
"Mereka ke Jakarta? Kenapa Austin nggak bilang sebelumnya?" Gumam Anastasya.
"Ibu ngomong apa?" Tanya resepsionis karena tidak jelas mendengar kata-kata Anastasya.
"Nggak mbak, makasih, saya langsung pulang aja." Anastasya segera berbalik, ia juga tidak ingin berlama-lama di hotel itu. Entah mengapa sekarang hatinya gelisah dan tidak tenang mendengar Austin pergi tanpa pamit dengannya.
Anastasya kembali masuk ke dalam mobil. Ia meminta supir untuk membawanya kembali ke rumah. Di perjalanan ia terus memikirkan Austin.
'Ayolah Tasya...! kenapa sekarang kamu jadi gelisah? bukankah ini lebih baik dari pada Austin terus mendekati mu dan memintamu menikah dengannya.' Batin Anastasya.
Anastasya mengambil ponsel yang di belikan Austin melalui Jack. Dua hari yang lalu Austin menyuruh Jack membelikan Anastasya ponsel berlogo apel yang sudah digigit sebagian. Jack memberikan pada Anastasya melalui Bi Imah karena Anastasya sedang istirahat saat itu.
Anastasya memutar-mutar ponsel di ditangannya. Ia ingin menelpon Austin tapi dia juga ragu. Takut jika Austin masih marah padanya. Selama mengenal Austin, baru kali ini Austin marah padanya. Biasanya Austin selalu mengalah dan membujuk dirinya.
"Nyonya, Tuan Austin nggak ada ya?" Tanya supir, karena Anastasya membawa kembali kotak makanan yang ia bawa untuk Austin.
"Ia." Singkat Anastasya kecewa.
"Kenapa nggak telpon Tuan aja?" Tanya Supir kembali.
Anastasya hanya menggeleng. Ia ragu-ragu menghubungi Austin, Biar Mayang aja yang akan menghubunginya, pikir Anastasya.
Anastasya tiba di rumah dengan wajah kurang bersemangat. Mayang yang duduk di sofa hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mayang.
"Austin nggak ada Mah. Kata resepsionis sudah kembali ke Jakarta. Kenapa dia nggak bilang ke aku?" Adu Anastasya.
"Hehehe, kenapa kamu cemberut begitu? baru tadi pagi dia pergi kamu sudah uring-uringan mencarinya. Bagaimana jika Mama menikahkannya dengan wanita lain? Apa kamu rela?" Tanya Mayang mengejek. Ia mulai yakin jika sebenarnya mereka saling membutuhkan.
"Mah, tolong telpon Austin kapan dia pulang?" Melas Anastasya.
"Kamu ini, kenapa nggak telpon sendiri. Kamu punya ponsel kan?" Tanya Mayang.
"Aku takut Austin masih marah padaku." Lirih Anastasya.
Mayang mengambil ponselnya di atas meja kemudian menghubungi Austin.
__ADS_1
"Halo." Jawab Austin.
"Kamu sudah tiba di Jakarta?" Tanya Mayang.
"Sudah Mah. Ada apa?" Tanya Austin.
"Ada yang rindu tapi malu-malu. Katanya kapan kamu pulang." Ujar Mayang tersenyum ke arah Anastasya.
Anastasya melotot tidak percaya Mayang sedang menggodanya hingga wajahnya memerah. "Mah!" Kesal Anastasya.
Sedangkan Austin tersenyum di balik layar. Mayang mengarahkan kamera ponselnya pada Anastasya hingga Dia dan Austin saling bertatapan di balik layar. Tidak ada senyuman diantara keduanya, mereka hanya diam tanpa suara.
"Kalian apa-apaan sih! seperti anak kecil yang sedang marahan. Kenapa kalian nggak ngomong? apa perlu mengaitkan jari kelingking dulu baru bisa ngomong?" Kesal Mayang pada keduanya.
"Nanti aja Mah, aku masih sibuk." Alasan Austin.
"Kamu cepat pulang, selesaikan kerjaan kamu secepatnya. Lusa acara pengantin Rihana jangan sampai kamu nggak datang. Sudah dulu ya..? jika ingin bicara dengan Syasya, kamu telpon ke ponselnya aja. Dia menunggu telpon mu." Ujar Mayang tanpa memberi waktu Austin membalasnya.
Mayang melihat Anastasya duduk melamun. "Dia nggak akan lama di Jakarta. Mungkin besok dia akan pulang, lebih baik kita ke dapur buat cake kesukaan Austin." Ujar Mayang kemudian berdiri menuju dapur.
Anastasya mengikuti langkah Mayang menuju dapur. Mereka membuat cake kesukaan Austin. Anastasya dengan telaten mengikuti instruksi dari Mayang, sampai mengeluarkan cake dari dalam oven. Bau khas coklatnya sangat tajam di Indra penciuman.
