
Kanaya berusaha mengambil flashdisk dari tangan Damian, namun dengan cepat Damian memasukkannya ke dalam saku celana yang ia pakai.
"Tasya, jika itu benar, mari kita rujuk. Aku janji kita hanya akan tinggal berdua. Aku tidak perduli kita bisa punya anak atau tidak." Bujuk Damian.
"Hahaha... PD skali kamu berkata seperti itu. Tapi sayangnya aku sudah menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari mu. Laki-laki yang memberiku cinta dan kehangatan keluarga. Meskipun aku masih sendiri, aku tidak akan kembali padamu, kamu nggak tau bagaimana hancur dan rapuhnya aku saat kau selingkuh. Dan kamu tau sendiri kan? aku tidak suka dengan penghianat dan pemaksa dan kasar seperti kamu." Tolak Anastasya.
"Menikah? kamu menikah dengan siapa Tasya?"
"Aku suaminya, dan aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh dan memanfaatkan istriku. Kamu pikir aku tidak tau kenapa kamu ingin kembali padanya?" Sela Austin.
"Kenapa sayang..?" Tanya Anastasya juga penasaran.
"Karena perusahaannya sudah diambang bangkrut. Selama kamu tidak bekerja di sana, omset perusahaannya menurun."Jelas Austin pada annsta, lalu berbalik kearah Damian, "Ternyata selama ini kamu hidup bergantung dari istriku. Dasar laki-laki lemah!" Ejek Austin.
"Brengsek! kamu tau masalah perusahaanku? apa semua itu ada hubungannya dengan mu?" Geram Damian. Sudah sebulan ia merasa ada yang menyabotase perusahaannya.
"Aku hanya sedikit membantu istriku menghancurkan mu. Apa kamu pikir aku akan melupakan perlakuanmu padanya di Villa? Dasar bajingan!" Jawab Austin dengan santai. Namun tiba-tiba melayangkan tinjunya ke wajah Damian.
Bug!
"Seharusnya aku membunuh mu saat itu." Geram Austin.
"Sudah sayang, jangan mengotori tanganmu dengan darah bajingan itu." Anastasya berusaha melerai.
Anastasya menggeleng tidak percaya, ternyata suaminya tidak tinggal diam dan membantunya tanpa sepengetahuannya.
"Aku peringatkan pada kalian semua, jangan coba-coba menyakiti istriku lagi. Jika kalian berani melakukannya, Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian tanpa jejak." Ancam Austin dengan mata tajam dan menakutkan menatap Damian, Kanaya, dan Weni.
"Ayo sayang..! kita hentikan drama keluarga ini. Aku muak melihat mereka." Austin menarik tangan Anastasya keluar dari rumah.
"Ia sayang, aku juga muak!" Balas Anastasya, "Pak Mulyono, jangan khawatir, mereka akan meninggalkan rumah ini secepatnya." Ujar Anastasya mengikuti langkah Austin yang tidak mau melepaskan genggamannya.
Setelah Austin dan Anastasya keluar tanpa pamit, Tirta juga ikut berdiri bersama Mulyono.
"Maaf, Damian aku pamit, kami berikan waktu sampai besok untuk mengosongkan rumah ini, mari Pak Mulyono." Pamit Tirta juga ikut keluar dari rumah.
"Tirta, tunggu!" Seru Damian.
"Ya" Tirta berbalik.
"Apa benar Tasya dan Austin sudah menikah? kenapa aku tidak pernah mendengar kabar pernikahan mereka?" Tanya Damian penasaran.
"Mereka menikah di Jerman, aku juga nggak sempat hadir, tapi Tasya waktu itu sempat mengirimkan video pernikahannya." Tirta mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, "Ini, kamu liat aja sendiri." Tirta memperlihatkan ponselnya.
Wajah Damian seketika memerah menahan amarah. Semuanya begitu cepat baginya. Dia berpikir akan memberi Anastasya waktu untuk sendiri lalu membujuknya kembali untuk rujuk, namun melihat video itu, dia sangat menyesal melepaskan Anastasya.
"Permisi Damian." Tirta menyimpan ponselnya kembali lalu masuk kedalam mobilnya bersama Mulyono.
"Arghh...!" Teriak Damian frustasi setelah kepergian Tirta. Ia menarik rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mas, tolongin Mama." Teriak Kanaya dari dalam.
__ADS_1
"Arghh.. ada apalagi sih!" Kesal Damian lalu masuk kedalam rumah.
"Mas kita harus bawa Mama ke rumah sakit. Penyakit jantungnya kumat." Ujar Kanaya.
"Bantu aku membawanya ke mobil." Panik Damian segera mengangkat tubuh Weni masuk ke dalam mobil di bantu Kanaya dan Weni.
