Wanita Kedua Suamiku

Wanita Kedua Suamiku
Merasa Bersalah


__ADS_3

Dodi kembali keluar dari Gang melewati ibu-ibu dan gadis yang masih asik bergosip.


Salah satu gadis dari mereka menghampiri Dodi dan bertanya karena penasaran.


"Maaf Om, Apa benar Tirani simpanan Om? Tirani memang cantik sih, tapi sebenarnya dia itu sudah mau menikah dengan juragan Heru. Beberapa hari yang lalu orang itu datang menemui Ibunya Tira, dan katanya akan menikahi Tira bulan depan." Ungkap Malika tetangga Tirani.


"Maaf ya, saya sama sekali tidak perduli dengan urusan orang lain. Jadi lebih baik kalian semua diam dan pulang istirahat." Ujar Dodi dengan tatapan tajam, yang mampu membuat mereka bergidik dan pulang ke rumah masing-masing.


Dodi kembali berjalan menuju mobilnya. Ia duduk di kursi kemudi, memasang seat belt, menyalakan mesin mobil dan AC lalu menyalakan lampu diatasnya. Ia memperbaiki posisi spion mobil yang ada diatasnya lalu memperhatikan wajahnya dengan lekat.


"Enak aja bilangin gw Om-om, emang gw se-tua itu? umur gw baru tiga puluh tahun, cuma beda lima tahun dengan Tirani. Gw masih tampan dan juga keren. Gw bukan tua, tapi mapan." Monolog Dodi sambil bercermin mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi bulu halus.


Dodi menghela napas panjang, Ia segera melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.


...........


Keesokan harinya, Austin mengajak Anastasya dan Giandra ke kantor karena mereka akan ke Mall saat jam makan siang.


Pada saat Anastasya memasuki perusahaan ia memeluk Giandra dalam gendongannya. Mata karyawan heran melihat Anastasya bersama anak kecil. Anak laki-laki yang sangat tampan dan mirip dengan CEO mereka.


Anastasya langsung masuk ke dalam lift dan menuju ruangan Austin. Dodi menjemput Anastasya di depan lift lalu membukakan pintu untuk Anastasya. Setelah Anastasya masuk, Ia segera ke ruangannya.


Austin tersenyum berbinar melihat Anastasya dan Giandra masuk ke dalam ruangannya. Ia menghentikan pekerjaannya lalu berdiri mencium keduanya.


"Apa ada yang mengganggumu di bawah?" Tanya Austin.


"Tidak sayang, semua karyawan kamu ramah dan sopan." Jawab Anastasya.


"Kalian istirahat dulu di sofa, aku akan selesaikan pekerjaanku lalu kita pergi." Ujar Austin menunjuk sofa lalu kembali duduk di kursinya.


Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Austin mengambil jas lalu mendekati mereka.


"Ayo sayang..! aku nggak mau kalian bosan menunggu karena aku." Ajak Austin.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Anastasya.


"Belum sayang, aku hanya menyelesaikan yang mendesak, sisanya nanti Dodi yang lanjutkan." Ujar Austin mengambil alih Giandra dalam gendongannya.

__ADS_1


Austin keluar dari ruangannya menggendong Giandra dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri menggenggam tangan Anastasya.


Para karyawan hanya berani melirik kemesraan bosnya. Mereka tidak pernah menyangka jika bosnya yang dingin dan arogan memiliki sisi kehangatan pada keluarganya.


"Bos mau keluar?" Tanya Dodi yang baru saja menghampiri mereka.


"Iya Dod, tolong kamu selesaikan pekerjaanku, atau kirim di email, nanti aku periksa saat di rumah. Oiya, kami mau ke Mall, apa kamu mau ikut maka siang?" Tanya Austin.


"Maaf bos, aku sudah janji makan siang dengan Tirani." Jawab Dodi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.


"Hehehe, ada yang mulai bucin sayang..?" Bisik Austin ke telinga Anastasya.


"Sudah sayang..! jangan mengganggu Dodi, biarkan dia mencari pendamping yang cocok untuknya." Ujar Anastasya sambil menekan tombol lift agar terbuka.


Mereka memasuki lift kemudian meninggalkan Dodi yang masih mematung.


