gono-gini. Tasya tidak pernah menyinggung masalah itu. Tapi ini masalah..." Tirta ragu-rafu untuk menyampaikan maksudnya.


"Masalah apa?" Tanya Damian.


Tirta memperbaiki posisi duduknya sebelum bicara, "Begini Damian, Tasya sudah menjual rumah ini kepada Pak Mulyono, jadi kedatangan kami kesini adalah untuk melihat rumah ini." Jelas Tirta.

__ADS_1


Deg!


"Apa? Menjual? Kenapa Tasya nggak bilang ke aku? ini juga rumahku." Sentak Damian dengan nada tinggi.


Kanaya yang mendengar suara keras Damian dari dalam kamar bergegas keluar begitupun dengan Weni.


"Ada apa Mas? kenapa kamu berteriak?" Tanya Kanaya panik.


"Ia nak, kamu kenapa?" Timpal Weni.


"Tasya menjual rumah ini Mah." Lirih Damian.


Damian baru sadar jika rumah itu memang atas nama Anastasya. Wajahnya seketika pias, bahkan menekan pelipisnya berkali-kali. Masalah hari ini begitu berat untuknya. Masalah perusahaan yang hampir bangkrut belum selesai dan sekarang Anastasya juga menjual rumah yang ia tempati.


Deg!


Kanaya dan Weni terdiam karena kaget.


Weni memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sakit.


Kanaya menghela napas untuk menetralkan keterkejutannya.


"Menjual rumah ini? ini kan rumah kamu Mas! Aku nggak mau ya keluar dari rumah ini." Kesal kanaya.


"Mah, Mama nggak apa-apa? Naya cepat bawa Mama ke kamarnya" Tanya Damian melihat weni masih memegang dadanya dengan wajah yang mulai pucat.


Kanaya pun membawa Weni masuk ke dalam kamarnya di bantu mbok Siti.


Damian membuka pintu karena mbok Siti belum keluar dari kamar Weni.


"Tasya." Lirih Damian terkejut.


"Kamu nggak persilahkan kami masuk? tapi nggak perlu lah, ini kan rumahku" Singgung Anastasya tersenyum lalu masuk tanpa di persilahkan.


Damian menatap tajam mata Austin, kedua tangannya mengepal kuat dan wajahnya sudah memerah.


"Brengsek! untuk apa kau datang kemari, hah! tidak kapok juga lo kejar istri gw!" Geram Damian melayangkan bogeman ke wajah Austin.


Bogeman yang dilayangkan Damian di tahan Austin dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satu lagi terkepal melayang ke wajah Damian.


Bug!


Wajah Damian seketika memerah, bahkan sedikit keluar cairan merah dari sudut bibir Damian.


Austin tersenyum dengan seringai licik di wajahnya. Baginya Damian bukanlah tandingan yang sepadan dengannya.


"Sudah sayang, malu ada Tirta dan Pak Mulyono." Bisik Anastasya.


Anastasya menarik Austin duduk di sofa. sedangkan Damian juga ikut duduk menatap Austin dengan geram.


"Bagaimana Pak Mulyono, rumahnya bagus kan?" Tanya Anastasya tanpa memperdulikan Damian yang sedang menatapnya.

__ADS_1


"Bagus bu' saya sangat suka, sesuai dengan foto yang ibu kirim." Jawab Mulyono.


"Baiklah, sesuai kesepakatan, besok saya akan serahkan kuncinya ke Bapak, terima kasih banyak." Anastasya mengeluarkan tangannya pada Mulyono dan Mulyono membalasnya.


"Hentikan Tasya! kita perlu bicara berdua sebentar." Sentak Damian menarik tangan Anastasya.


"Lepaskan! jangan menyentuh ku." Sergah Anastasya menarik kembali tangannya.


"Tasya, ayo kita bicara berdua." Bujuk Damian mulai memelankan suaranya dan meraih tangan Anastasya.


"Mas, Apa yang kamu lakukan?" Bentuk Kanaya saat Damian meraih tangan Anastasya.


"Diam kamu! jangan ikut campur." Kesal Damian.


"Tasya, kenapa kamu tega menjual rumah ini? ini juga rumah Damian." Bentak Kanaya.


"Tega? bukannya kalian yang selama ini tega padaku? aku hanya mengambil apa yang memang menjadi milikku. Rumah ini aku yang beli dari hasil keringatku. Dan aku tidak mau kalian yang menikmatinya." Jelas Anastasya.


Saat itu juga Weni datang bersama mbok Siti yang sedang membantunya berjalan.


"Dasar kamu perempuan jahat! tidak tau terima kasih kamu. Aku bersyukur sekarang Damian sudah bercerai denganmu. Aku tidak pernah menyesal menikahkan Damian dengan Kanaya, karena kamu wanita mandul yang tidak tau diri. Selama ini kamu hidup mewah karena Damian, dan setelah bercerai kamu ingin menghancurkan nya?" Cerca Weni.


"Wow, mantan mertua ku juga ada di sini? baguslah, biar kalian semua tau, mulai hari ini kalian semua harus pergi dari rumah ini! kalian tidak punya hak untuk tinggal di rumahku." Tegas Anastasya penuh penekanan.


"Jangan diam aja dong Mas! lawan perempuan ini. Ini rumah kamu kan? kenapa kamu biarkan dia berbuat seenaknya." Teriak Kanaya.


"Tenang Kanaya, tenang..! ini belum seberapa dari apa yang akan kau dapatkan." Ujar Anastasya menenangkan Kanaya.


"Brengsek, Apa yang akan lo lakukan?" Geram Kanaya.


"Kenapa? kamu keberatan Ya? takut nggak punya rumah yang mewah lagi? kasian..? rumah ini atas namaku, jadi Damian tidak ada hak sedikit pun atas rumah ini, jadi sebaiknya Lo bereskan barang-batang Lo, Dan pergi dari sini, hussss..." Bentak Anastasya mengejek lalu mengusir sambil menggerakkan jadinya maju mundur.


"Sialan Lo!" Kanaya hendak menampar wajah Anastasya, namun Anastasya menahannya lalu menggenggam dengan erat pergelangan tangan Kanaya.


"Sudah diam! Oke, jika itu keinginan kamu, kami akan pergi. Tapi aku mohon Sya, kembalilah padaku, aku sangat mencintaimu." Bujuk Damian.


"Kisah cinta kita sudah selesai, dihari kamu menikahi wanita ular ini. Dan Ini bukti kejahatan dan perselingkuhannya selama ini. Oiya, satu lagi, aku sarankan, kamu harus tes DNA dengan Radit, aku nggak yakin dia itu anakmu." Anastasya mengeluarkan flashdisk ke tangan Damian.


Damian terdiam menerima flashdisk yang diberikan Anastasya.


"Jangan percaya apa yang dia omongin Mas! itu fitnah, aku tidak pernah selingkuh, Radit memang anak kamu." Sergah Kanaya.


.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2