"Mbok, bereskan semua barang-batang kami, besok siang kami akan pindah ke rumah Mama yang lama." Perintah Austin setelah mereka semua duduk di dalam mobil.
Austin segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kenapa kita pindah? apa nggak ada jalan lain untuk mempertahankan rumah ini? Kita tuntut Tasya karena menjual rumah ini sepihak." Kesal Kanaya.
"Lebih baik kamu diam dan jaga Mama selama di rumah sakit. Urusan kita belum selesai Naya. Jika Mama sudah keluar dari rumah sakit, aku akan melakukan tes DNA dengan Radit." Tegas Damian.
"Itu tidak perlu Mas, Radit itu anak kamu, darah daging kamu. Untuk apa buang-buang waktu melakukan tes DNA." Jelas Kanaya.
"Kenapa kamu panik? jika Radit anak aku, kamu nggak perlu khawatir. Apa jangan-jangan apa yang dikatakan Tasya benar?" Selidik Damian.
"Itu nggak bener Mas!" Elak Kanaya
"Kalo nggak bener, ya sudah, ikuti aja keinginanku." Tegas Damian.
"Aku akan meminta pendapat Mama setelah ia sadar." Lirih Kanaya.
Damian hanya diam, ia sudah tidak mau berdebat lagi dengan Kanaya yang tidak akan pernah ada ujungnya.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah sakit. Damian segera berlari memanggil dokter dan perawat untuk membantu ibunya. Dokter segera melakukan penanganan setelah Weni berada di ruang IGD.
Damian duduk di kursi ruang tunggu, pikirannya makin kacau, sekarang ibunya masuk rumah sakit, besok merek harus pindah, dan perusahaan butuh suntikan dana.
"Kamu kenapa sih Mas!" Tanya kanaya ketus. Ia tau pasti Damian mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Ini semua gara-gara kamu masuk dalam kehidupanku, sekarang keluargaku hancur karena kamu." Kesal Damian.
"Kok aku sih Mas! yang harus Mas salahkan itu Mama, kan awalnya ini semua keinginannya, aku hanya menuruti keinginan orang tuaku saja." Kanaya membela dirinya.
"Jika kamu tidak setuju dan menolak pernikahan kita, ini semua tidak akan terjadi Naya."
"Ah, sudahlah Mas, aku capek kamu menyalahkan aku terus."
"Aku juga capek berdebat dengan kamu."
Keduanya diam dalam keheningan rumah sakit. Begitu dokter keluar dari pintu IGD, Damian langsung berdiri menghampirinya.
"Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Damian.
"Pasien mengalami stroke dan.."
"Dan apa dok?"
"Lumpuh."
__ADS_1
"Apa masih bisa diobati dok?"
"Untuk sementara kami hanya bisa memberinya obat, Jika ada kemajuan kita bisa memulainya dengan terapi." Jelas dokter.
"Baik dokter, terima kasih." Ujar Damian.
Dokter kembali masuk ke dalam ruangan IGD.
.....
Sementara di tempat lain, Anastasya dan Austin sedang menikmati makan malam berdua di salah satu restoran hotel mewah.
"Makasih banyak sayang..! lagi-lagi kamu membantu ku. Aku berutang banyak padamu."
"Ssstt.. itu sudah kewajiban ku sebagai suami kamu. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi jika kamu ingin membayarnya juga boleh dengan satu cara."
"Caranya?"
"Sini! aku bisikin," Anastasya mendekatkan telinganya, "Kamu cukup bersuara seksi di bawah kungkunganku." Bisik Austin di telinga Anastasya, membuat Anastasya merinding saat hembusan napas Austin menyentuh lembut kulit lehernya.
"Dasar mesum! nggak tau tempat." Umpat Anastasya mendelik lalu tersenyum malu.
"Ayolah sayang, cepat habiskan makanan mu, setelah itu aku yang memakan mu." Bisik Austin kembali.
Setelah makanan Anastasya habis, Austin langsung menariknya masuk ke dalam lift.
"Kita mau kemana?" Tanya Anastasya.
"Kamar sayang..!" Jawab Austin.
"Kenapa nggak kembali ke apartemen?" Tanya Anastasya.
"Kelamaan." Jawab Austin.
Austin langsung menarik Anastasya masuk kedalam kamar setelah membuka kunci. Ia menyadarkan tubuh Anastasya di balik pintu, kedua tangannya menggenggam tangan Anastasya keatas merapat di pintu. Mereka saling menatap mata dengan mendambakan. Austin mencium bibir lembut Anastasya yang menjadi candu untuknya.
Austin melepaskan bibirnya lalu mengangkat Anastasya ala bidang style menuju tempat tidur.
"Ayo sayang.. saatnya kamu bayar utang."
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