"Apa benar aku sudah jadi bucin? ah, memikirkannya saja sudah membuatku makin pusing." Gumam Dodi.


Mereka membawa Giandra untuk membeli mainan dan bermain.


Gindra sangat senang dan semangat saat memasuki arena permainan. Ia langsung menarik tangan Austin ketika melihat gambar marvel super hero.


"Gian mau nonton itu?" Tanya Austin.


Giandra hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.


Austin mengajak Giandra dan Anastasya masuk ke bioskop simulator teknologi empat dimensi lalu menyaksikan aksi super hero di dalam. Setelah film habis mereka keluar dan mengajak Giandra makan.


"Kita makan dulu ya? kamu pasti sudah lapar." Bujuk Anastasya pada Giandra.


"Masih mau main." Tolak Giandra menggeleng.


"Makan dulu sayang, nanti kita main lagi." Bujuk Anastasya kembali.


"Nggak mau." Giandra masih menggeleng.


"Bagaimana kalo kita beli mainan baru makan. Biar dia makan sambil main sayang." Austin meminta pendapat Anastasya.

__ADS_1


"Baiklah."


Anastasya pasrah kemudian mengikuti langkah Austin yang menggendong Giandra. Mereka keluar dari area permainan menuju salah satu toko yang menjual berbagai macam mainan anak-anak.


"Mom, mau yang itu." Tunjuk Giandra ke salah satu mainan lego robot hulk.


Anastasya mengambilnya lalu menunjukkan pada Giandra, "Yang ini?"


Giandra langsung mengambilnya dan memeluknya. Austin dan Anastasya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.


Mereka berjalan menuju kasir dan membayar mainan Giandra, setelah membayar, mereka langsung menuju salah satu restoran seafood di dalam Mall.


Karena di sana tidak ada ruang VVIP, jadi mereka memilih salah satu meja yang kosong. Mereka memesan beberapa menu makanan lalu menikmatinya.


Tanpa mereka sadari Damian dan Weni juga berada di sana. Sudah sebulan Damian keluar dari penjara. Ia mengajak Weni jalan-jalan karena Weni merasa bosan di rumah.


"Damian, bukannya itu Anastasya? Apa anak yang bersama mereka itu anaknya?" Tanya Weni.


Damian menoleh ke arah Anastasya, Austin dan Giandra. Hatinya bagai teriris melihat keharmonisan rumah tangga Anastasya. Ia menatap Giandra dan Austin secara bergantian. Seandainya saja ia tidak bercerai dengan Anastasya dan sedikit lebih bersabar mungkin keluarganya tidak hancur dan dia masih bersama Anastasya. Seandainya ia meluangkan waktu sedikit saja untuk melakukan pemeriksaan ke dokter, dan menjalani program yang di sarankan dokter untuk memiliki anak, mungkin anak yang sedang dilihatnya adalah anaknya bersama Anastasya.


"Sepertinya ia Mah, Wajah anak itu sangat mirip dengan Austin." Jawab ò tanpa mengalihkan pandangannya.


Weni menatap sendu Damian. Ia tahu apa yang di rasakan anaknya saat ini. Melihat Damian terus menatap ke arah mereka dan tidak melanjutkan makannya. Ia merasa sangat bersalah. Jika bukan karena keegoisannya menikahkan Damian denga Kanaya, rumah tangga anaknya tidak akan hancur. Meskipun mereka tidak di karuniai anak, setidaknya Damian masih bisa bahagia hidup bersama Anastasya.


Tidak seperti saat ini, kehidupan Damian seolah tanpa arah. Ia hanya fokus mendirikan perusahaannya kembali namun sangat susah, mengingat dia mantan narapidana. Dan sekarang Damian hanya mampu membuka Cafe di beberapa tempat untuk menopang perekonomiannya. Damian yang sekarang sudah sangat berbeda, jika dulu ia sangat semangat jika ke kantor tapi sekarang ia lebih banyak di dalam kamar dan merenungi semua kesalahannya.


Menyesalpun percuma, Anastasya yang selalu dia hina mandul dan tidak bisa memberinya cucu, kini telah memiliki seorang putra yang sangat tampan dan lucu.


"Mama akan ke sana."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2