
"Hikss, hikss, jangan lakukan itu Mas! aku sangat mencintaimu, maafkan aku jika aku salah, tapi ku mohon jangan usir aku Mas, aku janji akan memperbaiki semuanya." Melas Kanaya.
Kanaya menjatuhkan harga dirinya bersimpuh di lantai, memegang lutut Damian agar Damian mau memafkannya.
"Tidak usah banyak drama! cepat kemasi barang-barang mu dan pergi dari sini." Bentak Damian.
"Hikss, hikss, Mas, aku mohon. Biarkan aku tetap di sini, aku tidak tau harus kemana." Tanya Kanaya memelas. Jika dia pergi dari rumah Damian, dia tidak tau arah tujuannya kemana, kembali ke rumah orang tuanya itu tidak mungkin lagi. Dia takut jika ibunya sampai tahu masalah Radit, pasti dia juga akan diusir.
"Pergi saja dengan selingkuhan mu itu." Sentak Damian. "Mbok" Teriak Damian.
Mbok Siti segera menghampiri saat Damian memanggilnya. Mbok Siti yang sedang di dapur mendengar apa yang mereka bicarakan, namun tidak berani untuk ikut campur.
"Ia Tuan." Sahut mbok Siti setelah berada di ruang tamu.
"Mbok, kemasi barang-barang Naya dari kamarku, jangan sampai ada yang ketinggalan sedikitpun. Aku tidak mau apapun yang menyangkut wanita menjijijkkan ini masih ada di dalam rumah." Perintah Damian.
"Baik Tuan." Balas Mbok Siti.
"Tidak Mas! jangan! aku tidak mau pergi dari sini." Melas Kanaya kembali.
Mbok Siti segera masuk ke dalam kamar Damian. Ia mengemas semua barang-barang milik Kanaya lalu memasukkannya ke dalam koper. Mulai dari pakaian, skin care, sepatu dan tas. Setelah beberapa menit, semuanya selesai. Mbok Siti keluar dari kamar membawa dua koper besar.
"Ini Tuan." Ujar Mbok Siti.
Damian langsung berdiri dan mengambil alih koper itu dari tangan Mbok Siti. Ia menyeretnya keluar dari rumah dan mengehempaskannya di luar. Damian kembali masuk lalu menarik paksa Kanaya keluar dari rumah.
"Hikss, hikss, Mah, tolongin aku! aku nggak mau pergi!" Melas Kanaya berusaha melepaskan genggaman tangan Damian.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi! Aku tidak sudi melihat wajah penghianat sepertimu!" Teriak Damian, yang mati rasa menghadapi Kanaya. Baginya setelah Radit pergi, tidak ada lagi keinginannya untuk bersama Kanaya meskipun Weni masih menginginkan Kanaya tinggal bersamanya, dia tidak perduli. Namun ternyata Weni tidak membela Kanaya sama sekali.
Weni tidak mampu berkata-kata lagi. Wanita paruh baya itu juga sangat kecewa. Dia ingin membantu Kanaya tapi kesalahan yang di perbuatnya juga membuat Weni sakit hati. Radit yang dianggap cucu kesayangannya, ternyata bukanlah cucunya. Penyakit jantungnya mulai kumat. Ia pun memegang dadanya yang sakit.
"Hikss, hikss, aku tidak terima kamu perlakukan aku seperti ini." Ujar Kanaya menatap Damian dengan netra tajam penuh kebencian.
Damian mendecih karena Kanaya tidak mau pergi, "Chk, Kamu pikir aku akan terima perlakuan mu ke aku selama ini? jangan mimpi! pergi dari sini, perempuan sepertimu tidak pantas menjadi istriku." Geram Damian.
Kanaya pergi meninggalkan halaman rumah Damian. Ia berjalan sambil menarik ke dua koper di tangannya. Kini hidupnya hampa, semua yang dia sayang telah meninggalkannya. Damian dan Radit adalah belahan jiwanya. Tanpa arah tujuan ia terus berjalan, hingga satu mobil hitam menghadang jalannya dan terparkir di depannya.
Dua orang Pria dengan tinggi sekitar 185 langsung memaksanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Kanaya memberontak minta tolong, namun di tempat itu sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat, bahkan pengendara sepeda motor dan mobil pun tidak ada yang melintas.
Ia berusaha menggigit tangan pria itu, namun pria yang satunya lagi, membekap hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius.
Kini Kanaya tidak sadar, tangannya terikat dan mulutnya tertutup dengan lakban.
Beberapa jam kemudian dia sadar, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan besar yang menyerupai gudang, hanya ada satu meja dan kursi tapi ruangannya sangat bersih.
"Dimana aku?" Gumamnya.