"Ia sayang, sekarang biarkan cake nya dingin, nanti simpan dikulkas aja. Besok baru kita berikan topping di atasnya. Austin sangat suka jika cakenya agak dingin." Ujar Mayang.
"Ia Mah."
Setelah membuat kue, Mayang menuju kamarnya sedangkan Anastasya membereskan dapur dengan bantuan ART yang lain. Setelah semua selesai Anastasya kembali ke kamarnya untuk istirahat.
............
Waktu begitu cepat berlalu, tanpa Anastasya sadari hari ini sidang putusan perceraiannya dengan Damian. Tirta bernapas dengan lega karena sudah berhasil membantu Anastasya dan mendapatkan surat cerainya.
Tirta segera menghubungi Anastasya namun nomor ponselnya tidak aktif. Saat Tirta hendak membuka pintu mobilnya. Ia melihat Damian sedang marah di depan pengacaranya. Tirta tersenyum penuh kemenangan.
Ia berjala menghampiri Damian. "Selamat siang Tuan Damian." Sapa Tirta.
Damian menoleh dengan wajah yang tidak bersahabat. "Tirta! kamu tau kan aku sangat mencintai Tasya, kenapa kamu lakukan ini?" Kesal Damian.
__ADS_1
"Maaf Damian! tapi ini yang terbaik untuk Tasya. Lo nggak bisa egois memiliki dua istri sementara Tasya tidak setuju. Apapun yang pengacara kamu lakukan untuk membatalkan perceraian ini, semuanya percuma! Satu lagi Tasya memiliki bukti kejahatan Kanaya dan ibu kamu. Jika Tasya ingin memenjarakan mereka, Sudah Tasya lakukan tapi dia tidak tega dengan Radit. Maka bersyukurlah karena dia memilih pergi." Jelas Tirta.
"Apa maksud kamu?" Tanya Damian.
"Aku tidak akan memperlihatkan bukti itu karena Tasya yang memintanya. Yang pastinya Kanaya dan ibumu lah yang mencoba membunuh Tasya dengan menyuruh orang lain menculiknya dan membuangnya ke jurang." Jelas Tirta.
"Itu tidak mungkin! Ibuku dan Kanaya tidak mungkin melakukan hal licik seperti itu. Jika itu benar, kenapa Tasya diam saja dan tidak mengatakannya padaku?" Tanya Damian menggeleng tidak percaya.
"Karena dia takut dengan ancaman mereka. Kamu nggak tau kan? bagaimana mereka memperlakukan Tasya di belakang mu. Sudahlah, percuma saja aku mengatakan semua ini. Toh sekarang juga kalian sudah bercerai." Ujar Tirta kemudian pergi meninggalkan Damian.
Di kantor, Damian dengan kesal memaki pengacara yang ia suruh untuk membatalkan gugatan cerai Anastasya. Padahal pengacaranya sudah mengatakan lebih awal jika itu sudah tidak mungkin tapi dia tetap saja memaksa bahkan ia ingin menyuap hakim untuk merubah keputusannya.
"Brengsek! Keluar kalian! Kalian semua tidak ada yang becus dalam bekerja." Teriak Damian frustasi.
Geri dan Pengacaranya tersentak dan langsung keluar dari ruangan Damian sebelum Damian semakin menggila. Geri yang di suruh untuk mencari keberadaan Anastasya, belum juga mendapatkan hasil dari anak buahnya membuat Damian bertambah geram.
Pernikahannya dengan Anastasya sekarang benar-benar sudah berakhir. Cintanya kini sudah pergi dan entah kemana Austin membawanya.
"Bajingan kau Austin! dimana kau sembunyikan Tasya!" Teriak Damian mengacak-acak isi seluruh ruangannya.
Kertas sudah berserakan dimana-mana, pigura banyak yang berjatuhan dan beberapa pecahan beling juga berserakan di lantai. Jika di lihat dari pintu masuk, ruangannya sekarang ini sudah seperti kapal pecah yang siap untuk di balik.
Damian meremas rambutnya frustasi, ia butuh Anastasya di sampingnya untuk menenangkan pikirannya.
"Arghhh....! tidak! aku tidak mau cerai Tasya!" Teriaknya kembali menyambar seluruh benda yang ada di atas meja.
Diluar ruangan, Geri dan Shintia hanya bisa saling bertatapan mendengar suara barang-barang yang berjatuhan tanpa berani mendekat. Sekali saja mereka mendekat, bisa jadi mereka akan menjadi sasaran kemarahan Damian.
Sekarang bos mereka sudah bisa dikatakan gila karena di tinggal cerai oleh Tasya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