Kanaya mencoba membuka ikatan tali yang ada di tangannya, bahkan kakinya juga kini sudah terikat.
"Kenapa aku ada di sini? apa aku sedang di culik? tapi siapa yang melakukan ini?" Lirih Kanaya.
Kanaya menelan ludah dengan kasar, Ia sangat haus dan kerongkongannya mulai kering.
"Tolong...? Lepaskan aku!" Teriak Kanaya.
Suaranya menggema di seluruh ruangan, tapi tidak seorang pun yang datang menghampirinya. Kanaya kembali berteriak berkali-kali, tetap saja tempat itu sunyi seperti tidak ada orang lain selain dirinya di sana.
Kanaya putus asa, dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, ia kembali mengingat bagaimana Damian dan Weni mengusirnya, ia menangis tersedu-sedu, kini tidak ada tempat bersandar untuknya, 'Sungguh kejam!' Batinnya.
Suara langkah kaki beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang sedang terbuka.
"Mau apa kalian!" Bentak Kanaya mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Kamu ingin tau mau ku apa?" Tanya Austin balik.
Kanaya mendelik menatap tajam Austin, Dodi dan Jack. "Kenapa kalian menculikku seperti ini? kalian pengecut!" Rutuk Kanaya.
Austin menyeringai licik dengan netra dingin yang mampu membuat nyali Kanaya seketika menciut, Perlahan tapi pasti ia mendekati Kanaya lebih dekat.
"Kamu lumayan cantik, tapi sayang aku tidak suka perempuan yang licik dan jahat, "Jack apa Lo menyukainya?" Tanya Austin.
"Tidaklah bos! mending aku menghabiskan malam dengan wanita Club dari pada dengan wanita ular." Jawab Jack.
"Baiknya! kalo begitu, kita apain tubuh mulusnya ya?" Tanya Austin dengan senyuman tak terbaca.
"Berikan saja luka di tubuhnya, sama seperti luka ibu Tasya." Sela Dodi.
__ADS_1
Kanaya mulai panik, "Kalian gila! jangan lakukan itu." Teriak Kanaya.
"Jack, ambilkan pisau gw, gw ingin dia merasakan apa yang Syasyaku rasakan sekarang." Perintah Austin.
Jack mengambil pisau kecil menyerupai berlati yang sangat tajam di laci meja, kemudian memberikannya pada Austin.
Austin memutar-mutar pisau kecil itu di tangannya. "Baiklah, mari kita mulai." Ujar Austin dengan seringai licik di wajahnya. Ia mulai mendekatkan pisau ke wajah Kanaya, bahkan sedikit menyentuh kulitnya.
Kanaya tidak bergerak, sedikit saja dia menggerakkan wajahnya, maka pisau itu akan melukai wajahnya." Tidak, tidak, jangan lakukan itu padaku." Lirih Kanaya panik, air matanya mulai menetes, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat karena ketakutan. Ia tidak menyangka di balik wajah tampan Austin yang seperti Aktor hollywood, ternyata dia sangat mematikan. Sekarang ia menyesal karena telah berurusan dengan Austin.
Austin menghentikan tangannya, Ia baru saja mengingat bahwa istrinya sedang hamil, "Ah, Dod, Jack! kalian aja ya g melakukannya, Aku hampir lupa, istriku lagi hamil." Kesal Austin melempar pisau yang ada di genggaman tangannya. Ia mundur beberapa langkah dan memilih duduk di kursi.
Dodi mengambil pisau yang di lempar Austin lalu menghampiri Kanaya.
"Mari kita mulai Jack, wanita Lo nggak hamil kan?" Tanya Dodi bercanda tapi dengan wajah yang sangat datar dan dingin.
"Gw baru berencana menghamilinya." Jawab Jack.
"Berhentilah bermain-main, cepat selesaikan tugas kalian!" Perintah Austin.
Dodi dan Jack bergantian memegang pisau dan memberikan luka di tubuh Kanaya. Membuat Kanaya tidak berhenti berteriak dan meringis kesakitan.
"Ahh... hentikan, cukup, aku mohon! sakit, ahh..!" Teriak Kanaya saat mereka melukainya.
"Sial! kenapa teriakannya seperti sedang enak-enak ya Dod?" Tanya Jack bercanda namun itulah nyatanya.
Austin yang sedang sibuk dengan ponselnya hanya melirik dan mengangkat sedikit ujung bibirnya mendengar ucapan Jack.
"Dasar otak mesum Lo Jack! pikiran Lo nggak pernah jauh dari ranjang!" Umpat Dodi menghentikan aksinya.
Tubuh Kanaya kini penuh luka, bahkan lebih banyak dari luka di tubuh Anastasya. Seluruh tubuhnya merintih kesakitan, baju yang di pakainya juga robek tidak berbentuk.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